☃️࿌ིྀ྇⋆Echanting Mistletoe⋆࿌ིྀ྇☃️

╔═══*。❅*⋆⍋✧ ✦ ✧⍋⋆*❅。*═══╗
Mistletoe
Justin Bieber
Iruma Jyuto × Min Akazumi
Hypnosis Mic © Evil Line Record Dkk
Original Character © -MrsIrm
Story © -MrsIrm
╚═══*。❅*⋆⍋✧ ✦ ✧⍋⋆*❅。*═══╝
∘ ─── ☃️༉─── ∘
┊ ┊
˚ ༘ ♡ ⋆。˚ ❀
╔═══*。❅*⋆⍋✧ ✦ ✧⍋⋆*❅。*═══╗
Sekadar rahasia sederhana
Berharap menjadi kejutan luar biasa
Di bawah mistletoe yang mempesona
Kau sungguh tak terduga
╚═══*。❅*⋆⍋✧ ✦ ✧⍋⋆*❅。*═══╝
∘ ─── ☃️༉─── ∘
┊ ┊
˚ ༘ ♡ ⋆。˚ ❀
╔═══*。❅*⋆⍋✧ ✦ ✧⍋⋆*❅。*═══╗

Ruangan bernuansa putih yang sunyi itu tak terkesan sepi mengingat betapa banyak ornamen dan mainan Natal yang tertata begitu rapi di setiap sudut ruangan yang tak lain adalah sebuah klinik.

Iruma Jyuto selalu heran mengapa ia bisa diharuskan berada di sebuah klinik yang dihias manis. Bahkan sampai heran dengan apa yang dipikirkan sang dokter mengenai pohon Natal mini di sebelah meja kerjanya yang begitu mencolok saat lampu-lampunya yang ada di sana berkerlip di ruangan yang tak seberapa ini.

Rasanya pria itu bukan sedang mengobati rasa sakit. Entah mengapa ini seperti sebuah klinik anak yang tengah diubah menjadi taman bermain.

Tak lama Jyuto beralih, ketika mendengar suara pintu yang berderit, dan disusul dengan suara seorang dokter wanita pemilik klinik berkata, "Wah, senangnya ada pasien. Nah, nah, lihat siapa yang datang di sini. Nee, kau senang dirawat di sini karena aku, Dirty Cop? Ii nee, kupastikan kau tidak akan kesakitan, kok." Sang dokter mengulas senyum seribu makna.

Dokter kepedean yang pernah Jyuto ketahui sepanjang sejarah dokter yang ada. Benar-benar Jyuto ingin pergi saja segera. Namun, apa daya dengan luka yang cukup parah.

Jyuto hanya bergidik bahu saja. "Kau harus banyak berterima kasih padaku, karena sudah menjadi pasien paling setiamu," katanya yang kemudian duduk di ranjang pasien seraya membuka jas dan sebagian kemejanya yang memperlihatkan beberapa luka sayat di lengan sampai bahunya.

"Ya, ya, kau bisa berterima kasih padaku nanti," jawab sang dokter dengan entengnya sambil menepuk bahu Jyuto yang terluka.

Tentu saja Jyuto mendelik tak percaya, walau rasa sakitnya tak seberapa, dan mana mungkin dia berterima kasih pada dokter yang tega?

Belaian angin sepoi membawa hening di antara Jyuto dan dokter selama proses pengobatan dilakukan di dalam ruangan sana. Namun, sama-samar terdengar lagu Natal dan canda tawa. Betapa semua menikmati hari Natal yang telah tiba. Berbeda dengan Jyuto yang hanya fokus bekerja. Tak heran selalu mendapat luka, walau kekerasan sudah tak diperkenankan menggunakan senjata.

Sang dokter menghela napas kemudian. "Dasar, bagaimana bisa kau terluka? Sudah kubilang, 'kan, kalau senjata itu masih ada," katanya.

"Diamlah. Aku pasien setia," jawab Jyuto bermaksud sarkas.

"Hm, sakit tidak?"

"Tidak."

" ... Masih sakit?"

"Ck, tidak."

Tiba-tiba hening melanda begitu saja. Namun, Jyuto nampak tak peduli ada apa, sementara sang dokter geram entah mengapa.

