1

"NORA ALEXANDER!"

Setengah jam lebih beberapa detik, dan teriakan Dela baru memenuhi ruanganku. Wow. Kesabaran Dela sejak kami berumur belasan sampai di penghujung dua puluhan begini memang perlu diberikan acungan jempol. Tidak heran, dia menjadi satu dari tiga orang yang paling lama bertahan di samping aku.

Dengan gaya selebor, aku menurunkan setengah laptop dan memasang ekspresi terkejut, seolah-olah sedari tadi aku tidak tahu dia sedang duduk sambil bersedekap di sana.

"Are you really going to shut up all day?"

"Gue lagi kerja, dan lo tahu kalau gue selalu diam sampai kerjaan beres." Aku kembali menegakkan layar laptop, tetapi melihat mata Dela nyaris keluar, membuatku kembali menurunkan sedikit layar. "Kenapa, sih, Del? Ada masalah?"

"Ada!" Nada Dela lebih tinggi dari sebelumnya, dia mencondongkan badan lalu menutup layar laptopku. Ada jeda beberapa detik yang dia ambil untuk menghela napas dan memaksakan senyum tipis. "Anak itu baru seminggu di sini, Nora. Se-ming-gu. Dia juga fresh graduate. Dan lo, marah sesadis tadi kayak dia udah kerja tahunan. Dia takut, Nora."

Aku menyandarkan punggung ke kursi, melirik pintu di balik punggung Dela. Di kantor ini posisiku dan Dela seperti Ana dan Renata dari drama Amigos X Siempre, Fitri dan Mischa di sinetron Cinta Fitri, Harry Potter dan Voldemort. Dela dikasihani sekaligus dianggap hebat dan berhati malaikat karena bersahabat denganku, orang paling menyebalkan dan jahat.

"Gue nggak teriak-teriak. Gue nggak nunjuk-nunjuk," kataku. "Gue cuma tanya; apa arahan gue terlalu sulit dimengerti? Apa keinginan klien sesusah itu buat diwujudkan? Kenapa dia buang-buang waktu yang gue kasih buat menghasilkan sampah?"

"Nora!"

"Fidela Aretina Wijaya." Daripada menggunakan nada tinggi, aku memilih yang penuh penekanan. Aku mencondongkan badan sampai dadaku menyentuh pinggiran meja, lalu lanjut berkata, "Pilihan di sini cuma dua; gue atau klien yang bilang desain dia sampah." Dengan meninggikan dagu sedikit, aku melipat kedua tangan di meja. "Kalau klien, nilai firma ini bakal berkurang. Kalau gue, nothing will happen."

"Ada dong." Della ikut meninggikan dagu, lalu mengarahkan satu ibu jari ke balik punggungnya. "Mereka tim lo. Gimana ceritanya tim bisa gerak seirama kalau anggotanya nggak nyaman sama si kepala?"

Ada beberapa jawaban muncul di benakku. Kalau mereka nggak nyaman, silakan pindah ke tim lain, misalnya. Namun, aku memilih menggemakan itu dalam hati. Tenagaku untuk berdebat sudah terpakai dengan Papa di rumah tadi, dan satu-satunya cara Dela cepat keluar dari ruanganku adalah membiarkan dia mengomel sampai puas tanpa dibantah.

"Ra, dunia kerja kita ini bukan permainan solo, ini permainan kelompok. Kita harus banyak kompromi, banyak dengerin orang lain, belajar menyampaikan mau dan pendapat kita dengan baik."

Aku bersandar di kursi, sementara Dela mengambil jeda dan menatapku dengan tingkat kesabaran yang semakin pendek. Entah dia sedang memakiku dalam hati, atau sedang memilih pertanyaan mana dulu yang ingin dia keluarkan; Kapan lo mau belajar sedikit ramah ke orang lain? Atau, mau sampai kapan lo melihat tim sendiri sebagai musuh? Pertanyaan-pertanyaan klasik yang aku dengar sejak bergabung secara resmi di firma ini tiga tahun lalu, menyusul uangku yang lebih dulu masuk dua tahun sebelumnya.

"Nora ...."

