21.


Kalo kemarin bab 17, ada adegan 17+,,,, apakah sekarang bab 21 jd ada adegan 21+ juga?

* * *

Erlang tahu bahwa Farah menghindarinya sejak hari itu. Hal ini membuat Erlang bingung. Bukankah setelah yang dilakukannya pada gadis itu, seharusnya gadis itu yang mencarinya, meminta penjelasan dan bahkan pertanggungjawaban? Tapi mengapa gadis itu malah menghindar?

Meski Erlang melakukannya sambil membayangkan perempuan lain, tapi kejadian malam itu bukan pemerkosaan. Dia ingat betul bahwa dia tidak memaksa gadis itu. Bahkan gadis itu yang awalnya mendekatinya. Mereka melakukannya karena suka-sama-suka. Jadi, meski itu bukan pemerkosaan, apakah akan menimbulkan trauma juga, sehingga membuat Farah takut dan menjauh darinya?

Andai dirinya benar-benar lelaki brengsek, atau andai dirinya tidak mengenal dekat keluarga Farah, tentunya dia akan dengan senang hati pergi dan tidak perlu bertanggung jawab. Tapi Farah adalah gadis baik-baik, dan selama ini dia sudah menganggap sebagai keponakan sendiri. Mana mungkin dirinya tega memperlakukan Farah seperti perempuan murahan yang ditinggalkan begitu saja setelah ditiduri?

Keponakan sendiri? pikir Erlang terkesiap.

Tidak ada paman yang waras yang tega merusak keponakannya sendiri.

Perempuan murahan yang ditinggalkan begitu saja setelah ditiduri?

Bukankah itu yang dilakukannya terhadap Farah? Erlang terlalu terkejut karena perempuan yang berada di pelukannya malam itu bukanlah perempuan yang dibayangkannya, sampai-sampai dia berlari pergi begitu saja, meninggalkan tanpa penjelasan apapun. Apakah karena itu Farah sakit hati padanya dan menjauhinya?

Sejak hari itu, Farah juga hanya sedikit bicara padanya. Dan tiap bicara, dia selalu menggunakan bahasa yang formal. Kini dia memakai kata ganti "saya" alih-alih "aku" yang biasa digunakannya selama ini. Hal itu benar-benar membentangkan jarak yang jauh diantara mereka.

Kejadian malam itu benar-benar telah mengubah hubungan mereka. Erlang menyesali perbuatannya pada Farah dan tidak tahu apa yang harus dilakukannya agar hubungan mereka dapat membaik (kalaupun tidak bisa 100% kembali seperti semula).

Dan sekarang ketika ia khawatir melihat kedekatan Farah dengan dosen dan anaknya itu, Erlang bahkan tidak berhak lagi untuk memperingatkan atau melarang. Selama ini dia selalu khawatir Farah akan tergoda dengan lelaki dewasa yang sudah berpengalaman itu. Tapi kini dia tidak bisa berkata apa-apa, karena ternyata yang merusak Farah terlebih dahulu adalah dirinya sendiri. Maka ia hanya bisa diam mengamati dari ruang makan, tanpa berani mengusik, ketika lelaki  berwajah Timur Tengah dan anaknya itu mengunjungi Farah.

* * *

Bagaimanapun, Erlang tetap bertekad bicara dengan Farah. Semua kejadian ini membebani hatinya. Semua sikap Farah yang menjauh juga membuatnya tertekan.

Erlang sudah mencoba berbagai kesempatan untuk bicara dengan gadis itu. Sejak kepergian Farhan, Erlang rajin datang ke rumah itu bukan hanya sekedar untuk membantu keluarga tersebut, terutama Fariha yang tampak sangat terpukul dengan kepergian suaminya. Tapi ia juga sedang mencari cara agar dapat bicara berdua dengan Farah. Tapi gadis itu tidak pernah membiarkan dirinya seorang diri sehingga Erlang punya kesempatan bicara pribadi dengannya. Gadis itu selalu melarikan diri atau langsung bergabung dengan ibu dan adiknya, sehingga Erlang tidak pernah punya kesempatan untuk bicara berdua dengannya.

Kesempatan baru hadir ketika di pagi hari di hari Senin pertama sejak Farhan meninggal, akhirnya roda kehidupan di keluarga tersebut berputar kembali. Faris kembali masuk sekolah, meski langkahnya masih tertatih. Fariha, setelah berhari-hari menolak hidup, akhirnya berhasil dibujuk untuk kembali melanjutkan hidup. Minimal, hari ini dia sudah mau kembali memasak dan mengerjakan beberapa pekerjaan rumah, setelah berhari-hari sebelumnya hanya mengurung diri di kamar. Meski Fariha belum mau kembali mengajar, setidaknya ini sudah menunjukkan sedikit kemajuan.

