The Client

"Skak mat."

"Yang benar saja!?"

Ketika pekerjaan sedang kosong, Shion tentu akan pergi ke Klub Cafe untuk mendapatkan kopi dari Akaashi. Jangan lupakan, Raito menyusul dengan membawa setumpuk buku dan terakhir Ken yang mampir untuk membeli kue kesukaannya di klub ini sekalian melihat keberadaan Shion.

Beberapa anak dari kelas masing-masing lelaki sempat berpikir, Klub Cafe itu bahkan tidak tahu kejelasan berdirinya dan mereka tetap saja mau kembali ke sana, tapi alasan mereka tentu terkunci dalam hati mereka masing-masing.

Menemui Shion, begitulah. Kaki mereka selalu meminta bertemu. Tidak hanya karena memendam rasa, tapi jika sesuatu terjadi bukankah sangat baik mengawal gadis itu?

Hari ini cukup tenang, terlihat Shion dengan santai bermain catur bersama Ken, dengan Raito duduk di samping Shion sambil membaca bukunya dan Akaashi mengerjakan tugas sekolahnya di samping Ken.

"Kau tidak pernah baik dalam permainan anak ini." Shion mendengus tidak puas. "Sudah berapa kali kau melewatkan celah? Aku bosan menang darimu."

"Kau yang terlalu pintar!" solot Ken kesal. "Argh! Ayo ulangi sekali lagi!"

"Aku lelah... Sagara, bisa kau berikan aku air putih?"

"Tentu!"

Shion sejenak menatap layar ponselnya dan menekan-nekan layarnya. Raito melirik sedikit, Shion sedang membuka situs paranormal.

Ponsel itu tak lama langsung bergetar, Shion langsung berdiri dan meminta izin untuk pergi.

"Selamat siang, di sini Akiyama Okino dari Situs Penjemput Arwah. Ada yang bisa saya bantu?"

Gerakan Akaashi berhenti mendengarnya. Melirik sedikit, rupanya Shion menjawab panggilan itu di luar ruangan Klub Cafe.

Akiyama Okino? Kenapa nama seorang Shion bisa berubah?

"Sekali lagi saya tekankan, saya bukanlah exorcist Teruo-san. Saya hanya penjem— ah ... baik-baik, maafkan saya."

Akaashi berdiri di dekat pintu sambil mengelap gelas, mencoba mendengar pembicaraan Shion dengan seseorang di ponselnya.

Klien kah?

"Saya akan langsung menuju rumah sakit. Mohon tunggu saya."

Kemudian panggilan berakhir, Shion terlihat menghembuskan nafasnya perlahan lalu kembali masuk ke ruangan Klub Cafe. Ia sejenak menyenamkan lehernya hingga berbunyi kemudian duduk kembali ke kursinya untuk membereskan benda yang tersebar di meja.

"Kau mau pergi?"

"Ya." Jawabnya begitu singkat, dilihat dari pergerakannya yang cepat, Shion terburu-buru.

"Pulang?"

"Aku mau pulang, aku mau ke Disneyland, aku mau ke Pluto, bukan urusan kalian." sahutnya kecut. Ia selesai membereskan barang-barangnya dan segera pergi.

"Kau tidak akan melakukan hal macam-macam kan?" tanya Ken.

Shion yang ditanyai seperti itu mendengus. "Memangnya aku ini preman? Kamu selalu mengatakan itu seakan apa yang kuperbuat selalu jelek."

"Kalau kau mau pulang, ayo kita pulang bersama Ryuzaki-san."

"Aku punya kaki yang bisa berjalan dan mata sendiri jadi kalian tidak perlu mengurusiku banyak-banyak, aku bukan bayi baru lahir. " lalu Shion menatap mereka tajam. "Jika kalian menguntitku, kupastikan aku tidak akan sudi kembali ke ruangan ini, apalagi melihat wajah kalian."

Lalu gadis itu menghilang di balik pintu.

Dibalas tajam tanpa ampun begitu, Raito menghela, "Kali ini biarkan dia sendiri saja. Lagipula kita bukan siapa-siapanya."

"Tapi kita teman Ryuzaki!" timpal Akaashi tak menyukai keputusan itu. "Dia juga berulang kali melarang kita untuk ikut campur hingga bilang tidak akan menemui kita lagi, tapi pada akhirnya dia tetap kembali ke klub ini kan? Ayo kita ikuti dia!"

"Biarkan dia sendiri." Ken menyahut setelah menenggak kopi hitamnya. "Ada hal yang memang harus ia lakukan sendiri. Jika dia memang tidak membutuhkan bantuan kita jangan membuatnya repot. Kalian tidak akan tahu bagaimana Shion kalau sudah naik pitam."

Hanya dengan kalimat itu, mereka berdua terbungkam, sudah takut karena bayangan gadis bermuka dingin itu sampai marah besar.

Mereka mungkin akan habis di tangannya.

"Baiklah ...."

Sementara itu, Shion sudah mencapai ruang uwabaki dan mengganti sepatunya, namun sejenak ia berhenti untuk berpikir.

'Setahuku situs itu sudah nonaktif sejak lama dan klien lebih tahu soal Penjemput Arwah dari koran, lalu bagaimana dia bisa tahu aku dari situs itu? Aneh sekali', batin Shion seraya memegang dagunya, mencoba berpikir lebih keras. 'Apa ada yang memperbaharuinya? Ini mencurigakan ....'

