2. KFC

.
.
.

Sore menjelang malam. Tak ada yang bisa Boboiboy lakukan selain bermain game dan bertukar kabar dengan tetangganya, Taufan dan Blaze.

Boboiboy yang merasa jenuh karena tak ada peekerjaan akhirnya memilih untuk menanyakan tempat yang tidak membosankan namun terjangkau kepada kawan sekaribnya.

Boboiboy
| Blaze, tempat hiburan deket sini ada kagak?

Sekitar tiga menit menunggu, muncul nontifikasi pada layar handphonenya, namun kali ini bukan dari Blaze melainkan Taufan.

Tahu sedeng
| Boy, ke pantai kuy!

Boboiboy mengerutkan kening sesaat. Kenapa malah Taufan yang menjawab pertanyaan yang ia lontakan pada Blaze sekitar tiga menit yang lalu?

Boboiboy
|ngapain? Jangan bejat deh

Tak butuh waktu lama, Taufan membalas pesannya

Tahu sedeng
| gak baek pitnah pitnah orang ganteng dan suci kayak gua.
| gua ngajak lu ke pantai buat liat sunset, berhubung langitnya lagi uwau
| mau kagak?
| najis diread doang, lubang idung lu beranak aja

Boboiboy terkekeh melihat makian yang diberikan Taufan cuman cuma padanya. Boboiboy memang suka dan hobi sekali meledeki temannya yang satu ini, selain kepribadiannya yang ceria dan jail, Taufan juga anak yang terkenal dengan julukan 'playboy' hal tersebut dijunjung karena Taufan yang pandai meluluhkan hati para betina.

Tahu sedeng
| boy, gua ngambek ama lu bomat
| jawab ih tai
| nyeseq dede tuh
| YO DAH IYA DAH IYA

"Pfft--- BWAHAHAHAHAHAHA!"

Boboiboy terbahak melihat pesan-pesan yang diberikan Taufan padanya, dengan mata berair dan perut yang keram karena tertawa, Boboiboy membalas,

Boboiboy
| y udh ayo
| Blze ikt?

Tak perlu waktu lebih dari satu menit, Boboiboy sudah mendapat jawaban dari kawan sekaribnya tersebut.

Tahu sedeng
| dendam apa sih lu ama gua?
| jawabnya sok pendek amet
| anu lu ingusan aja

Lagi lagi Boboiboy tertawa melihat balasan yang diberikan Taufan, temannya yang satu ini memang pandai melakukan drama yang berujung lawakan.

Merasa iba, akhirnya Boboiboy mengalah dan memutuskan untuk setuju pada ajakan Taufan.

Boboiboy
| iya kafan
| maap tadi gua cuman mau ngetes elu doang
| masih berhak idup ato kagak
| yo dah, bentar lagi gua samper

Sayang, pesan tersebut tak dihiraukan oleh sang penerima, Boboiboy pun merasa bersalah atas kesalahannya tadi dan memutuskan untuk meminta maaf pada Taufan.

Boboiboy
| yah, si bangsat marah
| ya udah, maapin gw y.
| gw traktir kfc dah

Belum juga ada jawaban. Sepertinya Taufan benar benar merajuk padanya.

"Duh, kok gini sih? Jangan-jangan dia beneran marah ama gua," gumam Boboiboy.

Boboiboy bangkit dari kasur empuknya dan nenyambar jaket orangenya dan menyelipan dompet ke dalam saku celananya. Ia berniat mengajak Taufan dan Blaze ke pantai yang Taufan tawar tadi.

Entah jaraknya jauh atau tidak, Boboiboy memilih berjalan kaki untuk menyampar temannya, toh jarak rumah mereka tidak sejauh dari Jakarta ke Surabaya.

Pertama-tama, Boboiboy memanggil Blaze agar ia mau membantu Boboiboy meminta maaf pada Taufan.

"Blaze, ini gua, Boboiboy." Tak ada sautan dari dalam, dengan mudah Boboiboy menyimpulkan kalau sang empunya rumah mungkin saja sedang tidur atau mandi dan lain sebagainya.

"Ke rumah Taufan aja deh," lirih Boboiboy. Dengan nyali maut dia beranjak ke rumah Taufan dan memanggilnya dari luar rumah demi menjaga tata krama yang ada.