Maka, dengan sengaja sang dokter memukul bahu Jyuto yang terluka cukup parah yang membuat Jyuto meringis bahkan berteriak seketika memenuhi sudut kliniknya.

"Apa-apaan, Kazumi!" gertak Jyuto sampai berbalik dan melempar tatapan tajam pada dokter gila di belakangnya. "Kau gila, hah!"

Min Akazumi hanya menatap datar. "Kau sendiri bilang tidak sakitlah, tidak apalah, tidak apalah, dan kalau sudah begitu, apa gunanya kau berobat kalau tidak sakit, hah?" ucapnya geram.

"Tandanya sudah lebih baik, bodoh!" Jyuto tak henti-hentinya ngegas.

"Ah, sudahlah, kau sudah baik-baik saja. Lain kali jangan terluka lagi. Aku bosan melihatmu terus yang datang ke mari," jawab Akazumi dengan santai.

Jyuto berdecak kesal. "Kalau begitu, kau saja yang pergi," katanya sambil memakai kembali kemeja, kemudian jas yang cukup buruk kondisinya sejak pertikaian dengan musuh beberapa saat sebelum ke klinik Akazumi.

"Tentu saja."

" ... Apa?"

Sesaat Akazumi terhenti saat membereskan alat-alat medis saat mengobati Jyuto tadi, kemudian lanjut kembali seraya menjawab, "Aku jawab tentu saja. Tentu saja aku akan pergi. Bukankah kontrak kerjaku akan segera selesai di sini?" Dokter wanita itu menatap Jyuto dengan polos, setelah meletakkan alat-alat medisnya.

"H-hah? Maksudmu? Secepat itu? Lalu, kau akan ke mana?" Tanpa disadari, Jyuto telah bertanya berturut-turut.

"Korea Selatan. Melanjutkan studi dan kerja paruh waktu di sana," jawab Akazumi masih dengan santai dan polosnya.

" ... Jadi, kau benar-benar akan pergi, huh?" tanya Jyuto nyaris dengan rasa hampa terdengar dari nadanya.

Sementara Akazumi mengerjap heran sebelum akhirnya tertawa melihat reaksi Jyuto atas kepergiannya. "Apaan, sih? Kenapa kau yang sedih? Ah, pasti karena aku terlalu sering merawatmu seperti seorang istri sendiri di sini, 'kan? Nee, Jyuto? Hahah!" Gelak tawa darinya kembali memenuhi sudut kliniknya.

" ... Ah, istri?"

Dan Jyuto pun ikut mengeluarkan kekeh remehnya. "Ya, terserah padamu jika posisimu ingin diganti," katanya.

"Ya, ya, baiklah. Oh, dan selama aku tak ada di sini, jangan coba-coba untuk terluka parah, apalagi jika sampai mati, ya?"

"H-hah?"

Lagi dan lagi hening pun kembali melanda di antara mereka yang saling bungkam seribu bahasa. Entah larut dalam masing-masing netra atau memang ucapan tersebut yang membuat mereka sama-sama berusaha keras untuk menemukan makna yang terkandung di sana.

Namun, kekehan Akazumi memecah hening seketika. "Dasar, hanya bercanda. Saa, cepat sa-"

"Memangnya kenapa kalau aku tiada?" tanya Jyuto yang menyela dengan segera.

Sesaat Akazumi sempat kelu, sebelum akhirnya menjawab dengan senyum. "Sama seperti apa yang kau rasakan saat aku tak akan ada di Yokohama."

Jyuto mengamati Akazumi yang hendak bersiap meninggalkan klinik, kemudian bertanya, "Kenapa?"

"Memangnya kau tidak ingin merayakan Natal bersama untuk kita berdua?" Akazumi berbalik seraya membalas tatapan Jyuto cukup lama, sebelum akhirnya tertawa kecil dan lanjut berkata, "Baiklah, sampai jumpa~"

Dalam sekejap Jyuto menjadi seorang diri di ruangan sana yang masih dengan nuansa yang sama. Namun, entah mengapa hampa mendadak lebih terasa, karena Akazumi yang meninggalkan sejuta rasa dalam dada seorang Iruma Jyuto sekarang sekadar sepatah-dua kata.

