Part 5 - Thinking While Dating
Sudah kelima kalinya Aldrich berdecak kesal tanpa bergerak dari tempatnya, seolah sedang menonton drama yang membuatnya gemas karena jalan ceritanya tidak sesuai keinginannya. Jari-jarinya yang menghimpit puntung rokok bergerak mendekati wajahnya sendiri dan mempertemukan ujung filter dengan bibirnya sendiri. Pandangannya masih terus mengikuti objek yang sedari tadi mengikat netranya.
"Ngapain sih lo, Drich? Sumpah dari tadi ngganggu banget tau nggak!?" keluh Jonathan tidak sabar lagi dengan kelakuan sahabatnya itu.
Sebenarnya Jonathan tahu apa yang dari tadi menjadi objek decakan tiada henti sahabatnya itu, dan dia hanya berusaha untuk sabar dan berusaha memaklumi. Namun lima kali sudah diluar batas ambang sabarnya.
"Kalo lo kangen itu disamperin, bukan nonton dari atas atap kayak gini. Lo kira lo itu juliet apa?" tambah Jonathan dengan sindiran.
Mereka berdua memang kini sedang berada di atap salah satu gedung kampusnya. Ini adalah tempat favorit kedua mereka untuk menghabiskan waktu setelah kantin. Biasanya mereka akan menghabiskan waktu disini untuk merokok sambil saling bercerita atau bahkan hanya saling bengong membunuh waktu.
Namun hari ini tidak seperti biasanya, karena saat Aldrich baru saja menyalakan rokoknya sambil mengawasi pemandangan dari atap setinggi enam meter ini, dia menemukan sosok yang lagi-lagi sedang dihindarinya. Dan alih-alih menyembunyikan diri supaya tidak dilihat oleh objeknya, Aldrich malah keasikan mengawasi sang objek yang sedang asik menunduk membaca buku sambil duduk di bawah salah satu pohon. Walau tidak terlalu jelas, Aldrich menyadari bahwa sang objek itu juga memasang earphone ke sepasang telinganya, sepertinya sedang mendengarkan lagu.
Felicia terlihat sedang asik dengan dunianya sendiri, dan nampak sangat baik-baik saja. Sama cantiknya seperti biasa, sama mempesonanya seperti biasa dan sama sekali tidak kelihatan merindukannya walau sudah dua hari dia tidak menghubunginya, sejak pertemuan mereka di perpustakaan dan Aldrich mengantarkannya pulang. Aldrich lagi-lagi tidak menghubunginya setelah mengantarnya pulang hingga hari ini.
Dan kenyataan seberapa cantik dan baik-baik saja-nya gadis itu mau tidak mau membuatnya merasa sedikit kecewa.
Namun bukan itu yang membuatnya berdecak berkali-kali dengan sebegitu depresinya saat ini. Mata-mata tidak bermoral dari lebah-lebah sialan yang memandangi Felicia yang membuatnya terdengar sangat depresi seperti ini.
Harusnya semua lelaki sialan di kampus ini sudah tahu kalau status Felicia saat ini adalah pacarnya. Dan seharusnya dia tidak se-invisible itu sampai mereka semua masih berani memandang tidak sopan kepada pacarnya.
Felicia memang memiliki segala aspek yang membuat lelaki normal tidak bisa mengalihkan pandangannya. Dimulai dari wajah cantiknya, bibir merah tipisnya, rambut ikal panjangnya, hingga lekukan tubuh indahnya.
Harus diakuinya dengan jujur bahwa dirinya sendiri juga tidak bisa menolak pesona itu saat pertama kali bertemu dengan Felicia di orientasi mahasiswa baru. Matanya tidak henti memindai tubuh gadis itu dari bawah ke atas dan ke bawah lagi.
Aldrich kemudian berdecak untuk keenam kalinya saat dia melihat Felicia kelihatan kegerahan dan mengangkat rambut ikal panjangnya yang otomatis memperlihatkan tengkuknya. Entah gadis itu terlalu polos atau bagaimana sampai tidak sadar bahwa tengkuknya itu adalah sumber feromon yang sangat didamba lebah-lebah sialan, termasuk dirinya sendiri.
"Man! Kalo lo berdecak sekali lagi, lo akan gue dorong ke bawah biar langsung sampe ke hadapannya Felicia deh!" Ancam Jonathan semakin kesal.
