Seventh Chapter - Secret
(Y/n) dan Riko baru saja dari ruang klub basket. Dengan satu kardus di tangan masing-masing mereka beranjak menuju... Entahlah, (Y/n) tak mendengar perkataan Riko tadi.
Perjalanan melewati lorong kelas satu membuat (Y/n) teringat akan kedua orang yang juga kelas satu disini. Tepat di depan pintu ruang kelas 1-B, (Y/n) menghentikan langkah Riko.
Riko memandang penuh tanya.
"Kagami-kun dan Tetsu-nii ada disana..." Kata (Y/n). Riko langsung tersenyum miring lalu memanggil duo cahaya-bayangan klub basket mereka itu.
"Kagami-kun, Kuroko-kun! pas banget. Ikutlah denganku!" Panggil Riko. Kagami dan Tetsuya saling pandang tak mengerti lalu menuju Riko yang langsung menyerahkan kardus ditangannya pada Kagami. Diikuti (Y/n) yang menyerahkan kardus yang dibawanya pada Tetsuya.
"Onegaishimasu" ujar (Y/n). Tetsuya menghela nafas, sekarang ia mulai berpikir jika adik kembarnya itu sudah tertular sifat Kagami dan para senpai.
"Padahal badan kami sedang nyeri... Pelatih ini iblis ya"kata Kagami.
"Chotto, memangnya kalian ingin membuat gadis-gadis manis ini membawa barang berat ? Sudah jelas itu tugas kalian, sebagai laki-laki" kata Riko. Kagami mengernyit, ia tak tau pasti apa itu definisi 'manis' yang dianut sebagian gadis yang mengaku dirinya 'manis'. Apakah 'manis' itu harus wajahnya cantik, kulitnya putih, tubuhnya pen-- Ekhem, ideal? Entahlah, Kagami tak tau. Tapi yang Kagami tau adalah kedua gadis yang menjabat sebagai pelatih dan manager tim basket itu menarik dengan pesona mereka masing-masing. Kagami tau itu...
... Tapi dia lebih tertarik untuk menjahili keduanya.
"Aku tidak melihat adanya gadis manis disekitar sini" kata Kagami.
... Dan langsung disesalinya pada detik selanjutnya.
BUAK JDAK
Dua tinju mentah mengenai tepat pada bagian tubuhnya yang tengah nyeri, punggung dan pinggang yang nyeri itu semakin sakit seakan tulangnya telah dihancurkan kedua gadis yang memukulnya beberapa detik yang lalu. Hari ini Kagami belajar hal baru, jangan katakan kata terlarang seperti 'tidak manis atau cantik' kepada mereka baik tersirat maupun tersurat, karena selanjutnya mungkin kau akan menerima kabar dari dokter bahwa tulangmu hancur.
Tetsuya menoleh horor dengan wajah datarnya, mangasihani Kagami yang tampak kesakitan.
"Kenapa kau ikut-ikutan?!" Pekik Kagami pada (Y/n) yang berjalan tepat di belakangnya.
"Entahlah... Tanganku sedang gatal ingin memukul seseorang" kata (Y/n) datar dengan kepalan tangan berasap. Kagami mengalihkan pandangan menuju kardus yang dibawanya saat ini.
"Ngomong-ngomong, apa sih ini?" Tanya Kagami.
"Itu DVD pertandingan dari tahun ini dan tahun kemarin yang kami pindahkan dari ruang klub. Untuk membuat strategi, tapi ruangan klub kita terlalu kecil. Soalnya kita akan bertanding melawan dua raja berturut-turut di babak selanjutnya. Jadi bukan hal yang aneh bila jumlahnya sebanyak itu" jelas Riko.
'sudah jelas kita tidak akan mengamati latihan mereka ya, tapi yang jelas pertandingan semi final nanti akan kami menangkan'
Other side...
Kardus telah mereka antar sampai tujuan dengan selamat, kini Kagami dan Kuroko berjalan bersama menuju kelas mereka dalam hening.
"Na, Kuroko..." Hingga suara Kagami memecah keheningan yang sama-sama mereka ciptakan.
"Hai'?" Jawab Tetsuya.
"Boleh aku tanya beberapa hal?" Tanya Kagami memastikan.
Tetsuya heran, "Kagami-kun kerasukan apa kali ini? Kau aneh"
"URUSE!" Teriak Kagami di depan Tetsuya.
"Ekhem... Ini tentang... Manager" Kagami bahkan tak mampu menyebut namanya.
"Ada apa?" Tetsuya merasa yang akan ditanyakan Kagami ini lumayan penting.
"Aitsu wa... Aku merasa dia sedikit aneh" ujar Kagami.