Sayangnya, rencanaku diam sampai Dela selesai bicara gagal dilakukan. Melihat Dela bersebrangan jalan denganku sangat memuakkan. Aku berdiri, memasukkan ponsel ke saku skinny jins dan sekotak rokok serta korek gas di saku yang lain, lalu berjalan menuju pintu. Diam-diam aku berdoa Dela tidak berkata, jangan kabur, Ra. Karena aku benar-benar harus pergi, atau aku tidak bisa menahan diri dan membentak Dela. Beruntungnya dia tidak melakukannya. Aku keluar dari ruangan dengan sangat mulus. Diiringi tatapan sembunyi-sembunyi dari beberapa orang, termasuk si anak baru yang diwakili suaranya oleh Dela tadi.

Baru setengah perjalanan, aku berpapasan dengan Arka dan anak baru lainnya dari tim arsitek. Mengingat posisi Arka di firma ini, aku mengangguk kecil dan memaksa senyumku kepadanya.

"Dela di ruangan gue. Kayaknya sih masih ada di sana," kataku, saat bibir Arka terbuka sedikit. "Gue mau ke atas. Cari inspirasi," lanjutku, tidak mengizinkan lelaki itu mengeluarkan apa pun isi otaknya tentang situasi aku dan Dela.

Arka merapatkan bibir dan mengangguk. Sambil tersenyum ramah, lelaki berdarah campuran Indo-Canada membiarkan aku melanjutkan perjalanan.

Sepanjang aku menaiki tangga menuju lantai empat alias rooftop yang disulap jadi area istirahat terbuka, otakku menyusun adegan demi adegan yang mungkin sedang terjadi di bawah sana. Arka buru-buru menghampiri Dela, bertanya kenapa aku kabur ke atas, mendengarkan keluhan Dela tentang betapa menyebalkannya aku, lalu meminta Dela sabar.

Di antara aku dan Dela, posisinya selalu begitu; aku penjahat, Dela korban. Aku si pembuat onar, Dela si baik.

Tak jarang, di saat-saat tertentu, aku sangat benci berada di satu lingkaran dengan dengan Dela. Aku merasa tidak terlihat, tidak dianggap. Seakan apa pun pencapaianku untuk firma ini tidak ada artinya. Mau berapa banyak keuntungan yang kuhasilkan, puluhan klien yang puas dengan desain-desainku. Semuanya tidak ada artinya karena aku bukan Dela.

Seperti waktu SMA dulu, Dela diminta wali kelas kami untuk membantuku memperbaiki nilai pelajaran. Padahal, aku bisa mendapatkan nilai bagus tanpa bantuan Dela. Hanya saja saat itu aku sedang malas menjadi yang terbaik. Rasanya percuma mendapat pencapaian bagus, ujung-ujungnya apa yang kukerjakan tidak pernah dihargai dan tidak pernah cukup. Dela tahu, aku sengaja menjawab asal ulangan di semua mata pelajaran. Jadi sejak titah itu turun, dia cuma mengoceh tentang mimpi kami; kuliah di universitas yang sama, lulus, lalu berkerja di tempat yang sama. Keberadaan kami di firma ini bagian dari itu. Dia arsitek, aku desain interior.

Pada akhirnya aku menuruti Dela; memakai otakku sebagaimana mestinya.

Saat pembagian rapor Dela mendapatkan ucapan terima kasih dan kerja bagus dari banyak orang, sementara aku ... tidak terlihat.

Namun, sesebal apa pun pada kondisi itu. Aku menyayangi Dela. Aku tidak mau dia pergi, lalu kesepian lagi.

Sendirian lagi.

Mendadak, seluruh badanku berhenti beroperasi. Aku mematung di depan pintu menuju rooftop, padahal satu tanganku sudah menggenggam gagangnya. Hanya satu dorongan, aku bisa merasakan udara bebas. Namun, keputusasaan yang kusembunyikan sejak lama berontak keluar, menyuruh kenyataan menamparku dengan sadis sebelum membiarkanku melanjutkan apa yang ingin kulakukan.

Sambil mendorong pintu, aku tertawa.

Faktanya, aku sudah lama tenggelam dalam lautan sepi nan hampa. 

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top