Part 40. Begin Again
Belum 100 bintang lho tapi aku up aja. Biar kalian semangats.
Follow tiktok Silver Lining ya gaes. Di sana aku post video halu halu gitu hahaha (apa sih?)
Playlist : Close to Me ~ Ellie Goulding
***
Tekan bintang dulu sebelum baca
Komen yang banyak ya. Biarpun ini part dewasa wkwkwk
1000 komen dan 1000 bintang lagi
P a r t 40
Seharian yang sibuk ini pastilah yang membuatnya gila. Terlalu banyak hal aneh yang Andara lakukan sejak pagi ia menanam pohon, lalu makan malam, ditambah sedikit alkohol dan sedikit adrenalin di jalan. Lalu tiba-tiba saja mereka berciuman di bawah langit malam. Axel juga mungkin memiliki alasan sendiri, mungkin karena baru saja bertemu masa lalu, mungkin sedikit alkohol, ditambah sedikit emosi yang Andara sulut. Dan mungkin sejuta alasan lainnya yang Andara paksakan menjadi alasan.
Begitu pintu tertutup, mereka diselimuti kegelapan dan Axel baru melepas tangannya setelah mereka berlari di sepanjang ruang depan dan tangga seperti pasangan kekasih yang antusias. Andara melepas mantel yang menutupi gaunnya, membiarkannya jatuh begitu saja di lantai seiring langkahnya menuju tempat tidur. Axel mengikutinya tanpa tergesa.
"You look sexy," gumam Axel.
Padahal kalimat itu lebih dulu terlintas di kepala Andara saat matanya mengikuti gerakan pria itu membuka kancing kemeja sekaligus menyalakan pendingin ruangan dan lampu tidur di panel dinding tanpa berhenti melangkah ataupun melepaskan pandangan darinya. Sejak dulu pembawaan fisik dan caranya berjalan memang memiliki arogansi estetik yang memikat mata, bahkan bagi Andara yang tak ingin melihat.
"Padahal aku agak risih kalau kamu dipandang-pandangin orang," lanjut Axel.
"Kamu sendiri yang nyuruh pakai." Andara melangkah mundur hingga punggung kakinya mencapai tepian tempat tidur. Ia mendaratkan bokong di sana dan kembali merayap mundur sementara Axel menaiki tempat tidur dengan merangkak maju, setengah mengungkung tubuhnya.
"Karena aku nggak tahu kapan lagi bisa lihat kamu pakai yang ini."
"Bukan buat pamer ke mantan istri kamu?"
"Ngapain pamerin kamu ke dia?"
"Siapa tahu buat balas dendam biar dia cemburu."
"Aku nggak pendendam kayak kamu."
"Dih." Andara tersenyum mendengus. Tangannya menurunkan ristleting gaunnya, membuat Axel tertegun.
"Kamu bisa ngelepas sendiri?"
"Aku juga bisa masang sendiri," aku Andara sambil menarik perlahan kembali ristletingnya ke atas untuk membuktikan.
"Nakal banget." Mata Axel berkilat-kilat geli. "Coba buka lagi."
Begitu saja, Andara menuruti menurunkan ritsleting gaunnya lagi dan menariknya turun, menampilkan tubuh bagian atasnya yang polos dan hanya menyisakan celana dalam seamless hitamnya yang sekarang ia juga buka perlahan melewati kaki. Tatapan Axel menjelajahi tubuhnya dan berlama-lama di dadanya sementara pria itu ikut melepaskan pakaian dengan santai. Seharusnya Andara merasa malu, namun ia malah menikmati sensasi erotis yang timbul saat tubuhnya terekspos di bawah tatapan pria itu yang seolah melahapnya hidup-hidup. Ia tahu penampakan fisiknya seperti apa, setidaknya ia percaya diri dengan itu meski bukan sesuatu yang utama untuk dibanggakan. Tapi sudah lama sekali rasa percaya diri itu hilang dan baru kali ini ia memperolehnya kembali.
"I've been dying to see you like this." Tangan Axel bergerak pelan menyusuri pinggang Andara dan berhenti di bawah lekukan payudaranya. Pria itu mengakui menginginkannya. Tidak perlu mengakui pun, Andara sudah bisa melihat. Selama ini Axel mengekang dorongan itu karena memikirkan Andara membayangkannya sebagai Bri. Baginya itu bukan sebuah consent dan Axel tidak ingin mengambil sesuatu yang tidak diberikan kepadanya.
Ia menyambut dengan hasrat liar dan panas saat Axel mempertemukan bibir mereka. Axel merespon layaknya pria yang sudah lama menahan keinginan. Mereka berciuman dengan tak sabar, seakan dunia akan kiamat malam ini. Jatuh bersama ke atas tumpukan bantal, suara napas cepat bercampur erangan pelan di sela ciuman yang belum juga terputus.
