Flash
Hari terakhir di Jogja membuat mereka berdebat tentang tempat terakhir yang akan mereka kunjungi. Danang ingin ke Prambanan, Elia ingin ke Malioboro. Liliana tak memusingkan kemana mereka akan pergi selanjutnya, karena ia merasa liburan dengan mantan pacar yang membawa pacarnya bukanlah ide yang bagus. Seharusnya dari awal ia sadari hal itu.
"Malioboro aja sih, Nang. Seru tau kalo kesana. Rame, banyak tempat nongkrong juga. Apaan ke Prambanan, kayak anak SMA study tour aja!"
"Eh yang namanya ke Jogja ya sekalian ke Prambanan lah El. Banyak bule cantik. Lagian isi Malioboro juga gitu-gitu aja. Pengamen doang noh banyak!"
"Kata siapa?! Tahun kemarin gue kesana banyak kafe-kafe unik. Banyak tempat-tempat foto yang Instagram-able banget."
"Dih! Cewek lo mah yang dipikirin feed Instagram mulu. Gak seru!"
"Emang cowok yang dicariin cewek bule yang cantik! Lagian ya lo kalo udah ketemu mau apa? Bahasa Inggris aja gak bisa belagu lo!"
"Eh mulut cewek lo, Yas!"
"Iya mulut gue satu, mau apa lo?"
"Mulu satu aja udah kayak Beo ngomong mulu apalagi lebih dari satu?"
"Udah deh! Nang lo bisa gak sih ngalah sama cewek?" Galih menengahi saat melihat Elia ingin membuka mulut.
Danang menghela napas kasar sambil menjambak rambutnya.
"Cowok mulu yang salah. Gue gak ngomong lagi deh!"
"Udah deh, Yang. Ngikut aja. Lagian di Malioboro juga ada bule kok, kalo kamu ngebet pengen ngelihat bule."
"Yang?! Kamu juga?"
Madi tersenyum dengan manisnya ke arah Danang. Liliana pun ikut tersenyum mendengar pertengkaran tak berguna tersebut. Bagaimana bisa berguna? Jika pada akhirnya yang menentukan kemana mereka pergi adalah siapa yang duduk dibalik roda kemudi.
"Kalo kalian berantem terus, kapan kita perginya?"
Liliana mengangkat suara ketika mendengar Elia dan Danang yang masih mendebatkan kemana mereka pergi. Lagi.
"Kalo kalian pengen kita pergi ketempat yang kalian mau, kalian harus nyetir dari sini kesana. Adil?" Diaz mulai angkat bicara yang membuat semua diam.
"Elah gue pengen cepet sampe Bandung, bisa skip aja gak kunjungan terakhirnya? Daripada kalian berantem mending ikut ide gue aja, langsung balik Bandung! Yang setuju angkat tangan. Nyetir sampe bandung gue jabanin," ucap Galih sambil mengangkat tangannya.
Madi langsung dengan antusias mengangkat tangannya.
"Yahh jangan dong, ke Malioboro aja udah daripada langsung pulang. Gak seru lo Gal!"
Galih tersenyum dan memeletkan lidahnya ke Danang. Sedangkan lelaki itu hanya diam sambil mengacungkan jari tengahnya pada Galih. What a beautiful friendship.
Keputusan telah diambil, mereka akan pergi ke Malioboro sebagai kunjungan terakhir mereka. Elia dan Madi keluar kamar dengan mengenakan pakaian terbaik mereka. Diikuti Liliana yang menggunakan celana pendek dan kaos dengan cardigan yang panjangnya melebihi celananya. Terlihat sangat santai dibanding kedua wanita yang lebih dulu keluar.
"Elah kalian berdua mau kondangan? Totalitas banget sih dandannya?"
"Yaelah Gal, kemarin kita gak dandan lo ceramah sekarang kita dandan dikatain. Mau lo apa?" Elia menyilangkan tangannya sambil menatap Galih tajam.
"Gue cuma ngomong kali. No offense."
Galih langsung melanjutkan jalannya kearah kamar mengambil barangnya. Sementara Danang dan Diaz sudah berada di luar menunggu mereka sambil merokok.
"Udah?"
Mereka bertiga mengangguk. Diaz langsung mematikan rokoknya diikuti oleh Danang. Mereka berjalan kearah mobil dan menata tempat duduk dan barang mereka sambil menunggu Galih.
Galih keluar tak lama kemudian. Ia memasuki mobil dan memberikan kunci rumah kepada Diaz. Ia meletakkan beberapa barangnya di dashboard mobil dan menata yang lain di bawah kakinya.
