​5‿rona

Sejak awal dialah cinta pertamaku, mungkin aku terlalu mempertahankannya sehingga terlalu dalam dan membuatku sulit untuk melepasnya.

.
.

Kenma Pov -

Semenjak sekolah dasar, aku tidak mengerti mengapa Kenza---kembaranku diasingkan. Papa ataupun Mama selalu mengalihkan topik pembicaraan ketika aku menanyakan itu.

Diasingkan berarti tak ada seorangpun mengenalnya, bahkan aku yang merupakan kembarannya sendiri. Ini benar-benar membuatku penasaran, sungguh padahal kamar kami bersebelahan tapi jangankan bertemu sekedar menyapa, bertemu dalam sehari saja jarang.

Sudah macam cerita Disney bertajuk kerajaan yang itu.

Sewaktu sekolah dasar aku selalu mengetuk pintu kamarnya, mengajaknya bermain ketika papa dan mama bepergian. Namun percuma, dia selalu memintaku untuk jangan mengagangunya dan ketika sampai di kelas 5 sekolah dasar aku berhenti mengetuk pintu dan mengajak bermain. Adanya Kuroo tetangga baruku dan game konsol menjadi alasan, Kuroo selalu datang mengajakku bermain dan membuat duniaku teralihkan yang tadinya hanya ingin menemui Kenza menjadi bermain.

Kurasa Kuroo tahu tentang keberadaan Kenza, namun dia nampaknya menghindari itu. Sungguh aku penasan mengapa, tapi ya percuma saja, tidak akan ada yang menjawab dan membuat diriku puas, yang ada hanya membuatku semakin dilanda penasaran yang kian menjadi.

"Hari ini Kiyounara akan kemari?" beoku atas pernyataan Kuroo tadi. Pulang sekolah, aku dan Kuroo seperti biasa berlatih menaikkan level kami dibidang voli. Waktu ini aku masih di tahun kedua sekolah menengah pertama.

"Iya," jawabnya. Melambungkan bola voli yang berada di tangan, sembari melakukan passing bawah secara terus menerus sendirian.

"Tahu dari mana?"

"Kiyounara sendiri yang memberitahuku, memangnya kau tidak dihubungi olehnya?"

"Tidak."

Kudengar Kuroo menghelakan napasnya dengan jelas, dengan aku yang memilih duduk di rerumputan sembari mencari gim dari ponsel dalam tas.

"Masih bertengkar atau bagaimana?" Pertanyaan Kuroo entah mengapa membuatku malas untuk memainkan gim.

"Ya, mungkin, entahlah."

Kuroo mendengus. "Payah," katanya. Dan tanpa pikir dua kali aku menarik kerah bajunya.

Hening, dengan pertahananku yang sempat terpancing.

"Tuhkan, payah," lanjutnya lagi mungkin karena aku hanya bisa melakukan perlawanan tanpa kata, sangat menggantung seolah aku tak dapat menyangkal jika aku memang payah.

"A-are? Kalian kenapa?" Suara gadis kecil mengintrupsi.

"Kiyounara-chan, sudah lama tak jumpa ne?" Kuroo tersenyum licik, matanya memandang penuh kemenangan membuatku geram.

Perlahan kulepas kerah baju Kuroo, karena aku tahu dia semakin mendekat kemari.

"Jadi, kalian kenapa?" tanya Kiyounara lagi. Aku menghelakan napas sembari menjauh dari sana, dengan tas yang kuseret asal. Persetan akan kotor, yang penting menjauhi masalah sekarang.

"Tidak apa Kiyounara, lebih baik kita pulang karena Kenma sudah meninggalkan kita."

Ceh, menyebalkan. Kuroo begitu dekat dengan Kiyounara, apa Kiyounara tak sadar jika dia sedang didekati seorang jamet? Nyeh.

"Ayo Kiyou-chan, nanti kalau terlalu lama ada yang cemburu loh."

"Siapa yang cemburu! Dasar Kuroo menyebalkan!!"

Oke, sepertinya aku salah malah menyahut karena sekarang Kuroo tertawa terbahak-bahak. Ingin aku memukulnya namun karena kepalang kesal aku memilih terus melanjutkan jalan.

Kiyounara tadi tersenyum. sih.

ユエ

Untuk sekarang, gadis paling ayu---terutama dalam bertutur kata dan berperilaku hanya Kiyounara seorang. Gadis itu sangat menjaga sikap, meski terkesan pemalu namun dia tak segan untuk mengatakan beberapa hal yang menurutnya benar ataupun salah.

Aku dan Kiyounara sudah mengenal semenjak keluarganya membeli rumah disekitaran tempat tinggalku, mungkin sewaktu aku masih kelas 4 sekolah dasar. Kami yang sama-sama memiliki sifat tertutup, saat bertemupun begitu canggung, berbeda sekali dengan ibu kami masing-masing yang dengan santai bercerita panjang lebar bersama.

