Bab 8
Bab 8
Jangan keburu jadian apalagi ciuman!!
Peringatan Mas Sakha seketika kembali terngiang ketika aku melihatnya sesaat setelah mematikan mesin motor. Ia duduk di bangku tak jauh dari jajaran motor anak kelas sepuluh. Senyum lebar di wajahnya terlihat cerah. Seakan bertemu denganku membuat harinya menjadi lebih indah. Lebay, tapi itulah yang kurasakan saat ini.
"Selamat pagi Widuri yang senyumnya membuat hatiku berseri-seri."
Menolehkan kepala ke kiri dan kanan, aku mencari tahu ada berapa orang yang mendengar rayuan gombal Affan. Saat ini, menjadi pusat pembicaraan tidak menjadi tujuan hidupku. Terlebih lagi ketika desas desus kedekatanku dan Affan sudah berhembus kemana-mana.
"Pret!" balasku berjalan melewatinya.
Dari suara langkah yang terdengar, aku tahu saat ini Affan mengikutiku. Beberapa pasang mata mulai memandangku dengan curiga. Terlebih lagi dengar ucapan Affan yang terdengar kencang beberapa saat lalu.
"Susah payah aku susun rayuan, kok hanya pret, sih, Wid?!"
Langkahku berhenti, membuat Affan hampir menabrakku.
"Kamu!" kataku membalik badan menghadapinya. "Pagi-pagi udah bikin semua orang memperhatikan kita berdua. Buat apa, to, Mas?! Kalau mereka kira kita ada apa-apa, gimana. Hadeh, isuk-isuk wis marai emosi ae!"
Tak memberinya kesempatan untuk menjawab omelan, aku memutar tumit dan meneruskan langkah. Tak peduli meski aku bisa merasakan lirikan beberapa gadis yang bisa dipastikan menaruh hati pada Affan.
"Sehari!" ucap Affan sedikit keras menahan langkahku. "Kasih aku waktu sehari untuk membuatmu mengenalku."
Melarikan pandangan ke balik punggung aku mendapati Affan menatapku dengan penuh harap sambil mengangkat satu jari.
"Sehari," ucapnya lagi. "Kalau setelah hari itu, enggak ada sedikit aja rasa tertarik di hatimu ... aku mundur."
Di tengah selasar. Di antara lalu lalang semua anak yang bergegas menuju kelasnya masing-masing, Affan mengajukan permintaan. Sebuah ajakan yang jujur saja, membuatku penasaran. Aku ingin tahu apa yang akan ia katakan atau lakukan untuk membuatku tertarik padanya.
"Satu hari," sahutku.
"Yes!" teriaknya. "Aku jamin kamu enggak bakalan nyesel, Wid. Tunggu aku besok jam sepuluh pagi."
Sebelum aku sempat bertanya apa maksud ucapannya, Affan berlalu. Meninggalkanku yang masih berdiri di tengah selasar dengan pertanyaan di kepala. Hingga suara bel masuk menyadarkanku untuk segera bergegas naik ke lantai dua.
***
Sepuluh menit sebelum pukul sepuluh keesokan hari, aku berdiri di depan kaca setinggi badan dengan jantung berdegup kencang. Midi skirt berwarna coklat, dipadu dengan t-shirts warna putih dan sneakers warna hitam menjadi pilihanku. Rambut Panjang lurusku sengaja kuurai, untuk melengkapi gaya casual hari ini.
Walaupun di dalam hati aku bertekad untuk santai menghadapi Affan, tapi degup jantung yang tidak bisa kukendalikan, berkata lain. Gugup, takut dan sedikit rasa penasaran membuatku mencari inspirasi casual outfit khusus untuk hari ini. Semua karena aku tak ingin terlihat menggelikan di depan Affan.
"Effort banget, Wid!" kataku pada pantulan diriku sendiri.
"Bilangnya enggak suka, tapi sampai susah payah semalaman cari inspirasi! Bilangnya enggak suka tapi kenap-"
Suara bel rumah membuat kalimatku berhenti di ujung lidah. Aku segera bergegas keluar rumah untuk membuka pintu, karena Mama yang sejak pagi ada acara di kampu. Degup jantungku masih tak beraturan, terlebih lagi ketika melihat baju yang Affan pakai.
Celana panjang berwarna coklat. Kaos putih berlapis kemeja panjang berwarna hijau sage yang lengannya ditarik hingga siku.
Affan terdiam dengan kedua alis mata terangkat tinggi. Binar bahagia yang terlihat di sana membuatku harus menahan diri untuk tidak tersenyum. Bahkan aku harus menggigit bagian dalam mulutku.
"I knew it!" ucapnya penuh semangat. "Kita memang diciptakan untuk bersama. Lihat saja pilihan baju kita hari ini, sehati banget, kan."
Tak ingin memberinya kepuasan, aku memintanya menunggu. Sementara aku mengambil tas di kamar dan memastikan semua aman sebelum mengunci pintu. namun, langkahku terhenti ketika mendapati Mas Sakha berada di depan pintu pagar.