God, he tastes so good...
Selama ini Andara sudah berusaha tidak mengingat rasa tubuh Axel pada tubuhnya atau bagaimana hatinya mendambakan untuk bersamanya lagi. Tapi rasanya memang enak, Andara tidak pernah mengatakan tidak enak. Ia masih ingat rasa bibir itu dan bagaimana kulitnya mengingat sentuhan tangan Axel yang masih berada di payudaranya. Ibu jari pria itu membelai puncaknya, tidak terlalu keras namun juga tidak terlalu lembut seolah tahu seberapa yang diperlukan untuk memunculkan sensasi pedih nikmat yang nagih.
Desah Andara terdengar merasakan ciuman Axel menjelajah turun sepanjang alur dagu dan lehernya menuju payudaranya. Axel pun melakukan dengan tak sabar seperti binatang liar dan kebetulan Andara sedang tidak memerlukan kelembutan saat ini. Panas yang mulai berkumpul di bawah tubuhnya membuatnya begitu lapar. Tanpa sadar ia merapatkan bagian intinya pada tubuh pria itu dan menggesekkannya untuk mencari kepuasan, tetapi Axel mendorong tubuhnya lagi ke ranjang. Tangan Andara pun ikut menyentuh pria itu seperti naluri alaminya. Namun saat sentuhan itu mulai turun, Axel menangkap tangannya.
"Jangan."
"Kenapa?" tanya Andara frustrasi.
"Aku nggak yakin bisa bertahan lama kalau kamu sentuh."
"Nggak perlu tahan lama__"
"Aku nggak berani ngambil risiko, apalagi yang ngucapin cewek pemarah kayak kamu. Sulit dipercaya."
"Apa sih?" Tawa bergetar memenuhi tenggorokan Andara sejenak. Tapi ia langsung melenguh lagi saat Axel lanjut mencium dan menyapu puncak payudara Andara dengan lidahnya. "Ah..."
Pria itu tidak memberinya kesempatan untuk bernapas normal barang sedetik saja. Malah justru kembali merangsang tubuh Andara hingga terasa seperti sengaja menyiksanya. Andara menggigit bibir menahan gejolak tubuhnya yang tak tertahankan saat bibir Axel melintas turun ke perutnya, pinggangnya... Andara pikir pria itu akan berhenti di sana, tetapi bibir itu terus turun hingga ke pusat tubuhnya.
"Nggak__" Andara hendak menarik diri, namun Axel menahan pahanya dan melebarkan kedua kakinya.
Astaga...
Bukannya ia tidak tahu Axel hendak melakukan apa, tapi jantungnya berdebar tak keruan karena gugup. Kegugupan yang muncul seperti saat ia kehilangan keperawanan. Kewanitaannya pasti terekspos jelas di depan pria itu. Malu dan penasaran bercampur sekaligus menjadi satu. Perasaan ini seharusnya tidak ada, tetapi masalahnya ia tidak pernah melakukan sebelumnya. Ini seks oral pertamanya.
Namun selanjutnya ia tidak sempat berpikir apa pun saat ujung lidah pria menyentuh bibir kewanitaannya dan menyusup masuk ke dalam celahnya. Semuanya seketika buyar. Andara menjatuhkan kepalanya ke bantal sambil menahan suara-suara memalukan yang mungkin akan keluar dari bibirnya. Matilah... Ternyata rasanya seperti ini. Jari pria itu membuka dan melebarkan celahnya dan menjilati permukaannya turun... naik... lalu kembali turun, menjilati ujung pintu masuk kewanitaannya dan mendesak ke dalam. Lagi... lagi...
Erangan lepas dari bibirnya juga. Padahal ia sudah berusaha menahan mati-matian, tapi rasanya... sial, rasanya tak tertahankan.
Betapa liar reaksi tubuhnya sendiri, seolah semua kendali yang biasanya begitu mudah ia pertahankan mulai terlepas satu per satu. Oksigen terasa begitu sulit untuk masuk ke paru-parunya dan tangannya meremas sprei untuk berpegangan. Ada sesuatu yang terasa mengetat di dalam inti kewanitaannya. Kini lidah pria itu memanjakan klitorisnya, sengaja berlama-lama di sana membuat Andara mendesah dan merintih lagi.
Secara naluri, Andara membuka kaki semakin lebar seolah dirinya adalah sebuah hidangan. Rasa malunya menguap entah ke mana karena kalah oleh keinginan untuk merasakan kenikmatan lebih. Oh... di titik itu... klitorisnya terasa begitu tegang karena sentuhan berulang. Tanpa sadar dirinya menggesekkan tubuh mendekat ke mulut pria itu untuk menstimulasi lebih cepat di tempat yang tepat... Ia mulai merasakannya muncul... semakin jelas... semakin nyata... Rasanya ia bisa gila...
