Bab 2
Garis-garis tajam kombinasi warna merah dan biru menyorot segala penjuru kelab malam Dragon Fly. Musik Calvin Harris berdentum, sementara suara dan dentingan gelas beradu. Jeans high waist dan atasan halter leher satin merah membingkai lekuk tubuh Sandra. Pusarnya mengintip malu-malu, lebih-lebih punggung yang mulus tentu menarik jemari-jemari nakal tuk bergerilya di sana.
Di antara ratusan pengunjung, perhatian Sandra jatuh pada seorang pria yang duduk di atas kursi bar. Jayy, lelaki Tionghoa berpotongan rambut wolfcut yang tadi menelepon Sandra berpaling. Sesaat kemudian, mata sipitnya membulat sembari mengangkat sebelah tangan.
"Udah lama lo?" Sandra mendaratkan pantat di sisi kanan.
Yang ditanya melenggut lalu mengerutkan kening, "Mana temen lo?"
Bola mata Sandra memutar lalu menghela napas panjang. "They kinda lost interest. Maklum ya, situationship jaman sekarang bikin capek. Apalagi, banyak kasus-"
"Lah, lo sendiri sering HTS-an sama banyak cowok," sela Jayy tak terima.
Sandra menopang dagu dengan tangan kanan, mengamati air muka Jayy kemudian sudut mulutnya naik ke atas. "Gue HTS-an karena banyak dari kalian yang minta dicomblangin. Sebagai cewek yang paham betul tabiat kaum berbatang kayak lo, sepatutnya gue ati-ati."
"Dih, kayak kaum lo pada bener semua aja," cibir Jayy sebal. "Noh, yang suaminya model oppa-oppa dan beranak tiga masih aja flash sale," ledeknya.
"Ya ... itu dia aja yang rada-rada otaknya," ketus Sandra. "Lagian tampang lo kayak nggak laku aja Jayy, pake pengen dikenalin segala. Urusin tuh bisnis bokap lo!"
Sebelum Jayy menimpali omelan Sandra, ekor matanya menangkap sesosok gadis cantik tengah berjalan cepat diikuti seorang lelaki bertubuh kekar. Tak lama, pria di sana menarik kuat lengan kanan si perempuan disusul umpatan. Tentu hal tersebut mengundang beberapa pasang mata, termasuk Sandra.
Jayy menyipitkan pandangan lalu berkomentar, "Loh, bukannya itu Aylin?"
Sandra berpaling sesaat memandang Jayy, "Aylin siapa?"
"Ck, lo kerja mulu sih, jadi nggak tahu dunia artis," cibir Jayy. "Selebgram sekaligus aktris pendatang baru. Namanya lagi naik daun waktu main film horor tahun lalu."
Kepala Sandra manggut-manggut. "Dia yang jadi setan?"
"Iya, jadi kuntilanak kayak lo," sahut Jayy asal membuat Sandra refleks menarik rambut gondrongnya gemas. Jayy mengaduh tapi Sandra terlihat tidak peduli karena lelaki modelan Jayy perlu sekali diberi pelajaran. "Ampun-ampun ... astaga ..."
Barulah Sandra melepas cengkeraman lantas kembali memerhatikan adegan pertengkaran Aylin dengan pria yang mungkin kekasihnya. Aylin-perempuan molek-tampak setengah mabuk saat hendak melarikan diri dari laki-laki di depannya. Entah apa yang diperdebatkan yang jelas masalah di sana terdengar panas. Sandra ingin berdiri tapi dicegah oleh Jayy yang berkata,
"Jangan ikut campur kalau lo nggak mau masuk Lambe Turah." Jayy menatap Aylin yang kini dirangkul lelakinya. "Noh liat, udah baikan lagi mereka."
Sekilas orang akan berpendapat kalau sejoli di sana sudah tak lagi menyemburkan api amarah. Namun, entah kenapa ada gumpalan tak menyenangkan memenuhi dada Sandra. Cara Aylin menunduk terlalu patuh. Di jaman serba viral, seharusnya Aylin dengan mudah menyambar ponsel dan merekam kelakuan lelaki di sana. Sandra mengalihkan pandangan, memilih memesan segelas koktail ke bartender-meyakinkan diri bahwa tidak semua hal perlu diselamatkan.
Tapi, kenapa perasaan gue jadi nggak enak ya?
