13

RAYNALDI

Gue mengingat jelas cara Rissa menyampaikan keberatannya tentang hubungan gue dan Flavia. Bagaimana dia meminta gue untuk mengurunkan niat mendekati Flavia. Bagaimana dia menjadikan kesalahan masa lalu sebagai alasan mendasar untuk gue mempertimbangkan hubungan dengan Flavia. Dia mengatakan semua kalimat itu, seakan hidup gue baik-baik saja setelah kejadian itu. Dia tidak pernah tahu seberapa keras gue berjuang untuk mengembalikan hidup gue seperti dulu, seperti sebelum wanita sialan itu masuk dan menghancurkannya. Dia juga tidak paham, Flavia bukan wanita baru dalam pikiran gue.

Flavia berhasil mengendalikan keterkejutannya, dia melangkah pelan-pelan menuju kursi lalu duduk di sampingku. Sebenarnya tidak benar-benar di samping, dia menyisakan jarak beberapa jengkal, benar-benar menempelkan tubuhnya pada tangan kursi.

Rissa tidak tahu, Flavia pun tidak tahu kalau kehadirannya di rumah sudah dirancang sedemikan rupa untuk menyelamatkan anak-anak—menyelamatkan gue.

Gue menghisap rokok lebih dalam lagi, menikmati sisa-sisa terakhirnya sebelum berakhir di asbak seperti rokok-rokok sebelumnya. Mata Flavia masih menatap gue dengan pandangan lurus, gue tahu dia punya banyak pertanyaan tentang rokok. Penghuni rumah—Bi Mar tidak tahu gue perokok. Tapi Arka, Dela, dan teman gue yang lain tahu gue perokok, gue lebih banyak merokok di depan mereka.

Gue membuang rokok kecil itu ke asbak, lalu menarik satu yang panjang dan bersiap untuk menyalakannya, tapi dalam hitungan detik korek gas sudah berpindah tangan.

"Mas Ray sudah menghisap rokok terlalu banyak," katanya sambil memandangi sisa-sisa rokok yang tergeletak di dalam asbak.

Gue mengulurkan tangan mengambil korek itu dari tangannya kemudian meletakkannya di tengah kami, di ruang kosong yang menjadi pembatas kami. Dia kembali menatap, rasa ingin bertanyanya lebih besar daripada beberapa jam lalu. Kali ini dia bukan hanya bertanya tentang obrolan sepuluh menit gue dan Rissa, ada tambahan baru seperti kapan, kenapa, dan sudah berapa lama.

"Tadi Rissa menyinggung soal kita?" Akhirnya dia bertanya lebih dulu, ternyata sikap tidak suka menunggunya masih sama. Gue ingat, dia pernah memarahi Nora—sahabatnya yang lain di lorong kampus. Gue tidak pernah tahu secara jelas alasannya, tapi saat gue melewati mereka, gue bisa mendengar dia berkata; aku nggak suka nunggu terlalu lama, Ra. Gue ingat jelas cara dia mengatakan kalimat itu, tapi dia tidak pernah ingat kalau gue ada di sana.

"Hmm..."

"Maaf kalau Rissa lancang, dia nggak—"

"Saya dan Agnes—ibu si kembar, bertemu di kampus, kami satu jurusan terkadang ada di satu kelas yang sama. Dia tidak jauh berbeda dari wanita sebelumnya..." Gue berhenti sebentar untuk melihat reaksinya, dia masih memandang lurus dengan ekspresi ingin tahu. "Apa sudah ada yang menyampaikan bagaimana memperlakukan wanita sebelum ini?" Dia tidak menjawab. "Saya berpindah dari satu wanita ke wanita lain tidak memberikan mereka status yang jelas, hanya berhubungan untuk bersenang-senang lalu pisah dengan sendirinya."

Gue memberikan jeda untuk kami. Dia menarik napas panjang dan mengembuskannya perlahan, lalu dia meluruskan duduknya menghadap gelapnya langit Bandung. Apa dia sedang mengatakan brengsek dalam hati? Apa dia menyesali hal-hal yang terjadi di antara kami?