Suara-suara memalukan yang sudah ia tahan sejak tadi keluar juga pada akhirnya saat gelombang itu datang. Tubuhnya mengejang dan kewanitaannya berdenyut halus.
Ini pertama kali juga ia merasakannya. Orgasme dari seks oral pertamanya...
Axel bangkit dari tubuh Andara sambil mengusap bibirnya sendiri, lalu menjilat bibir bawahnya sekilas seolah masih menikmati rasa yang tertinggal di sana. "You don't know how fucking wet you are down there."
Kalau situasi normal, Andara pasti sudah menampar wajah yang tersenyum arogan itu. Namun sekarang kepalanya masih melayang dan tubuhnya masih terngiang oleh sisa-sisa sensasi tadi. Saat Axel kembali menindih tubuhnya, Andara langsung melingkarkan tangan menyambut pria itu. Bibir Axel kembali turun ke lehernya. Panas di tubuh Andara masih menyala. Bagian yang ditinggalkan pria itu terasa kosong dan lapar, menuntut pemenuhan yang lebih besar.
Lenguhan pelan keluar dari bibir Andara saat Axel memasukkan miliknya dengan cepat. Begitu mulus, tanpa ketidaknyamanan sedikit pun karena ia sudah begitu basah, padahal ukuran pria itu juga tidak kecil. Andara mengakui seks oral yang tadi dilakukan Axel adalah pilihan tepat karena begitu pria itu bergerak sedikit saja, gairah membanjiri Andara lagi dan mengantarkan denyutan lain ke tengah tubuhnya lagi yang masih sensitif.
"Fuck..." Ia hampir saja menjerit. Tapi Axel juga bergumam dengan umpatan yang sama. Andara gemetar saat dia membawanya ke klimaks sekali lagi dengan begitu mudah, begitu cepat. Getaran itu begitu terasa, kontraksi yang mengetat di sekeliling dinding dalam kewanitaannya meremas pria itu. Axel terdengar menahan napas kasar sambil menggertakkan giginya, seolah sensasi itu jauh lebih nikmat dari yang ia bayangkan. Sekali lagi ia mencium Andara dengan keras dan dalam sebelum akhirnya Andara bisa merasakan hangat yang perlahan memenuhi dirinya bersamaan dengan pelukan pria itu yang mengencang sesaat.
Ya, Axel sudah mengatakan tidak akan bisa bertahan lama. Tapi ia juga memastikan Andara tidak akan kecewa.
***
Beberapa saat setelahnya, Axel kembali menyibukkan diri di meja bersama laptopnya sedangkan Andara memilih leyeh-leyeh di atas kasur sambil memainkan ponsel. Mereka sempat membersihkan diri dan berganti pakaian yang lebih nyaman sebelum tenggelam dalam urusan masing-masing.
Katanya laki-laki akan langsung tertidur setelah berhubungan, tetapi Axel tidak selalu begitu. Kadang pria itu memang ikut rebahan lalu tertidur tanpa banyak bicara. Namun kalau masih terjaga seperti sekarang, Andara menduga akan ada season dua. Pengalaman terakhir mereka menginap di villa seperti itu. Sekali lagi, ini hanya dugaan.
"Ngelihat apa?" Pria itu bangkit dan berjalan mendekat ke tempat tidur. Ia ikut leyeh-leyeh di samping Andara satu bantal bersama sehingga bisa melihat apa yang dilihat Andara di ponselnya.
"Baru lihat si Radit ternyata tadi WA minta maaf takut aku ada masalah sama suami gara-gara dia nelepon malem-malem." Andara menjelaskan tanpa menoleh. "Besok ajalah aku bales."
"Bales aja sekarang."
"Ini jam satu pagi."
"Siapa tahu dia nggak bisa tidur khawatir kamu nggak bales-bales, jangan-jangan dianiaya suami."
"Anjir." Andara terkekeh kecil. "Ya udah deh aku balesin aja singkat. Nggak apa-apa, Dit." Ia mengetik.
"Jangan terlalu singkat gitu, nanti dia malah curiga. Tambahin dikitlah."
"Tambahin apa?"
"Apa kek. Suami aku baik hati, ganteng, gemar menabung__"
"Maumu."
"Kan kamu nanya saran."
"Nggak apa-apa, Dit. Suami aku woles, kok." Andara menekan tombol kirim dan menutup Whatsapp. Damn, suami. Malu sekali rasanya menyebutkan kata itu, padahal pas ditiduri tidak malu.
"Gitu aja?" tanya Axel.
"Iya, gitu aja. Ngapain aku flexingin kamu ke dia? Biar apa?" Ia mengucapkan itu di depan wajah Axel yang tersenyum-senyum.
