Second Chapter - Dream
Keesokan harinya di Seirin. Kagami tampak semangat—sekali. Bel istirahat baru saja berdenting, tapi ia sudah tidak ada di bangkunya.
(Y/n) melihat Tetsuya yang mengeluarkan kotak bekalnya, tubuhnya menyerong hendak berdiri.
"Mau makan bekal di atap?" Tetsuya bertanya. (Y/n) mengangguk. Gerakan mereka sama-sama terhenti, seolah teringat sesuatu. Sepersekian detik kemudian mereka saling pandang.
"Sumimasen. Aku ada urusan, bisa lain kali?" Mereka berucap serempak. Entah kebetulan macam apa. Keduanya sama-sama mengangguk, kemudian sedikit terkekeh akan kekompakan mereka tadi.
Tetsuya berjalan keluar duluan. (Y/n) masih sibuk mencari benda yang dibutuhkannya.
(Y/n) berjalan santai di koridor kelas dua, area para senpai. Kakinya tertuju pada satu tujuan, kelas 2-A. Ia berencana menyerahkan laporan kemarin secepatnya, ditengah kedamaian pikirannya, sebuah suara mengalihkan perhatiannya.
Derap langkah kaki orang berlari muncul dari belakang, Surai merah gradasi hitam berkibar kala si empunya berlari menuju salah satu kelas dan memasukinya.
(Y/n) mulai mendengar percakapannya mereka, ia masuk, menghampiri meja Riko. Riko masih berbicara dengan Kagami, (Y/n) menyimak. Riko menyerahkan formulir pendaftaran pada Kagami, Kagami tampak puas. Ia hendak keluar, tapi suara Riko menahannya.
"Aku hanya mau menerima formulir itu di hari Senin pukul 08:40 di atap sekolah" ucap Riko. (Y/n) menyadari ada kejanggalan. Selanjutnya Kagami benar-benar sudah keluar.
"Senpai" panggil (Y/n).
"Brrufff ... " Susu yang diminum Riko kembali menyembur. Ia mengusap mulutnya, kembali bergumam kesal.
"Sejak kapan kau ada di sana, (Y/n)-chan?!" Kaget Riko.
"Sudah dari tadi" jawab (Y/n). Riko menghela nafas lelah, terhitung dari siang ini ia sudah sport jantung dua kali.
"Ano... Semoga senpai bisa membaca tulisanku" (Y/n) menyerahkan beberapa lembar kertas kepada Riko.
"... Statistik dan laporan mini game kemarin" lanjut (Y/n). Riko mengangguk. (Y/n) permisi kembali ke kelas. Setelah sepenuhnya keluar, Riko beralih pada lembar kertas ditangannya. Dibukanya halaman pertama.
Dan...
"Tulisan dokter..." Riko sweatdrop, tak menyangka (Y/n) yang berpenampilan rapi memiliki skill menulis yang disebut tulisan dokter, kontras sekali dengan penampilan dan sifatnya.
📚📚📚
(Y/n) sampai di depan Mading, menemukan Kagami yang tengah mencengkeram kepala Tetsuya dengan satu tangan mengepal. (Y/n) sendiri tak ingin membela ataupun melerai, ia tau pasti Tetsuya penyebabnya. Tak peduli, (Y/n) berjalan begitu saja. Tetsuya yang sadar segera mengikuti adiknya, mengabaikan Kagami.
"Oi Kuroko" ucap Kagami, Tetsuya hilang.
Skip
Hari Senin di atap sekolah...
"Hum! hum! hum!... Aku sudah menunggu" Riko berdiri di depan mereka.
"Kau bodoh?" Kagami tak mengerti.
"Ini duel?" Dan Tetsuya malah beranggapan akan adanya duel_-.
(Author : Tetsuya mau duel di atap sekolah? Entar yang kalah dilempar kebawah ya... yey ^o^/
//Slap
Kagami : Jangan muncul seenaknya oi!)
"Memang tadinya aku lupa. Tapi maksudnya hari Senin itu, Lima menit sebelum apel pagi?!" Teriak Kagami baru sadar.
