6

Happy reading. 💜

***

Hari sudah sore saat rombongan lelaki itu pulang ke rumah masing-masing. Aku yang saat itu tengah mengerjakan tugas di ruang tengah hanya melirik mereka sekilas. Menggumam saat mereka berpamitan sekadarnya.

Aku tahu Kak Nando berusaha melakukan kontak mata denganku. Namun, aku selalu berhasil mengalihkan pandanganku sebelum mata kami sempat bertemu. Entah kenapa, aku sangat kesal padanya. Merasa dongkol dengan sikapnya yang begitu tak acuh diledek teman-temannya.

Walaupun memang hubungan kami terjalin diam-diam—di belakang mereka semua—tetap saja aku merasa sakit dan tidak dianggap karena Kak Nando sama sekali tidak membelaku di depan teman-temannya. Harusnya dia sadar kalau aku tidak mau disamakan dengan tiang bendera. Lagian, kenapa dia begitu santai, sih, saat diledekin seperti itu?

Bahkan hingga malam telah datang, rasa kesal itu masih menumpuk di dadaku. Terlebih saat kata-kata Kak Hendra kembali terngiang di telinga. Saat ia mengatakan kalau Kak Nando pacaran dengan tiang bendera sekolah.

Pacar Kak Nando itu kan aku. Bukan tiang bendera!

“Rana, nggak baik cemberut saat makan,” sahut Mama.

Aku mendengkus pelan, “Siapa juga yang cemberut?” Segera kukunyah makanan yang tidak lagi membuatku berselera itu.

“Lagi dapet, ya?” bisik Kak Aldo.

Kuhadiahi dia sebuah pelototan dan tendangan di tumit. Masa bodoh melihatnya yang merintih kesakitan.

“Pantes nggak ada cowok yang naksir, jadi cewek barbar banget,” gerutu Kak Aldo, sambil mengelus tumitnya yang habis aku tendang.

“Biarin!” cetusku galak.

“Rana, Aldo,” tegur Papa. Sedikit terusik dengan tingkahku dan Kak Aldo.

“Iya, Pa,” jawabku dan Kak Aldo berbarengan. Tanpa Papa berkata lebih lanjut, kami sudah paham betul apa maksud Papa. Menyuruh kami berhenti bertikai dan menikmati makanan kami, tentu saja.

Walau nafsu makanku hilang entah ke mana, makan malamku akhirnya tandas juga. Mungkin emosiku membuatku tanpa sadar terus mengunyah. Membayangkan jika makanan itu adalah orang-orang yang membuat mood-ku seambyar ini.

“Rana ke kamar dulu,” pamitku setelah menandaskan minum.

Sekonyong-konyong aku berdiri dan masuk ke kamar. Duduk di pinggir ranjang dan menatap lurus ke depan.

Setiap malam aku selalu berpikir, apa hubunganku dengan Kak Nando layak diteruskan atau tidak? Apa benar seharusnya hubungan ini kami sembunyikan dari orang-orang?

Tak jarang aku meragu. Mempertanyakan perasaan Kak Nando yang sebenarnya padaku. Apa sebenarnya dia tidak mencintaiku hingga menyembunyikan hubungan kami dari orang-orang?

Seolah tahu sedang dipikirkan, tak lama ponselku berbunyi. Nama Kak Nando tertera di sana sebagai penelepon.

Segera kujawab panggilannya pada detik kesepuluh.

Rana?” Suaranya langsung menyapa.

“Hm?” gumamku malas. Sekadar ingin ia mengetahui aku masih ngambek.

Masih marah?” tanyanya hati-hati.

Sebenarnya saat ini aku ingin sekali berteriak. Memarahinya hingga telinganya sakit. Sudah pasti aku marah dan dia masih bertanya? Oh Tuhan!

Ran?” panggil Kak Nando karena aku masih bungkam.

“Apa?” Suaraku terdengar ketus.

Aku minta maaf kalau itu yang kamu mau.

Aku tertawa tanpa suara. Hatiku sedih mendengarnya. Andai dia tahu apa yang aku mau, apa dia akan merubah pikirannya tentang hubungan ini?

Rana?” kata Kak Nando, putus asa. “Kenapa diem aja? Ngomong dong.