"Apa cuma perasaan aku aja akhir-akhir ini kamu makin banyak kenalan cowok?"
"Memang cuma perasaan kamu aja." Andara menarik diri lagi dengan santai lanjut membuka Tiktok yang menampilkan konten Shiba Inu yang sedang relaksasi dipijat ala spa.
"Kamu beneran lagi nyari?"
"Berteman doang," decak Andara seolah terganggu. "Dari dulu temen aku di kantor sama temen kuliah kebanyakan cowok. Semua hubungan kerja."
"Soalnya aku sempat bilang sebelum kita bubar kemarin kalau semisal kamu mau mulai hubungan baru__"
"Iya, iya, nanti aku cari kalau kamu sebegitu ngebetnya nyuruh aku nyari__"
Belum kalimat itu selesai, Axel langsung merampas ponselnya lalu meletakkannya di atas nakas. Dengan senyum tipis yang tertahan geli, ia menumpukan tubuh di atas Andara, sengaja mempersempit jarak mereka agar perhatian Andara hanya tertuju padanya. Andara balas bersedekap dengan kedua alis terangkat-- sebenarnya dalam hati ingin menertawakan tingkah Axel yang sepertinya jengah dengan ucapan provokatifnya barusan. Tumben amat, biasanya kemarin-kemarin orangnya sok cuek, sok cool, dan si paling pengertian. Tapi itu semua bukannya memang keinginan Andara? Dan ia jadi memikirkan ulang apa sebenarnya yang ia inginkan.
"Sama aku aja."
"Hm?"
"Hubungan barunya sama aku aja," jelas Axel. "Pas bilang bubar itu sebenarnya aku nggak rela, tapi aku juga mikir egois banget maksa kamu bertahan, sementara kamu sampai harus pakai Bri sebagai fantasi."
Andara bertanya-tanya apakah selama ini ia yang terlalu kejam? Pada Axel, juga pada dirinya sendiri.
"Aku belum minta maaf soal itu," ucap Andara karena rasanya ia belum pernah mengucapkannya.
"It's ok. Itu udah berlalu. Yang penting bagi aku cuma sekarang. Kamu mau serius atau nggak, terserah kamu. Aku nggak bakal nuntut kamu jadi istri beneran lagi. Pokoknya aku ikut kemauan kamu aja. Kamu nggak perlu ketemu orangtua ataupun keluargaku kalau nggak mau."
Itu terdengar seperti mimpi hingga Andara pun harus bertanya untuk memastikan.
"Beneran?"
"Iya. Stay di sini aja sama aku, sama Danish. Mau, ya?" Satu tangan Axel terangkat ke wajahnya, jari-jarinya menyelipkan helai-helai kecil rambut Andara ke belakang telinga, seolah mampu menghipnotisnya untuk mengucapkan kata itu.
"Mau."
"Baru kali ini aku ketemu cewek yang malah seneng nggak diseriusin."
"Kenapa harus serius kalau yang nggak serius lebih enak?"
"Ngomong apa sih?" Axel menoyor kepalanya pelan dan membuat Andara tertawa memegang kepalanya dalam gerakan yang begitu natural.
"Anggep aja kayak one night stand," ucap Andara asbun lagi.
"Aku nggak mau kalau one night," sambung Axel.
"Every-night stand," ralat Andara.
"Harus malem aja gitu?"
"Every-time stand, then."
"Maksa banget."
"Bawel banget. Kamu minta stand by siang malem. Emang aku cewek panggilan apa?"
"Mulai playing victim? Yang minta nggak serius siapa?"
Andara mengalungkan kedua tangan ke leher pria itu dengan manja. "Nethink banget, sih. Kamu aja belum nanya aku mau apa enggak jadi cewek panggilan kamu."
"Mau?" senyum Axel di depan wajahnya.
Andara ikut tersenyum. "Enggak."
Axel tertawa dalam dan berat. Ia menyentuhkan ibu jari ke bibir Andara, lalu dengan sangat perlahan menelusuri garis bibirnya. Meski hanya membelai, tatapan intens pria itu yang terpaku pada bibirnya mungkin mampu membuat seorang pelukis tergoda mengabadikan adegan itu di atas kanvas.
Lalu Axel hanya memandangnya tanpa mengucapkan apa pun. Seharusnya Andara merasa gugup, tapi yang dirasakan Andara hanyalah ketakjuban dirinya bisa begitu tenang bersama pria itu. Mungkin inilah alasan mengapa ia lebih menyukai hubungan yang tidak serius, ia bisa menjadi apa adanya dirinya tanpa kekhawatiran akan masa depan.
"I don't know how to describe you. You're cold and burning at the same time. Like fire in winter."
"You now look like someone who enjoys getting burned," balas Andara.