"Kagami-kun berisik" ucap (Y/n) datar tepat di belakang Kagami. Kagami memekik kaget.
Bagaimana (Y/n) bisa di atap? Oh, ia diberitahu Tetsuya dan memilih untuk ikut.
"Omae?! Gak bisa muncul biasa aja ya?!" Kagami kesal.
"Aku muncul seperti biasa kok" (Y/n) menjawab. Kagami menghela nafas, ia selalu sport jantung jika bertemu dengan titisan makhluk halus yang satu ini... Lebih parah dibanding dikagetkan Kuroko Tetsuya.
Kagami langsung menyerahkan formulirnya, tapi sebelumnya Riko menyampaikan beberapa hal. Tentang tahun lalu ketika kapten memintanya menjadi pelatih, mereka membuat janji di tempat ini. Bahwa mereka akan bermain basket untuk mengincar pertandingan nasional. Jika mereka (kouhai) tak memiliki kemauan untuk melakukan hal yang sama, Riko mempersilahkan keluar dan mencari klub lain.
Kagami menganggap hal itu remeh. Riko memotong perkataan Kagami, Kagami memang kuat tapi Riko lebih ingin memastikan mereka memiliki tujuan yang nyata. Mau berlatih sekeras apapun, kalau hanya berpikir mungkin dan ragu, mereka tak akan bertambah kuat. Riko ingin mereka memiliki tujuan yang nyata dan besar, serta kemauan dan ketetapan hati untuk mencapainya.
"Kalau begitu sekarang, sebutkan tahun, kelas, dan nama serta hal yang ingin kalian capai, ditempat ini sekarang juga!" Riko menunjuk pagar pembatas, tepat dibawahnya ada barisan murid.
"Selain itu kalau kalian tidak dapat mencapainya, maka..." Riko berbalik, berkacak pinggang memandang mereka, ucapannya ia jeda.
"Kalian harus nembak cewek yang kalian suka sambil telanjang" Riko melanjutkan ucapannya dengan wajah dan senyum yang misterius.
Trio kelas satu berteriak kaget, sementara Kagami dan Tetsuya biasa saja. Riko kembali menegaskan pernyataannya tadi. Kagami maju lebih dulu. Berjalan lalu melompat ke pagar pembatas, mengemukakan tujuannya.
(Y/n) menuju ke arah Riko.
"Senpai..." Panggil (Y/n). Riko menoleh kaget.
"Apa aku juga harus melakukannya?" Tanya (Y/n).
"Kurasa Tidak perlu" ucap Riko. (Y/n) mengangguk. Satu per satu mulai maju. Kawahara yang curhat sampai ditendang Riko, Fukuda yang tujuannya baik tapi rada ngaco, dan Furihata yang tujuannya demi mendapat pacar.
"Tsugi wa?" Tanya Riko ke para kouhai.
"Sumimasen..." Sebuah suara memanggil, Riko memekik kaget.
"Aku tidak terlalu bisa teriak, boleh aku menggunakan ini?" Tetsuya mengangkat toa ditangannya, menunjukkan pada Riko.
(Author : gak terlalu bisa teriak heh~? Terus yang pas ep— hmph! *Dibungkam*
Tetsuya : Dilarang spoiler, Author-san)
"Dapat dari mana...?" Riko tak habis pikir. Tetsuya maju, baru menarik nafas pintu atap terbuka paksa, datang seorang guru yang langsung menegur mereka semua.
Skip
Maji Burger...
"Tch, masa cuma teriak sedikit saja, dimarahi sampai segitunya" gerutu Kagami yang baru duduk di bangku setelah memesan setumpuk burger.
"Aku yang belum// tidak ngapa-ngapain malah ikut dimarahi" ucap Tetsuya dan (Y/n) serempak, mengalihkan perhatian Kagami yang baru saja menggigit burgernya, dan menelannya paksa saat melihat Kuroko bersaudara itu. Kagami bergumam sendiri.
"Sepertinya kita sudah tidak diizinkan ke atap lagi. Kalau tidak bisa jadi anggota resmi, aku harus bagaimana?" Ucap Tetsuya khawatir.