"Hubungan saya dan Agnes berjalan seperti yang sudah-sudah, kami hanya melakukan banyak hal menyenangkan tanpa terikat satu hubungan yang pasti. Saya tahu, saya terlalu brengsek dan Tuhan menghukum saya melalui Agnes." Dia menghela napas dengan kasar. "Agnes hamil. Dia seperti sudah merencanakan hal ini sebelumnya, dia bilang; sejak kami berhubungan dia sudah menyiapkan diri dengan suntik kontrasepsi jadi kami melakukan tanpa pengaman." Kedua tangannya meremas sisi celana tidur dengan erat. "Hari itu umur saya resmi dua puluh satu, dia memberikan kado paling mengejutkan—test pack dengan lambang positif. Saya nggak tahu harus mengucap syukur atau mengutuk hari itu, yang saya pikirkan saat itu adalah janin di dalam rahimnya adalah anak saya."

Dia memandangi kaki, seperti ingin menutupi reaksi wajahnya. Dia sedang berusaha menyembunyikan isi pikirannya, mungkin dia sedang memaki gue di dalam hati.

"Saya nggak mengenal Agnes dengan baik, kami nggak pernah bicara dari hati ke hati layaknya pasangan normal karena memang kami memang bukan pasangan. Kami nggak pernah bertukar kata cinta atau minimal bertukar kata sayang. Tapi saya memutuskan untuk menikahi dia, karena janin dalam rahimnya. Orang tua kami nggak ada yang protes, menikahkan kami dengan acara seadanya yang penting sah. Saya nggak ingat bagaimana perasaan saya setelah mengucap janji pernikahan, satu-satunya yang saya ingat adalah tangisan dari Mama saya bukan tangis bahagia melepas anak prianya menempuh hidup baru seperti yang umumnya terjadi. Mama saya menangis karena terlalu kecewa." Gue menyandarkan tubuh pada sandaran kursi, berhenti memandang Flavia dan ikut menikmati langit gelap. Menyelami lagi hari-hari yang sebenarnya mau banget gue lupain, tapi gue ingin dia tahu keseluruhan cerita dari gue bukan orang lain yang hanya tahu keadaan di luar saja.

"Semua berjalan normal, saya pikir hubungan kami tergolong berhasil. Setelah menikah saya bekerja di firma hukum milik keluarga, saya melupakan pikiran tentang bersenang-senang. Saya hanya berpikir, bagaimana memenuhi kebutuhan keluarga baru saya ini. Saya tidak meninggalkan kuliah, saya bekerja sambil kuliah. Tapi Agnes berhenti, dia menghabiskan waktu di rumah, bersantai." Bayangan Agnes duduk di ruang tengah dengan wajah cemberut karena gue terlambat pulang kembali datang dan hal itu sangat menyebalkan. Semua yang berhubungan dengan wanita itu sangat menyebalkan, kecuali anak-anak. "Awalnya pernikahan ini nggak ada masalah, saya bisa menjalani kuliah dan kerja bersamaan. Tapi saat dia melahirkan, masalah muncul. Dia mulai menunjukkan sikap nggak bersahabat pada saya ataupun anak-anak. Dia nggak mau menyusui dengan alasan takut bagian dadanya jadi jelek."