Axel mengangkat pandangan lurus ke matanya. "Oya? Aku kelihatan kayak gitu?"
"Dari dulu kamu tipe orang yang selalu pilih jalan aman. Makanya aku heran kamu tiba-tiba deket api. Api neraka pula." Maksudnya adalah dirinya.
"Bullshit! Neraka apanya? Serius nggak serius, kamu masih istri aku. Halal mau di-ewe ribuan kali juga."
"Heh!" Andara menghardik.
"Just between us. Kamu juga sama aja, kan? Mulutmu baru lepas kandang begini kalau cuma sama aku. Di depan orang lain sok kalem."
Tertawa lagi, Andara hampir lupa bahwa ia juga sering seperti itu. Namun setiap kali mendengar Axel mengucapkannya selalu saja membuat dirinya terkejut.
"Be honest," lanjut pria itu. "Dari kemarin kamu pakai pakaian kayak gini." Jarinya memegang ujung crop top Andara yang tipis dan minim bahan. "Masih kepanasan... Atau minta dilecehin?"
"Keduanya."
"Good." Axel mendorong ujung crop top itu hingga mengumpul di bawah tulang selangkanya. Andara tidak memakai bra sama sekali di baliknya sehingga payudaranya tersingkap bebas. Ia memejamkan mata saat merasakan sentuhan tangan Axel menyusuri bulatan lembut itu, mendekati bukit dadanya, dan Andara tahu jari pria itu akan menyentuh puncaknya...
Saat benar-benar menyentuhnya, sensasinya luar biasa hingga Andara mengerang pelan. Puncak dadanya mengeras merespon sentuhan itu. Rasanya berbeda daripada ia menyentuh sendiri, rasanya berbeda jika yang menyentuhnya laki-laki. Rasanya begitu nakal.
"Suka diginiin?"
"Suka." Ia menjawab tak tahu malu.
"Dari kemarin-kemarin dipamerin melulu, tapi nggak boleh disentuh."
"Siapa yang pamerin__ ah!"
Erangannya bertambah berat saat tangan Axel terus membelai, melingkarkan putingnya yang mengeras di antara telunjuk dan ibu jarinya dan bermain-main di sana. Sepertinya pria itu menyadari betapa tergesanya permainan mereka sebelumnya hingga melewatkan banyak detail kecil. Napas Axel yang panas dan berat terasa di atas kulitnya yang membara. Andara ingin merasakan mulut itu melahap puncak payudaranya. Rasanya begitu lama hingga itu terjadi dan Axel seakan sengaja memperlambat itu dengan hanya memainkan lidahnya di sekeliling puncak dada Andara yang lain, lalu mengisap kulit lembut di sana beberapa kali. Ia yakin besok akan terbangun dengan memar tanda merah yang tak terhitung jumlahnya seperti biasa. Sebenarnya itu menyenangkan, sekaligus juga siksaan. Ia ingin lebih... lagi...
Sepertinya malam ini akan menjadi malam yang panjang, meski ini sudah terhitung pagi.
***
Suara alarm ponselnya berisik sekali.
Tangan Andara meraih-raih ponselnya yang entah ia taruh di mana. Rasanya ia baru saja menutup mata tapi tiba-tiba alarm itu membangunkannya lagi. Andara mengumpat berkali-kali dalam hati dan semakin dongkol saat tidak menemukan ponselnya.
Brak... bruk! Akhirnya ia terjatuh dari tempat tidur. Untung saja lantainya berlapis kayu parket sehingga tidak terlalu menyakitkan. Ia memanjat sisi kasur seperti nenek-nenek renta dan berhasil berjalan menuju asal muasal suara alarmnya yakni kamar mandi. Kenapa pula ponselnya bisa ada di sana? Ia lupa.
Samar-samar ia melihat Axel masih tertidur seperti orang mati, tak terusik oleh bunyi alarmnya sama sekali. Pakaian-pakaian berserakan di lantai, sprei kusut. Berapa kali ya tadi malam? Itu juga ia lupa. Sungguh Andara memilih hari yang salah untuk memulai tindakan asusila. Seharusnya ia menggoda Axel di Sabtu malam sehingga Minggunya bisa libur. Atau seharusnya ia tidak menggoda pria itu sama sekali. Ia menyesal__
What the fuck do you mean menyesal, Andara? Kamu menikmati semuanya, every single time.
Suara lain dalam dirinya seakan mengejek.
Ya ya ya, memang. Terus kenapa? Lagian Axel sudah setuju berhubungan tidak serius.
Ia membalas suara hatinya seolah itu bukan dirinya juga.
Lama-lama ia bisa gila berdebat dengan diri sendiri.
Tapi ia memang menikmati. It feels really good. Period.
Meskipun jadinya encok begini. Andara meringis mengingat bokong dan pahanya yang agak nyeri karena kram.