"... Baunya sangat berbeda. Memang benar jika dia tidak punya hawa keberadaan sepertimu, tapi aku juga bisa mencium bau kekuatan yang besar darinya..." Lanjut Kagami, Tetsuya yang tadi memusatkan atensinya pada Kagami kini memalingkan wajah ke depan. Hening beberapa saat sebelum akhirnya Tetsuya memutuskan untuk menjawab.
"Kemampuan (Y/n)-chan bukan hanya ini" kata Tetsuya.
"Apa?" Beo Kagami kurang mengerti.
"Aku tidak tau apa alasannya, tapi saat ini, (Y/n)-chan bahkan belum mengeluarkan setengah dari kekuatannya sebagai manager" lanjut Tetsuya. Kagami diam mencerna segala perkataan Tetsuya.
Butuh beberapa detik hingga ia menyadari sesuatu... Sesuatu yang membuatnya kaget.
"Tunggu... Itu artinya dia..."
Other side again...
"Riko-senpai, boleh yang ini kupinjam?" Izin (Y/n) pada Riko dengan DVD pertandingan Seiho ditangannya.
"...Aku mau menganalisanya" lanjut (Y/n). Riko mengangguk setuju.
"Arigatou Gozaimasu" ujar (Y/n). Riko keluar dari ruangan itu duluan, sementara (Y/n) duduk mencari satu lagi DVD yang kiranya ia butuhkan.
"Kurasa aku membutuhkan yang ini" gumam (Y/n) dengan DVD pertandingan Shutoku di tangannya.
Dua DVD dibawanya menuju ruang klub basket, disimpan untuk diambil saat pulang sekolah nanti.
Skip
"Aku lupa mengambil handukku" ujar Kagami memasuki ruang klub basket. Sore hari itu, dalam ruang klub basket yang sepi, tak ada penerangan berpijar, hanya cahaya senja yang masuk melewati jendela.
Kagami membuka pintu lokernya, handuk diambil dan pintu loker kembali ditutup. Gerakan Kagami terhenti beberapa detik.
"GWAKH?! Apa yang kau lakukan!? Sejak kapan kau disini!?" Kaget Kagami pada seseorang(?) yang tiba-tiba muncul tak jauh darinya.
— Kuroko Tetsuya berdiri dalam diam di depan lokernya.
"Wasuremono desu. Lagipula, Kagami-kun 'kan yang masuk setelah aku" jawab Tetsuya.
"Bilang sesuatu dong! Serem tahu!" Teriak Kagami masih tak terima. Tanpa disadari seseorang yang tak jauh darinya merasa tersindir dan hendak menyapa.
"Doumo"
"GYAAA!!" Kaget Kagami (again). Kagami menoleh ke sumber suara yang terdengar tak jauh disampingnya.
—Kuroko (Y/n) berdiri menghadap Kagami dengan tatapan datar khas miliknya.
"Omae wa! Kenapa kau disini?!" Tanya Kagami nge-gas. Dimana ada Tetsuya disana ada (Y/n), yang pasti membuatnya kaget dua kali lipat.
"Aku mau mengambil DVD yang kupinjam, lagipula tadi 'kan Kagami-kun yang bilang supaya mengatakan sesuatu" jawab (Y/n). Dan sekarang Kagami tengah merutuki perkataannya tadi.
'Dua orang ini... Kalau aku tidak memerhatikan, keberadaannya benar-benar tidak bisa disadari. Sudah lama juga aku tidak mengalami ini' batin Kagami menghela nafas pasrah sambil memalingkan wajah.
"Ngomong-ngomong, (Y/n)-chan. Apa itu?" Tanya Tetsuya pada (Y/n) yang kini memegang sebuah DVD di tangannya.
"DVD pertandingan Seiho, aku berencana menganalisanya di rumah" jawab (Y/n) tanpa mengalihkan pandangannya dari DVD di tangannya.
"Tidak dengan Kantoku?" Tetsuya bertanya dengan intonasi yang berbeda, menyiratkan sebuah kejanggalan.
Hening sejenak, (Y/n) terasa enggan menjawab.
"... Entahlah" kata (Y/n). Kagami yang mendengarnya merasa aneh, bagi Kagami, suara (Y/n) tadi terdengar lebih dingin dari biasanya.
—jawaban kosong yang tidak memiliki makna, seolah si pemilik suara telah kehilangan kepercayaan atas segalanya dan memilih untuk tidak melibatkan orang lain dalam ruang lingkup 'dunianya'.
'ada yang aneh disini' batin Kagami.
"Benar juga. Karena kita sedang ada disini, jadi ayo menonton DVD ini bersama" ajak (Y/n) yang langsung disetujui Tetsuya.