"Ya, terserah padamu jika posisimu ingin diganti."

" ... Cukup di klinik. Jangan sampai di hati ...."

" ... Ah, pasti karena aku terlalu sering merawatmu seperti seorang istri sendiri di sini, 'kan? ... "

Polisi pria tersebut menyunggingkan senyum tipis. "Tapi aku bukan dan tidak mau menjadi suami yang ingin diperhatikan seperti ini," tambah Jyuto di tengah sunyi, kemudian merapikan sedikit pakaiannya dan hendak meninggalkan klinik juga saat ini.

" ... sampai jumpa~"

Jyuto mengepalkan satu tangannya. "Akan kugenggam ucapanmu."

Menggenggam ucapan yang tak pasti dalam hati membangunkan Iruma Jyuto sebelum mentari ufuk timur terbit. Bahkan membuatnya tak bisa sekadar berdiam diri untuk menunggu pagi. Pun ia memutuskan untuk melangkahkan kakinya memasuki dunia luar musim dingin yang dibekali dengan sebatang rokok terselip di bibir.

Namun, sayang sekali udara sejuk setiap pagi yang berbeda sejak kemarin tak membawa perubahan apapun pada Jyuto sepanjang perjalanan kaki, walau sekadar sedikit, terlebih pagi hari ini.

Gulita yang bersemu bersama dengan ufuk timur nampaknya tak terlalu berpengaruh mengingat musim dingin yang belum berlalu. Butiran-butiran kecil nan halus masih bertebaran bebas di udara yang perlahan akan jatuh di tengah suasana Natal yang juga selalu ditunggu setiap tahun. Betapa meriah dengan canda tawa beberapa orang yang berlalu di bawah gemerlap lampu hias tersebut. Tak lupa dengan aroma kue Natal dari toko-toko yang menebar kehangatan saat sedang bersalju.

Namun, semua itu hanya terus mengingatkan Jyuto pada kekurangan dalam hati. Suasana meriah nan indah terlihat sedih dipandangan sang permata yang terus melangkahkan kaki sampai menuju ke sebuah tempat termanis bagi sepasang kekasih.

"Sama seperti apa yang kau rasakan saat aku tak akan ada di Yokohama."

Nampaknya ada kejanggalan di Natal tahun ini.

Entah kejanggalan Natal dan musim dingin atau memang keyakinan hati yang membawa Jyuto pada suatu pemandangan sesosok wanita yang tak asing tengah berdiri di hadapan gemerlap cantik pohon Natal bersama dengan butiran putih yang terus menuruni bumi tanpa syal yang dipakai dengan baik seolah tak peduli akan suhu rendah yang menyelimuti. Namun, pria itu juga tak tahu sudah berapa lama sang wanita berdiri di sini.

Pada akhirnya, Jyuto memilih untuk menghampiri daripada lama memperhatikan dan berpikir.

Jyuto menyesap tembakaunya, kemudian melepas kepulan asap putih yang bercampur dengan dinginnya suhu ke udara, dan tak lama bertanya, "Apakah syal itu tak berguna untukmu?" Ia sempat melirik sang wanita sebelum akhirnya beralih pada gemerlap pohon Natal.

"Oya, oya, apakah kau takut aku meninggalkanmu? Manis sekali sampai mengetahui lokasiku," jawab sang wanita dengan

" ... Ini ucapan selamat tinggal untukmu," jawab Jyuto dengan cepat, sebelum akhirnya memejamkan mata. "Dariku yang tak berhak merasakan apapun," lanjutnya dalam batin yang perlahan menengadahkan kepala pada sang nasbatala yang perlahan memancarkan cahaya yang begitu lembut, ketika ia membuka mata.

"Tepat di bawah mistletoe yang mempesona, huh?" Ia malah melamun karena mistletoe yang berada tepat di bawah Akazumi dan dirinya. Membuat kedua tangannya yang tersaku meremas sesuatu dalam saku mantel hitamnya tersebut.

"Aku tahu. Biar kukatakan padamu lebih dulu."

Seketika sepersekian detik Jyuto terkejut dengan sebuah kecupan dari bibir Akazumi yang mendarat begitu lembut di pipinya yang didorong paksa oleh telapak tangan dinginnya tersebut saat netra permata Jyuto melepas pandangan dari mistletoe.