Perasaan itu sebenarnya tercipta bukan hanya karena sensasi fisik semata namun juga karena prasangka bahwa ia membosankan ternyata tidak benar. Ternyata ia menarik. Dan bukan sekadar menarik, jika melihat bagaimana Axel bersikap semalam. Meskipun bentuk ketertarikan itu mungkin yang paling mudah dan murahan seperti yang ia ungkapkan sebelumnya, Andara tidak peduli. Validasi tetaplah validasi.
Sudah cukup kan validasinya? Sekarang kerja, kerja, kerja.
Hari ini Senin. Kembali pada realita.
Dengan langkah malas, Andara berjalan menuju shower. Ia berdiri di bawahnya tanpa perlu membuka pakaian lagi karena ternyata ia tidur telanjang. Sebenarnya ia sudah membersihkan diri dan berpakaian, tapi Axel selalu membukanya lagi dan lagi sampai ia tidak ingat. Sengaja ia memilih air dingin mengguyur kepala agar rasa kantuk cepat luruh serta pikiran-pikiran mesumnya juga ikut hanyut ke floor drain. Selesai mandi, ia mendapati bahwa wajahnya masih terdapat jejak-jejak kurang tidur saat bercermin dan memutuskan harus melakukan sesuatu guna menyelamatkan kondisi wajahnya yang tidak jelas itu. Cepat-cepat ia meraih interkom di atas nakas tempat tidur untuk menelepon IRT minta dibawakan sebaskom es ke kamar.
Gerakan di kasur membuat Andara menoleh. Axel berusaha melihatnya dengan mata setengah terbuka dan alis berkerut. Sepertinya ia menyadari penampilan Andara dengan rambut lembap sehabis keramas.
"...what the hell," gumamnya setengah sadar. Ia mengucek mata sebelum akhirnya bangkit, langkahnya tidak jauh berbeda dengan Andara tadi yang sedikit sempoyongan menuju kamar mandi. Andara menyimaknya sejenak, lalu melanjutkan kegiatannya lagi dengan masa bodoh.
Tak lama kemudian, Axel keluar kamar mandi dengan kondisi yang jauh lebih segar dari sebelumnya sehingga bisa melihat apa yang dilakukan Andara di taman luar kamar. Matahari belum sepenuhnya terbit sedangkan Andara berjongkok di area berumput dengan kaki beralaskan sandal kamar dan menyelamkan wajahnya ke dalam air es dalam baskom.
"Ngapain?" tanyanya.
Andara mengangkat wajah dari baskom seraya mengambil napas. "Rendem air es, katanya bisa bikin wajah bantal kelihatan seger dalam sekejap."
"Juga nggak ada yang lihat kecuali aku. Emang mau ke mana?"
"Kerjalah."
"Kamu masih mikirin kerja juga di saat seperti ini?"
"Ya," jawab Andara. "Trus?"
"Libur aja sehari."
"Nggak. Nanti males-malesan aku bisa dipecat."
"Bullshit perusahaan mau mecat karyawan berdedikasi kayak kamu. Mecat juga harus bayar pesangon. Belum lagi ribet nyari karyawan baru," jelas Axel. "Lagian kalau bener dipecat, masih ada aku. Kamu nyari apaan sih? Aku bisa provide buat kamu."
Meletakkan baskom, Andara menegakkan tubuh dan menoleh pada pria itu dengan raut terkendali. Inilah dia... kesombongan hakiki anak Bu Meisya yang terpendam sejak zaman dahulu kala, yang kadang timbul tenggelam, dan kini bangkit dalam bentuk yang berbeda. Mungkin juga dia tipe laki-laki provider. Itu sesungguhnya hal yang positif, meski Andara sudah terbiasa mengurus diri sendiri. Tapi ia sudah terlanjur gemas sehingga memutuskan memberi makan jiwa provider itu. Mukbang sekalian.
"Aku mau pulau."
"Pulau?"
"Iya pulau. Bisa beliin?" tantangnya dengan dagu terangkat.
Axel terkekeh pelan. Andara tetap memasang wajah serius. Matilah kau. Andara yakin Axel tidak akan bisa memenuhinya dan berpikir ulang seribu kali jika ingin menawarkan sesuatu padanya.
"Gampang kalau itu, ntar aku beliin seribu pulau." Axel berbalik ke dalam kamar.
"Pulau beneran! Bukan mayones Thousand Island!" tuntut Andara sambil menyusul dan memeluk punggung Axel saat pria itu tertawa tertahan. "Mau nipu orang pake jokes bapak-bapak!"
"Tau aja jokes bapak-bapak."
"Taulah, kenapa enggak?"
"Kamu beneran mau pulau? Itu urusannya sudah sama perusahaan." Axel beralih mengambil ponsel di meja. "Paling aku disidang sama Bapak dan segenap komisaris buat nanya tujuan aku beli pulau."