"Taufan." Pintu rumah terbuka, menampakan makhluk dengan bibir kerucut yang masam

"Apa?" tanya si pemilik rumah dengan ketus, membuat bulu roma Boboiboy berdiri

"Eee, maaf Fan. Gua gak sengaja tadi." Boboiboy kikuk, ia menggaruk tengkuknya yang tak gatal.

"Maaf karena apa?" tanya Taufan tak mengerti

"Hah? Bukannya lu marah ama gua?" tanya Boboiboy syok. Ia tidak yakin kalau Taufan bisa lupa dengan masalahnya secepat itu.

"Kagak anjir, gua tidur tadi masa iya gua marah dalam mimpi. Gak lucu," celutuk Taufan. Boboiboy gemetar.

Lalu, siapa yang menjawab pesan tadi?

Bukankah orang tua Taufan tengah sibuk?

Lalu, apa dia juga bermimpi tadi?

Tidak. Tadi amat terasa nyata.

"Serius lu?!" tanya Boboiboy tak percaya

"Ngapain gua boong ama lu, Boy. Btw, masuk gih jangan jadi gelandangan." Taufan mengode Boboiboy yang sedari tadi anteng di depan pagar rumahnya untuk masuk ke dalam.

Boboiboy tak bergeming sama sekali, ia mulai berpikiran negatif tentang chat tadi.

Apa mungkin itu pocong yang nempatin rumah Taufan?

Ah, tidak.

"Masuk bangke!!!" Oke, tuan rumah mulai gemas akan tingkah sahabatnya ini. Boboiboy yang merasakan aura tak biasa dari Taufan langsung mengangguk paham dan masuk ke dalam kawasan rumah Taufan yang lumayan elit baginya.

Belum genap lima langkah masuk, Blaze langsung menyambar Boboiboy dengan senyum sumingrah dan wajah penuh kemenangan.

"BOBOIBOY!! KAEPCI NYA TIGAAA!!!!" Boboiboy terkejut melihat Blaze yang berlari kegirangan dengan senyum sumingrah sambil meneriaki KFC yang ia janjikan tadi.

"Berisik tolol!" Taufan berdecak, Boboiboy sweatdrop, Blaze kegirangan.

"Iya gua maafin, tapi ayam kaepci tiga ya!" tutur Blaze, Boboiboy ingin mati saja rasanya.

"Lu napa sih, Blaze? Brisik tau ga, ganggu telinga orang tampan aja!" kementar Taufan.

Boboiboy berusaha mencerna apa yang terjadi barusan.

Taufan tidur, hp Blaze tidak aktif, Blaze tidak ada di rumahnya, Blaze menagih KFC. Fiks! Boboiboy terpedaya.

"Ke pantai, nya, jadi'kan?" tanya Blaze memastikan

".... Lu yang bajak hp Taufan ya, Blaze?" tanya Boboiboy dengan nada hampa

"Iya"

"Lu yang ngambek ya tadi?"

"Iya"

"....."

Taufan tak mengerti akan maksud kedua sahabatnya, terlihat aneh karena dia tak paham topik pembicaraan.

"Kalian ngomong apaan, sih?" tanya Taufan bingung

"Kaepci tiga! Gak ada penawaran!" tukas Blaze

"Gua juga mau!" sahut Taufan

Boboiboy menghela napas pasrah, mengingat kemarin Blaze memberinya tumpangan makan malam, it's okay anggap saja kaepci itu balas budinya.

"Habis sudah my money diperet mereka. Pelajarannya, jangan pernah terpedaya dengan rayuan buaya," batin Boboiboy miris.

Mumpung waktu masih pukul empat sore, Boboiboy akhirnya memesan KFC untuk dirinya dan teman-temannya. Ya, itung itung sedekah dan balas budi.

Saat ini, Blaze, Boboiboy dan Taufan sedang menonton film horor berjudul "rumah kentang" bukannya memperhatikan alur dan plot dari film tersebut, tiga pria itu malah asyik menilai tokoh utama perempuan dalam film itu.

"Cewenya cantik ege," ucap Taufan dan disetujui oleh kedua temannya.