Flavia menggeser tubuhnya sedikit ke gue, dia mengulurkan tangan kemudian menggenggam tangan gue dan gue membiarkannya. "Saya pikir dia hanya mengalami baby blues, tapi sayangnya saya salah. Setelah empat hari di rumah sakit, kami pulang ke rumah dan melewati satu malam paling memusingkan sepanjang hidup saya. Anak-anak menangis dan dia sama sekali nggak berniat untuk menenangkan, beruntung ada Bi Mar. Esok harinya, semua berjalan seperti biasa, saya berangkat pagi untuk bekerja. Nggak pernah terpikir kalau hari itu merupakan hari terakhir saya ketamu sama dia. Dia pergi, menghilang bagai ditelan bumi. Saya mencari dia ke rumah orang tuanya tapi yang saya temukan rumah itu telah kosong telah dijual, dan bagian terbaiknya adalah dia pergi bersama semua tabungan yang sengaja saya persiapkan untuk anak-anak, semua hadiah perhiasaan yang pernah saya dan orang tua saya kasih"

Dia meremas tangan gue. "Dua bulan setelahnya, surat gugutan cerai datang. Dia nggak menuntut apa pun, karena memang semua sudah dia bawa. Bahkan dia nggak menyinggung soal anak-anak, satu hal yang saya ingat dari surat yang dia kirim. Aku mau bebas secepatnya."

Gue tertawa seperti saat membaca surat dari Agnes, sangat keras sampai mata gue memanas menahan air tidak keluar membasahi pipi.

"Sejak saat itu saya menutup hati pada wanita, terkadang saya menertawai kenaifan saya meyakini perbuatan Agnes sengaja hamil karena dia sangat ingin bersama dengan saya." Dengan satu tangan yang bebas, gue menyugar rambut lalu berhenti pada tengkuk. "Saya selalu marah pada para pengasuh anak-anak karena nggak pernah berhasil menemukan ketulusan dari mereka untuk anak-anak—yah—saya selalu melihat cara Agnes di mereka, menggunakan anak-anak untuk mendapatkan uang." Gue menoleh ke arahnya, pandangan kami bertemu. "Tapi kamu berbeda, semua yang kamu lakukan di rumah sangat berbeda. Terutama sejak saya melihat kamu menangis sambil memandangi anak-anak dan mengetahui alasan kamu menangis. Saya mengerti, kamu nggak takut kehilangan pekerjaan suatu hari nanti, kamu takut kehilangan anak-anak. Seperti seoarang ibu takut dipisahkan dari anak-anaknya."

Angin tengah malam menerpa kami, memainkan rambut hitam Flavia hingga beberapa helai rambut menempel di wajahnya. Gue melepaskan tangan dari genggamanya, lalu mengarahkan jemari menuju wajahnya. Gue menyingkirkan rambut yang menempel dan menyelipkannya di belakang telinga, setelah itu, gue tidak langsung menarik mundur jemari dari wajahnya. Gue sengaja membelai pipinya dengan ibu jari, dia memejamkan mata sebentar seperti sedang menikmati hal-hal yang tidak bisa gue sampaikan dengan kata.

"Itu lah kenapa saya bilang, jika waktunya sudah tepat, saya akan—"

Matanya tiba-tiba terbuka, dia terlihat sangat gelisah

"Untuk sampai pada tahap itu, Mas Ray harus kenal saya dulu."

"Saya sudah kenal kamu."

Dia menggeleng. "Mas belum kenal saya dengan baik, nggak ada yang kenal siapa diri saya sebenarnya bahkan semua sahabat saya." Dia menjauhi wajahnya dari jangakuan tangan gue. Dia kembali memberikan jarak di antara kami. Dia menghela napa secar terus-menerus.

"Via, saya..."

"Saya nggak sebaik yang Mas Ray pikirkan, saya hanya seorang wanita yang melakukan banyak hal untuk mendapatkan uang, seperti Agnes."

Gue meraih lengannya dan menarik dia mendekat, menghapus jarak yang sengaja dia buat sejak tadi.

"Saya juga bukan orang baik, kamu sudah dengar sendiri cara saya mendapatkan anak-anak jauh dari cara pria baik." Dia menundukkan wajah dalam-dalam. "Saya mau kenal kamu, Via."

"Mas..."

"Saya mau mengetahui segala sesuatu tentang kamu. Saya sudah menceritakan tentang hidup saya, bagaimana dengan kamu?" Dia mengangkat wajah dan mau memandang gue lagi. "Tapi, kalau kamu belum mau menceritakan malam ini nggak masalah. Kita masih punya banyak malam untuk pembicaraan dari hati ke hati, seperti yang baru kita lakukan."