"Gila bawaan gue banyak banget ternyata," ucap Galih terheran dengan 2 backpack yang dimaksukkan ke bagasi.
"Lo barang segitu udah banyak banget, apa kabar sama cewek?" jawab Danang.
"Jangan bawa-bawa cewek deh. Kita bertiga udah diem juga dibawa-bawa."
Diaz tersenyum kecil mendengar ucapan Elia. Kekasihnya itu selalu tidak suka jika seseorang mengatakan wanita selalu membawa barang banyak. Padahal itu adalah sebuah kenyataan yang sangat jelas didepan mata.
"Eh Kak ntar kalo nyampe Bandung kayaknya malem deh, boleh nginep kan?"
"Boleh. Di depan TV ya tapi yang cowok."
"Gue tetep dikamar lah. Enak banget ngusir gue."
"Madi sama Elia bisa tidur di kamar gue kok."
"Yaudah bertiga dikamar Galih."
"EH APAAN GAK BISA YA! Lo kalo nginep gak bisa milih-milih tempat buat tidur. Lo kira hotel!"
"Galih! Lo jahat banget sih sama temen sendiri?" sela Liliana.
"Yah Kak, gak tau sih gimana mereka kalo tidur. Tiap kemah satu tenda sama mereka tuh disaster. Mereka berdua kalo tidur gak bisa diem."
"Eh gue kalo se-tenda sama lo juga disaster kali," ucap Danang.
"Gue yang lebih kena bencana, bego! Si Danang kalo malem bacotnya gak bisa di rem."
Diaz tersenyum mendengar mereka berdua beradu kata tentang sesuatu yang sebenarnya tidak pernah mereka alami. Hal sebenarnya terjadi ketika mereka berada di satu tempat adalah mereka akan membicarakan tentang hidup, cewek dan itu akan membuat mereka tidak tidur hingga pagi menjelang. Diaz sangat mengerti jika sahabatnya, Galih sangat membenci hal itu.
Mereka terus beradu mulut hingga tanpa disadari mereka telah sampai di Malioboro. Satu jam perjalanan tidak terasa karena mereka habiskan dengan bertengkar.
"Udah sampe. Mau turun apa lanjutin berantem?" ucap Diaz mengakhiri pertengkaran tak berguna antara Danang dan Galih.
Mereka akhirnya keluar dari mobil setelah mendengar ucapan Diaz.
"Eh pisah aja deh ya? Gue jalan kesana. Ketemu jam berapa nih nanti?"
"Jam lima ya? Sekalian bebersih di masjid sambil sekalian yang sholat."
"Siapp."
Danang langsung menarik tangan Madi dan berjalan menjauh menuru arah utara. Entah kemana mereka pergi, hanya mereka yang tahu.
"Eh Gal, Kak An, kalo aku sama Diaz kesana gak papa?"
Liliana menoleh dan menjawab dengan tersenyum, "Oh iya kesana aja. Aku sama Galih mau kesana soalnya mau cari oleh-oleh."
"Buat bang Ello ya kak?"
"Iya."
"Yaudah dadaahhh," ucap Elia melambaikan tangan sambil menarik tangan Diaz.
"Beneran Kak mau beliin Ello oleh-oleh?"
"Gak lah. Udah putus juga," ucap Liliana sambil berjalan meninggalkan Galih yang masih berdiri ditempatnya.
"Yahh kok putus sih?!" ucap Galih sambil mengikuti jalan Liliana.
"Kayak yang lo bilang, katanya lo gak suka?"
Seketika Galih menghentikan langkahnya. Ia melihat punggung kakaknya yang berjalan menjauh. Ia merasa bersalah pernah mengatakan hal tersebut kepada kakaknya.
"Ya tapikan kalo bisa senengin lo guenya gak papa," kata Galih sambil menututi Liliana.
"Dih, kemarin-kemarin gak bilang gitu."
Lagi, Liliana berjalan menjauh dan berhenti di sebuah penjual aksesoris. Ia melihat-lihat dan tak sengaja melihat benda itu. Benda yang membuatnya kembali ke masa lalu. Ketika ia dan lelakinya masa itu bertemu.
"Soalnya lo gak cerita apa-apa tiba-"
"Jangan beli itu deh! Ntar flashback lagi, gue yang repot!" Galih merebut benda yang dipegang kakaknya dan meletakannya kembali ketempatnya lalu menarik tangan Liliana menjauh dari sana.
"Mending kita coba kopi di kafe sana aja deh, rame tuh!"
Lagi, Galih berhasil mengalihkan minatnya.
***
Funfact:
Aku belum pernah ke Jogja😂😭
Xo,
Zia :)
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top