"Hai' " kata Tetsuya setuju. Kagami di sampingnya berjengit kaget tanpa suara.
'kenapa kau main langsung setuju?!' batin Kagami heran.
Detik berikutnya Kagami berubah pikiran, 'yah... Mungkin tak ada salahnya aku ikut menonton'
Klik
Ketiganya menonton, Kagami duduk di bangku, sedangkan (Y/n) dan Tetsuya berdiri dibelakangnya.
"...Terutama pertahanan si botak itu, dia benar-benar hebat" kata Kagami yang membawa kesadaran (Y/n) kembali dari alam pikirannya. (Y/n) langsung fokus ke layar di depan.
"Bukankah dia..." Gumam (Y/n) yang masih bisa didengar Kagami.
"Ha?"
"Kami mengenalnya" kata Tetsuya.
"Hah?"
"Aku pernah melawannya saat SMP" lanjut Tetsuya.
"Kalau tidak salah, waktu itu Kise-kun baru mulai bermain basket, tapi orang itu berhasil menghentikannya" kata (Y/n).
===============
Priiit...
"Over time, 45 detik"
"Are?"
"Kise! Kau terlalu lama memegang bolanya, bodoh!" Bentak orang dengan nomor punggung 6.
"Sumimasen!"
"Kise-chin... Yang benar aja dong..." Keluh si nomor punggung 5.
"Karena inilah kami selalu menganggapmu tidak berguna nanodayo"
"Kise-kun, tolong oper bolanya dengan benar" kata Tetsuya mendukung perkataan ketiga teman setimnya.
"Sampai Kurokocchi juga..."
"Kise, hanya kau saja yang belum mencetak 20 angka" si nomor punggung 4 sekaligus kapten mereka memperingatkan.
"Maafkan aku! Tapi, Kurokocchi gimana...?"
"Kuroko itu berbeda" jawab si kapten.
"Kise-kun, hari mendapat latihan tambahan"
"(Y-Y/n)cchi?!"
Kise merengut, lalu kembali menghadap penjaganya dengan wajah kesal, "Siapa namamu? Gara-gara kau, hanya aku yang harus menerima latihan tambahan"
"Tsugawa Tomoki. Begitu, jadi kau dimarahi, ya? Menyenangkan sekali. Menyenangkan sekali melihat wajah kesal orang lain" jawabnya dengan senyum.
"Apa-apaan orang ini? Ada yang mau tukar Mark denganku?" Heran Kise.
===============
'kemungkinan menang memang kecil, tapi tidak ada yang tau hasilnya sebelum bel berakhirnya pertandingan berbunyi' (Y/n) mengambil DVD setelah penayangan itu berakhir.
"Kau masih mau membawanya, (Y/n)-chan? Bukankan kau bisa mengingatnya" tanya Tetsuya. (Y/n) yang semula melihat ke arah Tetsuya memalingkan wajahnya ke DVD yang ada ditangannya.
"... Tidak apa-apa, aku akan tetap membawanya" ujar (Y/n).
Mereka pulang secara terpisah. Kagami berdiam seorang diri di sekolah lebih lama, sementara Kuroko bersaudara itu sudah pulang duluan menuju rumah mereka.
Kagami's POV
Pertanyaan Kuroko pada manager tadi membuatku memikirkannya.
Maksudku...
Memang manager bisa mengingat semuanya, tapi kenapa Kuroko seolah ingin mengatakan hal lain.
Apa ini ada hubungannya dengan yang dia katakan tadi siang?
"Kemampuan (Y/n)-chan bukan hanya ini. Aku tidak tau apa alasannya, tapi saat ini, (Y/n)-chan bahkan belum mengeluarkan setengah dari kekuatannya sebagai manager"
Gila, tak kusangka gadis itu menyimpan kekuatan yang begitu besar. Kiseki no Sedai benar-benar lawan yang kucari selama ini.
Tanpa kusadari, kedua ujung bibirku tertarik, membentuk sebuah senyum penuh semangat.
Aku benar-benar ingin segera melawan dan mengalahkan mereka.
Kagami's POV End
Kagami keluar dari lingkungan sekolah masih dengan senyum mengerikan terlukis diwajahnya.
Skip
Dini hari disebuah rumah, seorang gadis bersurai baby blue masih berada di ruang tamu kediamannya, menonton televisi yang entah sudah berapa kali memutar tayangan yang sama.
"(Y/n)-chan? Kau belum tidur?" Panggil sebuah suara yang terdengar tidak jauh darinya. (Y/n) menoleh, menemui Tetsuya dengan bedhair nya yang menatap datar dirinya.