Dia tersenyum tipis, sangat memesona seperti beberapa tahun lalu. Bagaimana bisa gue melewatkan wanita seperti ini dulu? Bagaimana bisa gue mundur sebelum berjuang dan bersama Agnes?

"Kehilangan Ibu membuat saya kehilangan keseimbangan. Saya belum siap dalam hal apapun, terutama masalah membiayai hidup," katanya dengan suara pelan, "saya bekerja sebagai guru, tapi nggak cukup memenuhi kehidupan. Setelah skripsi saya selesai dan semua urusan kuliah beres, saya mengambil pekerjaan lain sebagai pelayan restorant tapi tetap belum juga cukup. Tagihan bulanan, hutang ibu, kehidupan sehari-hari. Saya putus asa... lalu dia datang. Dia—om dari murid saya, kebetulan rumah dia dan murid saya berdampingan jadi sering berkunjung. Dia lebih tua dari saya, tiga puluh tahun. Awalnya hubungan kami biasa saja, tapi makin lama makin dekat."

Dia memainkan ujung dari baju tidurnya. "Kami sering ngobrol, beberapa kali dia membelikan saya makan. Ya—dia memberikan perhatian layaknya pria dewasa sedang mendekati wanita. Dia sering memberikan uang sebelum saya pulang setelah mengajar, katanya buat biaya transport. Kami jadi sering berhubungan di luar tempat saya mengajar, makan, dia menjemput saya dari restorant, dia membelikan hadiah bagus-bagus." Dia tersenyum dengan bibir bergetar, kemudian memutus pandangan kami. "Tapi dia seorang suami dan ayah satu anak."

Dia menghela napas lebih kasar dari sebelumnya. Mendadak semua masalah kehidupan gue nggak ada apa-apanya. Gue nggak sendiri saat badai itu datang, ada orang tua, ada Bi Mar, ada teman-teman dekat yang siap bantu. Tapi dia...

"Seharusnya saya berhenti, tapi saya butuh fasilitas dari dia. Terutama untuk urusan uang, dia sangat membantu. Saya tidak lagi pusing tentang tagihan bulanan, kehidupan sehari-hari saya ditanggung. Tapi saya harus berterima kasih padanya dengan membiarkan dia menguasai saya sepernuhnya. Mas Ray pasti paham maksud saya."

Gue memosisikan tangan di belakang bahunya, merangkul dan membawanya lebih dekat. "Apa yang terjadi selanjutnya? Keluarganya? Istrinya?"

"Enam bulan pertama semua menyenangkan, begitu mudah. Tapi enam bulan terakhir, dia berusaha menguasai dalam segala hal. Dia nggak suka melihat saya bersama pria lain. Setiap kali saya nggak mau melayani dia, dia akan marah dan memukul saya." Dia mengumpulkan rambutnya yang hitam menjadi satu lalu dimiringkan ke sebelah kiri, setelah itu dia menarik sedikit kerah piyama bagian kanannya, hingga bagian bahu belakang bisa terlihat. Gue tertegun saat disugguhi pemandangan beberapa titik hitam yang menyebar di sana. "Ini yang saya dapatkan setiap kali menolak permintaannya. Ujung rokok yang menyala pasti mendarat mulus di sana dan dia nggak akan menyingkirkan rokok itu sampai saya mau menuruti mau dia." Kemudian dia mengembalikan posisi piyama seperti semula dan memandang gue dengan berkaca-kaca. "Saya dapat hukuman, saya—"

"Stop!" Gue tidak sanggup membayangkan situasi yang harus dia hadapi saat itu.

Dia memiringkan posisi duduknya hingga kami saling berhadapan. Dia tersenyum tipis, lalu mengulurkan tangan merengkuh wajah gue. Ibu jarinya bergerak lembut, maju mundur di rahang gue. Dia melakukan itu tanpa mau mempertemukan mata kami. Dia menatap jauh, di atas kepala gue.

