The Pool

"Takazuki kelas 2-B? Dia teman sekelas Takagami dong. " mata Shion bergulir pada Akaashi. "Hei, kau sering bersama Takagami kan? Kenapa hari-hari ini dia tidak terlihat?"

Akaashi menaikkan bahunya, tabu akan hal itu. "Dia juga tidak datang ke klub ini, jadi aku tidak tahu apapun."

Shion mendesis seraya menggaruk kepalanya yang tidak gatal, frustasi karena hal tersebut. "Jadi tanpa repot tanpa dia, apa boleh buat. Ada yang tahu Takazuki ikut ekskul apa? Kalau kita bisa menemukannya hari ini, semakin cepat pula kita menemukan lebih banyak informasi soal masalah ini."

Sayangnya, baik dari kubunya sendiri maupun kubu Takehara tidak ada yang mengetahui hal itu. Frustasi yang menupuk, sakit kepala Shion mulai kambuh. Gadis itu mulai memijit pelipisnya, mencoba mengalirkan emosi yang menumpuk di ubun-ubun. "Baik-baik, kita tidak bisa menemukan apapun hari ini, jadi aku akan memulai besok. Kalian bisa bubar, aku akan pulang duluan."

"Kenapa? Jangan kerja di belakang kami!"

"Aku pusing, mau istirahat."

Shion menaikkan tudung hoodie hitamnya dan berjalan keluar dari ruangan Klub Café setelah memastikan bahwa dia tidak ada yang mengikutinya. Shion menghela napas dengan napas hangat yang menyatu dengan udara panas musim panas bulan Agustus. Langkahnya yang tenang namun terkesan lelah meninggalkan jejak di belakang.

Mengingat Raito, dia sudah tidak melihat lelaki itu sejak bertemu dengan Chisato Yui Si Gadis Detektif. Entah apa yang menganggunya, jika Raito tidak mengatakan pada Shion, gadis itu pun juga tidak mengetahui apa-apa.

Fakta bahwa teman-temannya perlahan akan memudar tidak membuat Shion sedih. Sebagai anak indigo yang aneh di kalangan umum, kehilangan teman bukan hal yang aneh baginya. Terima kasih atas masa lalu kelamnya di Hokkaido, Shion jadi lebih tegar di tempat barunya yang keras nan sesak ini.

Namun saat pikiran itu terlintas di pikirannya, mata Shion menangkap lelaki berkacamata dengan kamera di genggamannya, sedang duduk sendirian di halaman depan SMA Akamichi.

Seapatis-apatisnya Shion, dia tetaplah makhluk sosial yang bergantung pada orang lain, sehingga dia mendekati Raito yang masih tidak sadar dengan eksistensinya.

"Sedang sibuk, Takagami?"

Lelaki di hadapan menyadari adanya bayangan yang menutupinya, dan kemunculan sang gadis di hadapan membuatnya tersentak dan segera menyembunyikan kameranya. "O-oh selamat siang Ryuzaki-san. I-ini bukanlah hal apa-apa."

"Bisa geser? Aku mau duduk sebentar."

Raito menggeser tempatnya duduk sehingga gadis itu dapat duduk di sampingnya. Raito hanya melirik sedikit ke Shion, kemudian menghindar dengan hati-hati dengan menatap langit yang berada tepat di atas mereka berdua.

"Ada masalah yang sedang kau tangani, Ryuzaki-san?"

Dia mengangguk dan menatap lurus ke depan, masing-masing tidak memandang satu sama lain. Shion menurunkan tudung hoodie-nya, menghela untuk kesekian kalinya. "Seperti biasa."

"Kulihat kau cukup lelah karena hal itu, ingin kutraktir kopi kaleng?"

"Aku baru saja menghabiskan miliku sendiri, tapi terima kasih sudah menawariku." Pada akhirnya manik Shion mengarah ke Raito yang sekarang memandangnya. "Daripada kopi, aku ingin bertanya padamu."

Sedikit lelaki itu meneguk salivanya dan keringatnya muncul sedikit, dia menaikkan kacamata dan mengangguk. "Ada apa?"

"Kau sekelas dengan Takazuki, benar? Kira-kira kau tahu klub apa yang dia ikuti?"

Raito berkedip sejenak, tangannya kembali menyentuh kameranya dan mengelus lensa yang telah ditutupi dengan penutup sembari berpikir. "Taka ... dia ikut Klub Renang."

"Berarti besok bisa bertemu. Bagus."

Raito menelengkan kepalanya. "Ingin bertemu dengan Takazuki? Ada masalah yang menimpanya?"

"Lebih tepatnya soal kolam renang lama, dengar-dengar dia terlibat dengan perihal kolam renang itu, makanya aku ingin mencari tahu lebih banyak."

Setelah Shion menjelaskan seperti itu, Raito mengangguk-angguk mengerti. "Aku akan menyampaikan padanya besok. Bertemu di mana?"

"Tidak perlu, aku akan menghampirinya di kelasnya langsung. Pengampu Klub Renang adalah guru olahraga kita, itu hal mudah bagiku selain mengurus soal Takazuki." Shion berdiri dari bangku taman yang mereka berdua, menyorot Raito dengan tatapan biasanya yang datar dan lurus.

Keadaan hening itu bertahan selama beberapa saat, hingga Raito merasakan gejolak tidak enak di hati. Ketika mulutnya hendak terbuka, Shion lebih dahulu mengatakan maksudnya.