Mangalihkan pandangan, (Y/n) menjawab pertanyaan Tetsuya, "Sebentar lagi, Tetsu-nii"
"Kau bahkan melewatkan makan malam tadi, sekarang ayo makan, tidak ada penolakan" kata Tetsuya sambil mematikan layar televisi.
(Y/n) menggembungkan pipinya, padahal tadi dia baru saja menemukan sesuatu yang menarik.
Tetsuya yang melihat tingkah adiknya tersenyum tipis, tangannya mengelus lembut pucuk Surai sang adik.
"Kau sudah bekerja keras, terimakasih untuk kerja kerasnya. Tapi bukankah sebaiknya mengamati bersama yang lain? Itu akan lebih membantumu, (Y/n)-chan" ujar Tetsuya dengan senyum tipisnya.
"Tapi..."
(Y/n) menghela nafas, apa yang dikatakan Tetsuya ada benarnya.
"... Baiklah" (Y/n) mulai membereskan kertas-kertas yang berserakan di atas meja lalu berdiri.
"Aku makan besok pagi saja, ini sudah malam. Oyasuminasai" kata (Y/n).
"Oyasuminasai" jawab Tetsuya.
(Y/n) sampai di kamarnya, menuju meja belajar dengan penerangan remang, kertas-kertas tadi dijajarkan rapi. (Y/n) duduk di kursi, melanjutkan analisanya yang sempat dihentikan saudara kembarnya tadi. Keras kepala memang, sifat murni yang tidak bisa dihilangkan selama ini.
.
.
.
.
.
Beberapa jam berlalu, (Y/n) menguap tanda lelah. Netranya melirik jam digital yang berada di rak atas meja belajarnya.
01.08 AM
"Seiho dan Shutoku sudah selesai, sisanya tinggal mengamati langsung bersama Riko-senpai... Sepertinya aku istirahat saja sekarang" gumam (Y/n).
(Y/n) beranjak dari duduknya menuju ranjang, menyelimuti diri dan langsung tenggelam dalam dunia mimpi.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
"Aku beruntung kantung mata ini tidak menghitam" gumam (Y/n) melihat pantulan wajahnya di cermin.
Tubuh menjauh dari cermin, tas yang teronggok di lantai disambar, kaki melangkah keluar menuju lantai dasar.
"Ohayou gozaimasu" sapa (Y/n) begitu memasuki dapur.
"Ohayou gozaimasu mo, (Y/n)-chan" sapa balik kedua sosok yang ada di dapur, tak lain adalah Tetsuya dan ibunya sendiri.
(Y/n) duduk di hadapan Tetsuya, tak lama kemudian mereka sarapan dan langsung berangkat ke sekolah setelah berpamitan.
Skip
"Kagami-kun, jangan bilang kau tidak tidur lagi. Matamu menyeramkan" tebak (Y/n) pada Kagami yang matanya sungguh 'luar biasa indah' hari ini.
"Uruse, aku tidur..." Sanggah Kagami. (Y/n) menaikkan sebelah alisnya kala ucapan Kagami melirih.
"...20 menit" lanjut Kagami setengah berbisik. Detik berikutnya ekspresi (Y/n) berubah menjadi oh-yappari-desune.
"Ya sudah... 20 menit ditambah tidur selama jam pelajaran sudah lebih dari cukup 'kan?" Kata (Y/n) cuek. Kagami meringis, padahal tidak ada yang menusuknya, tapi kok sakit ya.
"Teme... Kau tau kebiasaan ku rupanya" ujar Kagami.
"Siapa yang tidak tau setelah kejadian legendaris beberapa minggu yang lalu" jawab (Y/n) jujur. Kagami berjengit kaget tanpa suara.
Skip
TEENG....
Bel tanda berakhirnya pertandingan berbunyi dari layar yang usai menampakkan pertandingan Seiho.
"Memang kita sudah menduganya, jujur saja sepertinya ini akan menjadi pertandingan yang berat"
"Ya ampun. Maaf, sepertinya aku jadi ingin menangis lagi" kata Koganei menunduk sedih.
Riko yang ada disampingnya mulai bicara, "Bisa dibilang, kemungkinan kita untuk kalah melawan Seiho dan Shutoku adalah 9 banding 10. Tapi, ayo kita gunakan satu kemungkinan yang ada untuk menang." Ujarnya diikuti raut wajah yang kian melunak yakin.
"Ngomong-ngomong..." Hyuuga mengalihkan segala perhatian ke dirinya.
"Sebenarnya ini bukan sebuah strategi sih..."
"... Tapi aku punya ide"
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Suara decitan sepatu memenuhi seluruh ruangan, sesi pemanasan 4 sekolah yang akan bertanding hari ini.
