Repeat

Berdiri sembari merenggangkan tubuh, aku melihat kegiatan yang juga terjadi kemarin; para warga berolahraga dan saling menyapa. Senyum yang merekah dan nada suara yang ramah. Tak ada yang bercerita lama-lama, semuanya segera kembali berolahraga seakan-akan tak ada niatan untuk beristirahat. Ketika jam taman menunjukkan angka tujuh pagi, orang-orang yang sebelumnya asyik berolahraga segera berlalu pergi dari taman—tak terkecuali aku.

Tak menunda waktu aku segera membersihkan badan, rasa gerah dan lengket terasa di seluruh tubuh. Samar, telingaku mendengar suara jam yang berdentang, dengan segera aku keluar dari kamar mandi dan bersiap-siap. Aku hampir saja menelan ludah saat melihat para anak muda seusiaku sudah berjalan dengan rapi ke arah tempat menunggu bus. Jadi, dengan secepat kilat aku keluar dari rumah dan sedikit berlari mengejar ketertinggalan.

Rasa syukur melingkupi saat aku sempat memasuki bus. Sembari melihat sekeliling, kakiku segera berjalan ke arah sebuah bangku kosong dengan gadis di sebelahnya.

"Hampir terlambat?" tanyanya saat aku sudah duduk di bangku dengan nyaman.

Aku mengangguk, sedikit menyisir rambutku yang sedikit kusut. "Yah, begitulah," jawabku disertai tawa kecil.

Berbeda denganku yang tertawa, gadis itu menghela napasnya. Sembari menggeleng pelan, dia menatap mataku lama. "Dengar, aku tak ingin kamu ditangkap oleh para Tritarian, ya. Kamu tau kan apa yang akan terjadi kalau tertangkap oleh mereka?" Mendengar ucapannya aku tertegun.

Tritarian, nama yang tak ingin kamu dengar apalagi temui. Mereka merupakan pasukan khusus untuk mendisiplinkan para warga yang melanggar peraturan. Dengan wajah datarnya, mereka membawa pistol listrik dan menembakkannya kepada para pelanggar, mau mereka melawan ketika ditangkap ataupun tidak.

Bagai momok, mereka kerap digunakan sebagai ancaman bagi anak-anak kecil agar melakukan setiap hal sesuai jadwal yang sudah diberikan oleh jam besar. Sebuah cerita yang bahkan orang dewasa pun akan ketakutan ketika mendengarnya, karena beberapa tahun lalu banyak korban jiwa yang berjatuhan hanya karena tak mengikuti jadwal. Jam yang tiba-tiba muncul dan memerintah seluruh warga untuk mengikuti jadwal yang diberikan oleh jam, hidup terjadwal dan berurutan. Begitulah para penduduk Frindan hidup.

Tak terasa, bus berhenti di depan pintu gerbang sekolah. Tanpa banyak basa-basi seluruh murid mulai keluar dari kendaraan panjang berwarna biru tersebut. Dengan rapi, satu demi satu pelajar berjalan melewati gerbang dengan nama sekolah yang terpampang jelas di atasnya. Meski banyak suara yang berasal dari sekitar, para siswa itu tak melewati garis yang berada sisi kanan kiri jalan. Selain itu tak ada kejadian saling menjahili, berbeda dengan beberapa tahun yang lalu. Aku memandang kegiatan itu lama, rasanya banyak hal yang membuatku merasa aman dan cemas di saat bersamaan.

Waktu yang berlalu dengan terjadwal terasa seperti berjalan selama bertahun-tahun. Entah sudah berapa lama aku harus menahan kantuk agar tak ditegur dan terancam bertemu pasukan Tritarian. Pada akhirnya, ketika cahaya jingga mulai memasuki kaca jendela pelajaran berakhir dengan damai.

"Hei, mau ke toko buku?" tanyaku pada gadis yang duduk di bangku bus pagi hari tadi. Gadis itu melirik jam tangannya sekilas, sebelum menggeleng.

"Ah, maaf tampaknya tak bisa. Kamu tahu sendiri jam malam dimulai ketika angka enam, sedangkan sekarang sudah jam lima, karena rumahku jauh aku tak yakin bisa pulang tepat waktu," jawaban gadis itu membuatku terdiam.

"Ah yah, kamu benar. Kalau begitu lain kali saja deh, Rin." Pada ucapanku Rin mengangguk, gadis itu segera membereskan isi tasnya.