"Sepertinya itu tidak mungkin, Tetsu-nii sendiri tau 'kan" balas (Y/n). Kagami juga mengatakan hal yang bermakna sama.
"Sou deshou ka..."
'ah sudahlah, lelah aku' batin (Y/n). Air mukanya mendatar kesal.
Kagami kembali teringat pertanyaannya tempo hari, ia langsung menanyakannya pada Tetsuya.
"Ngomong-ngomong, kau itu... Kenapa tidak melanjutkan ke SMA yang lebih terkenal seperti kelima orang lainnya? Padahal sebagai anggota keenam bayangan kau seharusnya bisa diterima dengan mudah." Tanya Kagami, Tetsuya menyesap Vanilla shakenya, belum merespon.
"... Apakah dalam bermain basket, kau memiliki alasan lain?" Sambung Kagami.
"Tim basket sekolahku dulu, hanya memiliki satu prinsip. Yaitu menang adalah segalanya. Untuk mencapai kemenangan, dibandingkan kerja sama tim, kami lebih mementingkan mengembangkan bakat yang dimiliki Kiseki no Sedai." Tetsuya mulai menceritakan kilasan masa lalu dari sudut pandangnya. Kagami tampak menyimak, disisi lain tangan kiri (Y/n) meremas ujung rok sekolahnya , kilasan itu membuatnya teringat akan suatu kenangan yang menyakitkan.
'Menyatukan kami? Dengan bakat masing-masing dari kami yang mulai muncul, kami tak lagi memiliki musuh, jika ada, Satu-satunya musuh hanya dari dalam. Menyatukan kekuatan yang sama-sama besar hanya akan membawa kehancuran...'
'—kerja sama tim tidak lagi dibutuhkan. Sekarang terserah padamu, kau mau keluar atau bertahan tetap dengan kondisi seperti ini...'
'(Y/n)'
Hari itu... Di gymnasium divisi 1, tahun kedua SMP, pembicaraan privasi terjadi diantara manager dan kapten tim basket yang kala itu disebut-sebut sebagai tim terkuat. Menciptakan atmosfer menekan dan berat. Ah, bahkan (Y/n) sendiri tak yakin ia berbicara dengan kapten basket mereka, Auranya tampak berbeda dari sebelumnya,
—Seperti orang lain...
Suara itu terngiang, terus berputar bagai kaset rusak di ingatannya.
"Tak ada yang bisa mengalahkan kami, Namun, kami bukanlah tim. Mereka berlima tidak merasa keberatan akan hal itu, tapi aku, merasa kami kehilangan sesuatu yang penting." Lanjut Tetsuya. Kagami semakin penasaran akan langkah Tetsuya.
"Lalu bagaimana? Apakah kau berniat mengalahkan Kiseki no Sedai dengan caramu sendiri?" Tanya Kagami penasaran.
"Itulah apa yang kupikirkan" Tetsuya mendongak menatap Kagami.
"Hebat juga kau!" Puji Kagami.
"Selain itu, kata-katamu, pelatih, dan (Y/n)-chan membuatku memikirkan sesuatu. Saat ini alasan terbesarku bermain basket adalah karena ingin membawamu dan tim ini menjadi nomor satu di Jepang" ujar Tetsuya. Kagami berdiri dari duduknya, menatap Tetsuya dengan badan menyerong.
"Kita tidak akan mencobanya" Kagami sengaja menjeda kalimatnya, Tetsuya menatap datar.
"Kita akan menjadi nomor satu di Jepang" lanjut Kagami, Tetsuya sendiri tak bisa menahan senyumnya. (Y/n) mendongak menatap Kagami tak habis pikir, ambisi orang ini selalu bisa membangkitkan orang lain...
—mirip seperti dia.
"Ngomong-ngomong, bocah ini mengatakan hal yang mempengaruhimu juga? Hebat juga dia" Kagami kembali duduk, melirik (Y/n) sambil membuka bungkus burger kesekiannya.
"Jangan sebut aku bocah" balas (Y/n) kesal.