"See, saya itu nggak pantas untuk mengisi tempat yang Mas Ray maksud. Saya terlalu—"

"Bagaiman cara kamu lepas dari pria itu?"

"Saya menemui istrinya, menceritakan semua dari awal sampai akhirnya saya nggak kuat." Dia mengedikkan bahu. "Setelah itu, saya harus menerima tamparan dari istri, mertua, dan kaka perempuannya yang kebetulan orang tua dari siswa saya."

"Selesai begitu saja?"

Dia menggelengkan kepala. "Istrinya sengaja memasukan satu set perhiasan ke dalam tas saya, membuat seolah-olah saya baru mencuri perhiasaan itu. Dia membawa pengacara dan melayangkan surat laporang ke polisi." Dia tertawa sumbang, lalu menurunkan tangannya dari wajah gue. "Pihak mereka mau berdamai, tapi saya harus membayar semua yang dikeluarkan suaminya berserta bunga. Surat yang Mas lihat di atas meja makan saya, itu surat hutang dari mereka." Satu tangannya terkepal kuat di dada. "Saya kelimbungan mencari uang tambahan, apalagi setelah kasus itu nama saya jadi buruk di kalangan penggiat home schooling. Saya nyaris gila memikirkan tagihan di mana-mana, lalu Dela datang menawarkan pekerjaan di rumah ini. Saya langsung tertarik, lagi-lagi karena saya butuh uang."

Dia bersiap untuk berdiri tapi gue menahannya. Gue meminta dia untuk tetap di posisi sebelumnya, kami saling berhadapan. Kedua tangan gue menangkup wajahnya dan mata kami saling beradu pandang dengan saksama.

"Mungkin Tuhan memang sengaja mempertemukan kita untuk saling menyelamtkan." Dia tersenyum.

"Mas nggak menyesal tertarik sama saya? Saya itu pernah jadi wanita—"

"Pernah bukan masih. Lagi pula, saya tahu pasti semua yang kamu lakukan untuk anak-anak, untuk rumah, semuanya tulus. Kamu tidak mengincar apapun dalam rumah saya, kalau memang kamu menginginkannya, kamu sudah menyalahgunakan kepercayan yang saya berikan sejak kemarin." Gue mendekatkan wajah kami. "Kamu wanita baik, bukan terlahir sebagai wanita buruk. Kalau kamu melakukan kesalahan itu hanya salah langkah, sama seperti saya."

Dia mengulurkan tangan hingga ke bagian belakang kepala gue, lalu bibirnya mendekat. Dia mencium dengan sangat lembut, tidak seperti sebelumnya, tidak ada adegan saling berbalas pagutan. Tak berapa lama, dia mundur dan kedua tangan kami masih saling merengkuh wajah.

"Saya nggak pernah sakali pun menyesali rasa tertarik ke kamu. Saya masih seyakin pertama kali melihat kamu duduk bersama Dela di ruang tamu, yakin kalau orang yang tepat untuk mengurus anak-anak selamanya, tepat untuk menemani saya."

"Mas..."

"Tidurlah besok pagi-pagi kita harus menemani anak-anak ke Lembang, mereka sudah membuat list tempat wisata yang wajib didatangi." Dia mengembuskan napas, lalu tersenyum lebih memesona dari sebelumnya.

."Oke." Dia lansung menurut. Kami saling melepaskan rengkuhan masing-masing, lalu dia berdiri. "Mas..." Dia memanggil dengan ragu-ragu. Dia terlihat ingin menyampaikan sesuatu tapi tak yakin mau dikeluarkan, akhirnya dia menggeleng sambil terus mempertahankan senyum tipisnya. "Jangan merokok lagi, nggak baik buat kesehatan."

Gue tahu bukan itu yang ingin dia sampaikan. Gue tahu ada hal yang lebih dia khawatirkan daripada gue menghisap banyak rokok.

