chapter 45 | hurt as hell
Saat ini aku dan Alea sedang melakukan piknik outdoor di salah satu bumi perkemahan di Bogor. Semalam bayi besarku itu menghubungiku dan mengajakku untuk liburan sebagai pelepas stress setelah UAS. Lalu karena saat ini aku sedang butuh distraksi karena kepalaku begitu kusut, akhirnya aku mengiyakan ajakan Alea. Setelah mendapat izin dari Denada tentunya.
Kami menggelar karpet di atas rerumputan hijau dan memilih tempat yang agak dekat danau. Aroma harum dari berbagai bunga yang tumbuh di sekitar bumi perkemahan membuat aku sedikit rileks. Jujur saja, dua hari terakhir hidupku sama sekali tidak baik-baik saja.
Padahal aku juaranya, tapi tak bisa dipungkiri jika aku menyesali semuanya. Saat ini aku tengah patah hati, dan walau aku denial setengah mati aku tetap tidak bisa mencegah air mataku yang turun saat aku tidak sengaja terbangun pukul tiga pagi lalu insomnia sampai pagi.
Kalau semua ini benar, kenapa rasanya tetap menyakitkan?
Namun aku mencoba berpikir realistis dengan menganggap kalau ini adalah hal yang wajar. Perpisahan selalu menyakitkan nggak peduli kalau pasanganmu adalah manusia paling bajingan sesemesta. Jadi, aku tahu rasa sakit ini pasti berlalu.
Hah, sebaiknya aku berhenti memikirkan tentang Satya, walau tidak bisa dipungkiri jika saat ini aku sangat merindukan pria itu setengah mati. Aku begitu merindukan pria itu sampai rasanya begitu menyesakkan hanya dengan memikirkan wajah pria itu. Senyumnya, tawanya, pelukannya, kecupannya, aku merindukan itu semua.
Tetapi setidaknya aku sudah menang, kan? Jadi, apa yang sebenarnya kamu inginkan, Kanthi?
Sungguh, aku sama sekali tidak paham akan keinginanku sendiri. Aku saat ini begitu bingung, aku seperti kehilangan arah. Aku tahu aku butuh bicara dengan seseorang, tapi aku benar-benar tidak mau berbicara dengan Arum atau Jessica karena aku tahu mereka terlibat di dalam permainan Satya. Hanya saja aku belum tahu peran apa yang mereka mainkan. Namun, aku percaya satu hal, kalau mereka sama sekali tidak mau melihat aku terluka. Jadi, apapun peran mereka, aku tahu mereka tidak akan menyakitiku.
“Mbak, kamu beneran nggak mau ngasih gue spoiler?” tanya Alea seraya tengkurap di karpet dan masih fokus streaming Limitless. Sejak satu jam yang lalu gadis itu memang sedang menonton film yang dibintangi oleh Bradley Cooper dan diangkat dari novel berjudul The Dark Fields karya Alan Glynn yang terbit tahun 2001. Aku sudah menonton film itu beberapa tahun lalu, makanya saat ini aku tidak bergabung untuk streaming dengan Alea.
Sejak tadi aku mencoba fokus membaca novel Fight or Flight karya Samantha Young yang aku baca dari Kindle. Walau aku sama sekali tidak fokus, karena bayangan wajah Satya berulang kali singgah di kepala.
Sial, kalau kali ini aku yang menang, kenapa aku malah seperti menggali kuburanku sendiri? Haha, kamu memang manusia paling munafik di dunia, Kanthi.
Aku menggeleng untuk mengenyahkan Satya dari kepala, lalu ikut rebahan di samping Alea. “Nope, nonton aja seru kok filmnya. By the way, udah siang, Le. Makan dulu, yuk? Nanti GERD kamu kambuh, lho.”
Alea manyun karena aku enggan memberikan spoiler, lalu gadis itu mematikan tablet yang sejak tadi menjadi fokus perhatiannya dan langsung tersenyum lebar saat aku membuka keranjang piknik yang tadi aku bawa dari rumah.
Lalu aku menata semua makanan di atas karpet, dan hal itu sontak membuat kedua mata Alea berbinar. Selain hari santuy-santuy yang tandanya gadis itu tidak ada kerjaan sampai besok, hari ini juga ialah cheating day gadis itu. Sehingga Alea bisa makan sepuasnya tanpa menghitung kalori.
Alea mulai memakan bubur kacang hijau yang sudah aku persiapkan, sedangkan aku memutuskan untuk memakan sponge cake yang tadi pagi aku buat. Lalu kami makan bersama sambil menikmati pemandangan danau yang tenang dan suara berbagai burung yang bersahutan.
“Mbak Kanthi putus sama Mas Satya?” tanya Alea tiba-tiba yang sontak membuat aku tersedak sponge cake yang tengah aku makan. Alea memberiku sebotol minuman dingin yang langsung aku teguk sampai akhirnya aku bisa bernapas dengan lega.