“Kakak bilang minta maaf?” Aku tersenyum sinis. Tentu saja dia tidak bisa melihat senyumanku. “Bukan itu yang aku mau dari Kakak.”

Kali ini, gantian Kak Nando yang diam.

Aku nggak butuh minta maaf dari Kakak. Aku butuh pengakuan dalam hubungan ini.

Air mataku mengalir tanpa sadar. Sesuatu yang aku tahu tidak akan dilihat Kak Nando. Aku paling anti menangis di hadapan cowok, apalagi cowok itu Kak Nando.

Kamu mau pengakuan yang seperti apa?” tanya Kak Nando serius.

“Aku pengen diakui sebagai pacar Kakak.”

Kamu, 'kan emang pacar aku, Ran. Mau pengakuan yang gimana lagi?

“Bukan itu, Kak. Bukan itu.” Aku menggeleng. “Aku ingin diakui di hadapan semua orang. Aku nggak mau backstreet kayak gini. Aku nggak suka.”

Lagi, Kak Nando diam. Cukup lama hingga aku dapat mendengar detik jam dengan jelas.

Ran, aku kan udah pernah ngomong,” Kak Nando menghela napas, berat, “hubungan kita ini nggak mudah.

Aku diam. Tahu ke mana arah pembicaraan ini.

“Tentang ekskul?” tanyaku memastikan.

Ya.

“Kenapa nggak dipermudah aja sih, Kak? Kenapa menyulitkan sesuatu hal yang mudah? Yang menjalani hubungan ini kan kita, bukan mereka!” pekikku emosi. “Suatu saat permusuhan ini pasti akan berakhir.”

Untungnya kamarku ada di lantai satu, bukan di lantai dua seperti Kak Aldo. Jadi kecil kemungkinan Kak Aldo akan mencuri dengar pembicaraanku di telepon.

Andai bisa dipermudah, Ran.

“Bisa, Kak. Kakak aja yang pemikirannya kolot! Mereka yang buat peraturan itu juga kolot!”

Rana,” tegur Kak Nando.

“Hanya gara-gara permusuhan antar paskib dan pramuka, jadi dilarang pacaran? Konyol banget Kak!”

Ran, aku tahu kamu hanya emosi sesaat. Sebaiknya kamu dinginkan kepala kamu dulu.

“Aku nggak emosi sesaat, Kak!” bentakku. Air mataku mengalir lagi. “Ini bukan emosi sesaat. Aku udah nahan ini dari awal.”

Jeda kembali terjalin di antara kami. Memberikan aku dan Kak Nando waktu untuk berpikir.

Ran, aku nyembunyiin hubungan kita di sekolah karena nggak mau memperkeruh hubungan paskib dan pramuka. Aku juga nggak mau kamu jadi cibiran anak pramuka karena pacaran sama aku.

“Mungkin aku masih bisa terima tentang anak paskib yang dilarang pacaran sama anak pramuka, dan sebaliknya. Tapi, Kakak juga harus tahu aku tersiksa karena sejak awal kita udah ngejalanin hubungan ini diam-diam. Kenapa Kakak nggak berterus terang sama Kak Aldo? Kenapa mesti disembunyiin? Itu yang nggak bisa aku terima, Kak.”

Ran—” Kak Nando hendak berkata. Namun aku dengan cepat memotongnya.

“Sedari awal hubungan kita udah tersembunyi tanpa adanya peraturan itu. Meskipun kita beda sekolah pun, kita masih akan tetap backstreet.”

Kak Nando membisu. Kehilangan kata-katakah dia?

“Kalau backstreet menjadi pilihan dalam hubungan ini, berarti kamu meragukan hubungan kita, ‘kan? Aku ingin dengan bangga mengenalkan ke orang-orang jika kita tengah menjalin hubungan. Bukan disembunyikan seperti ini dengan segala alasan yang kamu buat.”

***

Naskah ini sudah lama aku tulis, seperti yang pernah aku katakan di bab sebelumnya. Tapi entah kenapa, saat aku membaca ulang, seolah-olah kata-kata yang aku tulis di naskah ini adalah isi hati aku saat ini. Kenapa pas banget gitu? 😭😭😭

Winda Zizty
17 April 2020

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top