Prolog
Prolog
Calista memandang dua orang yang ada di depannya dengan pandangan menerawang jauh. Melewatkan wajah perempuan yang terlihat puas tanpa mengatakan sesuatu. Tampak dari senyum di bibir dan sorot mata berbinar yang tertuju pada sosok di depannya. Pandangannya pun melampaui si pria yang tampak puas dengan apa hasil karyanya. Apa pun yang ada di depannya saat ini tak mampu menariknya dari labirin mengasihani diri sendiri. Meski dua tahun sudah berselang sejak hari naas di mana hidupnya hancur berantakan. Rasa kasihan dan rendah diri kerap muncul di hatinya.
Kini, matanya tak lepas dari tali merah di tangan pria yang memiliki senyum menawan. Ia tahu tali itu tidak akan membuat kulit perempuan itu terluka. Namun, ia yakin jalinan rumit itu akan meninggalkan bekas kemerahan di sana.
Ada sesuatu dari cara dia mengikat tali membuat Calista tidak bisa memalingkan pandangan. Semua saling terkait, membentuk simpul dan lilitan. Ia semakin terkesima ketika menyadari pola yang terbentuk. Sambil menopang dagu, ia memandang pertunjukan yang ada di depannya tanpa menyadari di mana ia berada. Calista bahkan tak tahu ada sepasang mata yang terpaku padanya.
Sesekali ia menelengkan kepala, mencoba memahami apa yang dilihatnya. Calista tidak pernah melihat sesuatu semenarik dan seintens saat ini. Bahkan ia pun tak mampu berpaling, seakan ada suatu kekuatan yang menahannya.
Dengan satu kaki terangkat tinggi, tubuh perempuan itu tampak seperti bentuk segitiga. Tangannya terikat di belakang, terhubung dengan pahanya. Sedangkan tubuh bagian atasnya terikat dengan pola rumit terpaut dengan kaki yang ditarik ke atas. Calista dengan sengaja mendongak melihat ke mana arah tali yang terhubung di kaki kanan perempuan tersebut.
Tubuh telanjang terekspos untuk siapa pun yang saat ini berada di sekeliling panggung, tidak terkesan murahan. Meski tampak vulgar tapi tetap indah dipandang mata. Bahkan di dalam hati, Calista merasa kagum dengan keberanian perempuan tersebut.
Menyerahkan kuasa dan kontrol pada partnernya tanpa tanya. Menerima semua yang kini di berikan padanya. Ia pun berpikir tentang dirinya sendiri yang selama ini harus mengontrol diri dan tak seorang pun yang mampu membuatnya merasa berani untuk menyerahkan diri seutuhnya. Termasuk Ridwan yang pernah menjadi suaminya.
Sesekali matanya membelalak dan menarik napas tajam ketika mendapati tubuh perempuan itu menggeliat saat mendapat belaian di tempat tertentu. Setiap gerakan bahkan tarikan napas terlihat sensual. Membuatnya tak mampu mengedipkan mata. Calista seakan tak ingin melewatkan sedetik pun dari apa yang ada di depannya.
Desahan dan napas panjang sesekali terdengar di antara musik lembut yang mengisi latar belakang ruang dengarnya. Gairah terpancar jelas di wajah dua orang yang menawan pandangannya, dan ia bisa merasakan pipinya menghangat. Seolah ia merasakan apa yang saat ini terjadi pada tubuh perempuan itu.
“Shibari.”
“Hah!” jawab Calista terkejut mendengar suara yang terdengar tepat di depan telinganya.
Pria yang menyandarkan satu sikunya di atas meja bar, menatapnya dengan sorot mata penuh gairah. Wajah yang dihiasi jambang tipis terpotong rapi menyembunyikan tulang rahang tegasnya. Rambutnya—seperti pria pada umumnya—tipis di bagian samping, tapi terlihat panjang di atasnya. Bahkan saat ini, beberapa helai terjatuh di kening, terlihat sedikit berantakan tapi memberikan kesan seksi.
Suaranya dalam dan berat, ada sedikit serak yang Calista curigai hasil dari kegemarannya merokok. Namun, itu tidak menjadikannya menarik diri. Berbeda dengan setiap kali ia bertemu dengan pria lain yang memiliki kegemaran sama. Segala sesuatu tentang pria yang menatapnya dengan intens terkesan seksi.
“Hai.”
Sapaan itu menyadarkan Calista dari lamunan. Sambil menundukkan pandangan menyadari sudah terlalu lama menatap, ia menyelipkan rambut di belakang telinganya. Saat itulah ia menyadari kedekatan mereka berdua. Kaki jenjang pria yang terbungkus celana kain tersebut hanya berjarak beberapa centi darinya.
“Maaf, tadi bilang apa?”
“Shibari," ucap pria itu kembali sambil mengedikkan kepala ke arah panggung.
“Setengah jam lebih saya lihat kamu memandang mereka. Terlihat tertarik tapi juga bingung.”
Calista membentuk huruf O di bibirnya sambil menganggukkan kepala. Mengalihkan pandangan dan kembali menatap dua orang di atas panggung. Kini pipinya semakin memerah ketika menyadari apa yang saat ini terjadi. Dengan cepat ia menundukkan kepala, tak ingin siapa pun melihat rasa damba yang muncul di wajahnya.
“Pertama kali?”
Mendengar pertanyaan itu, ia kembali menoleh dan mengangguk. “Kelihatan banget, ya?” tanyanya bersamaan dengan pria itu mengulurkan tangan.
“Dio.”
Calista memandang tangan dan wajah Dio bergantian dengan pertanyaan di kepala. Dari semua perempuan, ia tidak percaya pria menarik dengan senyum menggoda itu ingin berkenalan dengannya. Selama ini ia tidak pernah merasa sebagai perempuan yang bisa menarik perhatian, tapi kini, ada seseorang ingin mengenalnya.
“Kenapa?” tanya Dio. “Wajahnya gitu banget?!”
“Kamu ... beneran ingin kenalan sama aku?!”
Dio mendekatkan kepala dan berbisik, “Jujur, saya ingin melakukan banyak hal selain kenalan sama kamu.”
Calista memundurkan kepala dan membelalakkan mata tidak percaya. Di dalam hati ia berkata, welcome to your first sex club, Isa.
Yuhuuu ... I'm back.
Kali ini aku bawa cerita 21+ yang InsyAllah publish sampai kelar di Wattpad.
Yang pengen baca duluan, bisa dolan ke KK ya guys.
Restart ini bagian dari seri mini novel. Ceritanya kurang lebih 20 bab, 35rb-an kata.
Untuk teman-teman yang udah baca Rayyan, maaf ya. Ceritanya memang enggak bakalan aku kelarin di wp. Karena ceritanya udah ada di KK, Playbook dan versi cetak.
Anyway ... Selamat membaca cerita baruku.
Semoga bisa mengobati kecewa teman-teman karena digantung Rayyan.
😁😁😁
Love, ya!
😘😘😘
Shofie
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top