Bab 8
Keluarga Nararya merupakan orang kaya lama. Damian berkomitmen mendidik Ishan dan Ibra, adiknya dengan disiplin agar tidak menjadi pribadi yang manja dan cuma tahu menghabiskan harta orang tua. Kabarnya kekayaan para konglomerat akan memuncak di generasi kedua lalu lenyap di tangan generasi ketiga. Damian tidak mau itu terjadi.
Damian rela mengeluarkan banyak uang demi mendatangkan guru yang mengajarkan tata krama. Tingkah laku sangat penting dalam bisnis. Tidak ada yang mau bekerja sama dengan manusia berkelakuan buruk dan menyebalkan. Ishan belajar menerima penolakan. Meskipun sangat jarang permintaannya ditolak dan kali ini dia cukup terpukul, Ishan berusaha menerimanya.
Sia-sia saja upaya Ishan melobi Bupati Semarang. Laki-laki paruh baya yang pengecut. Usai makan dan berbasa-basi, Ishan berpamitan. Bersama Maura kembali ke mobil.
"Pak Muhtar udah makan?" tanya Maura.
"Sampun, Mbak. Tadi makan soto bening."
"Ini ada sate buat Bapak." Maura menyerahkan plastik berisi sate lontong.
"Suwun, Mbak."
"Ke hotel, Pak," titah Ishan. Alih-alih membaik, mood-nya semakin terjun bebas.
Di dalam mobil yang melaju ke utara, Ishan merenungkan cara mengambil alih kepemilikan lahan biara. Menginginkan milik orang lain itu dosa. Ishan menghela napas persetan dengan dosa. Toh dia sudah pernah melakukan dosa yang lebih parah.
Memang banyak spot di sekitar Ambarawa yang bisa ditawar perusahaan. Rumah penduduk biasa pun pastinya akan lebih mudah diambil alih. Ishan sadar dengan siapa dia akan berhadapan kalau terlalu memaksa. Bisa jadi pihak gereja Katolik akan turun tangan langsung. Sebuah risiko yang berat.
Ishan meyakinkan dirinya. Demi Eyang Kakung yang beranjak sepuh, serta tidak tahu sampai kapan akan hidup, Ishan memantapkan hati untuk terus berjuang.
"Udah sampai, Pak."
Ishan terkesiap. Rupanya dia mengkhayal cukup lama. Maura berdiri di depan pintu mobil yang terbuka. Petugas hotel menunggunya.
"Terima kasih, Pak Muhtar," ucap Ishan pada sang supir yang tengah menurunkan koper.
"Sama-sama, Pak."
Maura menyodorkan sejumlah uang. Pak Muhtar selalu senang jika bos dari Jakarta datang. Orang-orang kaya ini tak segan memberikan tips besar. Dia bisa makan enak sekeluarga.
Keluarga Nararya punya akses khusus menempati president suite room di lantai paling atas, tepatnya lantai 27. Khusus sekretarisnya diberikan kamar biasa, itu pun termasuk mewah mengingat Sanggraloka Marina adalah hotel bintang lima.
"Saya mau istirahat, Ra. Nanti makan malam kamu pesan saja dari room service," ucap Ishan sebelum berpisah lift dengan Maura.
"Bapak nggak perlu saya antar?"
"Nggak usah. Biar koper saya bawa sendiri saja."
"Baik, Pak." Maura bernapas lega. Tugasnya selesai di pukul 3 sore. Dia bebas untuk sementara waktu. Tidak bebas sepenuhnya, sebab bisa saja Ishan memanggilnya mendadak.
Ishan membelok ke lift di sayap kanan. Telinganya menangkap gemeletuk high heels mendekat.
"Hai, Shan." Fabiola melingkarkan lengan di pinggang Ishan. Penampilannya cukup berkelas. Celana jin hitam dipadukan turtle neck T-shirt merah. Rambutnya digerai. Sopan dan sexy pada saat bersamaan.
"Dari mana kamu tahu saya di sini?" tanya Ishan.
"Sumber A1 dong pastinya." Fabiola berbisik seduktif.
Ishan menempelkan kartu akses ke scanner. Lift terbuka. Fabiola mengikuti Ishan masuk.
"Kamu ada agenda di Semarang?" Ishan belum puas mengorek.
"Ada dong. Ketemu kamu." Fabiola melengkungkan bibir basah nan mengkilap membentuk busur yang dimaksudkan untuk menggoda. "Apa kabar Irene?"
"Baik." Ishan sedikit menyesal tadi tidak berfoto dulu.
"Irene pasti menderita ya hidup serba kekurangan begitu," ucap Fabiola dengan nada prihatin.
