chapter 12

Aku tahu, kau andal dalam menyembunyikan luka. Yang aku tidak tahu, seberapa dalam kau menyembunyikannya.

° Reportalove °

"Aksaaa!!!"

Imel berteriak tepat di telinga Aksa. Kemudian menjauh, menghindari amukan penyanyi tampan itu yang sebentar lagi akan meledak karena kaget.

"Apaan si?!" responnya lambat, ternyata Aksa melamun sejak tadi. Laki-laki itu masih bersikap tenang seperti tak pernah ada yang membuatnya kesal. Bukan Aksa sekali.

"Lagian, dari tadi kamu dipanggil diem aja. Aku cuma takut kamu kesambet penghuni sini."

Tawa Aksa menyeruak. Ia adalah satu dari sekian manusia di bumi yang tidak percaya oleh hantu. "Gue ngga percaya sama setan."

Imel merotasikan matanya sebagai tanda bahwa perempuan itu malas menanggapi ocehan laki-laki yang sejak tadi pagi bersamanya itu. Ia berjalan mendahului Aksa sambil melipat tangannya. Aksa berlari kecil untuk menyamai langkah Imel dan berdiri bersisian dengannya.

"Abis ini kita mau ke mana?" Imel mengerutkan kening. Mendengar pertanyaan yang diloloskan dari bibir Aksa.

"Mau ke mana apanya? Ya mau ke rumah kamulah! Saya banyak kerjaan, memangnya saya ada waktu buat ngurusin 'bayi' kaya kamu?" Langkah Imel terhenti manakala Aksa berdiri tepat di depan Imel dan menghadang jalan perempuan itu.

"Gue mau buat lagu, lo temenin gue cari inspirasi." Aksa beralasan. Ia pikir Imel butuh hiburan setelah mendengar hal tadi.

Setelahnya mereka berjalan menuju mobil Aksa dan meninggalkan kantor redaksi. Selama perjalanan, ada-ada saja topik yang sengaja Aksa angkat untuk bahan obrolan. Berharap jika Imel bisa segera teralihkan dari hal-hal menyebalkan tadi. Walau harus diakui bahkan obrolan yang Aksa ambil adalah hal receh sekalipun.

"Ini nggak kejauhan, Sa?" tanya Imel dengan alis mengerut ketika mobil Aksa masuk ke parkiran mall yang ada di daerah Tangerang. Aksa diam, laki-laki itu hanya tersenyum dan meminta Imel turun lewat isyarat tubuh tanpa berbicara.

"Saya baru denger kalo orang cari inspirasi lagu di mall." Dengan gaya menyindir Imel berjalan mendahului Aksa. Membuat Aksa mengulas senyum akan tingkah yang menurutnya menggemaskan itu.

Aksa memang sudah gila. Bahkan ia bisa tersenyum walau perkataan Imel sederhana dan tidak lucu sama sekali.

Kini mereka berdua tengah berada di satu buah restoran di mall tersebut. Setelah mengantar berkeliling tidak jelas Aksa memutuskan untuk mengajak Imel mengisi perut.

"Udah ngga usah bete gitu mukanya." Aksa menyeruput es cappucinno yang tadi ia pesan.

Jadi, saat tadi Imel mengajak Aksa untuk pulang karena hari sudah sore. Aksa berpura-pura tidak mendengar ucapan Imel, dan dengan sepihak menarik lengan perempuan itu ke dalam restoran. Bukan karena apa. Tapi, Imel pikir hari ini tidak berjalan dengan lancar. Imel masih belum mendapat informasi apa-apa tentang hubungan Aksa dengan lelaki misterius yang diberitakan sedang dekat dengan Aksa.

Kayanya gue harus cari cara lain untuk korek informasi dari Aksa.

"Mel!"

Sentakan Aksa membuyarkan lamunan Imel. Mata bulatnya mengerjap beberapa kali sembari menatap Aksa.

"Ada apa?"

"Lo ngambek?" tanya Aksa, "Yaudah gue minta maaf, abis ini kita langsung balik deh."

"Ngga, kok."

Imel berdehem demi meluruhkan ketegangan yang secara tidak sadar tercipta di antara mereka. "Aksa, saya boleh tanya sesuatu sama kamu?"

"Tanya apa? Jangan susah-susah, gue belom belajar," jawab Aksa enteng. Tangannya masih sibuk mengaduk cappucino.

"Soal inspirasi kamu dalam menulis lagu, apa keterkaitan perasaan kamu mempengaruhi lagu kamu?"

Aksa mengangguk. Pertanyaan Imel tidak ada yang salah. Biasanya Aksa memang selalu mencari inspirasi dari pengalamannya membaca buku. Bukankah itu termasuk dengan perasaan? Tapi rupanya Imel menangkapnya dengan hal berbeda.

