3. Obsesi
Baca ini sambil dengerin lagu halu enak keknya/slap
.
.
.
Seminggu telah berlalu. Belum ada hasil apa pun yang berbuah. Jika kalian bertanya apa yang Boboiboy tunggu, hal itu tak lain untuk mencari cinta pertamanya.
Sudah seminggu, ia belum mendapat kabar apa pun. Apa mungkin Yaya tak jadi kuliah ditempat yang sama dengan Boboiboy?
Boboiboy menghela napas gusar. Pikirannya melayang terlalu jauh. Lelah memikirkan segala kejenuhan ini, Boboiboy memilih untuk tidur dan mengistirahatkan tubuhnya sampai hari esok.
***
Boboiboy terbangun tepat saat alaram dari handphonenya berdering nyaring. Ia pun melirik handphone yang berani menganggu tidurnya lewat ekor matanya. "Pukul delapan," desis Boboiboy.
Sebentar, seperti ada yang aneh.
"Delapan."
"Astaga aku terlambat!"
Boboiboy terhenyak. Ia bangkit dari kasur nya dan menyambar segala keperluan yang ia butuhkan.
"Aku harus mandi! Eh, tidak! Tidak usah!"
Boboiboy berusaha mempersingkat waktu, ia segera menyalin bajunya dan membersihkan wajah lusuhnya.
Setelah semua yang ia lakukan dirasa cukup, Boboiboy langsung pergi ke luar kamarnya, melewati semua pelayan pribadinya.
"Eh, tuan, tidak sarapan?" tanya salah satu pelayan, Boboiboy hanya memperlihatkan telapak tangannya tanda menolak.
Ia segera menaiki motor ninja nya dan pergi ke kampusnya dengan kecepatan maksimal tanpa memperdulikan resikonya.
***
Kampus sudah dimulai sejak tiga puluh menit yang lalu. Dengan langkah seribu Boboiboy memasuki kelasnya dan tak mendapati satu pun guru di sana. Ia terdiam tepat di ambang pintu.
"Aku tidak terlambat?" Boboiboy berpikir sembari memperhatikan kelasnya dari ujung ke ujung.
Masa iya dia tidak terlambat?
"Aku dipermainkan." Boboiboy segera menghampiri tempat duduknya, ia kesal akan hari ini. Hari yang ia harapkan menjadi hari bahagia malah mempermainkan dirinya.
"Ck, menyebalkan." Boboiboy berdecak kesal, tak banyak yang dapat ia lakukan di ruang ini. Boboiboy mendesah kasar, dengan langkah gontai Boboiboy pergi meninggalkan ruangan tersebut.
Sesampainya di ambang pintu, ia bertabrakan dengan seorang gadis yang membawa satu cup pop mie hingga kuah dari cup tersebut menyembur ke pakaian putih bersih milik Boboiboy, belum lagi rasa panas yang menyengat berhasil diserap oleh pori-pori kulit Boboiboy.
"Bangsat..." umpat Boboiboy, namun gadis di hadapannya tak kalah garang darinya.
"APA APAAN LO!?" sarkas gadis itu
"Eh, elu yang apa-apaan!? Lu gak liat gua mau keluar?!"
"Gua dari luar dan harusnya elu yang jaga-jaga!"
"Brisik lu anjing!" Gadis dihadapannya lantas tak terima dikatakan demikian. Entah refleks atau sengaja, gadis itu menampar Boboiboy dengan keras sampai sudut bibirnya berdarah.
PLAK!!
"Berani lu ngatain gua kayak gitu, hah!?" Gadis itu menarik kerah Boboiboy dengan kasar. Ia mempersempit jarak wajah diantara keduanya, Boboiboy yang notabenya sebagai master taekwondo tak ingin diremehkan hanya karna kalah serang dengan gadis tersebut.
"Lu jangan seenaknya dong, sat!!" Boboiboy menghempas tangan gadis tersebut dan mendorongnya dengan kasar. Teman sekelas Boboiboy yang menyadari akan adanya keributan segera menengahi.
"Eh ada apa ini?" tanya Kelvin gusar, "stop woi stop! Itu anak baru woi!" Kelvin berusaha menengahi.
"JANGAN IKUT CAMPUR LU!" Boboiboy menyergah marah. Merasa ada peluang, gadis tadi langsung menendang titik vital Boboiboy. Alhasil Boboiboy jatuh tersungkur karnanya.
Setelah Boboiboy tersungkur, gadis itu langsung menginjak betis Boboiboy tanpa rasa kasihan.
"Jangan macem-macem sama gw kalo gak mau lumpuh." belum puas, gadis itu kembali menampar Boboiboy.
"ARGH!!"
"Mampus." Gadis itu, pergi meninggalkan Boboiboy.
Kelvin hanya menatap Boboiboy dengan nanar, tak tau harus berbuat apa.
"Shh," Boboiboy mendesah, berusaha menahan sakit yang ada. Gadis itu menyerang secara membabi buta, sampai ia tak dapat memprediksi gerakannya.
Gadis itu atau dikenal dengan nama panggilan Eyara, Eyara adalah murid baru di jurusan mereka. Gadis yang entah asal usulnya dari mana itu memang terkenal dengan kemampuannya dalam bidang akademik dan non akademik membuat dirinya tenar diantara penghuni kampus tersebut.