Farah, melihat ibunya mulai membaik, kini mulai berani meninggalkan ibunya di rumah. Dia harus mengejar ketinggalannya dari teman-teman skripsinya. Jadi Senin pagi itu dia memutuskan untuk kembali ke kampus dan mulai bimbingan skripsi lagi.

"Biar aku yang antar Faris ke sekolah dan antar Farah ke kampus, Mbak," kata Erlang, dengan cepat menawarkan diri, ketika pagi itu ia melihat Faris dan Farah sudah siap pergi.

Faris tentu saja senang dengan tawaran itu, karena dia merasa lebih nyaman naik mobil daripada naik ojek dengan kakinya yang masih cidera. Biasanya dia naik motor sendiri ke sekolah, tapi dengan kaki yang masih cedera sekarang tentu dia belum bisa mengendarai motornya sendiri. Naik taksi onlinepun pasti harganya lebih mahal. Mengingat pencari nafkah utama di keluarga mereka telah meninggal, sekarang mereka benar-benar harus berhemat.

Berbeda dengan respon Faris yang segera menerima tawarannya, sesuai dugaan, Farah menolak tawaran Erlang.

"Om mau sekalian cek kafe yang ada di dekat kampusmu," kata Erlang beralasan.

"Sekalian aja, Far, ikut om Erlang," kata ibunya Farah, ikut bersuara.

"Tapi, Ma..."

"Udah yuk buruan, Mbak, ikut aja," potong Faris cepat. Ia menyambar tas laptop kakaknya setelah berpamitan dengan ibunya, dan membawanya masuk ke mobil Erlang.

Dengan menggerutu akhirnya Farah terpaksa ikut naik ke mobil Erlang, karena tidak mau ibu dan adiknya curiga dengan sikapnya yang menjauhi lelaki itu. Gerutuan Farah masih berlanjut karena ternyata Faris memilih duduk di kursi belakang dengan alasan untuk meluruskan kaki, sehingga Farah harus duduk di samping Erlang.

Sepanjang perjalanan menuju sekolah Faris, Erlang sengaja terus mengajak Faris ngobrol, demi menjaga agar suasana tidak hening dan Faris tidak curiga tentang kecanggungan antara Farah dan Erlang.

Setelah menurunkan Faris di depan gerbang sekolahnya, Erlang kembali melajukan mobilnya. Kali ini ia hanya berdua dengan Farah, seperti yang direncanakannya. Tapi ketika dirinya masih mengumpulkan keberanian untuk memulai percakapan, Farah sudah lebih dahulu menghentikannya.

"Tolong berhenti di minimarket di depan aja. Saya bisa ke kampus sendiri," kata Farah dengan suara datar dan tenang sambil bersiap memakai tas dan menjinjing tas laptopnya.

"Tolong, jangan," jawab Erlang cepat. "Kita perlu bicara, Far."

"Saya pikir, nggak ada yang perlu dibicarakan?" balas Farah dengan nada sarkastik. Meski demikian, dia belum juga melirik pada Erlang. "Tolong berhenti disini."

Tapi Erlang sama berkerasnya, tidak menghentikan mobilnya di depan minimarket yang ditunjuk Farah. Dia terus saja melajukan mobilnya. Dan Farah tidak berniat membuat drama dengan memaksa melompat turun dari mobil yang sedang melaju.

"Kita mampir coffee shop sebentar ya? Kita ngobrol sambil sarapan."

"Saya udah sarapan."

"Tapi Om belum sarapan."

"Kalau gitu silakan sarapan dulu. Saya mau langsung ke kampus."

Saat itu Erlang yakin bahwa gadis itu sudah membencinya. Biasanya gadis itu tidak akan tega menolak permintaan Erlang.

"Oke. Kalau gitu kita bicara disini," kata Erlang, akhirnya menyerah.

Farah tetap diam dan memandang lurus ke depan, tanpa menoleh atau melirik sedikitpun.

"Tentang malam itu... Om minta maaf," kata Erlang perlahan.

Meski tidak kentara, Erlang dapat mendengar nafas Farah yang terkesiap ketika Erlang mulai membicarakan kejadian malam itu.

"Tapi kita melakukannya tanpa paksaan kan?" tanya Erlang hati-hati.

Ketika melirik gadis itu, Farah tampak memejamkan matanya dengan ekspresi terluka.

"Atau memang Om memaksa kamu? Apa Om menyakiti kamu?" tanya Erlang panik.

Farah masih belum menjawab.

"Om menyesal, Far. Om minta maaf. Harusnya Om nggak melakukan hal itu pada kamu. Om khilaf... nggak sadar bahwa itu..."