Sementara Akazumi selaku pelaku hanya menyunggingkan senyum, setelah melepas kecupan tersebut. "Mistletoe yang mempesona, ya," katanya dengan rona merah yang terlihat semu.

Sedetik berlalu dengan kecupan lembut yang meninggalkan kelu, sipu, dan gugup pada Jyuto yang terlihat membatu.

Namun, seharusnya tidak seperti itu.

" ... Bagaimana kau tahu jika aku akan melamarmu?" Jyuto tatap lurus iris gulita sang wanita yang lebih dulu mengecupnya di bawah mistletoe.

Akazumi tetap tersenyum dan menjawab pertanyaan tersebut dengan jawaban sederhana. "Karena aku mencintaimu." Telapak tangan yang masih setia di pipi sang pria yang dia cintai perlahan jari-jemarinya bergerak mengelusnya dengan penuh kasih.

Jyuto tak tahu harus bagaimana lagi, selain menggenggam tangan dingin tersebut dengan erat sekali yang seolah akan membeku jika tak ada kehangatan yang diberi. Pun membawanya sampai ia bersujud satu kaki di tengah tumpukan tanah putih dengan tatapan lurus nan serius pada manik gulita Akazumi yang nampak menahan kaca-kaca tangis.

Namun, bulir-bulir bening tak terbendung lagi, ketika Jyuto mengeluarkan sebuah cincin pernikahan yang ia siapkan secara mendadak pagi ini teruntuk Akazumi sebelum wanita itu benar-benar pergi.

Setitik air mata Akazumi membuat Jyuto menahan diri untuk tetap melanjutkan lamarannya ini. "Mari kita berbahagia bersama-sama, karena aku tak pandai bahkan enggan mengucap sayonara," katanya sampai tak sadar jika ia sendiri gemetaran saat memegang kotak cincin merah beludru tersebut saking malu, haru, dan gugup melamar Akazumi.

Dengan air mata yang masih mengalir pun Akazumi bertanya, "Bagaimana bisa kau seolah tahu jika kita dapat kembali bertemu?" Bahkan suaranya serak saking sekuat tenaga ia menahan isaknya.

"Karena aku mencintaimu." Genggaman tangan Jyuto semakin mengerat.

Ucapan sederhana tersebut mendorong Akazumi untuk menyambar Jyuto dengan pelukan luapan bahagia. Membuat Jyuto langsung siaga menangkap wanitanya masuk ke dalam dekapan hangat dengan cinta. Bahkan dapat dirasakan jika Akazumi masih setia meneteskan air mata tanpa suara.

"Ya ... , ya ... , terima kasih, sampai jumpa," ucap Akazumi setengah terisak sampai pelukannya mengerat.

Kedua tangan Jyuto segera menangkup wajah Akazumi dan membantunya mendongak agar bertatapan dengannya, kemudian mengusap air mata Akazumi seraya tersenyum, dan berkata, "Ya, sampai jumpa." Pria itu segera mendaratkan bibirnya pada bibir ranum Akazumi sambil memegangi tengkuk wanita tersebut agar ciuman mereka berlangsung dengan waktu yang cukup lama.

"Terima kasih telah meninggalkan kenangan, sebelum kita mengucapkan salam perpisahan."

Akhir Natal yang bahagia, walau mereka harus berpisah.

╚═══*。❅*⋆⍋✧ ✦ ✧⍋⋆*❅。*═══╝
∘ ─── ☃️༉─── ∘
┊ ┊
˚ ༘ ♡ ⋆。˚ ❀
╔═══*。❅*⋆⍋✧ ✦ ✧⍋⋆*❅。*═══╗
Merry Christmas
Marry Me
╚═══*。❅*⋆⍋✧ ✦ ✧⍋⋆*❅。*═══╝
∘ ─── ☃️༉─── ∘
┊ ┊
˚ ༘ ♡ ⋆。˚ ❀
╔═══*。❅*⋆⍋✧ ✦ ✧⍋⋆*❅。*═══╗
Story By Aurora Phelia
╚═══*。❅*⋆⍋✧ ✦ ✧⍋⋆*❅。*═══╝

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top