Skip
"(Y/n)cchi!" Sebuah suara yang tak asing menyapa indera pendengaranku, diikuti surai kuning yang perlahan-lahan mendekat, senyumnya cerah seperti matahari. Dibelakangnya sebuah pemandangan yang tak asing terlihat, ini...
—lorong kelas.
Aneh, aku seperti pernah mengalami ini. Kulirik pria kuning yang sedang berjalan bersamaku ini.
"Ada apa (Y/n)cchi? Mulai terpesona padaku -ssu?" Ucapnya menyadari tatapanku.
"Tidak, jangan terlalu berharap ****-kun"
Apa ini? Mulutku berbicara sendiri. Apa ini mimpi?
Latar tak lagi di lorong kelas, berganti di dalam gymnasium. Netraku melebar kala menyadari apa yang terjadi di sini. Hari dimana semua terpecah, hari dimana semua berubah.
"Subete ni katsu Boku wa subete tadashii"
Deg
Rentetan kata yang menjadi pemecah Kiseki no Sedai. Perubahan yang membuat tim ini berubah.
"(Y/n)cchi... Apa yang terjadi -ssu?" Pria bersurai kuning tadi menatapku, netranya yang selalu cerah kini memancarkan kesedihan, perlahan ia mulai mendekatiku.
Semua terjadi begitu cepat, kapten mengizinkan Kiseki no Sedai tidak mengikuti latihan. Asalkan mereka datang saat pertandingan dan memenangkannya.
"Kerjasama tim tidak lagi dibutuhkan"
Dadaku sesak, kenapa kejadian ini kembali terulang? Kilas memori?
Latar kembali berubah, ah, aku ingat, ini seusai babak penyisihan pertama pertandingan nasional saat kami masih di tahun kedua SMP. Saat dimana semua sedang menyesuaikan diri dengan perubahan tim ini.
"(Y/n)cchi, kenapa semua jadi seperti ini? Kenapa ******cchi berubah, kenapa tim ini berubah? Sebelumnya kami bermain dengan semangat, senyum ketika berhasil mencetak angka selalu ada. Tapi sekarang... Tak ada yang tersenyum, kami memang memenuhi syarat untuk selalu menang dalam pertandingan... Tapi, entah kenapa, rasanya... " Pria bersurai kuning itu tak melanjutkan kalimatnya, pandangannya menunduk, tak lama terdengar isakan. Aku memilih diam, saat ini yang kulakukan hanya perlu diam dan mendengarkan. Ia terus berbicara, air matanya berjatuhan, membuatku tak kuasa menahan sesak di dadaku.
Kuangkat kepalanya, mendongak menatapku. Tangan ini refleks menghapus air mata yang masih berlinang diwajahnya.
"Jangan menangis" ucapku, ia memegang tanganku, menariknya menuju dekapan hangat. Bahuku terasa basah, Aku tau ia sedang menangis, kubiarkan bayi besar ini meluapkan emosinya.
"... Tapi jika itu bisa membuatmu lebih baik..." Ah, aku tidak pandai merangkai kata. Setidaknya ia tau aku mendengarkan dan bersedia menjadi tempatnya menumpahkan emosi saat ini.
"... Luapkan saja..."
"Kise-kun"
"Ah" (Y/n) terbangun dari mimpinya. Netranya mengerjap.
"Aku bermimpi lagi" ucap (Y/n) mendudukkan diri, pening melanda, kepalanya berdenyut sakit. Tak lama kemudian, ada yang mengetuk pintu kamarnya.
Tok tok tok...
(Y/n) berjalan menuju pintu, dibukanya pintu kamar kamarnya. Sesosok pria bersurai baby blue yang mirip dengannya berdiri dibalik pintu. Matanya terbelalak kaget melihat sesuatu.
"(Y/n)-chan..." Ucap Tetsuya masih dalam keterkejutannya. Tak lama kemudian ia kembali normal, tangannya terulur menuju wajah sang adik.
"... Kenapa kau menangis?" Tetsuya menghapus jejak air mata yang berlinang.
"Ah... Tidak... Tidak apa-apa" ucap (Y/n) memegang tangan kakak kembarnya yang masih bertengger di wajahnya, menurunkannya, menggenggamnya erat. Kepalanya tertunduk.