Andara mendongak. "Terus kamu disangka salah minum obat."
"Belum tentu. Asal alasannya masuk akal, bisa aja dikabulkan."
"Alasan masuk akal gimana?"
"Bisnislah. Kamu pikir orang beli pulau karena flexing doang? Tapi sistemnya sebenarnya bukan beli pulau sih kalau di negara kita. Lebih ke hak pengelolaan." Ucapan itu terdengar serius dan Axel sudah menempelkan ponsel ke telinga.
"Nelpon siapa?"
"Personal aide-ku di perusahaan Bapak."
"Jam segini?"
"Dia siap dihubungin 24 jam."
"Kamu nggak beneran mau ngajuin, kan?"
"Kan kamu minta pulau."
Nada sambung mulai terdengar.
Ini di luar rencana Andara. Ia berusaha mencegat tangan Axel, tapi pria itu menjauh. Andara meraih dan Axel terus menghindar memunggunginya sehingga Andara melompat untuk bergelayut di punggung pria itu.
"Kamu lama-lama beneran kayak anak monyet, suka banget gelantungan!" Axel menahan Andara dengan kedua tangan saat mereka terjungkal dan mendarat di sofa bersama dengan amburadul.
"Ya, pagi, Pak?" Terdengar sahutan dari orang yang ditelepon Axel.
"Buatkan saya proposal buat pembelian pu__"
Andara menarik ponsel Axel turun dari telinga dan menutup paksa panggilan itu. Kali ini Axel membiarkan dan hanya tertawa melihatnya.
"Katanya minta pulau?" Ia menggoda.
"Udah tahu aku nggak mungkin serius, kamu suka banget nantangin."
"Aku yang suka nantangin? Aku?" sindir Axel.
"Kan kamu tadi yang nawarin aku mau diprovide apa."
"Terus kamu aslinya mau apaan?" Suara Axel melembut lagi.
Andara melirik padanya. Axel menunggu.
"Wisata 3 hari 2 malam."
"Oke. Sounds a bit more realistic. Ke mana?"
"Mars."
Axel terkekeh lagi. Andara bergeming.
"See? Kamu sendiri yang suka nantangin orang."
"Bisa nggak?" tanya Andara meremehkan.
"Kamu punya paspor?"
"Nggak."
"Pas-lah libur dulu sehari buat ngurus."
"Ngurus paspor doang bisa online."
"Tetep aja harus ke kantornya biarpun online. Libur dulu sehari."
"Kamu kedengeran kayak setan sedang ngehasut, tau nggak?"
"Aku selalu dukung kamu tetap kerja atau apa pun yang kamu pengin lakukan. Tapi aku kasihan kamu kurang tidur semalem. Istirahat aja sehari ini."
Memang gara-gara siapa dia kurang istirahat semalam? Ingin rasanya Andara menghujat. Tapi ia hanya bertanya. "Beneran istirahat?"
"Bener." Axel tertawa pelan. "Masa bohong?"
"Beneran?" ulang Andara penuh penekanan.
"Kamu kedengeran nantangin lagi."
"Mastiin doang. Mending jujur dari awal."
"Oh, gitu." Axel mengangguk-angguk. "Kamu capek nggak?"
"Nggak," sahut Andara cepat.
Mereka bertukar pandang dalam diam untuk beberapa saat.
Axel meletakkan ponsel sembarangan sebelum menarik Andara ke tubuhnya. Tidak bertanya apa pun, Andara meraih wajahnya dan mencium bibir pria itu. Bibir Axel pun melumat bibirnya, sementara tangannya bergerak masuk ke balik baju model kimono yang Andara gunakan untuk menemukan payudaranya.
"Kamu belum pakai bra?"
"Aku juga belum pakai celana dalam."
Axel memutar bola mata. "Kamu jadi orang pernah malu-malu dikit nggak sih?"
"Jarang," Andara menjawab. "Kenapa? Nggak suka?"
"Suka," sahut Axel. Tangannya membelai pinggang Andara pelan sementara menatap matanya tajam. "Aku suka banget semua yang ada di diri kamu."
Mulut Axel langsung melahap salah satu payudaranya membuat Andara mendesahkan makian lirih karena gerakan tiba-tiba itu. Kepalanya menengadah langit-langit kamar dengan mata terpejam, sementara jemarinya yang semula berpegangan pada bahu pria itu kini meremas rambut Axel, menekan kepalanya semakin dekat ke dadanya sendiri. Bibir pria itu mengisap puncak payudaranya dengan keras diselingi gigitan-gigitan kecil yang membuat ia melonjak gelisah di atas pangkuannya.
Rasanya mereka baru saja membicarakan wisata ke Mars dan tiba-tiba saja sudah berakhir begini lagi, begini lagi...