Di bagian bangku cadangan Seirin seorang gadis bersurai baby blue tengah sibuk mengamati lawan tanpa disadari seorangpun. Setelah merasa cukup, (Y/n) menyerahkan hasilnya pada Riko. Riko sendiri tidak tau kapan (Y/n) mengamati hanya diam-diam cengo sambil menerima data dari (Y/n).
"Ah... Naruhodo ne... Seni bela diri, ya" gumam Riko sembari membalik satu per satu lembar data yang diberikan (Y/n) tadi.
'sepertinya aku sudah mulai terbiasa dengan tulisan cakaran ayam (Y/n)-chan' batin Riko bangga.
"Riko-senpai, apa memang tulisanku seburuk itu?" Tanya (Y/n).
"Ah... Ie ie, siapa yang bilang begitu, (Y/n)-chan?" Sanggah Riko.
"Terlihat dari raut wajah senpai" kata (Y/n) datar dan Riko hanya bisa tertawa canggung.
(Y/n) menghela nafas lalu melihat ke arah lapangan. Kagami melihat lawan yang salah.
'mattaku, lawan kita itu Seiho kenapa kau malah melihat ke Shutoku, Bakagami-kun' batin (Y/n).
"Kagami-kun kau melihat kemana, kono baka!" teriak (Y/n). Dan sepertinya Kagami tidak mendengarkan. Kagami terus fokus pada Midorima yang sama-sama melihatnya.
"Dasar bodoh, kau melihat lawan yang salah, tahu!" Hyuuga datang dan langsung memutar paksa kepala Kagami menghadap tim Seiho.
"Apa kau tidak mendengar teriakan manager, ha?" Tanya Hyuuga tajam.
"Hah? Teriak? Si hantu itu teriak?" Kagami heran.
Dak
"Jangan mengejek saudara kembarku, kau sama saja mengataiku hantu, Kagami-kun" kata Tetsuya sambil menusuk pinggang Kagami.
"Teme..."
"Boku wa kage da, soshite (Y/n)-chan mo" Tetsuya menegaskan.
"Ano sa... Apa kalian memang sungguh-sungguh beranggapan begitu?" Heran Kagami.
"Sou desu!" Jawab Tetsuya yakin.
"Kalau terlalu fokus pada lawan di pertandingan lain, kita akan dianggap bodoh kalau malah kalah di pertandingan berikutnya!" Ujar Hyuuga tegas.
"Aku hanya melihatnya saja kok. Lagipula aku juga sudah fokus kepada lawan di pertandingan berikutnya" kata Kagami beralih melihat tim Seiho yang berlatih, diikuti juga Tetsuya yang melihat tim Seiho, Tetsuya tak ingin kepalanya diputar seperti Kagami oleh Hyuuga.
'kami beruntung punya kapten hebat dan gila pangkat seperti Hyuuga-senpai' puji (Y/n) yang lega. Tunggu, emang itu pujian?
"Tidak seperti yang kubayangkan, pemain Seiho terlihat biasa saja. Mereka hampir tidak memiliki pemain berbadan besar." kata Furihata dibelakang Riko.
"Ano... Senpai, entah kenapa aku merasa inti dari tim Seiho ada pada mereka berdua, orang bertubuh besar dan juga orang berambut coklat itu" kata (Y/n) dengan keringat sebiji jagung di pelipisnya.
"Wah, sasuga da wa, instingmu sangat bagus, (Y/n)-chan. Dan..." Riko menoleh lalu kembali melihat ke depan.
"Yah, mungkin untuk tim setingkat nasional, mereka memang terlihat kecil. Yang memiliki postur badan paling besar adalah kapten mereka, Iwamura-kun..." Kata Riko.
"Kira-kira tingginya sama dengan Mitobe-senpai, ya?"
"Kelihatannya dia... Ge-gede! Badannya kekar! Sepertinya kuat sekali!"
"Lalu, playmaker mereka, Kasuga-kun. Kedua pemain kelas tiga itu adalah inti dari tim mereka seperti kata (Y/n)-chan tadi " lanjut Riko.
Kembali ke tengah lapangan...
Kagami yang baru saja berbalik tiba-tiba merasa terpanggil.
"Kau Kagami-kun, 'kan?" Tanya suara yang terdengar girang dari belakang, Kagami menoleh, mode sangar Kagami aktif.
"Waah, rambutmu benar-benar merah! Serem~!" Tanya seorang biksu(?) Berseragam Seiho. Tunggu, apa dia benar-benar biksu?
'sepertinya dia belum tau kapten kami waktu SMP' batin (Y/n).
"Hah?"
Tsugawa berbalik melambaikan tangan lalu berteriak lantang, "Kapten, orang yang ini, 'kan? Seirin itu tim lemah, hanya saja mereka punya satu orang hebat seperti yang kapten bilang!"
