Rewind

Tebak apa yang terjadi setelah mereka sampai di pantai? Tentu saja para lelaki sangat antusias untuk segera menjeburkan diri mereka kedalam dinginnya air laut.

Sekitar duapuluh menit yang lalu, mereka memutuskan untuk berangkat ke pantai yang dikatakan Diaz dan apa yang dikatakannya benar adanya. Pantai ini sangat sepi hanya ada sekitar lima orang disana. Pantai ini cukup kecil, namun pemandangan yang infinity tersuguhkan di depan mata.

Selagi para lelaki berenang di pantai, kami bertiga memutuskan untuk duduk dibawah pohon kelapa memanjakan mata dengan keindahan di depan sana. Liliana menggunakan dress pantai tanpa lengan dengan kacamata hitam dan topi pandora dan duduk diatas handuk pantai drngan santainya sambil membaca buku penulis favoritnya.

"Gak capek apa kak baca terus? Hampir setengah jam duduk kak Anna cuma baca buku aja. Gak pengen foto-foto gitu?"

"Enggak."

"Kenapa?"

"Karena setiap kali aku foto di tempat yang aku pikir indah, akan berakhir dengan aku menghapus foto itu. Jadi sejak lulus SMA aku mutusin buat capture setiap tempat yang aku kunjungi dengan mata dan ingatan aku. Buat apa capek-capek ambil foto kalo pada akhirnya dihapus juga?"

"Iya juga sih. Aku juga gitu. Tiap beli hape baru foto-foto lama aku hapusin. Pengen kayak renew semuanya. Tapi udah aku pindah ke hardisk sih kebanyakan."

Liliana mengangkat bahu tidak tertarik dengan apa yang dikatakan Elia. Ia tidak membenci Elia, tapi entah kenapa setiap wanita itu mendekatinya ia seakan harus membangun dinding setinggi mungkin untuk menghalangi wanita itu datang kedekatnya.

Liliana menurunkan bukunya ketika melihat semua lelaki kembali dengan tubuh yang basah karena air laut. Mereka datang lalu mengambil handuk dan pergi lagi menuju pemandian umum yang ada disana.

Sambil menunggu semua kembali, ia memutuskan untuk membuka kotak piknik yang dibawanya. Membuka setiap makanan yang dibawa dibantu oleh Madi dan Elia. Galih yang lebih dulu sampai disana langsung mengambil tempat dan mengambil tahu goreng yang ada disana.

"Gimana air laut?"

"Asin lah El, masih nanya lo."

"Maksudnya seger apa bikin gatel gitu."

"Pertanyaan lo apa banget. Mana ada air laut bikin gatel yang ada bikin seger. Apalagi udah sore gini. Lumayan dingin. Kenapa gak nyebur aja sih tadi?" jawab Galih seadanya sambil tetap memakan tahu.

"Ogah basah-basahan."

"Gue gak percaya."

"Serah lo! Gue gak nuntut lo buat percaya."

Tak lama kemudian, Danang dan Diaz kembali dan segera mengambil tempat juga. Mereka menikmati senja dengan sesekali bergurau. Ketika sudah cukup gelap, mereka memutuskan untuk kembali ke vila Diaz.

Limabelas menit perjalanan, mereka sampai dan semua orang langsung memasuki kamar masing-masing. Mereka segera membersihkan diri sebelum mencari restoran untuk makan malam.

Setelah membersihkan diri, lagi, karena air pantai sangat toxic, menurut Liliana, orang yang membuat mereka mandi lagi. Mereka semua keluar dan kembali berdebat tentang diamana harusnya mereka makan.

"Jadi kemana nih makan malamnya?"

"Terserah gue mah. Ngikut aja. Cewek-cewek tuh biasanya ribet kalo makan."

"Pizza aja deh gimana? PHD?"

"Cuma pizza doang? Kenapa gak keluar aja sih?"

"Mager gue. Kalo lo mau keluar ya keluar aja," kata Elia.

"Yaudah siapa yang mau keluar?"

Melihat tidak ada yang mengacungkan tangan membuat Galih mendengus kesal. Ia menjatuhkan diri di sofa dan memainkan hapenya.

"Yaudah gue aja yang pesen PHD."

Semua setuju. "Eh gimana kalo buat api unggun? Sepi deh daerah sini kayaknya. Gak papa kan kalo kita buat api unggun? Gimana Yas?" tanya Galih.

"Boleh. Biar gue ambil kayu,"ujar Diaz dan semua mengangguk.

