9
Note : Dengerin lagunya deh... ini Ray banget... "I know it sounds crazy... But I need you to trust me... If it's how it must be... then I'll fade away "
FLAVIA
Kalau aku punya kemampuan berpikir baik di tengah situasi mendesak, aku akan membalas kata-kata Ray dengan nada menantang, karena bisa-bisanya dia berbicara seakan ingin berciuman denganku sebanyak mungkin tapi tidak mau terikat hubungan apapun. SIAL! Dia sama saja!
Kalau aku punya keberanian sedikit lebih banyak, aku akan pergi setelah menoyor kepalanya itu.
Kalau aku punya kewarasan yang normal, aku sudah berbaring bersama anak-anak. Bukannya berdiri mematung, menunggu apa yang akan terjadi selanjutnya, sambil memandangi bibirnya.
"Apa karena Mas Ray masih menunggu ibu anak-anak kembali?" Pertanyaan itu meluncur begitu saja. Aku sering menonton roman picisan, satu alasan utama orang tidak berani keluar dari kegagalan percintaan sebelumnya karena orang itu masih mempunyai harapan besar masa lalunya kembali. Aku pun mengalami itu. Jadi, aku menarik kesimpulan itu juga yang terjadi pada Ray. Pernyataan Dela pun menguatkan hal itu, empat tahun sendiri, lebih memilih menjalani hubungan serius dengan pekerjaannya daripada wanita.
Ray maju dua langkah, aku mencengkram pinggiran meja televisi. Setelah berhasil menghapus jarak di antara kami, dia menempelkan kedua tangannya di kedua sisi pinggangku, lalu memajukan wajah hingga kedua puncak hidung kami bersentuhan.
"Saya bahkan nyaris lupa dia pernah menjadi bagian dari kehidupan saya." Dia mengatakan itu dengan sangat tenang tapi dingin.
Ray menjauhkan wajah lalu mundur ke tempat semula, mengembalikan jarak kami seperti sebelumnya. Dia menggelengkan kepala, meraup wajahnya seolah baru saja menghadapi persidangan yang sangat sulit. "Maaf, seharusnya saya nggak membicarakan masalah serumit ini hanya karena kita pernah berciuman sekali.
Aku menelan saliva. Tapi aku pernah membayangkan ciuman kedua, bahkan beberapa detik lalu aku masih sempat membayangkannya.
"Saya nggak masalah dengan ketertarikan yang sedang Mas rasakan, karena saya juga merasakannya. Mungkin itu terjadi karena kita sudah lama sendiri, situasi mendungkung, lalu terjadi hal itu. Mas belum yakin, saya justru khawatir. Saya khawatir kalau kita tetap ada di situasi membingungkan seperti ini, semua akan berdampak pada pekerjaan saya sebagai pengajar anak-anak." Cengkramanku pada pinggiran meja semakin kuat, rasa khawatir dalam semakin kuat, berimbas pada mataku yang memerah. "Mas tahu saya tidak terlalu suka menghadapi anak-anak, tapi hati saya berbeda pada si kembar. Saya..."
"Saya tahu."
"Mas tahu?" Pandangan Ray melembut.
"Saya tahu, kamu mengeluarkan air mata karena anak-anak dan rasa khawatir kamu itu." Ray berjalan maju dengan lambat. "Tapi saya bisa jamin, seberapa aneh hubungan kita nanti... nggak akan berdampak apapun pada hubungan kamu dan anak-anak." Dia kembali di hadapanku, kedua tangannya pun sudah menempati posisi yang sama seperti sebelumnya.
Aku sedikit mengadah untuk mengamati mata Ray, ada sebuah janji tak terucap di sana seolah dia tengah berkata; kamu bebas di sisi anak-anak selama mungkin.
Aku mengangkat satu tangan dan mengapai lengan kirinya.
"Apa Mas juga tahu apa yang saya mau saat ini?" APA-APAAN INI VIA?!
Ray menyunggingkan senyum paling menggoda yang pernah aku lihat dari seorang pria. Dia menaikkan satu tangannya menuju rambut dan meyelipkan jari-jarinya di antara rambutku, ibu jarinya membelai lembut pipiku. Matanya masih menatapku, seperti menunggu intruksi harus memulai dari mana.
"Saya harap tidak salah duga," katanya. Lalu bibirnya mendarat di bibirku, bergerak pelan, menunggu reaksi dariku. Aku memiringkan kepala agar bibir kami bisa bergerak lebih leluasa. Ray menurunkan tangannya dan meletakkannya di punggungku, bertugas untuk menjaga keseimbanganku tetap terjaga. Bibir kami semakin menyatu, tanganku semaki kuat mencengkram lengan Ray, aku yakin setelah ini selesai akan ada tanda berbentuk bulan sabit tertinggal di sana.