"Mau ajak Widuri ke mana?!"
"Jalan, Mas. Ada kafe baru di daerah Sidoarjo yang bakalan Widuri suka."
Tak ingin menganggu interogasi Mas Sakha, aku memilih diam di belakang kakak lelaki Nomi tersebut. Ini bukan interogasi pertama yang kulihat, karena setiap kali ada seseorang mengajak Nomi pergi, Mas Sakha selalu menanyakan berbagai pertanyaan seperti saat ini.
Tidak ada gugup atau takut yang kudengar dari setiap jawaban yang Affan berikan. Meski bisa melihat rasa hormatnya pada Mas Sakha, tapi aku tahu saat ini ada kebingungan di kepalanya.
"Udah interogasinya?" tanyaku sambil melingkarkan tangan di lengan Mas Sakha. "Bukannya hari ini mau berangkat ke Semarang, Mas?"
Sebagai salah satu staff di kantor Wakil Gubernur Jawa Timur, Mas Sakha memiliki jam kerja yang terkadang tidak menentu. Mengikuti jadwal orang Nomor dua provinsi Jawa Timur tersebut membuatnya harus standby setiap saat.
"Kereta ntar malam," jawabnya sambil mengusap lembut pundakku. "Ingat pesan Mas?!"
"Share lokasi, kenalin dulu, jangan keburu jadian apalagi ciuman. Itu, kan?!"
Aku bisa merasakan kebingungan Affan melihat kedekatanku dan Mas Sakha. Bahkan aku sudah bersiap untuk menjawab semua pertanyaan termasuk tentang pesan yang baru saja kuucapkan.
"Kamu!" kata Mas Sakha menunjuk Affan. "Jangan ngebut di jalan. Kalau Widuri jam sepuluh belum sampai rumah, jangan harap bisa jadi pacarnya. Ngerti?!"
"Siap, Mas!" teriak Affan memberi hormat sambil mengulum senyum. "Kami jalan dulu, Mas."
"Lho, kok jalan? Bukannya naik mobil?!" sahut Mas Sakha dengan wajah serius. Meskipun aku tahu saat ini, ia sedang menahan senyum.
Affan yang bersiap membuka pintu segera membalik badan sambil menggaruk kepalanya kikuk. "Eh, iya, Mas. Maksudnya kaiu berangkat dulu."
Kugelengkan kepala sebelum menepuk pelan lengan Mas Sakha. "Jalan lupa pesenanku," ucapku mengingatkan tentang lumpia Semarang yang harus dia bawa untukku.
"Gimana mau lupa, tiap lima menit diingetin terus."
"Ya harus sering-sering diingetin, lah!" jawabku. "Mas kan udah tua, gampang lupa," sahutku sebelum berlalu dan memasuki mobil Affan.
Mas Sakha tidak bergerak dari posisinya, hingga Affan melajukan mobil menuju gerbang komplek perumahan. Suasana canggung di antara kami masih terasa, meski kini mobil sudah mulai memasuki jalan tol. Tak sekalipun Affan melihat ke arahku. Hal itu membuatku ingin memintanya untuk memutar mobil. Aku tidak ingin suasana dingin dan mencekam mewarnai hari ini.
"Kal-"
"Jawabanku tadi udah bener, kan?" tanya Affan menyelaku. "Aku enggak tahu kalau bakalan diinterogasi kakak kamu. Mana wajahnya serem pula. Tapi ... aku lolos, kan?" tanyanya terlihat penuh harap membagi konsentrasi antara aku dan kepadatan jalanan.
"Selama aku ngajak cewek pergi, baru kali ini ada yang bikin aku deg-degan. Kakak kam-"
"Mas Sakha itu kakak Nomi."
Affan menolehkan kepala dengan cepat kearahku. Matanya membelalak terlihat tak percaya, membuka dan menutup bibir tampak bingung. "Bukan kakakmu?"
Kugelengkan kepala sambil menahan senyum di bibir. Aku tahu saat ini Affan pasti bingung mendapati sikap Mas Sakha yang protektif. Bersikap layaknya seorang kakak yang melindungi adiknya, walau tidak ada hubungan darah mengikat kami berdua.
"Aku anak tunggal, dari kecil udah kemana-mana berdua sama Nomi. Mas Sakha yang sembilan tahun lebih tua dari kami berdua otomatis jadi pelindung, sampai sekarang."
"Termasuk interogasi cowok yang pengen ngajak kamu jalan?"
"Ya enggak tahu, juga, sih," jawabku santai sambil mengedikka pundak. "Baru kali ini ada yang berani ngajak aku pergi."
Senyum seketika terkembang dengan ekspresi jumawa yang sulit untuk aku abaikan. Affan mengangkat tinggi dagunya, melirikku yang kini menyesali keputusan jujur padanya. "Jangan bangga gitu dong!" hardikku menahan senyum di bibir. "Biasa aja, lah!"
Happy reading
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top