"Tenang, Via... saya bukan tipe orang yang suka mengumbar rahasia yang saya tahu ke orang banyak, saya jamin Dela ataupun teman dekat kamu yang lain nggak akan tahu."

Dia tertawa pendek, mengangguk sebagai ucapan terima kasih. Dia masuk kembali ke apartemen, gue juga mendengar suara kamarnya mengayun terbuka dan tertutup. Gue meraih ponsel dari saku celana pendek, sebelum melakukan yang gue mau, gue memastikan kalau dia benar-benar masuk ke dalam kamar.

Gue membawa ponsel dekat kuping, terdengar nada sambung dari seberang sana, tak menunggu lama nada sambung itu berganti menjadi suara berat.

"Ada apa bosku? Tumben malam-malam nyari gue... nyerah? Butuh kehangatan di Bandung? Banyak nih nomor yang bisa dihubungi." Mau tidak mau gue tersenyum mendengar sambutan dari Adam—sesama pengacara.

"Bisa aja lo! Ganggu nggak nih, kalau kita lanjut ngobrol sebentar? Siapa tahu, lo lagi sibuk..."

"Santai, kosong nih gue. Ada apa sih? Kayaknya masalah penting nih."

"Dam, lo masih ngurus kasus si Benny?" Gue sengaja duduk miring ke arah pintu, bentuk antipasi kalau-kalau dia memutuskan keluar lagi dari kamar.

"Benny? Oh, ingat-ingat gue. Damai, WIL-nya mau bayar tapi nyicil perbulan, tanda tangannya di kantor gue. Kenapa? Bukannya lo nggak tertarik ya sama kasus ini, kata si Lola; lo nolak waktu dia datang ke kantor minta bantuan lo."

"Nolak lah, masalah utamanya bukan pencurian tapi yang dibawa ke polisi pencurian." Adam tertawa di seberang sana, kami terlalu berbeda idealis soal menerima klien. Bagi dia selama klien berani bayar, dia bantu. Sementara gue selalu memilih kasus yang memang mendesak dan saat itu kasus Benny—Lola hanya kasus buatan untuk memeras wanita pilihan lain milik Benny, jadi gue tolak.

"Ya, Lola sih bilang itu hak dia. Uang yang Benny kasih ke tuh cewek seharusnya milik dia, jadi—ya, dia minta balik."

"Berapa total yang harus dibalikin?"

"Puluhan, tapi gue lupa sih fix-nya berapa? Lah, bukannya lo juga udah sempat lihat poin-poin yang mereka ajukan? Kenapa sih, ada kasus kayak gini lagi?"

"Gue lupa apa aja isi poin surat itu. Nggak papa sih, iseng aja mau tanya."

"Oh..."

"Dam..."

"Ya?"

"Boleh gue minta tolong?"

"Boleh, tapi jangan berat-berat takut nggak kuat. Eh! Tunggu! Tunggu! Lo kena kasus kayak gini? Lo digugat siapa? Boleh... gue siap maju buat bela lo."

"Bukan. Gue minta tolong pastiin berapa yang harus wanita itu bayar, dia sudah bayar berapa bulan, dan tersisa berapa."

"Oh... bisa... bisa... tapi buat apa, Ray?"

Gue duduk tegak, sambil terus memandang pintu cokelat di ujung sana. Gue menimbang untuk mengatakan kalimat ini atau tidak. Gue berpikir seandainya kalimat di otak ini tersampaikan pada Adam, apa itu akan berdampak buruk pada si wanita.

Gue menghela napas panjang.

"Ray..."

"Gue cuman mau menyelesaikan urusan hutang si wanita?"

"Kenapa lo mau gitu?"

"Karena wanita itu calon ibu anak-anak."

"WHAT?! ARE YOU KIDDING ME, MAN? It's not funny..."


ENJOY RAY-VIA

Jangan Lupa Vote dan comment

Love, Fla

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top