Sementara itu Riko sudah dipenuhi perempatan imaginer di kepalanya, menahan hasrat untuk merebus Tsugawa ditempat.
"Oooh... Habis sudah kesabaranku, bocah sialan...!" Ujar Riko. Bagaimana dengan (Y/n)? Mari kita lihat...
"Boleh kupukul kepala botaknya itu?" Kata (Y/n) dengan aura suram disertai perempatan imaginer di kepalanya, juga wajah datar yang lebih menyeramkan.
JDAK
"Aduuuh!" Pekik Tsugawa kesakitan. Pemukulan sepihak oleh senpai yang merangkap sebagai kapten itu kelihatannya tidak main-main.
'oh, sudah diwakilkan...' batin (Y/n), meski sudah diwakilkan entah kenapa kesalnya masih menempel.
"Jangan bicara seenaknya, bodoh!" Ucap Iwamura setelah memukul Tsugawa. Tsugawa berdiri memegang kepalanya yang sakit, Iwamura memegang kepala Tsugawa dan mendorongnya membungkuk.
"Maafkanlah dia. Anak ini tidak bisa membaca situasi, jadi dia mengatakan apa saja yang ada di kepalanya" kata Iwamura.
"Kau tidak perlu meminta maaf. Karena Kamilah yang akan menang. Kalau kalian meremehkan kami seperti tahun lalu, kalianlah yang akan menangis" ujar Hyuuga tenang.
"Itu tidak akan terjadi. Lagipula, kami tidak pernah meremehkan kalian. Kalian itu memang lemah. Hanya itu saja" kata Iwamura.
"Eh?! Bukankah kata-kata kapten yang barusan juga kasar?"
"Dasar bodoh, aku ini hanya tidak suka berpura-pura bersikap baik"
Pembicaraan singkat kedua pemain Seiho yang masih terdengar tim Seirin kian tersamar seiring melebarnya jarak diantara mereka. Meninggalkan anggota Seirin yang memandang kepergian mereka.
'aku punya sebuah rencana, tapi... Apa mereka bisa melakukannya? Sepertinya untuk sekarang kubiarkan saja semua berjalan tanpa campur tangan ku, aku... Masih belum tau apa-apa tentang tim ini' batin (Y/n) ragu.
Sementara itu diluar gymnasium tempat pertandingan...
"Kau sedang melihat apa?" Tanya Kasamatsu pada Ace tim Kaijou—Kise— yang terus-terusan menatap layar ponselnya dengan sebelah earphone di satu telinganya.
"Rekaman Oha-Asa dari tadi pagi -ssu. Sesi ramalan pagi hari. Kalau ramalannya bagus, permainan Midorimacchi juga akan bagus" jawab Kise.
"Oh, anak Teikou itu. Memangnya, zodiaknya apa?" Tanya Kasamatsu.
"Cancer -ssu, ngomong-ngomong Kurokocchi dan (Y/n)cchi zodiaknya Aquarius" jawab Kise.
"Enggak ada yang nanya"
Peringkat pertama adalah cancer! Selamat! Tidak ada keluhan untuk kalian hari ini!
Twing twing...
(a/n : Aku tidak tau gimana bunyinya😂)
Peringkat terakhir adalah Aquarius. Hari ini sepertinya suram bagi kalian semua.
Anak tangga pertama dinaiki, disana pula Kise tiba-tiba menghentikan langka, desah kecewa meluncur begitu saja dari bibir Kise, "Eeh?" Kasamatsu yang mendengarnya turut ikut berhenti dan bertanya heran.
"Hm? Kenapa?" Tanya Kasamatsu.
"Buruk sekali..." Jawab Kise setengah menoleh.
Ruang ganti SMA Seiho...
"Kasuga, bagaimana pendapatmu tentang mereka?" Tanya Iwamura ditengah kegiatan mengikat tali sepatunya.
"Sepertinya para pemain kelas dua memang mengalami perkembangan. Selain itu, mungkin kita perlu mewaspadai Kagami si anak kelas satu itu" kata Kasuga.
"Karena dia sama-sama kelas satu, kita serahkan Kagami pada Tsugawa. Kau yang sekarang, pasti bisa menghentikan siapa saja, 'kan?" Perintah Iwamura.
Tsugawa berdiri dari duduknya dengan semangat, "Baik! Bagus, lama-lama jadi semakin seru!"
"Muncul juga, senyumnya si Tsugawa" ucap Kasuga.
"Sepertinya hanya kau, satu-satunya orang di dunia ini, yang main bertahan sambil tersenyum" kata Iwamura diakhiri senyum tipis.
Sementara itu di ruang ganti SMA Seirin...