“Kenapa kamu mikir gitu?”
“Karena biasanya Mbak Kanthi bakal video call sama Mas Satya dan bakal tour bumi perkemahan ini kayak remaja alay yang baru jatuh cinta. Haha-hihi berasa dunia milik berdua, dan aku bakal ikut baper sekaligus nahan mual karena tingkah kalian. Tapi hari ini Mbak Kanthi banyak diam, memutuskan jauh dari HP, nggak fokus, dan you look like shit.”
“Heh! Aku udah dandan cantik begini, sampai Koko di tenda sebelah beberapa kali flirting tapi aku pura-pura nggak tahu, tapi kamu bilang aku look like shit? Fix, Le, mata kamu bermasalah!”
Alea memutar bola matanya malas, mungkin gadis itu jengah dengan kenarsisanku. “Ya, kalo secara fisik kamu emang keliatan baik-baik aja, Mnak. Walau mata Mbak Kanthi yang agak bengkak nggak bisa bohong ya, Sis! Tapi kamu nggak semangat, Mbak. Mata kamu nggak berbinar kayak biasanya, dan kamu kayak nahan sakit. Oh God, kayaknya aku sampai bisa dengerin hati Mbak Kanthi yang kretek-kretek.”
Kali ini aku yang memutar bola mata malas saat mendengar ucapan hiperbola Alea, tapi kemudian aku tersenyum kecut. “Ya, anggap aja aku sama Satya udah selesai. Tapi aku beneran nggak mau ceritain ini sekarang, mungkin lain kali.”
“Oke, take your time. Mbak tahu kan kalo aku bakal selalu dengerin curhatan kamu? Dan kamu tahu tahu nggak bakalan pernah ghibahin Mbak.”
“Karena ghibah sama aja makan bangkai saudara sendiri?”
“Ya, aku emang manusia yang baik hati, tidak sombong, dan rajin beribadah. Tapi alasan utamanya sih karena aku nggak punya temen.”
“Kamu punya lebih dari 6 juta followers di Instagram.”
“Yada-yada aku cuma mainin second account yang folowers tetapnya cuma Mbak Kanthi dan Tante Denada, ig aki kan di-handle admin. Jadi, tenang aja, Sis, rahasia kamu aman sama aku.”
Aku merangkul bahu Alea. “Tapi kamu tahu kan kalo kamu bakal selalu punya aku?”
“Yes, I know. That’s why I love you so much, Mbak,” ujar gadis itu seraya merangkul leherku. Dan aku pun balik merangkul bahu gadis itu.
“I love you too bayi gedenya aku.”
“Aku nggak tahu apa yang terjadi sama Mbak Kanthi dan Mas Satya. Mungkin aku juga cuma sok tahu dan aku juga nggak bermaksud buat ikut campur, tapi kamu sama Mas Satya saling mencintai, Mbak. Dan kalian bahagia, jenis bahagia yang juga bikin orang lain bahagia. Sumpah, aku beneran bahagia saat liat kalian ketawa, seolah aku beneran bisa ngerasain kebahagiaan kalian itu. Dan aku harap ke depannya aku juga bakalan tetep liat kebahagiaan itu.”
Ah, setidaknya bahagia itu nyata, Sat. Bahagia kita bukan cuma pura-pura. Dan itu membuat aku sedikit lega.
“Thanks Alea,” ujarku seraya memeluk erat gadis itu.
“Sama-sama, Mbak. Dan please jangan peluk aku erat-erat, aku beneran nggak mau masuk Lambe Turah lagi karena dikira lesbi. Dan Koko yang dari tadi flirting sama Mbak beneran bisa mikir kalo Mbak Kanthi belok karena nggak tertarik sama dia.”
“Hoo, apa sebaiknya aku flirting balik?”
“I don’t think so. Soalnya aku shipper garis keras Mbak Kanthi sama Mas Satya. Jadi, aku nggak bakal biarin kapal aku kandas!”
Aku menjitak kening gadis itu, yang sontak membuat Alea langsung manyun seperti bebek. Namun, setelah itu kami tertawa bersama. Sepertinya acara mencari distraksiku berhasil, karena saat ini perasaanku lebih ringan dan akhirnya bisa tertawa lagi tanpa beban.
Namun, ternyata hiburan ini hanya bertahan sementara, karena begitu aku kembali ke rumah kepalaku kembali mau pecah. Hingga akhirnya memutuskan untuk mencari distraksi lain dan mengetahui fakta super mencengangkan tentang apa yang sebenarnya terjadi selama sepuluh tahun terakhir.
Fuck, gimana bisa hanya gue yang nggak tahu tentang ini semua!
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top