Satu tangan pria itu bermain-main di bagian intimnya yang terbuka di antara kedua pahanya. Dengan sabar jemari itu membelai dan mengusap bagian permukaan, sebelum menyelinap ke dalam pusat hasratnya, masih dengan lembut dan hati-hati. Andara tersesat ke dalam sensasi mengggelitik yang menyenangkan itu. Pinggulnya secara alamiah bergerak turun mencari kenikmatan, membuat jari-jari itu semakin menelusup ke dalam lubangnya. Area itu kini begitu basah dan licin oleh cairan gairahnya sendiri.
"Nice, udah ready aja."
Andara sedikit membenci kenyataan bahwa tubuhnya selalu bereaksi secepat ini pada Axel. Pria itu menahan pinggang Andara dan sedikit mengangkatnya saat memposisikan kejantanannya di pintu masuk kewanitaannya. Ia menurunkan tubuh dan milik Axel memasukinya tanpa hambatan, membuat mereka mendesah lega bersamaan.
"Sekarang nggak apa-apa langsung masuk aja?" tanya Andara seraya menumpukan tangannya pada bahu Axel dan bergerak pelan... pelan...
"Udah mulai bisa menyesuaikan diri lagi." Axel sedikit menggeram saat menjawab. "Tadi malem baru pertama kali setelah berapa lama absen, tambah lagi kamu sering mancing-mancing. Nggak kira-kira banget ngasi cobaan."
"Aku pikir kamu kebal."
"Terus kamu tambahin kadar siksaannya, gitu?"
"Nggak ada ya, anjir... "
"Kata siapa tadi mending jujur__"
"Iya aku tambahin." Andara hampir tertawa, tapi gesekan di dalam kewanitaannya membuat suara itu tergantikan dengan desahan. Rasanya begitu ketat...
"Fuck..." Axel mengumpat karena gerakan Andara. "Iya kayak gitu... move your body like that," ucapnya sambil memejamkan mata. "Feels so good. Kamu enak banget. Nggak bohong," ujarnya mirip orang meracau.
Andara melakukan apa yang pria itu inginkan sembari mengejar kenikmatannya sendiri. Tangannya menarik wajah Axel, menciumnya keras. Axel menyambut ciumannya dengan lapar. Mereka saling mengisap dan mencecap. Gerakan mereka semakin liar. Erangan Andara tertelan ciuman panas mereka saat pria itu ikut bergerak menghujamnya naik.
Tangan Axel sendiri mencengkeram bokongnya erat sehingga bibir kewanitaannya terentang setegang mungkin. Sensasi desiran dingin udara luar terasa menggelitik dan titik sensitifnya tergesek secara maksimal oleh milik Axel di dalam sana.
Andara melepas ciumannya karena tidak tahan. "Enak banget. Terusin kayak gitu... iya kayak gitu..." katanya sambil terengah. Ia hampir meneriakkan desahan frustrasi__
"Papa? Mama? Boleh masuk?" Terdengar ketukan di pintu dan suara Danish. Gerakan Axel melambat. Andara langsung menahan bahu Axel dalam cengkeraman dan ia menatap penuh ancaman.
"Sumpah, aku bakal bunuh kamu kalau berhenti sekarang!"
"Buset! Serem banget."
"Lagi dikit aja. Aku mau keluar," rengek Andara tanpa berhenti bergerak.
"Come with me. I've got you."
Axel meredam suara berbahaya Andara dalam satu ciuman yang keras dan panjang agar tidak terdengar Danish. Andara memeluk pria itu erat hingga Axel mengumpat lirih di mulutnya, entah karena pelepasannya yang hangat di dalam Andara di bawah sana, ataukah karena kuku-kuku Andara menancap di punggungnya.
Mungkin keduanya.
"Mama?" Terdengar suara Danish lagi.
"Tunggu sebentar, Danish." Andara menjawab dengan seruan.
"Iya, tunggu dulu," gumam Axel di telinga Andara. "Papamu masih dipake Mama."
Andara langsung menampar pelan pipinya sambil menahan tawa.
Axel mengambil beberapa lembar tisu dari kotaknya untuk membersihkan diri cepat dan memberikan juga pada Andara. "Lanjut ntar aja. Aku urusin Danish dulu."
"Lanjut apaan lagi? Ini udah kelar!"
***
Ah elu Nda juga mau-mau aja elah...
Gini deh jadinya yang ngaku bubaran kemarin, sekarang balik lagi langsung buka puasanya brutal abis. Mau lanjut lagikah mereka?
Aku buat versi yang lebih panjang dikit di KK yah sebagai bonus di sana, tapi nggak pengaruh ke jalan cerita.
Makasi sudah kasi bintang dan komen!!!
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top