"Aduh kasian banget cewenya, padahal cantik tapi malah tersiksa." Blaze menambah

"Cantikan Yaya." Pandangan Boboiboy berubah parau, ingatannya kembali menghantui dirinya.

Gadis penyuka warna pink itu memang membuat dirinya gila. Hanya didasari dari pertemuan pop mie yang tumpah dan berujung jodoh memanglah tak lucu, tapi ini kenyataannya.

Andai waktu bisa diulang kembali, Boboiboy pasti akan melindungi Yaya lebih baik dari ini.

Di sebrang sana, Yaya mungkin tak ingat bahkan tak mengenal dirinya lagi. Entah bagaimana kabarnya, yang jelas Yaya sudah mampu menjalani kehidupannya dengan normal kembali.

Blaze dan Taufan lantas menolehkan kepalanya ke arah Boboiboy. Kehilangan frist love memang menyakitkan, belum lagi cara keduanya terpisah bisa dibilang tragis dan tak pantas.

Blaze memapah Boboiboy dan menyorotkan pandangan sendu padanya, berbeda dengan Taufan yang malah menatap Boboiboy dengan senyum mengejek.

"Cieee sedboi!" ledek Taufan, Boboiboy dengan cepat melayangkan pukulan ke kepala Taufan.

"Gak guna lo, micin!" tukas Boboiboy

"Canda elah, baperan amet, gimana Yaya mau inget ama lu coba?" Taufan mengompori, Boboiboy kembali meratapi nasib.

"Taufan no punya heart!" Blaze menambah, Taufan hanya menatapnya datar.

"Sok inggris lu, arang gosong."

Ditengah galau nan parau sang pemilik topi orange tersebut, suara nyaring menyosor masuk ke dalam pendengaran mereka.

"PUNTEN, GOPUD!"

"BENTAR ABANG! KAEPCI KAN YAK!???" Blaze dan Taufan langsung berteriak gembira, telapak tangan mereka ditadahkan di depan wajah Boboiboy, minta duit.

"Duit!"

"Uang!"

"Kaepci!" Mata Taufan dan Blaze berbinar, saat Boboiboy memberikan mereka empat lembar uang nominal seratus ribuan.

"Wanjir merah!" Mata Blaze melotot melihat nominal yang dikeluarkan Boboiboy

"Brisik lu bekecot!" cecar Boboiboy sembari menyerahkan uang tersebut pada kedua sahabatnya yang sudah bertekuk lutut dihadapannya demi tiga ayam KFC

"Makasih bosqu!" Taufan langsung menyambar uang tersebut dan berlari dengan kecepatan tinggi menuju halaman rumahnya, "wih abang kaepci! Nih bang duitnya." Taufan memberikan dua lembar uang seratus ribuan, disusul Blaze yang baru tiba dibelakangnya.

Setelah proses transaksi selesai, Taufan dan Blaze kembali ketempat mereka semula dan menyantap ayam-ayam tersebut dengan rakus tanpa belas kasihan.

"KaEpCi lebih enak daripada tai kebo!" ucap Taufan, Boboiboy dan Blaze yang sedang menikmati makannanya sontak membayangkan benda kotor berwarna sedikit kecoklatan tersebut yang bersumber dari kerbau atau sapi. Hal tersebut tentu saja membuat Blaze dan Boboiboy muak.

"Teu aya akhlak lu bangke!" Blaze melempar bantal sofa kepada Taufan dengan kasar hingga Taufan tersedak karenanya.

"Ohok! Ohok! Bangke!" Taufan tak mau kalah, ia melempar bantal tadi tepat ke kepala Blaze sehingga kepala Blaze terhuyung ke belakang.

"Anjer!!" Blaze memekik, Boboiboy hanya memperhatikan tanpa mau melerai, karena hal demikian memang sudah menjadi tradisi tersendiri dalam persahabatan mereka.

"Gitu tuh, kalo otaknya isi tai semua," gidik Boboiboy

"LU KIRA KITA UDANG!?" Boboiboy mendelik tak acuh.

********

Sorry gaes!

Upnya lama:)

Eh baru sebulan deh--

Otak buntu soalnya, ini aja seadanya. Jadi, maklumin kalo ada typo ya.

Vote dan coment!

20 juni 2020

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top