2. Sojourn
Karena masih permulaan juga, jangan lupa vomments yaa supaya aku bisa semangat buat update cerita ini~ bisa vote sebelum baca atau pas kelar baca (ini jangan lupa yaa).
Terima kasih and happy reading!
Jakarta, Indonesia
November 2024
Setelah menyelesaikan agenda bermain golf, Ismail terpikir untuk mampir ke Plaza Senayan untuk membeli cheesecake dan chocolate cake. Akan tetapi, rencananya berubah begitu cepat setelah mendapat pesan dari sang papa, Khair, untuk mampir ke rumah. Khair meminta sang sulung datang demi menyantap semangkuk sop iga brenebon—kesukaannya.
Sayangnya, bukan sosok Khair Mananta yang sudah menantikannya di meja makan, melainkan sang adik, Ikram, yang sibuk meracik sop iga brenebon dengan condiments kesukaannya. Kini lelaki yang duduk di meja makan itu tengah mencicipi sedikit kuah dari mangkuknya sembari mengharapkan racikannya sudah sesuai dengan yang biasa disantap sang adik.
Terakhir Ismail ingat adiknya itu syuting di Kroasia untuk sebuah film romansa. Lelaki itu mengernyit heran saat melihat sang adik mengaduk kuah sop dengan antusias.
"Baru balik dari Kroasia?" tanya sang kakak.
"Ho oh. Setelah landing di Soeta, aku langsung ke sini." Sang adik menanggapi, lalu ia menyeruput kuah yang hangatnya terasa penuh di lidah. Raut wajah yang sangat menggambarkan bagaimana perasaan Ikram begitu indera perasanya merasakan makanan rumah. "Mas sendiri? Tumben main ke sini."
Ismail melipat tangan di depan dada dan memberikan sorot pandang tajam. "Sekadar info saja, Ikram Mananta, ini juga rumah papaku."
Respons Ismail membuat Ikram menggeleng heran. Sementara itu, seorang asisten rumah tangga berjalan perlahan mendekati Ismail. "Mas, sopnya mau disajikan sekarang atau nunggu Pak Khair pulang?" tanya asisten rumah tangga untuk memastikan.
"Boleh disiapkan sekarang, Mbak." Ismail merespons. Kemudian ia menarik kursi untuk duduk persis di hadapan sang adik. "Aku mau makan bareng bule Kroasia ini," goda Ismail sembari menatap adik yang fokus menaruh perhatian pada daging iga yang begitu empuk.
Tidak terima, Ikram memberikan tatapan pada sang kakak. "Aku di Kroasia hanya tiga minggu. Bukan setahun," protes Ikram.
Meskipun usia mereka beda tiga tahun, Ismail dan Ikram begitu dekat untuk disebut sebagai kakak adik. Bahkan saat Mama Gita dan kedua adik perempuan mereka, Karuna dan Kinara, masih tinggal di Mega Kuningan, Ismail dan Ikram sepakat untuk meninggalkan rumah dan tinggal jauh dari keluarga.
Sebenarnya ... tidak juga. Ikram masih tinggal di rumah papa yang lainnya yang berlokasi di Lebak Bulus sembari melanjutkan studi di Indonesia. Sedangkan Ismail memilih untuk pindah ke Brussels untuk melanjutkan studi dan tinggal bersama mantan istri kedua Khair, Imani.
Selain mereka yang begitu passionate dengan pekerjaan serta hidup, yang menjadi perhatian orang-orang sekitar adalah paras mereka yang begitu menarik. Semua karena gen blasteran Khair sangat mendominasi, sehingga Ismail dan Ikram dikenal sebagai kakak-adik yang rupawan.
Meskipun Ikram lebih photogenic dibandingkan Ismail.
Begitu Ismail mendapatkan sop iga brenebon dan nasi, ia langsung menambahkan condiments ke dalam sop tersebut. Tidak lupa dengan jeruk nipis sebanyak dua potong untuk menambah rasa selain sedikit kecap dan dua sendok teh sambal.
Ikram menoleh pada sang kakak. "Ngomong-ngomong, kayaknya aku telat ceritain ini, tapi akhir bulan kemarin juga aku interview sama Valerie Valverde untuk majalah—"
Mendengar nama yang sudah lama tidak ia dengar, Ismail menahan sendok dan garpu di kedua tangannya. Menahan diri dari memberikan raut wajah yang terlalu ekspresif atau penuh emosi. "Kok enggak cerita?" Ismail berujar lirih.
"Aku kira Mas Ismail sudah nonton wawancaranya?" gumam Ikram tanpa rasa bersalah. "We make it professional, jadi aku enggak cerita ke Mas sampai video wawancaranya rilis kemarin."