"Tetsu-nii kenapa pagi-pagi seperti ini sudah siap?" (Y/n) mendongak, menatap penuh tanya Tetsuya yang sudah rapi dengan seragam sekolah.
"Karena kita akan berangkat sekarang, (Y/n)-chan" Tetsuya mengacak-acak Surai (Y/n) yang sudah acak-acakan (Kitakore!).
"... Bersiaplah, Tetsu-nii akan menunggu dibawah" Tetsuya pergi setelah puas mengacak-acak Surai (Y/n). Meninggalkan (Y/n) yang masih mematung didepan pintu. Tak lama, ia sudah sadar dari lamunannya. (Y/n) masuk ke dalam, mulai bersiap.
Tak butuh waktu lama, (Y/n) sudah siap, ia turun kebawah menemui Tetsuya yang sedang sarapan di meja makan. (Y/n) menghampiri, ikut sarapan. Setelahnya mereka berjalan menuju sekolah bersama-sama.
Skip
"Tetsu-nii, apa itu?" (Y/n) menunjuk sebuah kotak ditangan Tetsuya.
"Ini? Kau akan tau nanti (Y/n)-chan" Tetsuya menjawab lalu pergi ke luar kelas. (Y/n) sendirian di kelas. Kelas masuk pukul 08:45 dan sekarang baru pukul 06:45, katakan bahwa Tetsuya terlalu rajin.
(Y/n) masih merasakan kepalanya berdenyut sakit. Ia memilih untuk tidur, jika sakitnya tidak berkurang setelah bangun tidur ia akan ke UKS.
(Y/n) ini tipe yang mandiri, ia akan berangkat sendiri ke UKS ketika merasakan tubuhnya bermasalah, tak ingin merepotkan orang lain. Berbeda dengan kebanyakan orang yang biasanya menolak untuk pergi ke UKS dengan seribu satu alasan.
(Author : bilang aja sering ga ke-notice –3–
(Y/n) : Author-san, inilah sebabnya world di setiap chaptermu selalu menyentuh 2000 lebih, kau terlalu sering muncul
Author : Tau kok tau :') )
Menggunakan lipatan lengannya sebagai bantal, (Y/n) mulai terlelap dalam tidurnya.
Skip
(Y/n) terbangun kala mendengar riuh ramai. Netranya menyapu penglihatan. Tertuju pada jendela kelas yang sudah ramai dipadati murid yang sedang melihat sesuatu dibawah.
Tetsuya sudah kembali kedalam kelas, kini sibuk dengan buku yang dibacanya, tapi tak bisa dipungkiri, Tetsuya sudah melakukan sesuatu. Terbukti dari lengan ujung blazernya yang terdapat noda berwarna putih . Hanya dengan melihatnya, (Y/n) bisa menyimpulkan bahwa Tetsuya melakukan sumpah lapangan (karena kemarin sumpah atap ada di atap, sekarang sumpah lapangan di lapangan) menggunakan tulisan.
(Y/n) tersenyum kecil, kakaknya ini memang anti mainstream.
(Y/n) kembali teringat, amplop kuning kemarin ia tinggalkan di laci. Tangannya meraba laci mejanya, merasa menyentuh sesuatu, besar. Ia menunduk, melihat lebih jelas sesuatu yang disentuhnya.
Amplop kuning bersama sebuket bunga matahari di dalam lacinya. Ia mengambil itu semua. Permukaan amplop itu berunduk, sesuatu tersemat didalamnya. (Y/n) membukanya, kertas yang cukup tebal, berwarna baby blue dengan ujung bawah bercorak bunga. Di kertas itu tertulis...
=========================================
Terimakasih , penyelamatku. Apa kau ingat pertemuan pertama kita?
Kuharap kau mengingatnya ^v^
=========================================
(Y/n) mengernyit heran, siapa orang yang kurang kerjaan mengiriminya bunga dan surat? Ini bukan White day ataupun Valentine 'kan?
Tapi ia tak ambil pusing, bunga dan surat itu segera ia masukkan kembali ke dalam lacinya.