Boboiboy masih tersungkur lemah. Serangan gadis itu memang bukan main, menyerang secara langsung titik vitalnya tanpa aba-aba.
"Aauh... ba-bantuin gua woi..." Kelvin, Erik, dan Arfan yang sedari tadi hanya memperhatikan mereka dalam diam langsung merengkuh Boboiboy dan membawanya ke UKS untuk mendapat perawatan lebih lanjut.
"Dasar cewek bajingan, tunggu pembalasan gw."
.
.
.
"Baru berapa minggu masuk, udah buat ulah, mau gw sunat lagi, lu?!" Blaze berdecak kesal, menjadi sahabat Boboiboy sama saja seperti menjadi orang tua untuknya.
Kebetulan saat perjalanan menuju UKS, Taufan dan Blaze melihat Boboiboy yang sudah babak belur.
"Brisik lu," sahut Boboiboy sembari memegang pipinya yang memar karena ditampar.
"Cewek yang nampar lu hebat juga, ya, bisa ngalahin master taekwondo, hahahaha!!" Taufan tertawa, bagi dia kesengsaraan temannya adalah kebahagian bagi dirinya.
"Diem lu jaenab!" Boboiboy memperingati. Taufan hanya menatap Boboiboy dengan raut manyun, "Aa nama aku bukan jaenab, masa ganteng gini dibilang jaenab, sih?" desis Taufan dengan centil, ia mengedipkan sebelah matanya sambil sedikit memanyunkan bibirnya, hingga ia mendapat sebuah hadiah berupa lemparan sepatu dari sahabatnya itu.
"Adaaww"
"Mau nama lu jaenab, jubaedah, Cimory, Kekeyi, gua gak peduli! Gua cuman mau kalian jangan bahas cewe tadi!" napas Boboiboy memburu, wajahnya memerah tanda ia marah, sepertinya Boboiboy memiliki dendam kesumat pada gadis tadi.
"Sabar Boy, sabar, jangan kebawa emosi..." Blaze mengelus pundak Boboiboy, ia berusaha menengkan kawannya yang terlarut dalam emosi.
"ARGHHHH!!! GUA GAK TERIMA!!"
PRANG!!!
Boboiboy bangkit dari ranjangnya dan membanting gelas serta mangkuk aluminium yang berada di nakasnya. Memikirkan gadis yang ia cintai selama berhari-hari membuatnya begitu tempramental.
"Yaya..."
"Hiks... G-gua butuh elu..."
"Lu... lu dimana?"
Boboiboy menjatuhkan dirinya. Ia benar-benar terlihat lemah saat ini.
Blaze dan Taufan terkejut melihat prilaku Boboiboy. Detik berikutnya, mereka saling bertatapan. "Yaya?"
"LU YANG BIKIN GUA TERLARUT DALAM AMBANG CINTA LU YAYA!!!"
"Hiks... A-aku gagal, aku gagal, gagal..."
"ARRGHHH!!!"
Boboiboy makin tak terkendali, penampilannya bagai monster, ia mengacak rambutnya dengan gemas dan penuh emosi. Berusaha melampiaskan semuanya.
Bibir Boboiboy bergetar, pandangannya mengabur, kepalanya berdenyut kuat, napasnya memburu.
"Boy, lu gak apa-apa?" tanya Taufan panik sambil menghampiri kawannya itu
"Boy, lu kenapa?" Blaze ikut panik. Tak ada jawaban dari Boboiboy, yang ia lakukan hanya berusaha mengumpulkan pasokan oksigen dalam tubuhnya.
"Hahahah Yaya, kau membuatku mabuk..." Boboiboy bak kelihangan akal sehatnya, Blaze dan Taufan berusaha menenangkan Boboiboy, namun nihil hasilnya.
"Argh... si-siapa pun yang berani bikin Yaya terluka gak bakal gua ampuni...."
Blaze memupuk bahu Boboiboy dengan lembut berusaha menenangi pria tersebut. "Boy, udah jangan gini ki-kita bakal bantuin lu kok, gw tau ini berat, tapi... kenapa lu bisa semudah itu jatuh cinta pada Yaya?" tanya Blaze agak terheran.
Dada Boboiboy semakin sesak, bersamaan dengan hal itu seorang gadis dengan paras manis datang dan memeluknya.
"Aku disini, terimakasih sudah menjagaku."
Boboiboy hafal suara siapa yang ia dengan saat ini. Ya, siapa lagi kalau bukan pemilik senyuman manis bernama Yaya.
"K-kau jahat! Aku sudah melindungimu berulang kali tapi kau..."
Boboiboy terbelalak, pelukan hangat itu perlahan memudar. Senyuman yang tadi tercetak jelas berangsur memudar.
Dan kini, Boboiboy berada di tengah kegelapan tak berujung. Sendirian.
"Aku disini, Boy."
TBC...
Ada yaya gess:v
Hayolo ada yaya...
Dah lah, terimakasih udah baca. Ku kira gak bakal ada yg baca book ini 🙄.
Bagi yang belum baca book yang sebelumnya, aku kasih tau ya.
Jadi, boboiboy mulai ada rasa setelah Yaya dibuly habis-hbisan oleh fans Boboiboy sampai trauma. Yaya dibuly akibat ulah boboiboy yang jadiin Yaya pacar boonkan.
Dah lah, maap kalo aneh. W ngetiknya tadi malam soalnya.
Bye~ votemen~!
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top