"Ada baiknya kamu menunda juga pergi ke toko buku, jaga-jaga jika kamu lupa waktu," ucap gadis itu setelahnya. Aku hanya diam, tak berniat untuk sekadar mengiyakan. Kami berpisah tak lama setelah itu, akan tetapi, bukannya langsung pulang kakiku berjalan ke arah toko buku langganan. Ada satu buku yang kuincar sejak lama, dan aku sudah tak sabar ingin membacanya.

"Siang tadi, terjadi tindakan terorisme yang dilakukan oleh orang-orang yang menjuluki dirinya 'The Breaker'. Mereka berusaha menghancurkan jam besar yang berada di pusat kota. Beruntung, tindakan terorisme tersebut dapat segera ditangani oleh pihak berwajib."

Suara televisi yang terdengar dari kaca toko elektronik membuatku terdiam sejenak. The Breaker, organisasi teroris yang sudah meresahkan penduduk sejak beberapa bulan yang lalu. Mereka kerap kali menimbulkan kekacauan di setiap tempat. Meski tak membahayakan penduduk, tindakan mereka yang melanggar peraturan secara bersamaan dan usaha untuk merusak jam jadwal membuat rata-rata warga resah.

Pasukan Tritarian sudah menghimbau para warga untuk tetap tenang dan segera melaporkan jika melihat seseorang yang bertingkah mencurigakan, tetapi rasa cemas masih melingkupi hampir seluruh warga Frindan. Ketika jam menunjukkan pukul lima lewat dua puluh menit aku berdiri di depan toko buku. Sejujurnya, rasa ragu menghampiri. Meski rumahku tak jauh dari toko buku ini apakah aku bisa pulang ke rumah dengan cepat? Namun, pendirianku goyah saat melihat buku incaran yang terpajang di kaca toko.

Yah, hanya melihat-lihat sebentar dan segera pulang tak akan membuatku terlambat, kan?

Pada akhirnya, pemikiranku salah besar. Aku hampir melewati batas di luar rumah dan sedang berpacu dengan waktu agar sampai dengan cepat ke rumah. Rasa ngeri menghampiri saat mataku melihat jam tangan. Hanya tersisa waktu tiga menit lagi, dan jarakku dengan rumah masih jauh. Berjalan cepat yang semakin lama terlihat berlari, aku hampir saja mencium semen jika tak ada seseorang yang menarikku ke arah gang sempit. Bersamaan dengan tarikan itu, suara besar jam jadwal berdentang, menandakan sudah waktunya jam malam diterapkan.

Mendengar suara itu serasa ada air dingin yang menyiram seluruh tubuh. Aku membeku seketika, rasa takut dan cemas melingkupi diri. Namun, sebuah goncangan di arah bahu membuatku tersadar dari keterkejutan.

"Kau tak apa?" Suara berat itu membuatku kembali terdiam. Iris mata sewarna langit siang hari dan helai sewarna jelaga. Pemuda yang ternyata ialah orang yang menarikku sebelumnya memandang lama.

"A-aku tak apa," jawabku terbata. Rasa malu kemudian menguasai saat teringat posisi kami yang cukup dekat. Merasakan hal yang sama, pemuda itu melepaskan genggamannya di bahuku.

"Ah, maaf," ucapnya. Mendengar permintaan maaf itu aku hanya menggeleng.

Hening yang menyergap membuatku kembali tersadar dengan situasi yang sedang menimpa, dengan rasa cemas aku melihat ke jalan di luar lorong sempit itu lama.

"Hm, biar aku tebak, kau tak bisa pulang?" Suara pemuda itu kembali terdengar. Aku menoleh ke arahnya, ucapannya benar, aku tak bisa pulang sekarang.

"Ya, kamu benar. Aku tak ingin ditangkap oleh para Tritarian," jawabku kemudian. Mata yang panas membuatku merasa lemah, bisa-bisanya aku hendak menangis di tempat semacam ini.

"Kalau begitu, kau ikut aku saja." Tanpa banyak bicara pemuda itu membawaku semakin masuk ke dalam lorong gelap, aku hanya bisa mengikutinya dalam diam, lagipula tak mungkin aku pulang sekarang dan rela ditangkap oleh para Tritarian.