Disampingnya, Tetsuya mengamati dalam diam.
Skip
(Y/n) berada di gym sendirian, para anggota tim basket sedang berada di ruang ganti klub, sedangkan Riko entah kemana. Netranya menyapu seisi gym yang sepi, tak sengaja ia melihat bola basket yang tergeletak begitu saja. Daripada kurang kerjaan, (Y/n) menghampiri bola itu, melakukan shoot (yang selalu meleset) dan dribble berulang-ulang.
Tanpa disadari anggota tim basket di luar sudah merinding disko mendengar bola yang dipantulkan dari dalam. Mereka membuka pintu perlahan, (Y/n) yang menyadarinya langsung berhenti. Sementara anggota lain semakin merinding mendengar pantulan bola tapi ketika dilihat tidak ada orang.
Mereka masuk, mulai latihan. (Y/n) mengamati. Riko yang sudah datang lalu meminta mereka berkumpul. Riko mengatakan akan diadakan latih tanding dengan SMA Kaijou. SMA yang klub basketnya sudah masuk tingkat nasional, mereka selalu lolos kejuaraan Interhigh. Ditambah lagi tahun ini Kaijou menerima salah satu anggota Kiseki no Sedai, Kise Ryouta.
Trio kelas satu kaget, mereka akan langsung berlawan dengan salah satu dari Kiseki no Sedai. Berbeda dengan Kagami yang tampak semangat, ia sangat ingin segera bertanding dengan salah satu anggota Kiseki no Sedai itu.
"Sepertinya Kise juga bekerja sebagai model" ucap Hyuuga.
"Maji?! Sugee" kaget Izuki.
"Udah keren, jago main basket lagi. Enak banget dia." Koganei menimpali.
"Aho" Riko tak habis pikir.
'dia hanya seonggok makhluk kuning alay dan narsis' batin (Y/n) mengetahui sifat Kise.
"(Y/n)-chan, aku bisa baca pikiranmu" Ucap Tetsuya melirik (Y/n). (Y/n) diam tak membalas tatap.
Tiba-tiba gym dipenuhi suara berisik, bisik-bisik dan gadis-gadis yang tengah mengantri untuk sesuatu. Riko kaget, mereka melihat sumber keributan ini.
"Aah, aku tidak bermaksud hal seperti ini terjadi -ssu yo" ucap orang itu, ia sibuk menandatangani sesuatu. (Y/n) dan Tetsuya tentu mengenali orang itu. Dia, Kise Ryouta.
Kise mendongak, mengalihkan pandangannya ke arah tim Seirin.
"Ohisashiburi desu" sapa Tetsuya.
"Hisashiburi" balas Kise, tak lama kemudian bibirnya mengerucut kesal.
"(Y/n)cchi tidak menyapaku -ssu?" Ucap Kise sedikit kesal tidak disapa ehemgebetanehem.
"Ohisashiburi desu, Kise-kun" sapa (Y/n) akhirnya. Senyum Kise kembali mengembang, ia membalasnya. Semua memandang Tetsuya dan (Y/n).
Hyuuga menggumamkan nama orang itu, Kise kemudian meminta fansnya untuk keluar dari gym. Tak selang lama, mereka sudah keluar, Kise berjalan mendekat.
"A-ada urusan apa kau datang kesini?" Tanya Hyuuga gugup.
"Yah, karena lawan kami selanjutnya adalah Seirin. Aku ingat Kurokocchi dan (Y/n)cchi juga ada disini. Jadi aku datang untuk menyampaikan salam. Saat SMP kami teman dekat lho" jawab Kise berjalan mendekat.
"Perasaan biasa saja deh" ucap Tetsuya datar, (Y/n) mengangguk membenarkan.
"Hidoii" Kise nangis buaya. Di belakang sana Furihata membaca data Kise di majalah basket.
"Yah, sebenarnya... Menurutku artikel itu agak sedikit berlebihan. Memang aku juga senang disebut bagian dari Kiseki no Sedai, tapi akulah yang paling lemah diantara mereka semua. Karena itulah, aku dan Kurokocchi sering diganggu oleh yang lain" Kise menggaruk belakang kepalanya dengan ekspresi konyol.
