Prolog

Dunia bawah tengah kacau. Para malaikat menginvasi dunia iblis secara besar-besaran. Tindakan ini seharusnya bukan hal yang biasa terjadi. Perjanjian pembagian wilayah kekuasaan iblis dan malaikat sudah disetujui kedua belah pihak.

Para iblis yang mendapat serangan mendadak sebagian besar kocar-kacir. Raja iblis dengan spontan mengirim pasukan terkuat, namun sayang, dalam beberapa menit mereka diberantas. Satu persatu mayat mulai berjatuhan. Teriakan hingga erangan terdengar seperti alunan elegy terseram sepanjang masa.

"Pergilah!"

Suara gemetar seorang pria dewasa terdengar lirih. Sayapnya dan tanduknya patah, sedang tubuhnya sobek sana-sini. Digenggamnya tangan gadis mungil di hadapannya erat.

"Aku akan menjagamu sampai perbatasan. Jadi semua akan baik-baik saja"

Gadis dari bangsa iblis itu mengigit bibir. Air mata terkumpul dalam kelopak, sewaktu-waktu bisa jatuh. Baju gadis itu compang, beberapa guratan darah terpoles di kulitnya yang nampak pucat. Ia menatap pemuda dihadapannya dengan pandangan takut.

Pemuda iblis itu mengulas senyum. Sesekali ia mengusap wajahnya, menghilangkan darah yang menutupi pandangan. Direngkuhnya tubuh sang adik erat.

"Jika bisa, aku akan menjemputmu nanti. Sekarang ayo kita pergi dulu"

"Disana!"

Kedua kakak beradik itu terkejut. Pemuda itu refleks menggendong adiknya dan segera berlari. Mereka lelah, namun petir dari malaikat yang terus menghujani mereka membuat mereka tidak dapat berhenti.

Tugu berwarna hitam mulai terlihat. Sebentar lagi mereka akan sampai ke perbatasan.

Flash

Bughh

Keduanya itu jatuh. Sebuah petir berhasil mengenai tubuh sang kakak, menimbulkan luka parah di bagian punggung. Pemuda itu mengerang, ditatapnya sang adik yang pingsan dalam pelukannya akibat benturan tadi.

"Sial"

Ia itu meringis. Sebentar lagi para malaikat akan tiba disini, dan ia tak sudah tak lagi bisa bangkit. Tubuhnya lemas, ditambah kekuatan sihirnya menipis.

"Miaw"

Suara seekor kucing itu cukup membuat pemuda itu menoleh. Ia menatap kucing berbulu putih yang hendak keluar dari tugu yang menjadi portal itu lega. Dengan sisa sihirnya, pemuda itu merapal mantra.

Ia mengarahkan telunjuknya pada tubuh sang adik. Dalam sekejab tubuh mungil itu berubah menjadi asap hitam. Asap itu masuk kedalam tubuh kucing putih itu, membuat sang kucing menjadi pingsan. Bulu putih sang kucing perlahan menjadi hitam.

Iblis itu mengangkat tubuh kucing itu lewat sisa-sisa sihirnya yang semakin habis, lalu melemparkannya keluar dari portal.

"Selamat tinggal"
***


(Disuatu tempat, 27 Desember 2020)

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top