Karena curiga itulah, ia mengambil ponselnya dan menekan menu kontak, men-scroll turun kontak demi kontak hingga berhenti pada dua nomor telepon.

Shion menatap nomor itu nanar, ibu jarinya bersiap menekan nomor itu, namun saat itu juga ibu jarinya bergetar. Pada akhirnya ia menghela napas dan segera memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku hoodie.

Dengan cepat gadis itu melangkah keluar sekolah tanpa memerhatikan murid-murid lain yang lalu-lalang di dekatnya. Tidak mau berlari untuk menghabiskan banyak tenaganya, jika bekerja begini Shion siap mengeluarkan uang hanya untuk naik bis tidak peduli rumah sakit cukup dekat dengan sekolahnya.

Selain sisi hemat tenaga kecuali kerja yang menempel pada Shion, sejujurnya gadis ini tidak peduli soal uang asal dia bisa tidur dan makan. Hidup praktis adalah dasar kenapa wajahnya cukup sederhana walau Shion bisa sangat cantik kalau wajahnya dipoles sedikit.

Namun selain tidak peduli penampilan, ucapannya cukup sarkas dan keras serta ia bukanlah orang yang ramah seperti gadis cantik kebanyakan, apalagi kelakuan Shion yang seenaknya saja menjadi alasan lengkap jarang ada lelaki yang tertarik pada gadis ini.

Tentu untuk Akaashi, Raito, dan Ken, perlu dipertanyakan kenapa mereka berminat pada gadis ini. Sekalian saja, bedah otak mereka dan lihat apa yang mereka pikirkan soal Shion, itu cara bagus untuk memastikan mereka bertiga masih normal atau tidak.

Kembali lagi pada Shion yang sekarang duduk di bis. Sekarang yang ia lakukan adalah memastikan bahwa situs yang menjadi perantara dirinya dan para kliennya benar masih aktif atau tidak.

Situs itu memang sengaja dipasang dengan dark theme dan Shion dengan tenangnya tidak terlalu mengurusi website itu karena klien biasa menemukan Shion di koran atau langsung pergi menemuinya.

Dulu memang website itu aktif dan bisa membawa Shion menjadi paranormal yang diakui walau usianya begitu belia. Ketika masih di Hokkaido, banyak yang membutuhkan Shion karena banyak orang berpikir dia orang yang punya kekuatan aneh, mengurus para arwah orang mati dengan cara yang berbeda dibandingkan exorcist kebanyakan.

Namun seiring waktu terus berjalan, pemikiran akan kekuatan itu tergerus masa dan semakin sedikit orang yang mengenal Shion, jadi website itu jarang ada peminatnya. Dan itulah yang membuat Shion berpikir kalau website itu sudah nonaktif dan memutuskan untuk tidak menyentuhnya lagi.

Sekarang, kliennya tahu ia dari website itu? Aneh juga.

Shion turun dari bis di halte terdekat dengan rumah sakit dan berjalan sedikit menuju gerbangnya. Ia mendongak, inilah rumah sakit Hanamori yang menjadi tempat pertemuannya dengan klien bernama Teruo Masaomi itu.

Ada pesan masuk. Email tidak dikenal.

Anda ada di mana?

Shion masuk ke rumah sakit itu sambil membalas.

Tepat di depan rumah sakit, saya ada di pintu utama.

Setelah mengirimkan itu, Shion tidak mendapati ada balasan, namun emailnya telah diterima oleh Teruo Masaomi.

Tidak terlalu lama menunggu, seorang lelaki dengan kacamata dan rambut acak-acakan menghampirinya.

"Maaf membuat anda menunggu Akiyama-san."

Shion membungkuk setelah mengamati lelaki yang penampilannya agak kumal itu. "Salam, Anda sudah tahu tentang saya lewat situs itu benar?"

Lelaki itu mengangguk dan di wajahnya tersirat kecemasan. "Ya, aku tahu Anda bukan exorcist dan Anda masih muda, tapi Anda tentu bisa mengurus orang yang sedang koma namun arwahnya menganggu manusia... kan?"

Mendengar itu, Shion langsung teringat di mana ia mengurus Ayamura Kanoka yang memiliki masalah yang sama, jadi gadis itu mengangguk.

Masaomi langsung mengeluarkan helaan, sepertinya selama ini ia panik tentang jawaban Shion soal permintaannya yang sangat dadakan ini. "Syukurlah kalau begitu."

"Jadi, bisa kita mulai lebih cepat?"

Masaomi mengangguk dan ia menggiring Shion melewati koridor yang dingin. Lampu rumah sakit memancarkan cahaya yang terang, namun terasa ganjil mengingat semua warna di sini adalah putih yang memberikan aura menyakitkan seperti di rumah sakit kebanyakan.

"Bisa Anda ceritakan sedikit masalah yang Anda punya saat ini pada saya?" tanya Shion mencoba sopan, walau nada bicaranya sangat monotone.

Namun belum dijawab, mereka berdua berhenti berjalan karena Masaomi menghadap sebuah pintu bernomorkan 013. Masaomi sekali lagi menghela napas, lalu memutar kenop pintu itu.

"Inilah masalah yang membuatmu kupanggil ke sini, Akiyama-san."

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top