"Perasaan aku tidak deh" ucap Kuroko datar. (Y/n) mengangguk, karena ia tak pernah melihat kakaknya diganggu seperti Kise.
"Are?! Jadi cuma aku?!" Kise nangis buaya.
"(Y/n)cchi jangan hanya mengangguk -ssu, setidaknya katakan sesuatu. Apa kau tidak merindukanku -ssu?" Kise beralih ke (Y/n).
"Mau jawaban jujur?" (Y/n) menatap datar, Kise mengangguk semangat.
"Tidak sama sekali" jawab (Y/n).
"Hidoii. Aku merindukanmu lho, (Y/n)cchi" Kise nangis buaya.
"Aku tidak peduli" (Y/n) menjawab cuek bin datar.
"Hidoii" tiba-tiba sebuah bola basket melaju dengan kecepatan tinggi ke arah Kise, Kise segera menangkis bola itu.
"Aduh! Apaan sih?" Kise mendesah kesal, reuninya diganggu.
"Kagami"
"Kagami-kun"
"Maaf mengganggu reuni kalian. Tapi, mana mungkin kau kemari hanya untuk mengucapkan salam bukan? Ayo bertanding denganku sebentar, Ikemen-kun" Kagami menantang.
"Hah? Memangnya siapa yang berpikiran begitu? Ah, kalau begitu yang barusan... Yosh, ayo lakukan. Aku juga ingin membalas perbuatanmu barusan." Kise tersenyum penuh arti, bola oranye ditangannya dilempar kembali pada Kagami.
One on one dimulai, Kise meniru persis gerakan Kagami yang dipakainya ketika latihan tadi. Kagami tak menyerah,ia mencoba memblok dunk Kise. Tapi dunk Kise lebih kuat membuat Kagami terjatuh.
Kise menatap Kagami yang jatuh terduduk.
"Cuma segini ya..." Gumam Kise. Kagami terlonjak.
"Setelah dikecewakan seperti ini, mana bisa aku langsung pulang hanya dengan mengucapkan salam" lanjut Kise. Kise berjalan ke arah tim Seirin.
"Kurokocchi ikutlah bersama kami" ajak Kise.
"Ayo ikut bersama kami. Ayo kita bermain basket bersama-sama lagi. Aku ini sebenarnya, benar-benar mengagumi permainan Kurokocchi. Sangat disayangkan kalau kau membuang-buang bakatmu disini, jadi bagaimana?" Ucap Kise setelah sampai di depan Tetsuya.
"Aku merasa terhormat mendengar permintaanmu, tapi maaf, aku harus menolak permintaanmu" Tetsuya menolak dengan membungkuk sopan.
"Cara nolak macam apa itu?! Selain itu, kau tak seperti dirimu. Bukankah menang adalah segalanya? Kenapa kau tak pergi ke sekolah yang lebih kuat?" Kise tetap bersikeras, tak terima Tetsuya menyia-nyiakan kemampuannya di sekolah baru seperti Seirin.
"Aku sudah berubah dari saat itu. Apalagi, aku telah berjanji pada Kagami-kun. Kami berdua, akan mengalahkan Kiseki no Sedai." Tetsuya menjawab yakin.
"Bercanda seperti ini... Seperti bukan dirimu saja." Kise masih tak percaya apa yang didengarnya.
"Dasar, apa yang kau lakukan? Aku baru saja akan mengatakannya Kuroko." Ucap Kagami dari belakang Kise setelah bangkit, tatapannya membara penuh semangat
"Aku masih tidak memiliki selera humor seperti dulu, aku serius" Tetsuya menimpali, membenarkan.
"Kalau begitu, (Y/n)cchi ikutlah dengan kami. Aku sangat mengagumi memori (Y/n)cchi yang sangat detil dan penglihatan (Y/n)cchi. Kau bisa jadi manager yang hebat -ssu" Kise beralih ke (Y/n). Riko refleks menoleh ke (Y/n), seakan tak percaya akan ucapan Kise. (Y/n) menatap Kise datar.
