𝙍𝙚𝙦𝙪𝙞𝙚𝙢

Aku memutuskan hidup pada sebuah bangunan klasik berumur lawas di mana orang-orang selalu meninggalkan pesan kepada 'tuhan' mereka atau mungkin memutuskan mengakui setiap dosa agar kelak diampuni saat akhirat menyambut. Mereka bersembah seiring mengepalkan tangan, altar megah menjadi bukti eksistensial mutlak kepada mereka yang menaruh kepercayaan. Atmosfer khas tidak pernah membuatku melupakan seberapa hebat tempat seperti ini dapat memberikan pengaruh besar, tidak terkecuali kepada diriku sendiri; seorang lelaki yang pernah mengecap hambar dari kekalahan, mendapatkan olokan menyebalkan melalui mulut sosok dewasa tanpa komitmen antara jalur hitam dan putih! Tetapi, terima kasih atas perkataan itu, aku mampu menemukan jalurku--- tidak sepertinya yang masih tersesat bahkan menghibur diri sendiri dengan rasa kepuasan personal. Mengotori apa yang seharusnya tak berkenan dinodai, jelas hal tersebut akan menjadi senjata makan tuan suatu saat nanti. Mungkin saja akhir itu sudah terjadi setelah mereka ikut pula mengecap kekalahan, selangkah lebih dekat menuju kemenangan sebenarnya. Tetapi, aku---kami---belum akan puas sampai berhasil membuat mereka menyadari dan tidak lagi merendahkan dengan cara sama.

Requiem!

Benar, inilah nyanyian untuk jiwa-jiwa tiada. Bahkan keberadaan benda yang melebihi sebuah grand piano muncul dengan megah guna mendukung keputusanku, jika mereka datang agar meninggalkan pesan atau mengakui dosa, aku di sini hadir untuk memberi pertunjukan berupa persembahan dan sumpah! Mungkin lelaki berumur 14 tahun bisa diremehkan karena masih harus bergantung, tetapi ketahuilah, waktu lelaki tersebut masih panjang guna melakukan perubahan. Kunci dari kejayaan, sosok yang akan memberi pengaruh lebih besar dibandingkan mereka yang akan menua lebih dahulu! Hal lama akan tertinggal dan tergantikan dengan hal baru; itulah kenyataan mutlak, waktu terus bergerak maju, maka ingatlah! Peraturan bisa saja diputar, tetapi dapat dimainkan oleh orang berbeda.

Seperti seorang dewa, akulah yang memakamkan, nyanyian persembahan ditujukan kepada mereka yang terpilih--- di mana jiwa seharusnya meninggalkan bumi, sosok dahulu tidak lagi menjadi bagian dari tayangan memalukan. Benar, aku akan memberi pertunjukan requiem kepada diriku sendiri! Hanya orang pengecut memberikan ketakutan terhadap kematian; oh, jangan membuatku tertawa! Kematian tidak pernah menyakitkan, kematian bukanlah selalu tentang batasan alam--- jika kau memutuskan merubah seperbagian dalam diri dari dalam raga sama, hal tersebut tidak jauh dari kata demikian. Inilah rasa tidak puas telah bergejolak melewati batasan, dibandingkan meninggalkan harapan melalui pesan pada kepalan tangan utuh, aku akan melakukan suatu hal lebih nyata dibandingkan mereka yang berdiam diri sembari memikirkan hal-hal tidak berguna jika tidak digerakkan. Sama hal seperti perkataan 'Uang tidak akan jatuh dari langit.', kau bisa saja mencapai tujuan yang tidak berbeda jauh; mendatangkan hal itu kepadamu, tetapi dengan cara berbeda! Aku tidak pernah ingin mendukung seseorang yang tak berusaha mencoba untuk menjadi lebih kuat, tetapi justru mengeluh dan terus mengeluh bahkan meratapi kelemahan di depan banyak orang. Diriku tidak ingin ikut terlihat memalukan!

Benar, ini adalah revolusi tidak berakhir sampai diriku tahu kapan untuk berhenti. Mainkanlah nada dari pertunjukkan opera dramatis! Perlihatkan sisi agresif sampai mereka tahu seberapa serius diriku melakukan hal ini, diriku akan bersumpah di depan altar megah di mana keberadaan salib menjadi saksi abadi; melihat puluhan kematian dari sosok serupa hanya untuk menyadari bahwa lelaki sepertiku justru melanggar kepercayaan berupa akhir damai pada dunia akhirat, biarkan puluhan mayat saling bertumpuk dan kuinjak tanpa rasa pedih bahkan simpatik. Memainkan pertunjukan ini berulang melalui reinkarnasi tanpa batas, sampai aku tahu diriku yang mana telah menunjukkan kekuatan dari identitas seorang Yamada Saburo!

Aku bersumpah.

Bahwa aku memberikan keseriusan mutlak.

Kehidupan adalah pertunjukan dan aku akan mewarnainya dengan caraku sendiri. Aku akan melempar kembali olokan tersebut, membuat masa lalu itu menjadi suatu hal memalukan bagi sang pemilik mulut tak bermakna. Pertunjukan ini merupakan salah satu buktiku, permainan revolusi yang tidak bisa dilakukan oleh sembarangan orang, terutama bagi mereka yang tak mampu berhadapan dengan risiko atau justru sudah nyaman pada era belas kasihan. Jika kekuatan mereka tidak diberikan secara sungguh-sungguh, maka akhir revolusi ini justru akan memenggal belas kasihan tidak diperlukan; serahkan seluruh kekuatan itu dan hal tersebut akan terus membuatku menanjak naik. Aku adalah pemilik tubuhku, dan jiwa-jiwa masa lampau akan kuantar menuju alam sana untuk beristirahat selamanya.

Requiem!

Requiem!

Requiem!

Aku akan terus maju!

Darah dan daging yang melekat pada tulangku akan dipandu oleh jiwa baru berisi tentang keberanian berupa kekuatan dari perubahan amarah. Bunga-bunga ini akan kuberikan kepada diriku yang dimakamkan; walaupun akan layu bahkan menghilang, jiwa-jiwa tersebut tidak akan kulupakan sama sekali. Sampai di mana diriku tidak lagi mengekori dan dapat memerlihatkan kesungguhanku dalam satu individual kokoh, revolusi akan selalu merubah eranya tanpa berhenti. Aku tidak akan pernah takut dengan kematian, benar, kekuatan adalah perjuangan--- sekalipun lawan adalah dirimu sendiri! Pembuktian merupakan kunci kebenaran, sekali lagi, kehidupan adalah pertunjukan, penentuan bagaimana orang-orang memandang selalu ditentukan oleh dirimu sendiri.

Benar,

inilah jawabanku!

Jawaban dari bagaimana caraku untuk menjadi lebih kuat.

Benar,

aku adalah tuhan-ku.

Aku akan memenuhi harapanku seorang diri.

Benar,

aku yang akan memakamkan diriku sendiri.

Lantas orang-orang yang telah meremehkanku tidak akan pernah mengerti mengenai sandiwara mewah seperti pertunjukan opera tentang persembahan melalui nyanyian untuk orang-orang mati.

'Ya, jika diriku sudah berhasil, requiem ini akan kupersembahkan khusus kepadamu, Konyol.'

End.

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top