Lama berjalan kami sampai di depan pintu berukuran besar. Pemuda itu mengetuk kosen yang terbuat dari kayu usang beberapa kali. Tak lama, pintu terbuka dan menampilkan seorang wanita berperawakan tinggi dengan apron yang melingkar di pinggangnya.

"Ah, Noah. Kau sudah sampai?" ucapnya sembari melirik ke arahku. Noah sendiri hanya mengangguk, dan dalam sekejap kami masuk ke dalam ruangan di balik pintu.

Ada banyak beberapa orang di dalam sana, sedang berdiri sembari melingkari sesuatu yang terbentang di atas meja. Atensi mereka teralihkan pada kami, membuat aku tanpa sadar mundur selangkah di belakang Noah.

"Siapa orang di belakangmu?" tanya salah satu dari mereka dengan waspada. Merasa hal yang tak enak, aku semakin membuat jarak, sedangkan Noah menoleh ke arahku sebelum memandang para muda-mudi yang berada di hadapannya.

"Dia? Orang yang akan membantu kita, mungkin?" ucapnya dengan keraguan di akhir ucapan. Aku sendiri melihat Noah dengan tak percaya. Apa maksudnya ucapannya?

Namun, belum sempat aku bertanya para muda-mudi lainnya menuntut penjelasan dari Noah. Pemuda itu hanya tersenyum saja, kemudian menoleh ke arahku.

"Aku akan bertanya ini sekali, apa kamu ingin melakukan revolusi bersama kami?" Pertanyaannya membuatku terdiam. Revolusi? Apa maksudnya, apa yang perlu kami ubah?

Seakan mengetahui perasaan anehku, Noah kembali membuka suara. "Dulu, kakakmu masuk ke dalam penjara pendisiplinan, kan?" Ucapannya membuatku tertegun. Kenangan yang tak ingin aku ingat kembali menyerang.

Kakak, orang yang selalu bersamaku sejak kecil. Kami harus berpisah saat dirinya tertangkap melewati jam malam—sama sepertiku saat ini. Namun, bukannya aku menjawab pandanganku malah menatap Noah tajam.

"Siapa kamu?" Hanya kata itu yang keluar dari mulutku. Mendengar pertanyaanku, Noah hanya tersenyum.

****

Bisa-bisanya aku berada di sini. Penyesalan yang hadir setelah keputusan membuatku terdiam lama. Kupandang pakaian yang berada di depanku. Celana pendek dengan baju lengan panjang. Yah, setidaknya baju ini lebih baik dibandingkan seragamku yang sudah bau keringat. Dengan pemikiran itu aku mengganti pakaian.

Sekilas kejadian sebelumnya kembali hinggap ke ingatanku. Bisa-bisanya aku mengiyakan ajakan Noah setelah mendengar penjelasan pemuda itu. Hanya karena sebuah janji yang membuat hati nuraniku tersentil—sebuah kesempatan untuk bisa bersama dengan kakak kembali.

Yah, apa salahnya mencobanya, menghancurkan jam jadwal yang sebenarnya sudah membuatku lelah.

****

Rencana pasukan Noah tak susah, mereka hanya akan menyamar sebagai warga biasa, dan diam-diam menyusup ke dalam jam melalui jalan rahasia yang sudah mereka siapkan selama beberapa bulan. Beruntungnya besok adalah jadwal penjaga jam lebih sedikit dibandingkan hari lainnya. Sebuah kebetulan yang sebenarnya membuatku merasakan hal perasaan buruk, tetapi aku hanya diam saja dan membiarkannya berlalu.

Pembicaraan rencana itu kemudian berakhir, dan setelah menghabiskan berjam-jam tak bisa tidur, sinar matahari masuk ke kamar yang disediakan untukku. Kejadian kemudian berlangsung dengan cepat, rencana yang berjalan lancar, kami bisa masuk ke dalam jam jadwal dengan cepat. Tak menunggu lama, Noah dan yang lainnya menaiki tangga satu demi satu. Rasa cemas melingkupiku dan saat sebuah teriakan terdengar dari arah bawah, duniaku serasa terbalik.

****

Memandang tak percaya, aku melihat kegiatan yang sama persis seperti dua hari lalu. Masih merasa tak percaya, kubuka kunci layar ponsel, melihat tanggal yang tertera di tampilannya. Tanggal yang sama seperti dua hari yang lalu, apa maksudnya ini?

End

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top