"Kenma, apa yang kau lamunkan?"

Suara game over dan suara dia membawaku kembali dalam kenyataan, ya ampun aku malah melamun. Bisa-bisanya. Segera kuarahkan pandang pada klonning ku yang tengah mengerngit bingung.

"Bukan apa-apa Kenza." Kulihat dia malah semakin memasang wajah heran.

Kenza sudah mulai terbuka, bahkan mulai berkumpul bersama kami semua di saat usia kami sudah layak menuju sekolah menengah atas. Yah, sekarang sedang liburan menuju tahun ajaran baru sih---

"Sungguh tidak apa-apa? Bukan karena kau ditolak Kiyounara bukan?"

Dia mengesalkan sekali, kenapa sih?

Aku hanya dapat berdecih tak suka sebagai respon, lantas kembali kutekan tombol start dalam permainanku. Aku tidak tahu kini Kenza tengah memasang tampang seperti apa, aku kurang suka melihatnya apalagi wajah kami sangat mirip, serasa bercermin tapi dengan kepribadian yang jauh berbeda.

Derap langkah mendekati kamar Kenza---mengingat aku tengah bermain kekamarnya, membuatku menoleh sesaat ke arah sana dan melihat kepala ayam menjembul dari sana.

"Yo! Kenza, Kenma, bermain keluar yuk." Ajakan Kuroo kujawab dengan gelengan, dan Kenza jelas menerimanya. Kenza ijin padaku untuk keluar bersama Kuroo yang kubalas dengan deheman---ah namun ada satu kalimat yang membuatku membeku sebentar. Cuma sebentar.

'Kiyounara boleh stay di sini kan? '

"Permisi Kenma, aku masuk ya," katanya. Dapat kudengar langkahnya mendekat, dan suara ranjang yang dinaiki. Sepertinya dia duduk di sana, sementara aku tetap fokus pada permainanku.
"Permainanmu semakin bagus saja Kenma, sayang sekali aku tidak kuat bermain gim lebih dari 15 menit." Kuarahkan pandangku padanya yang kini nampak cemberut, ia duduk bersila di atas kasur Kenza dengan sebuah boneka penguin milik Kenza dalam pelukan. Dia imut tapi sayang sekali ...

"Terima kasih, tapi menurutku permainanmu tidak buruk." Dia terkekeh, ada rona manis yang tercipta di kedua pipi putihnya. Aku tidak bisa menyangkal jika dia memang menawan dan cantik, tapi sekali lagi sayang sekali ...

Kembali aku fokus pada permainan.

"Hhh ... bosan sekali." Aku terkekeh mendengarnya mengeluh setelah beberapa waktu, kasihan juga ...

"Mau main satu kali? " ajakku yang mana membuatnya mengangguk antusias. Turun dari ranjang dengan melompat dia hampir saja membuatku jantungan, lantas kami bermain. Gim yang kami mainkan? Basara.

Waktu berjalan begitu cepat, dan sudah masuk tahun ajaran baru saja. Kiyounara juga bersekolah di SMA yang sama denganku dan keberuntungan sekaligus malapetaka, kami sekelas. Berangkat bersama dan pulang bersama kala tak ada kegiatan klub kami lalui dan pada suatu hari dia mengatakan sesuatu yang agak asing padaku.

"Kenma, kau mengenal Ruina Hiko?"

Aku menyerngit bingung. "Tidak," jawabku. Kiyounara menghelakan nafasnya berat sembari memijit pangkal hidung.

"Jangan bilang itu ulah Kenza? " gumamnya namun aku masih bisa mendengarnya.

"Memangnya ada apa? "

"Kenma, Kenza ada memakai jaket klubmu ya? "

Dia tak menjawab tanya yang kulontarkan dan melontarkan tanya lain padaku. "Ya, beberapa hari lalu saat hujan, katanya ke toko ingin membeli sesuatu dan memakai jaketku lalu katanya jaketnya dia pinjamkan pada seorang gadis."

"Oh begitu, kupikir itu kau yang meminjamkannya makanya waktu Ruina bertanya tentang kau kujawab saja kalau memang kau yang meminjamkannya jaket."

"Oh ya sudahlah...," jawabku. Jadi, sebenarnya Kenza masih jarang mengeluarkan jati dirinya, dia lebih senang memakai namaku. Sedikit membuat kesal, tapi ya mau bagaimana lagi. Dia tidak mau dikenal sih ...

"Nanti kalau Ruina bertanya tentangmu lagi bagaimana? Apa yang harus kujawab? "

"Soal itu, aku akan berbicara pada Kenza nanti, Kiyounara."

Saat kutanyakan pada Kenza dia mengakuinya, namun ada satu hal yang dia minta yang membuatku mendesis tak suka.

"Tolong biarkan aku berperan menjadi kau untuknya ya!"

...[🌷]

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top