"Papa...," suara Olin terdengar dari depan pintu, tak berapa lama pintu mengayun terbuka.
Jantungku lompat dari tempatnya.
Ray menjauhkan tubuhnya.
Aku merapikan rambut, baju, dan semua hal yang melekat di tubuhku.
Olin muncul sambil menggosok-gosokkan matanya. "Aunty Ia..." Dia tidak melihat apapun, dia tidak akan paham dengan apa yang terjadi.
Aku buru-buru meraih Olin dan memeluknya. "Kenapa? Kok bangun?"
"Olin mau pipis, tapi takut. Gelap..." Aku berdeham dan ingat kalau lampu kamar mandi anak-anak lupa aku nyalakan. Mereka—terutama Olin sangat takut gelap. Jadi setiap malam, lampu kamar mandi selalu dibiarkan menyala, berjaga-jaga kalau mereka ingin buang air kecil seperti sekarang.
"Oke. Ayo, Aunty temani." Olin mengangguk. Kami bersiap untuk keluar kamar, aku kembali memandang Ray. Dia mengangguk dan tersenyum canggung, senyum kedua untuk malam ini.
Aku dan Olin kembali ke kamar kami, setelah semua urusan pribadi Olin selesai, kami berbarengan naik ke ranjang. Olin memejamkan mata untuk melanjutkan mimpi, sementara aku memandangi wajah mereka dalam diam. Aku mulai memikirkan semua yang terjadi di kamar Ray. Aku tidak tahu apa ini akan baik-baik saja. Rasanya aku sudah terlalu jauh untuk berputar arah, aku yakin, Ray merasakan pun merasakan itu. Mungkin saat ini dia pun sedang memikirkan kejadian tadi, mungkin dia akan mengambil keputusan untuk melupakan alasan dia menjauhi wanita selama empat tahun. Tetapi, bagaimana denganku? Bagaimana kalau dia tahu masa laluku? Setelah itu, apa masih bisa dia tetap membiarkanku di sisi anak-anak? Lalu, aku mendapati diriku kembali menangis.
****
Pagi datang lebih cepat dari biasanya, menurutku seperti itu entah menurut Ray. Dia terlihat biasa, duduk di meja makan sambil membaca koran dengan suguhan teh tawar hangat. Aku perhatikan tidak ada tanda-tanda dia mengalami kesulitan tidur semalam, tidak sepertiku. Aku nyaris memejamkan mata, karena suasana di ruang makan ini terlalu sunyi dan aku baru tidur selama tiga jam.
Aku melirik anak-anak, mereka sedang asyik menghabiskan nasi goreng mentega yang kubuat secara kilat. Sesekali keduanya bergantian melirik ke arahku, saling menyenggol lengan seperti ingin mengatakan sesuatu.
Aku menopang dagu. "Kalian kenapa?"
Anak-anak berhenti menyendok nasi, Ray juga menutup koran dan melipatnya.
Olin melirik ragu-ragu. Dia meletakkan sendok lalu menggenggam satu tangan yang lain. "Aunty Ia..." Dia mengeluarkan nada manja yang biasa dia gunakan saat menginginkan sesuatu.
"Iya?"
"Olin mau ownies, boleh nggak?"
"Ownies?" Aku menaikkan satu alisku.
Wajah Okan muncul di belakang punggung Olin. "Kue hitam yang enak banget itu loh, Aunty. Waktu itu Aunty pernah buat..."
"Oh..." Aku melepaskan topangan daguku. "Brownies?" Keduanya mengangguk semangat. "Oke, tapi... kalian harus bisa dikte dulu, baru Aunty buatin."
Mereka mengangguk lagi, menyanggupi syarat yang aku ajukan.
"Kamu bisa membuat kue juga?" Ray bertanya tiba-tiba, ekspresinya tak bisa kutebak antara kaget ternyata aku menguasai dapaur atau kagum mengetahui aku bisa melakukan banyak hal.
"Iya, Bunda Airini yang ngajarin." Ray mengerutkan mendengar nama Bunda Dela keluar dari bibirku. "Waktu kuliah, saya sering main di rumah Dela. Kadang sering menginap, jadi suka bantu-bantu di dapur. Apalagi kalau Bunda lagi banyak pesenan, biasanya saya dan Dela yang bantu."
Ray mengangguk mengerti, telunjuknya memutari bibir cangkir seperti sedang menimbang sesuatu.
"Oh ya, tolong hari ini kamu persiapkan kebutuhan anak-anak untuk menginap selama tiga hari di Bandung. Besok pagi kita berangkat." Aku tertegun, sementara anak-anak sudah mengeluarkan kata yes secara berulang.
"Kita?"
