25 - Maaf

Lelaki itu menapakkan kakinya perlahan dengan kepala yang sedikit dimiringkan untuk mengintip dari jendela kecil yang berada di pintu.

Tangannya tergerak, menggeser pintu lalu kaki kanannya melangkah masuk ke dalam ruangan tersebut.

Dari sana, ia bisa melihat kasur yang terlihat kosong. Bingung, kakinya kembali berjalan perlahan menuju kasur.

Saat itu, ia melihat gadis itu duduk di sisi kasur dengan tubuh yang memunggunginya.

Buket mawar merah yang berada di tangan, ia sembunyikan di balik punggung. Tinggal beberapa langkah lagi dan ia akan sampai tepat di belakang gadis itu.

Namun sayang, kepala si gadis sudah menoleh padanya--membuatnya tersentak. Ia melihat ... air mata mengalir deras di pipi halus gadis itu.

Si gadis menggigit bibir bawah, tak kuasa menahan rasa panas di dadanya.

"Kau..."

Ia berucap pelan, sementara si lelaki terdiam melihat gadis yang berada di depannya.

"Ke ... napa?"

      ______________________________
Ruby
Ansatsu Kyoushitsu (c) Yuusei Matsui-sensei
Karma Akabane x Reader
Made by : Wizardcookie
Selamat membaca~
_____________________________      

25 - Maaf

Dengan tatapan penuh tanya, sepatah kata ia lontarkan. Bibirnya yang bergetar, membuatnya tak bisa mengucap satu kalimat dengan lengkap. Lelaki itu terdiam, menatap nanar gadis yang berada di depannya.

"Jawab aku!"

Ia terisak, suaranya parau, tenggorokkannya tercekat. Berbalik badan, menghadap Karma yang terdiam mematung disana.

"Hei, jawab aku!"

Mau bagaimanapun, kamu tetap memaksanya untuk menjawab pertanyaanmu.

Kedua tangannmu menggenggam jas hitamnya, lalu mengguncang tubuhnya.

"Kenapa? KENAPA?!"

Yang ditanya hanya bisa bungkam, tanpa bisa berkata apapun.

Kamu semakin terisak. Cairan bening terus berjatuhan dari pelupuk mata. Kepalamu, kamu tempelkan pada dadanya dan menangis disana.

Karma terdiam, membiarkan dirimu menangis di dadanya. Ia sudah tahu, hal seperti ini akan terjadi.

"Aku tidak yakin soal ini. Tapi ... ingatannya bisa saja kembali sepenuhnya saat dia sadar."

Buket mawar yang dipegangnya ia jatuhkan dan kedua tangannya merengkuh tubuh kecilmu.

Ia ... memelukmu--membuatmu tersentak.

Kamu makin terisak di pelukannya. Menangisi semua rasa sakit yang telah ada sejak lama, namun kamu tidak bisa mengingatnya.

Apalagi, saat kamu tahu ... orang yang kamu cintai, melakukan hal seperti itu padamu.

"Maafkan aku..."

Karma berucap pelan sambil mempererat pelukannya dan mengecup puncak kepalamu.

Namun, kamu tidak bisa berkata apapun. Tenggorokanmu tercekat, suaramu hampir habis. Yang bisa kamu lakukan sekarang hanyalah menangis, saat mengetahui masa lalu kelam yang tidak seharusnya diingat.

Dan juga, menerima kenyataan bahwa...

Orang yang kamu cintai, pergi meninggalkan dunia ini.

♡♡♡

Tangan kirinya memegang mangkok putih berisi bubur yang bercampur dengan sayuran seperti wortel, brokoli dan kentang.

Sedangkan, tangan yang satu lagi memegang sendok berisi bubur dengan sayuran kentang dan brokoli disana.

Ia berdiri dan menyodorkan sendok berisi bubur tersebut padamu, namun kamu enggan membuka mulut.

"[Name], kau harus makan."

Karma berucap pelan dengan sendok yang masih ditujukan padamu. Namun, kamu tidak mengindahkan perkataannya.

Kamu menoleh padanya, dengan wajah yang awut-awutan. Mata sembab, hidung merah, belum lagi suaramu yang serak akibat terlalu lama menangis.

"Kau belum menjawab pertanyaanku."

Ia tersentak. Menaruh sendok ke mangkok, lalu meletakannya di atas meja. Karma mengusap kasar wajahnya.

"Masa lalumu."