Jawaban sang adik masih bisa ia mengerti karena Ikram kerap menahan proyeknya hingga proyek tersebut sudah launch ke publik. Akan tetapi, dibandingkan bereaksi karena tidak diceritakan, lelaki itu jauh lebih merindukan sosok wanita yang sudah lama tidak memanggil namanya dengan penuh cinta.
Mendengar namanya saja membuat hati dan pikirannya diselimuti perasaan rindu.
"Mas Ismail masih ngobrol sama Valerie?"
Lelaki itu enggan untuk merespons pertanyaan sang adik. Ia fokus menaruh perhatian pada semangkuk sop iga brenebon yang disajikan dengan nasi hangat.
"Kalau enggak juga enggak apa-apa," ucap Ikram begitu sang kakak enggan untuk merespons. "Tapi, Mas Ismail kangen Valerie, enggak, sih?"
Kini pertanyaan sang adik jauh lebih spesifik. Ismail tertawa lembut, namun setelah itu ia memilih untuk menahan diri agar Ikram tidak melihat lalu menjadikan reaksinya sebagai bahan ejekan di kemudian hari.
Kangen banget.
"Kamu nanya seakan-akan aku habis putus cinta."
"Kalau melihat dari raut wajahmu, malah kamu terlihat stres kayak Papa."
"Kayak Papa?"
"Iya, Papa habis cerai dari Mama Imani kelihatan stres banget."
Mendengar dirinya mulai disamakan dengan Khair, Ismail malah menggeleng. Seakan-akan ucapan sang adik terlalu mengada-ada. "Kamu waktu itu masih baby." Ismail bergumam tanpa berpikir.
"Waktu itu umurku sebelas tahun, ya. Jadi aku bukan baby lagi." Ikram mengoreksi. Wajahnya sudah begitu merah. "Lagipula kakek yang bilang, kok."
Sang kakak hanya menggeleng heran. Ia menolehkan kepala ke arah di mana ia bisa menemukan asisten rumah tangga yang bekerja untuk papanya. "Mbaaaaak, minta jeruk nipisnya lagi," pinta Ismail begitu ia menemukan penampakan dari asisten rumah tangga.
Mendengar permintaan sang kakak, Ikram menggeleng heran. Ia ingat kalau terakhir Ismail sudah memeras jeruk nipis untuk sopnya. "Mas Ismail sudah pakai dua iris, loh?" Ikram berucap. Berniat untuk mengingatkan sang kakak.
"Akan aku jadikan empat."
⟢
"Kamu mau tidur di sini aja, Mas? Biar Papa minta Mbak buat menyiapkan kamarmu."
Suara Khair tidak mengejutkan sang sulung dari lelap. Akan tetapi, permintaan sang Papa membuat Ismail tidak dapat mengatakan tidak. Ia begitu lelah setelah makan dan memilih untuk terlelap di sofa kamar Khair.
Ismail langsung terbangun dari sofa. Masih setengah sadar untuk merespons Khair dan ucapannya. Hidung Ismail menangkap harum lilin aromaterapi dengan wangi garam laut dan daun min yang begitu samar. Khair akan membakarnya jika sang anak tertidur di kamarnya.
"Pa, kayaknya aku burnout," ucap Ismail. Nadanya begitu lembut, tetapi seisi pikirannya tengah mempertimbangkan ucapannya sendiri.
Sudah lama Ismail bekerja untuk Khair di Venetian Red. Bukan langsung memberikan Ismail bagian paling mudah, tetapi memberikan sang anak posisi staf untuk waktu singkat, kemudian menanjak ke posisi manajerial, hingga Khair berani memberikan sang sulung tanggung jawab besar melalui posisi di level senior. Semua tidak mustahil mengingat Khair merupakan direktur konglomerasi ritel Venetian Red.
Meskipun Khair berharap Ismail lebih bertanggung jawab, Ismail sudah lebih dulu menjadi anaknya sebelum menjadi pekerjanya di konglomerasi yang suatu hari akan menjadi milik Ismail.
"Libur aja." Khair merespons singkat. Irisnya menoleh pada anaknya yang menyandarkan tubuhnya pada sofa. "For your sake, ambil sabbatical. Kamu sudah lama bekerja untuk Papa."
Mendengar penuturan Khair, memang masuk akal dan ia bisa request cuti sabbatical kepada HR. Sayang, Ismail masih begitu khawatir dengan pekerjaannya yang ada saja setiap saat. Apalagi, tahun ini Ismail baru saja naik level jabatan. "Bagaimana dengan pekerjaanku?"
"Delegasikan pekerjaanmu," ucap Khair sembari menaikkan alisnya.
TBC
Published on August 14, 2026
Nas's notes: Ayo kita ketemu kakak adik lainnya, Ismail dan Ikram! Jadi di sini, bakal lebih banyak interaksi Ismail dan Ikram (dia anak tengah) dibandingkan dengan dua adik lainnya. Lagipula jarak usia Ismail dengan Ikram masih dekat.
Terima kasih sudah mampir & see you!
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top