"Iya, kita..." Telunjuknya terangkat ke arah gue lalu bergeser melewati anak-anak dan berhenti di dia. "Kamu, anak-anak, saya. Nggak mungkin dong, saya pergi bertiga sama aja sama anak-anak." Kali ini aku melongo. "Saya ada pertemuan dengan persatuan advokat Bandung, kebetulan hari setelahnya tanggal merah, long weekend. Ya, hitung-hitung memberikan liburan kecil buat anak-anak."
Olin berdiri secara tiba-tiba, dia berlari menuju kursi Ray, lalu naik ke atas pangkuan Ray dan mendaratkan ciuman secara berulang pada wajah Ray. Okan ingin melakukan hal yang sama, tapi dia tahan karena nasi goreng dalam piringnya belum habis sementara Olin sudah lebih dulu menyelesaikan makannya sebelum lari ke tempat Ray.
Aku mengusap puncak kepala Okan, mengedikkan dagu ke arah Ray sebagai izin dia boleh meninggalkan kursi walaupun nasinya masih tersisa sedikit. Okan tersenyum bahagia, kemudian bergabung dengan Olin, menempati ruang sempit di atas paha Ray.
Aku mengamati Ray dan anak-anak. Cara Ray memeluk tubuh anak-anak, sangat protektif. Cara Ray menciumi pipi anak-anak, terlalu manis. Jantungku berdebar kencang karena adegan ini, beruntung Ray menyudahinya dengan cepat. Dia melihat arloji, meminta anak-anak turun dari pangkuannya, lalu berdiri. Dan aku ikut berdiri, entah untuk apa, mungkin ini cara bawahan menghormai atasan
"Saya berangkat dulu," katanya, lalu mencium kening anak-anak bergantian. "Belajar yang pintar. Jangan nakal dan jangan merepotkan Aunty Ia, oke?"
Si kembar mengangguk.
Ray mengambil jas hitam yang tergantung pada sandaran kursi, kemudian berjalan meninggalkan meja makan.
"Hati-hati," kataku dengan suara sangat pelan nyaris berbisik saat posisinya ada di sampingku dan dia memandangku. Kami saling pandang, mungkin saling menyelami maksud dari kalimat pamit masing-masing. Pipiku memanas saat pandangan mata Ray semakin dalam, ditambah suara bantuk Bi Mar dari belakang sana. Aku tahu itu bukan batuk tersedak, itu batuk menggoda. Akhir-akhir ini, Bi Mar sering melakukan itu.
Ray mencoba menghentikan godaan Bi Mar dengan mengeluarkan kalimat pamit kedua, tapi kali ini kalimat itu tertuju pada Bi Mar. Setelah Ray benar-benar berangkat bekerja, aku membawa anak-anak ke kamar untuk memulai pelajaran pertama mereka.
Aku menghabiskan waktu dua jam untuk mengajari keduanya menulis dan membaca, tidak terlalu susah untuk menjadikan mereka anak manis dan pintar. Setiap kali salah satu dari mereka mulai membuat alasan tidak bisa, aku akan membahas tentang brownies dan apa yang tidak bisa menjadi bisa.
Setelah jam pelajaran selesai, aku meminta Bi Mar untuk menemani anak-anak menonton kartun di kamar, sementara aku berkutat di dapur seorang diri. Berbekal salah satu resep brownies dari akun selebgram terkenal, aku berhasil membuat brownies tanpa kesulitan apapun. Selagi menunggu brownies dipangggang, aku memilih duduk di meja makan dan mengotak-atik ponselku. Membuka pesan-pesan yang belum sempat kubaca, termasuk group line buatan Nora. Group yang berisi empat orang saja dengan pembahasan random, terkadang menjurus tidak penting, terkadang pula hanya berisikan ejekan.
Me: Ngomongin apa, sih? Kelihatannya seru nih.
Nora: Wah, tumben online jam segini! Biasanya tengah malam.
Me: Lagi nunggu brownies buatan aku matang.
Nora : What? Kamu buat brownies? Dalam rangka apaan?
Me : Si kembar minta dibuatin
Rissa: Sejak kapan Via sibuk di dapur siang hari? Biasanya kerja.
Aku mengulum senyum mendapati Rissa ikut bergabung dalam obrolan.
Me : Ini kerja, Ris.
Nora : Hati-hati, anak orang keracunan nanti dituntut loh sama si Ray.
Dela : HAHAHA!
Me : Del, nggak niat belain aku gitu? Secara kamu kan udah pernah makan buatan aku, enak kan?
Nora : Oh! Jadi, kamu diare waktu itu karena makan buatan Via, Del?
Me : Idih! Kapan?
Nora : Waktu itu, pernah Dela bolak balik kamar mandi.