"Tidak" ucap (Y/n) singkat, padat dan jelas.
"Kenapa -ssu? Apa karena Kurokocchi disini? Apa karena (Y/n)cchi tidak bisa berpisah dengan Kurokocchi?" Kise bersikeras, menghujani (Y/n) dengan pertanyaan-pertanyaannya. (Y/n) tak bergeming, ia tau pertanyaan itu pasti akan selalu datang padanya.
"Tidak juga, Tetsu-nii memang penting untukku, tapi... Aku menyukai tim ini, Tim basket SMA Seirin. Dan aku juga memiliki janji pada mereka semua" jawab (Y/n). Semua terenyuh, ini kalimat terpanjang (Y/n) selain kalimat laporannya. Tetsuya tersenyum tipis, Kagami kesal managernya dipaksa oleh lawan.
"(Y/n)-chan..."
"Manager..."
"Tapi kenapa -ssu? Suka? (Y/n)cchi tak pernah mengatakannya pada kami, Kiseki no Sedai. Apa mereka berbuat sesuatu yang tidak kami lakukan -ssu?" Kise semakin gencar bertanya, (Y/n) mengucapkan kata lain, berbeda ketika ia memuji Kiseki no Sedai, berbeda pula pada tim Seirin. Kise tau, perbedaan itu bermakna besar.
—setidaknya itulah yang Kise pahami.
"Kalian itu hebat, mantan tim basket SMP Teikou. Aku sangat mengagumi kalian. Aku tidak bisa mengatakannya, Jawaban itu berasal dari dalam diri kalian sendiri" (Y/n) menjawab, netranya menyendu dingin.
"Aku tidak mengerti, bukankah biasanya (Y/n)cchi yang memberi jawaban kepada kami. Kenapa? Apa yang—" Kise bersikeras, hingga sebuah suara terdengar dari dalam kepalanya dan secara otomatis membungkam mulutnya.
"Aku tidak mengenal kalian, Kiseki no Sedai"
Kise bahkan masih ingat dengan jelas, suara itu tak lagi datar, netra itu tak lagi bersinar. Satu kata yang menggambarkan sang pemilik suara itu,
—dingin.
Setelah itu dia menghilang, tak menampakkan diri kepada mereka lagi.
... Setelah bertahan, ia pergi. Tak lagi menampakkan sosok baik dan peduli yang mereka kenali.
Ah, Kise paham. Julukan itu, Kiseki no Sedai. (Y/n) yang ia kenal tidak pernah peduli dengan julukan seperti itu, kecuali memberikan efek yang mendalam.
Julukan itu, Kiseki no Sedai... Adalah awal dari semua ini bermula. Ketika bakat masing-masing dari mereka mulai bangkit. Keegoisan merenggut paksa. Tak ada lagi kebersamaan, tak ada lagi kerjasama tim. Dan Kise tau, ia mengikuti itu semua, memenuhi syarat untuk menang sudah cukup baginya, hingga tanpa sadar ia mulai meremehkan, terlena dengan kemenangan yang mereka dapat.
Hingga Ia tak lagi bisa mengerti perasaan (Y/n).
"Hei. Dia bilang tidak, jangan paksa dia" Sebuah suara membawanya kembali ke kenyataan. Kagami berujar tegas.
"Aku yakin Kise-kun akan mengetahuinya nanti" ucap (Y/n).
(Y/n) menghela nafas, ia masih tak bisa melupakan kejadian hari itu.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
#GagalMoveOn
×=×=×=×=×=×=×=×=×=×=×=×=×=×=×=×=×=×=×=×=×
Huwoooh, 3000+ World! Demi apa, saia kebablasan hehe... Jangan capek baca ya Readers-chan^^
Ada yang baca? Keknya saia kurang lama updatenya 😂
Berharap boleh 'kan ya...?
Thanks for Reading, Enjoy, and Thank you very much.
See u next Chapter~
Jangan lupa voment nya ya ^^ ✌
Bintangnya nunggu dipencet lho~😉
↓↓↓
↓↓
↓
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top