"Lucunya nggak. Dia malah kelihatan bahagia."
"Seriously?"
Ishan tidak menjawab. Wajah Irene terukir jelas di ingatannya. Mantan calon istrinya itu tidak tampak tertekan sama sekali. Sebaliknya malah tampak menikmati rutinitas barunya.
Ketika pintu lift terbuka, Fabiola setia menempel di sisi Ishan hingga ke kamarnya.
Melintasi ruang tamu yang dilengkapi sofa dan grand piano, melewati dapur yang lengkap dengan oven. President suite tak ubahnya rumah hanya versi mini saja untuk Ishan.
Ishan meletakkan koper di kamar super besar. Damian meminta dua kamar President Suite dikosongkan untuk para tamu karena akan dipakai khusus keluarga.
"Kamu sudah makan siang?" Ishan tidak ingin Fabiola sakit selama bersamanya. Pertanyaan tadi bukanlah bentuk perhatian. Ishan cuma tidak mau repot membawa Fabiola ke rumah sakit.
"Udah. Cuma kurang dessert aja." Fabiola mendekat, mencari cara melakukan kontak fisik. Jemari langsing dan terawat itu merengkuh jas berwarna intense blue karya rumah mode Oliver Wicks, melepaskannya dari tubuh Ishan.
"Jangan sekarang. Aku capek." Ishan mengelak. Diambilnya bathrobe kemudian beranjak ke kamar mandi.
Fabiola adalah wanita yang 'panas'. Selama mengenalnya, Ishan memiliki kesan bahwa Fabiola selalu dalam kondisi turn on. Berbeda dengan Irene yang sepertinya tidak punya nafsu dan cenderung dingin.
Ishan menyalakan shower, menyetel air panas dan dingin agar seimbang menjadi air hangat yang menyamankannya. Ishan mengambil spons, menuangkan sabun ke atasnya. Tangan Ishan menggapai ke belakang untuk menggosok punggung. Namun jemari lentik mengambil alihnya.
"Biar aku yang gosok," ucap Fabiola.
Dari cermin besar di depannya, Ishan melihat pantulan tubuh Fabiola. Perempuan itu tidak mengenakan apa-apa.
Ishan berbalik. "Kamu ngapa..."
Akan tetapi Fabiola malah berjinjit, mengalungkan lengannya lalu mengecup bibir Ishan. Bukan kali pertama Fabiola bersikap agresif dan memaksa. Ishan sedang tidak berada dalan stamina terbaik untuk bermain, tapi kalau sudah begini, mana bisa dia menolak?
"Kalau kamu capek, biarin aku aja yang bikin kamu senang." Fabiola mengerling genit seraya menyabuni dada Ishan.
Busa putih dengan keharuman semerbak menguar. Fabiola cukup telaten membersihkan hingga ke bagian tersulit. Dia kini berjongkok, menyabuni jari kaki, betis, merayap hingga ke paha.
Ishan hanya dapat memejamkan mata saat Fabiola melahap kejantanannya. Lidah itu demikian ahli menyuguhkan kenikmatan.
"Fab..." Lutut Ishan bergetar ketika bulatan kembarnya tak luput dari terjangan lidah Fabiola.
Fabiola sengaja bermain-main. Dia melepaskan kulumannya lalu membasuh tubuh di bawah pancuran, tepat di depan mata Ishan yang tidak berdaya.
"Bener cuma mau lihat? Pegang juga boleh," goda Fabiola.
Ishan lelah. Dia mengakui itu. Akan tetapi, sepasang aset sintal dengan ujung merah jambu yang menegang sungguh menyulut hasratnya.
Fabiola mendesakkan dadanya kepada Ishan. Polos tanpa benang dan basah.
"Apa kamu mulai mikirin dia lagi?" tanya Fabiola.
"Siapa?"
"Jangan pura-pura. Irene."
Ishan membeku. Di balik jubah biara, Irene masih seperti dulu. Namun sekarang mantan calon istrinya membangun tembok tak kasat mata. Sangat sulit didekati.
"Mau sampai kapan kamu gini? Move on, Babe. Irene nggak akan balik sama kamu. Dia milik Tuhan sekarang." Fabiola mencubit puting Ishan seraya berbisik, "Buka pintu hati kamu. Biarin aku masuk."
Ishan bergeming. Nama Irene selalu berefek begini padanya. Membekukan otaknya hingga tidak dapat berpikir jernih.
Fabiola mengambil kesempatan. Dia berjinjit. Menumpu beban tubuhnya di ujung jari kaki lalu melumat bibir Ishan.
***
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top