"Cukup, Om!" potong Farah cepat. "Om menyesal? Kenapa? Karena melakukannya pada saya? Atau karena melakukannya dengan saya, padahal Om mengharapkan perempuan lain? Om menyesal karena saya bukan perempuan yang Om bayangkan kan? Om kecewa? Kalau saya adalah perempuan itu, Om nggak akan menyesal sudah meniduri saya?"

Kali ini giliran Erlang yang tercekat dengan perkataan Farah. Apa maksudnya itu? Menyesal karena Farah bukanlah perempuan yang dibayangkan? Apa Farah tahu siapa yang ada dalam benak Erlang saat itu? Apa tanpa sadar dia mengatakan sesuatu?

"Om menyesal karena membuat kamu kehilangan hal yang paling berharga," kata Erlang pelan.

"Om menyesal? Dan yang Om lakukan sebagai tanda penyesalan adalah dengan meninggalkan saya, tanpa penjelasan, seperti pelacur yang ditinggalkan begitu saja setelah ditiduri?"

Erlang tidak yakin bisa terus melanjutkan pembicaraan ini sambil terus menyetir. Jadi ia meminggirkan mobilnya di pinggir lapangan yang kebetulan mereka lewati.

"Om minta maaf, Far. Harusnya malam itu Om nggak melarikan diri. Om cuma kaget... panik... dan terlalu takut."

"Asal Om tahu, saya nggak menyesal," jawab Farah. Kali itu akhirnya ia menoleh pada Erlang. Dan ketika Erlang balas menoleh, ia mendapati gadis itu menatapnya dengan mata yang sudah berair. "Saya menyesal karena harusnya saya memberikan hal itu pada suami saya," kata Farah dengan wajah terluka. "Tapi saya nggak menyesal karena sudah saya memberikan kepada orang yang saya cintai. Saya hanya kecewa, ternyata orang yang saya cintai dan saya berikan hal yang paling berharga milik saya, ternyata nggak mengharapkan itu dari saya, tapi dari perempuan lain."

Sekali lagi, perkataan Farah membuat Erlang tercengang.

"Om nggak perlu khawatir. Itu bukan pemerkosaan. Saya yang mulai. Jadi Om nggak perlu takut saya akan minta tanggung jawab."

"Bukan itu maksudnya!" sergah Erlang cepat.

"Sudah nggak ada yang perlu kita bicarakan lagi Om," potong Farah dengan sama cepatnya. "Om nggak perlu merasa bersalah. Saya juga nggak akan memaksakan perasaan saya pada Om. Anggap aja malam itu nggak pernah terjadi. Saya akan tutup mulut. Mama nggak akan tahu tentang hal ini, kalau itu yang Om khawatirkan..."

Mata Erlang membulat mendengar kata-kata itu.

"Tolong buka pintu mobilnya Om. Saya ke kampus sendiri aja."

"Far..."

"Buka pintunya Om!"

"Ayo kita menikah!"

Farah terkesiap. Tapi hanya sesaat. Ia kemudian malah tertawa.

"Kenapa? Karena Om merasa bersalah? Merasa bertanggung jawab?" ejek Farah sinis.

"Ayo kita menikah!" Erlang mengulangi dengan lebih tegas.

"Apa Om mencintai saya?" tanya Farah menantang. Tapi di saat yang sama, suaranya juga terdengar sedih.

Erlang tidak bisa menjawabnya. Karena dia tidak tahu apa yang dirasakannya pada gadis itu. Ia hanya merasa harus bertanggung jawab.

"Malam itu aku nggak pakai pengaman. Kamu bisa aja hamil."

"Jadi cuma karena itu kan Om mau menikahi saya?" tanya Farah, dengan tatapan sakit, "Cuma karena tanggung jawab? Om nggak pernah mencintai saya kan? Bahkan setelah apa yang saya berikan ke Om, yang Om rasakan cuma rasa tanggung jawab, bukan rasa cinta?"

Lalu setetes air mata mengaliri pipi Farah, yang buru-buru dihapusnya. "Saya benci sama diri saya sendiri, yang masih tetap cinta sama Om, bahkan meski Om cuma menganggap saya sebagai beban dan tanggung jawab. Murahan banget kan saya."

"Farah..." sergah Erlang, mengerang frustasi. "Bagaimanapun kalau kamu hamil, anak itu...."

"Nggak akan ada anak!" bentak Farah, berkeras.

"Apa kamu minum pil pencegah kehamilan?"

Mata Farah membulat sesaat. Tapi dia kembali ke sikap awalnya. "Saya nggak akan hamil! Nggak akan ada anak! Jadi Om nggak perlu menikahi saya cuma karena tanggung jawab. Saya nggak butuh itu!"

* * *

Siapa yang udah terlanjur ngarep ada adegan 21+ hayooo? Mwehehehe.

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top