###
Persidangan lanjutan kasus yang Sandra tangani kini berada di ujung. Tidak ada lagi yang bisa diucapkan maupun diperdebatkan. Yang ada hanyalah keputusan, entah pembelaannya berminggu-minggu kemarin menemukan titik terang atau justru lemah karena diinjak kekuasaan. Bagaimana tidak, seringkali kasus-kasus yang menyerang masyarakat bawah mendapat ketidakadilan, sementara mereka yang gemar menyelundupkan uang negara dihadiahi penjara super mewah.
Sandra duduk tegak dengan tangan terlipat rapi di atas meja. Dari luar, ekspresinya setenang air. Tapi, sebaliknya, pikiran gadis itu riuh. Begitu pula dengan kliennya-Hendro-pria paruh baya yang tertunduk lesu di tengah ruang sidang. Dari sini, kelelahan luar biasa dapat dirasakan Sandra. Mungkin sudah pasrah, batin gadis itu iba. Apalagi nyaris empat bulan tanpa kepastian, Hendro mendekam di balik jeruji besi beserta lebam-lebam yang kini nyaris memudar.
Ah, sialan!
Sandra meraup udara tuk memenuhi relung dadanya yang teramat sesak. Sungguh dia paham betul, perkara ini terlalu rapuh. Bukan karena pembelaannya yang dinilai lemah, melainkan dakwaan penuntut umum begitu kuat. Padahal jelas-jelas tidak ada saksi mata, pun tidak ada bukti langsung yang memberatkan terdakwa. Yang ada cuma pengakuan-meski akhirnya dicabut ketika persidangan awal-serta asumsi yang dipaksa menjadi sebuah kebenaran.
Sungguh melelahkan menjadi pengacara, batin Sandra. Ini sebabnya, dia tidak mau dan tidak akan pernah mau memiliki pasangan bahkan anak yang berprofesi sebagai pengacara. Toh, hukum juga tidak selalu memihak logika. Kadang hukum dipaksa tunduk karena ada rasa aman, tekanan, dan keinginan cepat untuk menyelesaikan perkara.
Lamunan panjang Sandra buyar kala pintu samping ruang sidang terbuka disusul panitera melangkah maju. Suaranya terdengar tegas saat menyuruh para tamu berdiri menyambut majelis hakim, memecah bisik-bisik yang sedari tadi menggantung di udara.
Gadis itu berdiri selagi ekor matanya mengikuti langkah tiga pria berjubah hitam. Pandangan mereka tak dapat dibaca. Begitu pula bibir terkatup rapat seakan-akan menunjukkan hukum tidak pernah ramah pada mereka yang kejam.
"Hadirin dipersilakan duduk kembali."
Atmosfer tak langsung mencair justru kian memanas saat Sadewo--sang ketua hakim membuka persidangan. Dengan saksama, baik Sandra maupun orang-orang yang ada di ruang sidang mendengarkan runtutan pertimbangan; dakwaan, alat bukti, saksi, sikap terdakwa hingga alasan menolak dakwaan secara logika.
Suara hakim Sadewo melontarkan kalimat-kalimat itu terdengar kaku. Setiap kata serasa mengandung magis, di mana satu keputusan saja bisa mengubah kehidupan Hendro.
"Menimbang, bahwa saksi-saksi yang diajukan tidak melihat langsung peristiwa yang didakwakan," kata hakim Sadewo masih meneruskan bacaannya. "Menimbang, bahwa pengakuan para terdakwa telah dicabut dan dinyatakan diberikan di bawah tekanan. Menimbang, bahwa alat bukti yang diajukan tidak saling bersesuaian."
Sejenak, lelaki berkacamata itu berhenti. Walhasil, sikapnya menimbulkan dentuman hebat dalam dada Sandra. Dilirik kembali Hendro yang semakin menunduk dalam--pasrah.
Detik berikutnya hakim Sadewo mengangkat kepala, mengedarkan pandangan sejenak kemudian berucap, "Mengadili. Menyatakan para terdakwa tidak terbukti secara sah dan meyakinkan..."
Sandra menutup mata sesaat. Bukan lega. Lebih seperti lelah yang akhirnya menemukan tempat beristirahat.
Puji Tuhan...
Palu diketuk tiga kali.
"Demikian putusan ini dijatuhkan."
Baru setelah itu, suara hakim terdengar lagi, lebih singkat, lebih administratif:
"Sikap Penuntut Umum?"
Jaksa berdiri. "Penuntut Umum menyatakan pikir-pikir, Yang Mulia."
Sandra tidak menoleh. Dia tahu, untuk hari ini, itu sudah lebih dari cukup.
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top