Bola basket menggelinding menabrak sepasang kaki. Sepasang tangan mengambilnya dari lantai.
Bisa dibilang... Keadaan ruang ganti SMA Seirin dilanda keheningan yang menegangkan.
'situasi menegangkan macam apa ini?!' batin si gadis manager dengan wajah datarnya. Disisi lain, Riko yang menyadari ketegangan ruangan ini berinisiatif memberi semangat.
'sudah kuduga, semuanya tampak tegang' batin Riko mulai memikirkan cara membangkitkan semangat tim.
Plok! plok!
"Semuanya, jangan lesu begitu dong! Untuk membangkitkan semangat kalian, aku akan menjanjikan sebuah hadiah!" Ujar Riko yang kemudian menempelkan satu jarinya di bibir dengan telapak tangan terbuka.
"Kalau kalian memenangkan pertandingan kali ini, maka aku akan memberikan ciuman istimewa untuk pipi kalian! Gimana?" Riko memberikan flying kiss dan kedipan mata, juga nada bicara yang sengaja dibuatnya manja.
"Huek, apa-apaan tuh"
"Dikasih pun siapa yang mau...?"
Reaksi yang diberikan tidak sesuai ekspektasinya, meski hanya bercanda Riko merasa dirinya baru saja ditolak.
'Aku lupa Seirin dipenuhi orang-orang yang unik dan mengejutkan' batin (Y/n) sweatdrop.
"BAKAYAROO..." Teriak Hyuuga dengan tangan mengepal. Terlihat seperti akan membela Riko.
(Y/n) merasa sebentar lagi dia akan menyaksikan sebuah drama disini.
'Ini dia...' batinnya.
"... Setidaknya 'kan kalian bisa pura-pura senang!" Lanjut Hyuuga masih dengan teriakannya. Dibelakang sana Riko semakin pundung.
'aku tidak menyangka kapten sebodoh ini' batin (Y/n) sweatdrop.
Setengah terisak, Riko berbalik menyuarakan segala uneg-uneg nya pada tim yang dilatihnya selama hampir satu setengah tahun ini.
"Jangan murung saja dan sadarlah, dasar kalian bodoh! Memangnya kalian tidak ingin membalas mereka untuk yang tahun lalu? Dengar ya, seharusnya setelah setahun, mereka sudah berutang banyak pada kita!" Teriak Riko dengan lantangnya, tangannya teracung naik.
(Y/n) yang melihatnya takjub, 'waah... Riko-senpai benar-benar mengeluarkan segala uneg-uneg nya...'
"Maaf, maaf. Kami mengerti kok" ucap Hyuuga.
Hyuuga berbalik ke arah kelas satu, "Baiklah. Sebelum kita mulai, akan kukatakan sesuatu. Aku yakin kalian pasti akan langsung mengatakannya segera setelah pertandingan dimulai. Tapi, untuk kelas satu camkan hal ini baik-baik"
"Seiho itu kuat"
"Setelah kekalahan telak tahun lalu, kami jadi sangat membenci basket, dan hampir saja berhenti bermain" Furihata, Kawahara, dan Fukuda yang mendengarnya menjadi murung.
"Jangan muram begitu! Kami bisa bangkit kembali dan mau bermain lagi. Lagipula, kami sekarang bermain dengan gembira, 'kan? Pastinya kali ini tidak akan sama dengan tahun lalu! Aku sendiri juga percaya bahwa kita telah cukup bertambah kuat, untuk bisa berkata seperti itu! Yang tinggal kita lakukan hanyalah menang! Ayo!" Sorak semangat menjadi penutup kalimat Hyuuga. Semangat mereka kembali membara.
"Siap!"
.
.
.
Ruang ganti telah kosong, tersisa (Y/n) yang masih sibuk mengambil beberapa kertas untuk diapitkan pada papan LJK nya. Usai dengan semua itu, (Y/n) bergegas menuju pintu keluar.
"Kagami-kun, apa kau pernah membenci basket?" Sebuah suara dibalik pintu menghentikan gerak tangan (Y/n). Tangan yang menggantung di udara ditarik menuju dadanya yang berdenyut sakit. Suara tadi adalah milik saudara kembarnya, Kuroko Tetsuya.
Dibalik pintu, (Y/n) menempelkan punggungnya, menyimak segala pembicaraan Tetsuya dan Kagami.
"Apa? Enggak, enggak pernah tuh" jawab suara yang terdengar lebih jauh, yang diketahui adalah suara Kagami yang menjawab pertanyaan Tetsuya.
"Aku... Pernah..." Kesuraman yang tertutupi memulai sebuah pembicaraan panjang.