"Tapi selama ini saya nggak pernah dengar berita kamu menjalin hubungan dengan orang lain, apa kamu merahasiakan identitasnya?" Imel mengaktifkan mode record pada ponselnya. "Kamu ngga takut rumor kamu tersebar semakin luas?"

Tawa Aksa menyeruak. Namun Imel bisa merasakan kekosongan pada suara Aksa. "Persetan dengan apa pendapat orang. Gue ngga peduli sama pendapat orang lagi sekarang. Semua orang cuma bisa menghina tanpa tahu apa yang gue rasain."

Imel tak menyanggah atau menambah pertanyaan lagi. Aksa menyunggingkan senyum. Tatapannya terarah pada langit-langit restoran yang berbentuk pola berwarna putih–ungu.

"Cinta buat gue itu simple, cukup gue bisa jadi diri gue sendiri, itu udah cukup buat gue. Kaya yang gue rasain saat ini."

Rentetan kalimat yang Aksa lontarkan barusan menjurus pada perempuan yang sedang duduk di depannya saat ini. Namun tidak bagi Imel, ia beranggapan laki-laki yang sedang dekat dengan Aksa, yang ia lihat sosoknya di ruang wardrobe tadi siang.  Di mana dengan tidak sengaja Imel melihat dan mengabadikan posisi Aksa yang tengah memeluk laki-laki misterius itu.

Imel jadi merasa bersalah pada Aksa. Memang benar hubungan Aksa dengan laki-laki itu terlarang. Tapi tidak seharusnya mereka semua berpikiran jelek tentang Aksa. Tapi, Aksa tetap salah. Hubungan itu memang salah. Imel jadi bingung harus bagaimana.

Tapi, setidaknya dari percakapan itu Imel tahu. Seberapa sakit Aksa dan pasangannya menerima hujatan yang dilayangkan oleh netizen.

Imel kehilangan kata-kata. Satu-satunya saat ini yang memutar di kepalanya saat ini adalah pernyataan Aksa yang membenarkan perihal cinta yang menurutnya salah. Entahlah, Imel juga pernah salah mencintai seseorang. Jadi, ia tahu betul bagaimana perasaan Aksa saat ini.

****

"Aksa, lo udah selesai ambil gambar?"

"Udah bang, kenapa?" Aksa yang tengah menyugar rambutnya menoleh ke arah laki-laki berusia sekitaran 28 tahun. Keningnya mengerut bingung manakala melihat mata laki-laki itu merah bak mata saringgan milik Sasuke  di serial TV Naruto.

"Mata lo kenapa bang?"

"Kena hair spray tadi. Anjirlah, perih banget. Makanya gue ke sini mau cari obat mata. Katanya ada di laci." Laki-laki itu masih setia mengucek matanya.

"Jangan di kucek begitu, Bang. Nanti malah iritasi."

Dengan gerakkan cepat Aksa mencari obat tetes mata pada laci di depannya. "Lu mending duduk, Bang. Gue bantu tetesin sini."

Mendengar titah Aksa. Laki-laki berambut sedikit cepak dengan tubuh atletis yang terbungkus kaos putih itu langsung mendudukkan dirinya pada sofa merah yang ada di dekatnya. Sementara Aksa bersiap dengan botol obat mata yang ada di tangan mendekatkan diri pada laki-laki yang 3 tahun lebih tua darinya.

Posisi mereka bisa dibilang intim. Jika dilihat dari jarak jauh, Aksa yang tengah mencondongkan diri pada laki-laki itu terlihat seperti ingin menciumnya, di mana Aksa berada di jarak yang cukup dekat dengan posisi menunduk ke bawah sementara laki-laki itu duduk di sofa seolah menerima apapun yang sedang dilakukan Aksa.

Aksa tidak tahu, sejak Okky pamit. Imel terus memerhatikan gerak-geriknya dengan beberapa spekulasi yang tidak akan pernah Aksa bayangkan.

Imel menggelengkan kepala beberapa kali. Menurutnya, jika foto yang siang tadi ia ambil jatuh ke tangan Henry ataupun Rinto. Mungkin karir Aksa benar-benar akan hancur.

Tapi, bukankah berita itu adalah satu kebenaran yang selama ini harus ia ungkap? Ahh... Imel jadi bimbang sendiri memikirkan hal itu.


Perhatian! Bab kali ini banyak menggunakan kata kasar, buat dekadek jangan ditiru mulutnya Aksa. Dia kalo ngomong emang suka sembarangan ...

Bab kali ini tak de glosarium, karena semua kata kayanya kalian ngerti, yee kan??

Salam sayang
Nurand

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top