Dengan segera Diaz menuju belakang rumah tersebut. Melihat itu Liliana dengan sigap langsung berdiri.

"Gue bantu Diaz aja deh."

"Bantu apaan orang dia cuma mau ambil kayu bakar doang," sewot Galih.

Liliana memutar bola matanya dan tetap berdiri dan mengikuti Diaz tanpa menjawab ocehan Galih.

"Ngapain kesini?" tanya Diaz begitu melihat Liliana ada di belakangnya.

"Mau bantuin bawa kayu."

"Aku bisa sendiri."

"Aku disini numpang, masa gak bantuin tuan rumah?"

Diaz terdiam beberapa saat. "Oke. Kamu tunggu sini."

"Gelap Diaz. Aku ikut aja."

Diaz yang semula membelakangi Liliana langsung berbalik dan menatap Liliana.

"Kamu ngapain disini sebenarnya?"

"Kamu kenapa tanya lagi? Kan udah aku bilang bantuin kamu bawa kayu."

"I don't buy your shit! Jujur."

Liliana mengerjap dan tersenyum. Ia tak menyangka Diaz akan membentaknya.

Liliana masih berdiri disana ketika Diaz menghela napas dan menatapnya dengan tatapan lembut yang sering ia gunakan. Dulu. Ia meraih tangan Liliana dan menggenggamnya lembut.

"Li, aku kangen kamu."

Liliana gelagapan mendengar suara lirih Diaz. Lalu ia melirik tangannya yang berada digenggaman Diaz. Lelaki itu mendekatkan tubuhnya dan memeluk Liliana. Dalam hitungan detik, Liliana merasakan jantungnya berhenti berdetak.

"Yas, kita gak boleh kayak gini," ucap Liliana pelan. Hal ini terjadi di luar ekspektasi Liliana.

Diaz tidak menjawab, tetapi malah memeluk Liliana sementara yang dipeluk berusaha melepaskan pelukan Diaz. Ia merasakan jantungnya berdegup semakin kencang ketika menatap mata itu.

"We're just past."

"Li, aku sayang kamu."

Liliana tersenyum sarkastik. "I know. Tapi kamu tahu kita gak akan pernah bersama. Lagi."

"It's because of them."

"Ya, you think?" ucap Liliana dengan nada bercanda.

"Oke. Aku bisa bawa kayunya sendiri. Kamu balik aja," ucap Diaz lalu berbalik dan memasuki gudang.

Liliana tersenyum namun tetap mengikuti Diaz masuk gudang tersebut. Gudang tersebut hanya memiliki satu lampu yang tidak cukup terang untuk memberi cahaya di seluruh ruangan. Namun, setidaknya masih cukup membantu daripada tidak ada penerangan sama sekali.

Liliana berjalan mendekati lelaki itu. Diaz yang merasa ada seseorang di belakangnya, langsung menoleh dan menemukan Liliana disana.

"Kamu ngapain?"

"Kan udah aku bilang mau bantuin."

"Aku gak butuh."

"Of course you do."

"Li, stop it," ucap Diaz memohon.

"Aku ngerti kalo kamu marah sama aku. Tapi just let go."

"Kayak yang aku bilang waktu itu?" Diaz mengangguk.

Liliana tersenyum lalu mengusap wajah lelaki itu dengan tangan kanannya.

"Kamu baru aja bilang masih sayang aku," ucap Liliana. "Dan sekarang kamu minta buat just let go? Kamu cowok bukan sih?"

"I have Elia."

Liliana tertawa keras mendengar itu. "Apa kamu mikirin Elia pas kamu bilang sayang ke aku tadi?"

Damn! Diaz tak bisa menjawabnya. Liliana bergerak mendekat ke telinga Diaz.

"Kamu bodoh karena mau dipaksa sama mereka," bisik Liliana.

"Ka-"

"Udah deh, kita kesini buat ngambil kayu bakar bukan buat kembali ke masa lalu. Just let go."

Setelah mengatakan itu, Liliana mengambil kayu bakar dan segera keluar dari gudang itu meninggalkan Diaz yang terpaku melihat kepergiannya.

Melihat itu membuatnya sadar satu hal, wanita itu sudah seutuhnya berubah dan itu karenanya. Ia merasa bodoh, benar yang dikatan Liliana, ia memang bodoh.

Dengan kasar ia meraih kayu bakar yang lain dan menutup pintu gudang dengan kasar. Ia benci hidupnya.


***
Just remenber to cerish every moment. Even with Corona between it.

Xo
Zia :)

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top