"Aku bukannya peduli padamu, tapi jika pada awalnya kau selalu mengikutiku namun sekarang kita jadi jarang bertemu, katakan apa yang salah. Kalau memang ada yang perlu kukoreksi, katakan langsung padaku." Shion mengulungkan tangannya. "Tidak adanya kau di timku, kerjaku jadi tidak sempurna. Kita adalah tim, kecuali kalau kau memang ada masalah pribadi yang tidak bisa diganggu gugat, bilang padaku dan aku akan membantumu."

"Kita, teman dan rekan bukan? Atau hanya aku saja yang berpikir begitu?"

Mata Raito terbuka, pernyataan Shion barusan membuat sejenak darahnya membeku. Angin musim panas yang menggerahkan tidak dapat mengalahkan keheningan ini. Tangan Shion masih mengambang di hadapan Raito yag ternganga di tempat duduknya.

Perlahan, untuk kedua kalinya tangan Raito merasakan telapak tangan Shion Tangan yang halus namun dingin. Mereka berdua berjabat tangan, sejenak Raito menunduk dan genggamannya pada telapak tangan Shion menguat.

"Un, maaf membuatmu khawatir."

"Jika kau sibuk, aku tidak akan mengganggumu. Namun jika butuh bantuan, kau dapat mengandalkanku Takagami."

"Ya, mari kita saling percaya dan bergantung satu sama lain." Raito mendongkak dan memberikan senyum pada Shion. "Kau bisa mengandalkanku juga, jadi kau bisa memanggilku Raito."

Shion tersenyum, dan saat itu pula Raito melihat kurva kecil yang tulus di wajah cantik Shion. "Hmph, benar juga, agar adil sama rata aku membiarkanmu memanggilku dengan nama lain layaknya yang Katayanagi-sensei dan Yukki lakukan, Raito."

Rona pipi Raito akhirnya tak dapat ditahan lagi, dia membuang muka dan mengangguk gugup. "Baiklah, sore ini apa yang bisa aku bantu Ki ... chan?"

Shion cepat kembali jadi dirinya yang serius, jadi tangannya yang sedang dijabat Raito dilepaskan dan berganti mengelus dagunya. "Bisa kau temani aku ke depan kolam lama sebentar? Aku ingin memastikan sesuatu."

Dengan cepat Raito mengangguk dan mereka berdua dengan segera menuju gedung kolam renang lama yang berada di paling belakang Kawasan luas SMA Akamichi.

Sepanjang perjalanan Raito masih berusaha mengatasi rona dan detak jantungnya yang diakibatkan oleh gadis yang tengah berjalan di depannya. Telinganya terasa agak panas, terus saja kepikiran soal hal itu.

"Raito, apakah kau hari-hari ini dengar soal masalah kolam renang lama? "

"Jujur saja tidak, tapi hari-hari ini yang aku tahu Takazuki jadi agak aneh dan tidak seperti biasanya. . "

"Kau menyadari hal itu? "

"Takazuki dengan jelas menunjukannya sendiri, dia jadi takut saat kami mendapat jatah olahraga sepak bola. Jika kulihat dari ekspresinya, dia benar-benar takut melihat bola sepak. Padahal kalau waktunya sepak bola, Takazuki lah yang biasanya paling semangat. "

Shion menaikkan alisnya dalam pemikiran sejenak bersama Raito tersebut. "Kupikir harusnya dia takut pada air, bukan pada bola, tapi kenapa bisa jadi seperti itu? "

"Tidak tahu, Takazuki tidak bicara apa-apa. Oh, hari-hari ini setiap pulang sekolah guru olahraga selalu meminta bertemu, kupikir ada sesuatu di balik pembicaraan mereka berdua. "

Mereka sampai depan gedung kolam renang lama. Raito memberikan ekspresi yang berbeda 180 derajat dari suasana tadi. Wajahnya memucat, mata yang ada di belakang kacamatanya melotot sembari meneguk saliva-nya.

"Apa yang kau rasakan? "

"Kegelapan ... yang menyedihkan. "

Shion tidak mendekat dan tidak pula melangkah mundur, dia hanya mengamati dari tempatnya berdiri kolam yang dibatasi dengan pagar kawat tinggi yang sekarang penuh dengan tanaman rambat dan lumut.

"Aku tidak bisa melihat apapun, apakah kau bisa? "

"Tidak, tanaman rambat itu terlalu menghalangi. Kenapa kita tidak masuk ke dalam? "

"Jika masuk sekarang, celaka besar menanti kita. "

Shion menggulirkan bola matanya ke pintu masuk. "Raito, kamu bisa merasakan keberadaan arwah? "

"Ya, tapi aku jadi ragu. " Lelaki itu bertukar pikiran dengan Shion lewat pandangan. "Hawa hitam yang menyedihkan ini begitu besar ... tapi arwah yang kurasakan hanya satu dan hanya samar-samar. "

Shion mengangguk-angguk. "Dia ada di dalam kalau begitu, jadi rumor itu tidak mengibul. "

"Apakah hanya ini yang kita cek hari ini? "

Shion mengangguk dan berbalik. "Seterusnya akan berbahaya karena arwah itu masih siaga, kita teruskan saja kalau sudah ada informasi lebih lanjut. Ayo pulang Raito. "

Gadis itu perlahan meninggalkan depan gedung kolam renang lama, Raito yang sejenak bengong mengejar Shion kemudian. "Tunggu aku! "

Untuk terakhir kali, Raito melirik gedung kolam yang terlihat tidak terurus tersebut, yang memancarkan hawa hitam dari bagian terdalam yang gelap gulita.

Kenapa kalian pergi? Datang dan berenanglah di sini bersamaku ...

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top