Prolog

Agustus selalu tiba di rumah itu tanpa perlu diundang.

Ia datang lewat gerbang besi yang terbuka menyambut kedatangannya. Konvoi mobil hitam merayap, lalu berhenti perlahan di depan halaman utama, membawa sosok-sosok itu beserta ketukan sepatu mahal di atas lantai marmer dan tawa khasnya. Ia hadir bersama mawar merah tua, dipetik sejak subuh untuk menghias vas emas, di bawah kilau kandil kristal mengkilap, berbalut aroma lilin dan anggur, membaur dengan parfum para tamu.

Bingkai jendela lantai dua mengurung siluet wanita, mematung memaku pandang ke arah halaman. Kain gaun sebiru malam jatuh lurus memeluk mata kaki. Gulungan rambut gelap terikat longgar di bawah naungan fascinator sewarna salju. Kilau cahaya meredup membelai permukaan kulit pucat, sementara perairan lepas dalam netranya memandang kosong.

Para tamu menyebutnya putri bungsu keluarga Lenoir. Cucu seorang presiden terdahulu. Pemain cello yang sedang naik daun. Ia sendiri hanya menyebut dirinya Amelie, dan malam ini, nama itu sudah cukup.

Seseorang bicara dari belakangnya. "Mereka sudah datang."

Amelie tidak menoleh. Ia tahu langkah yang tak terburu dan tegas itu. Bayangan seorang pria jatuh menimpa lantai, bersanding sejajar dengan siluetnya. Pria itu berdiri dekat mengundang sentuhan, namun sengaja menyisakan jarak demi memalsukan hubungan di mata khalayak.

"Berapa banyak?"

"Empat puluh tujuh." Leon berhenti di sampingnya. Cahaya jingga jatuh di atas rambut pirangnya, dan iris kelabu itu menyisir halaman dengan seksama. "Tiga menteri, dua duta besar, sisanya orang-orang yang ingin dianggap penting. Tujuh dari mereka sudah bertanya kepada pelayan kenapa kau belum muncul juga."

"Aku masih harus mengganti pakaianku. Kau menghafal mereka?"

"Hanya wajah dan namanya. Pria dari Kyoto juga sudah tiba," lanjutnya. "Dia tinggal di salah satu apartemennya yang berada di lantai lima, tidak jauh dari sini. Sejak turun dari pesawat, ia menyimpan sebuah kotak beludru di dalam jasnya."

"Aku tidak bertanya tentang dia."

"Aku tahu." Suara Leon terdengar merendah, nyaris berbisik di dekat telinganya. "Tapi aku harus tahu segalanya tentang setiap pria yang berani datang kemari untuk memintamu."

Senyum tipis melintas di bibir Amelie, dan pergi sebelum Leon sempat menangkap kecantikannya. Di kaca jendela, bayangan mereka bertumpuk samar, menciptakan ilusi dua bahu yang saling bersentuhan.

"Dimana kau akan bertugas malam ini?"

"Di tempat aku bisa melihatmu."

"Dan kalau aku tidak ingin dilihat?"

Leon akhirnya bergerak. Pria itu bergeser merapat, memaku pandang pada wajah Amelie terlampau lama, dengan sorot yang tak pernah sejak mereka masih berusia belasan.

"Aku tetap akan berjaga. Aku sudah mengawasimu sejak kau berumur tiga belas, Nona Amelie, dan aku tidak akan berhenti melakukannya. Sampai kapan pun."

Mobil terakhir membelah jalan masuk sebelum berhenti di tengah pekarangan. Seorang pria berambut gelap meninggalkan kemudi, membiarkan kancing kemeja terbuka memamerkan dada sambil mengapit sebatang cerutu di sela bibir. Senyum miring bersanding bersama kepulan asap tipis, dan jika ditelusuri lebih dalam, figurnya serupa wanita di lantai dua.

Si pria berambut hitam mendongak, mengangkat dua jari ke pelipis lantas memberi hormat mengejek.

Amelie tidak memberi respon apa pun. Di sampingnya, bahu Leon mengeras. Tangan kanannya bergeser perlahan ke sisi tubuh, ke tempat yang Amelie tahu menyimpan sebuah senapan di baliknya.

"Julien pulang," kata Leon memperingati. Nada bicaranya boleh saja datar, tetapi mata itu tak lepas dari tubuh yang baru menghilang di balik pintu utama.

"Acara ini cukup penting hingga bisa membuatnya kembali."

"Aku akan mengirim Timku untuk mengawasinya."

Kepalanya menggeleng pelan. "Tidak perlu."

"Kau mau aku berjaga lebih dekat malam ini?"

Telapak tangan wanita itu diletakkan di ujung kaca, membelai refleksi Leon yang tercipta di sana.

"Tidak," jawab Amelie lagi. "Biarkan malam ini berjalan sebagaimana mestinya."

Balasan tak kunjung datang dari Leon. Ia mengambil tangan Amelie dari kaca jendela dan menggenggam jemari dingin itu, menyalurkan kehangatan, sebelum kembali melepas tautan. Ketika Leon berjalan ke arah pintu, Amelie tahu ia tidak akan benar-benar pergi.

Waktu merayap menelan malam. Cahaya lampu berpendar menyibak gelap, membiarkan alunan musik melarikan diri menembus jendela terbuka, menemani mawar di sepanjang jalan setapak merekah semerah darah. Para tamu mengangkat gelas, bersulang merayakan kemakmuran, mengagungkan sekutu, memuja nama besar keluarga. Tidak satu pun peduli pada nestapa di bawah tumit sepatu, luput pula menyadari kehadiran sepasang mata gelap di balik pohon. Iris itu mengunci tubuh sang wanita, merekam lekat setiap senyum serta tangan yang terulur padanya.

Leon menghafal semuanya. Ia selalu menghafal semuanya.

Sebab di rumah keluarga Lenoir, segala keindahan serta kebusukan selalu mengakar pada satu bulan yang tak pernah berganti nama.

Agustus.

***

Tenang, tidak banyak bicara, dan sulit ditebak, Amelie Sol Lenoir adalah pemain cello berusia 27 tahun dari keluarga terkaya di Eropa. Wanita setinggi 178 cm itu nyaris tak pernah merasakan apapun, entah sedih, takut, atau bersalah. Perasaan yang ia miliki hanya satu, yaitu ketergantungan begitu besar terhadap pengawal pribadinya sendiri.

Kuat, cermat, penuh perhitungan, dan posesif. Begitulah Leonardo, sniper berdarah Italia-Rusia berusia 32 tahun yang bertugas mengawal Amelie. Pria setinggi 190 cm itu bisa bersikap sopan kepada siapa saja, kecuali mereka yang berani menyentuh miliknya.

Repeating August
August Never Ends

Elchotye
2026

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top