Dan berhasil, karena Aldrich berusaha mengendalikan dirinya untuk tidak berdecak lagi dengan membalik tubuhnya dan membelakangi sumber kekesalannya itu. Sekali lagi tangannya bergerak mendekati wajahnya dan mempertemukan filter rokok dengan bibirnya sendiri.
Jonathan mengikuti gerakannya dan mempertemukan punggungnya dengan dinding balkon seperti yang dilakukan sahabatnya.
"Lo kenapa sih Drich? Kelakuan lo hari ini aneh banget."
"Gue nggak kenapa-kenapa kok," jelasnya singkat.
Mereka berdua kemudian sama-sama saling berdiaman. Jonathan tampak belum menyerah untuk mengorek informasi dari sahabatnya itu.
"Felicia minta lo tanggung jawab ya?" Tebaknya.
"Kagak, kenapa lo ngomong gitu?" Tanya Aldrich balik dengan wajah bingungnya.
"Ya, abis lo kucing-kucingan nggak mau ketemu dia, gue kira dia minta tanggung jawab ke lo abis pulang dari Bali."
Itu memang salah satu hal yang harus dipikirkannya karena masalah di Bali minggu lalu belum selesai. Kemungkinan benih yang ditanamkannya hidup masih ada sampai satu bulan ke depan. Namun saat ini bukan itu yang dipikirkannya.
Mungkin dia memang butuh teman berbicara, dan Jonathan opsi terbaiknya saat ini. Karena kalau dia bercerita kepada Andreas, tidak akan ada hasilnya kecuali dia akan menjadi objek ketololan baru untuk sahabatnya itu.
"Gimana rasanya pacaran selama itu, Jo?" Tanyanya tiba-tiba.
"Maksud lo?"
"Lo sama Bianca," jelasnya, "kalian udah pacaran selama itu apa rasanya."
"Aneh pertanyaan lo," kata Jonathan tidak terlalu menanggapi, apalagi berusaha menjawab.
"Gue takut sama Felicia, Jo," katanya akhirnya jujur.
"Takut? Kenapa takut?"
"Gue juga nggak ngerti. Tapi pacaran sama dia bikin gue takut."
"Ketakutan apa yang jelasnya lo rasain?" Tanyanya semakin penasaran, "lo takut sama dia atau takut sama hubungan kalian?"
Aldrich berusaha menjawab sejujurnya, "sama hubungan kita mungkin."
"Tapi lo nggak mau ngelepas dia?" Tebaknya lagi.
"Nggak ada yang salah dari hubungan gue sama dia, jadi gue nggak ada alesan buat ngelepas dia. Tapi gue takut sendiri sama seberapa cepat kemajuan hubungan kita tiap kita ketemu. Tapi kalo gue jaga jarak dari dia, lo liat aja tuh b*jingan-b*jingan yang siap makan dia."
Jonathan tertawa mendengar penjelasan sahabatnya sekaligus melihat Aldrich yang berpikir keras, yang jarang disaksikannya.
"Kenapa lo ketawa?" Tanya Aldrich tersinggung.
"Gue belom pernah liat lo mikir waktu pacaran."
"Maksud lo gue nggak pernah mikir?"
Jonathan menggeleng mantap, "diajak nge-date kalo lo mau ya mau, kalo nggak lo bilang nggak, kalo cewek lo mau ya lo ajak tidur, kalo nggak ya nggak lo paksa. Putus pun gitu. Lo nggak pernah mikir, man! Baru kali ini gue liat muka mikir lo."
"T*i lah lo, bukannya kasih solusi cuma ngetawain." Makinya kesal melihat sahabatnya yang masih tertawa puas itu.
"Lo butuh solusi apa sih dari gue? Menurut gue lo udah melakukan yang benar kok. Berpikir." Katanya menegaskan kata terakhir yang diucapkannya, "tapi menurut gue, daripada lo kebanyakan mikir dan Felicia udah keburu disamber orang lain, mending lo sekarang juga turun ke bawah, rangkul cewek lo di depan semua orang itu dan bawa dia pergi dari sana. Lo tau sendiri kan seberapa polosnya cewek lo?"
Aldrich hanya butuh waktu kurang dari sedetik untuk berpikir, mematikan rokoknya dan berdiri dari sana.
***
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top