"Kenapa kau tidak menceritakannya dari awal? Sejak pertama kita bertemu?" Kamu bertanya lagi. Membuat Karma menahan napas lalu menghembuskannya kasar.

"Aku tidak mau kau tahu."

"TAPI AKU MAU!"

Kamu memaksakan diri untuk berteriak dengan tenggorokanmu yang terasa panas. Turun dari kasur, lalu berdiri di hadapan Karma.

"Aku...aku tidak masalah jika aku tahu kenyataannya." Kamu berkata sambil mengepalkan kedua tangan. "Tapi ... kau sudah berbohong padaku!"

Kamu memukul lelaki di depanmu dengan kedua tangan, sedangkan yang dipukul hanya bisa terdiam dan menunduk.

Bagaimanapun juga, ini ... salahnya. Benar-benar salahnya.

Ia bahkan tidak tahu lagi, cara apalagi yang harus ia lakukan agar kamu mau memaafkannya?

Kedua tangan Karma tergerak menggenggam kedua pergelangan tanganmu lalu mengangkatnya ke atas--sejajar dengan kepalamu. Ia, menatap lurus pada matamu. Membuatmu mengerjap.

"Jangan memaksakan diri, kau masih diinfus."

Ia menurunkan tanganmu lalu meletakkan kedua telapak tanganmu di pipinya. Dahinya ditempelkan pada dahimu, kamu bisa merasakan deru napasnya yang hangat menerpa wajahmu.

"Apa yang harus kulakukan, agar kau memaafkanku?"

Kamu rasakan wajahmu yang memanas. Ingin mengalihkan pandangan, namun tidak bisa. Dahi kalian masih bertemu.

Terdiam dan berpikir. Ah, tidak. Dengan posisi seperti sekarang, otakmu buntu. Belum lagi kedua tangan Karma yang melingkar di pinggangmu sampai tidak membuat jarak satu senti pun diantara kalian.

"Aku mau ... melihat orangtuaku."

Karma tersentak lalu memejamkan mata. Ia berdiri tegak, membuat jarak diantara kalian. Menepuk puncak kepalamu beberapa kali lalu tersenyum.

"Besok ya."

"Tapi aku mau sekarang."

Kamu menggenggam tangan Karma yang berada di puncak kepala--menghentikkan aktivitasnya. Ia menghela napas.

"[Name], ini sudah sore. Aku tidak masalah jika kau mau ke pemakaman di waktu seperti ini. Tapi, aku khawatir kalau kau akan menangis lagi karena melihat arwah orangtuamu yang tiba-tiba muncul disana."

Kamu bergidik ngeri. Bukannya apa, ketakutanmu pada hal ghaib tidak bisa dipungkiri.

Selain menangis karena merindukan mereka, kamu bisa saja menangis karena takut melihat arwah mereka yang tiba-tiba datang.

"Lagipula..." Ia menggantungkan kalimatnya diudara. "Kau baru saja terlihat tenang. Tidak seperti tadi."

Karma menatapmu. Tatapannya yang teduh dan hangat, membuat beban di hatimu perlahan-lahan pergi.

Entahlah, yang pasti. Tersirat ketenangan di dalam matanya itu.

BRAK!

Pintu ruangan tersebut dibanting cukup keras, menimbulkan bunyi yang menggema dan cukup mengejutkan kalian berdua.

"Honeey, Are you okayy?"

Sama-sama menoleh pada asal suara, kalian melihat seorang wanita 30 tahunan dengan baju kantor dan sedikit terbuka, kacamata hitam yang bertengger di batang hidung dan koper merah berukuran sedang berada di sampingnya.

Kamu sweatdrop.

"Bibi?"

~~

Saya merasa Karma dan Rea rada maso disini =)) //dikejar

Untuk adegan nempel2 dahi itu, saya harus praktekkinnya pake boneka tau :( Karena saya waktu ngetik itu sempat buntu dan imajinasi saya sempat ngadet.

Dan awalnya juga, seharusnya Karma gendong Reader lalu baringin di kasur lalu dikunci (ah yu know what i mean lah) cuma, kupikir itu terlalu...keras :"D emang, ini cerita rate nya T+ sampai M/? Ku tetap mikirin kepolosan para pembaca kok //digampar

Untuk chap selanjutnya, mungkin bakal saya kasih trivia di akhir chapter. Dan, siapa bibi itu? Terus, Flashback nya Karma masih mau diceritain? =))

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top