"Memang alasannya berbeda, tapi aku mengerti bagaimana rasanya. Memang sekarang mereka terlihat bahagia, tapi, membenci sesuatu yang kau suka adalah hal yang menyakitkan. Saat aku berbicara dengan Midorima-kun, aku mengatakan bahwa masa lalu dan masa depan tidaklah sama, tapi mereka tidak benar-benar terpisahkan. Pertandingan ini, kurasa akan sangat berarti bagi para kakak kelas kita. Pertandingan untuk menghadapi masa lalu. Karena itulah..." Lanjut Tetsuya. Sementara itu (Y/n) yang berada dibalik pintu menundukkan kepalanya, menahan segala emosi yang menyeruak keluar.
Tetsuya dan Kagami berjalan menjauh, meninggalkan ruang ganti dan menyusul anggota lain yang sudah berjalan duluan. (Y/n) tak lagi mendengar suara mereka, ia keluar dengan normal, wajah datar yang tak pernah luntur itu menghela nafas berulang kali.
Setelah tenang, (Y/n) menyusul anggota lain yang sudah berangkat sedari tadi.
.
.
.
"Sumimasen, aku terlambat karena mengambil beberapa barang" kata (Y/n) begitu sampai di hadapan timnya yang sudah bersiap.
"Are? Manager baru datang? Kukira kau ada di sekitar kami seperti biasa" ujar Koganei.
"..." (Y/n) terdiam.
Anggota tim inti berjalan ke tengah lapangan, pertandingan sebentar lagi akan dimulai. Hati (Y/n) tergerak, seiring punggung mereka menjauh.
"Mi-minna-san...!" Panggil (Y/n), semua menoleh, tidak biasanya manager mereka yang pendiam itu memanggil mereka.
Mendadak rasa gugup menyelimuti (Y/n), tapi dia tidak boleh kabur dari situasi yang dibuatnya sendiri, dengan wajah merona, mulut itu mulai terbuka, sebuah kata terlontar tulus, "Ga-ganbatte"
Seketika itu pula para senpai yang akan bertanding tersenyum yakin, sementara itu Kagami terdiam, kalau di-zoom di pipinya terdapat semburat merah tipis... Tipiiiiis sekali. Sedangkan Tetsuya memasang wajah yang tidak dapat didefinisikan.
Merasa masih diperhatikan, (Y/n) mulai merasa risih, "Mou ii desu... Sudah sana pergi!" Usirnya.
"Yosha!! Karena manager sudah mau repot-repot menyemangati kita, Ayo kita menangkan pertandingan ini!" Ujar Hyuuga.
"AAAA!!"
Di tengah lapangan, kedua tim yang akan bertanding telah berbaris.
"Dengan ini, kita mulai pertandingan semifinal blok A. Pertandingan antara SMA Seirin melawan SMA Seiho, akan segera dimulai"
Bola orenye dilempar ke atas, Tipp off.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Omake
Sementara itu Riko...
"Kenapa aku ditolak sedangkan (Y/n)-chan mendapat reaksi seperti itu... Sekarang aku benar-benar merasa tertolak(━┳━◇━┳━)"
×=×=×=×=×=×=×=×=×=×=×=×=×=×=×=×=×=×=×=×=×
Wah... Tembus 3500+ word
Btw, ada yang bertanya-tanya kenapa Akai ngga muncul di (tengah-tengah) chapter ini :')?
Yah... Gimana ya...
GUA DIKURUNG SI BAKAGAMI WOIII!!
Kagami : Berisik lu, Kai
Tetsuya : Ini demi kelancaran cerita, Akai-san
Kise : Emang Akaicchi bocah -ssu? Dikurung aja takut
Midorima : Kalian tidak boleh seperti itu nanodayo
Kagami : Lu jangan sok deh, Mid. Lu tadi juga dukung. Bahkan lu yang siapin kurungannya kan
Akai : Kalian kek om-om pedo tau ngga, masa iya gue dikurung di kurungan macan?!
Kise : Hidoii -ssu, masa wajahku yang ganteng ini dibilang mirip om-om pedo sih -ssu
Midorima : Lu belum legal nanodayo
Kagami : atas gua calon om pedo
Tetsuya : aku diam aku selamat
Akai : Kagami, Tetsuya, Kise, Midorima...
All : *glek*
Akai : Gue siapin Special Chapter buat kalian *eye smile*
All : inner : tidak ada yang baik dari hal ini/ -ssu/ nanodayo
Tetsuya : Kenapa aku juga kena?
Akai : Klean semua salah, Oke!
Udahlah...
Jadi nih ya...
Thanks for Reading, Enjoy, and Thank you very much~
Vote and Comment please~
Don't forget to share~
See u next chapter~
Bye bye~
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top