Me : Kapan? Ih, nggak yah! Del, klarifikasi dong.
Rissa : Hahaha...
Dela : Berisik, lagi kerja nih.
Me : Nora kok nggak kerja? Kan kalian satu kantor.
Sejak kembali ke Indonesia, Nora bergabung di perusahaan milik Arka, masuk di bagian desain interior. Sesuai dengan jurusan kuliahnya dan setahu aku empat tahun dia di Inggris juga untuk memperdalam tentang desain.
Dela : Tuan putri kerjaannya cuma dikit, beda sama kuli.
Nora : Bah! Dela mau kerjaannya dikit? Oke, gue kasih tahu Arka ya...
Dela : JANGAN! NANTI BONUS AKU KURANG, MASIH NABUNG NIH BUAT AJAK BUNDA KELILING EROPA!
Rissa : Hahaha..
Me : Ris, nggak bisa ngetik yang lain? Daritadi 'hahaha' terus.
Me : Eh, Ris. Kamu masih tinggal di Bandung kan? Belum pindah ke planet lain kan?
Rissa : Iya. Kenapa, Via?
Me : Ketemuan! Aku kangen! Besok aku mau ke Bandung.
Rissa : Boleh, kamu pergi ke Bandung sama siapa?
Me : Si kembar dan Papanya.
Nora: Ehm! Ada yang liburan keluarga nih.
Me: Kerja, Ra. Jagain anak-anak.
Dela : Wow.
Rissa : Oke, besok kamu kabarin aku nginep di mana. Nanti aku datang ke sana, jemput kamu.
Me: Oke. Pamit dulu yah, mau urus brownies.
Nora : Eh, jangan ilang dulu! Aku masih kepo nih. Kok bisa sih pergi sama Ray?
Me : Ada si kembar, Ra.
Me : Dilarang kepo!
Me: Udah ah! Aku off dulu.
Nora: Ish, jangan kabur! Aku kepo banget.
Dela: Ra, turun ke ruang rapat deh... Tanya langsung aja sama yang ngajak pergi, siapa tahu informasinya lebih menarik.
Nora: RAY ADA DI SINI? SUMPAH? MI APAH? OKE! TAHAN RAY, AKU TURUN KE BAWAH.
Me: Dela!!! Nora!!!
Aku mencebikan bibirku saat melihat pesan yang dikirimkan oleh Dela dan Nora, sebenaranya tidak ada yang spesial dari kegiatan mengajakku ke Bandung. Toh, ada si kembar juga. Kenapa dia harus seheboh ini? Dan kenapa juga si Ray datang ke kantor Dela dan Nora, kayak nggak ada tempat lain buat dikunjungi!
Me: Jangan tanya aneh-aneh!
Nora: Hmmm...
Dela : Hmmm...
Rissa: Memang ada apaan sih antara kamu dan Ray?
Me : Nggak ada apa-apa, Ris. Aku tuh cuman kerja di sini.
Cukup lama group line ini hening, tidak ada jawaban dari Dela, Rissa ataupun Nora. Hingga pada menit lima belas setelah didiamkan, group line ini kembali memberikan tanda-tanda kehidupan. Nora yang memulai kehidupan itu dengan mengirimkan foto Ray tengah duduk di samping Arka dan pandangan Ray terlihat serius mengamati Arka.
Nora : GILA, RIS! DIA BERUBAH MAKIN GANTENG BANGET, PANTES AJA NIH BOCAH BETAH KERJA DI RUMAHNYA.
Rissa : Eh, itu Ray? Wah, beda ya.
Nora : Iya kan beda.
Dela : Hahaha.
Me : Biasa aja.
Nora : Yakin biasa aja? Yakin nih nggak tertarik sama Ray?
Me : Biasa aja.
Dela : Yakin?
Me : Iya.
Dela : Percaya.
Nora : Kalau gitu aku usaha ah, siapa tahu dia mau. Lumayan langsung dapat anak udah gede terus lucu-lucu lagi.
Aku sudah berhasil mengetik kata JANGAN, tapi tidak jadi aku kirim, aku menghapus lalu meninggalkan ponselku di atas meja. Aku mendadak mual membayangkan ada wanita lain mendekati Ray dan berhasil mendapatkan perhatiannya. Kepalaku seketika pening saat bayangan rumah ini tidak lagi membutuhkanku. Ya Tuhan, sebenarnya ada apa dengan diriku ini? Aku bertambah mual, saat bayangan Nora—wanita yang terkenal dengan kesempurnannya, wanita yang paling banyak digilai pria, bersikap memesona untuk mendapatkan perhatian Ray. Bagaimana kalau Ray tertarik sama Nora?
ENJOY RAY-VIA
Jgn lupa vote dan comment ya... hahaha...
love. Fla
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top