Refrain
Netra hazel itu terbuka dalam hening. Hal pertama yang ia pandang adalah langit-langit kusam agensi—yang semakin hari kian nampak bercak kecokelatannya sebagai akibat rembesan air hujan setiap musim. Saat itu, pikirannya masih melayang dalam fabrikasi tipis angan. Ia baru tersadar seutuhnya sewaktu ingin bergerak. Ada sensasi menyengat di bahu kirinya, yang spontan saja ia pegang sembari meringis kecil.
"Jangan bergerak terlalu banyak atau lukamu akan terbuka lagi, Hatano."
Kepalanya dialihkan ke samping, mengerling pada satu-satunya insan di ruangan selain dirinya sendiri. Pemuda pemilik surai maroon—Miyoshi—tengah duduk di sisi ruang dekat birai jendela renta dengan sebuah buku kecil digenggamannya. Cahaya jingga dari matahari sore, memulas bagai semburat malu-malu dan hela angin musim gugur menyapu halus helai-helai rambutnya. Sungguh penggambaran sempurna untuk sosok-sosok yang kerap kali Hatano lihat di lukisan-lukisan era klasik.
Tapi sekarang, ia malah dilingkupi tanda tanya, "... kenapa aku—" Buru-buru ia ralat, "—kita di sini?"
Mata Miyoshi yang semula setia memindai aksara pada paragraf, kini beralih seluruhnya pada sosok yang masih terbaring di atas ranjang, "Kau tak ingat?"
"... ingat apa?"
Desah napas terurai, "Buat sel kelabumu bekerja. Aku hanya akan meluruskan apa yang salah."
Hatano berdecih. Tega sekali menyuruh orang sakit untuk berpikir keras. Tapi Hatano sadar, kalau ia ingin jawaban, maka ia harus mengikuti arah permainan Miyoshi.
Matanya terpejam. Pikirannya difokuskan dan dilempar menjauh.
Ingatan terakhirnya bermuara pada misi yang tengah mereka—ia, Miyoshi, Kaminaga juga ... Fukumoto dan Jitsui, kalau tidak salah—jalani. Misi pengintaian seorang terduga agen ganda. Strategi juga langkah-langkah telah diperhitungkan dengan sangat matang. Sebagaimana rencana, mereka terbagi menjadi dua kelompok. Kaminaga, Jitsui, dan Fukumoto menjadi satu kelompok, sedangkan Hatano satu kelompok dengan Miyoshi.
Pengintaian berjalan tanpa hambatan hingga sampai di suatu titik, ketika tiba giliran Miyoshi dan Hatano berjaga, salah seorang kaki tangan dari pria yang mereka intai, menyerang mereka berdua. Namun nyatanya, refleks yang dimiliki Miyoshi lebih cepat. Pemuda itu langsung tersungkur sehabis leher juga kakinya dipatahkan.
Sayangnya kemenangan tadi menjadi titik buta. Miyoshi tak menyadari jika ada timah panas melesat cepat ke arahnya. Hatano masih ingat, kala itu ia masih waspada dan kala itu pula, tanpa pikir panjang, ia langsung bergerak, menjadikan tubuhnya tameng hidu—
Oh.
Senyap yang semula menggantung, mulai Hatano tanggalkan secara sukarela.
"... aku tertembak, ya?" katanya.
Miyoshi tak menepati janji karena tak segera membalas tanya. Ia malah beranjak lalu menghampiri Hatano. Sosoknya berdiri di sisi ranjang dengan sorot keangkuhan masih tergambar nyata dan penuh penekanan. Meski begitu, Hatano bisa menangkap seberkas riak yang tak mampu ia deskripsikan.
Apa itu? Kebencian, amarah, atau—kecemasan?
"Kenapa kau lakukan itu?" Ekspresinya masih tak terbaca, "Kau membahayakan dirimu sendiri, Hatano."
Kali ini, Hatano tak tahu ke mana suaranya pergi.
"... tubuhku tiba-tiba saja bergerak." Hatano merespons ringan.
"Omong kosong." Miyoshi memasang sikap defensif, kedua lengannya dilipat di depan dada, "Tindakanmu ceroboh. Mana ada kalkulasi acak dan tak terprediksi seperti itu, hm?"
Hatano membuang napas, matanya menatap Miyoshi lekat, "Jadi kau memilih untuk mati di sana?" Dapat Hatano tangkap ekspresi Miyoshi yang agak terganggu akibat ucapannya barusan.
"Aku akan mati dalam tugas." Miyoshi mengamati sengit, Hatano tetap tak gentar, "Tapi aku bisa memastikan, jika aku tak akan mati dalam tugas ini."
"Heh! Kau lupa petuah Si Pak Tua itu? Jangan meremehkan misi atau kau benar-benar akan pergi dari dunia ini untuk selama-lamanya." Nada suaranya jengkel. Lama-lama jengah juga kalau berhadapan dengan orang angkuh dan tak tahu diri seperti Miyoshi.
"Aku tak pernah lupa. Tapi kau yang lupa." Terdapat empasis, "'Jangan membunuh, jangan mati' dan kau sengaja mengorbankan diri. Tindakan yang akan menurunkan kredibilitasmu di mata Yuuki-san."
Sekarang Hatano malah mendengus geli. Tawanya tertahan oleh nyeri yang tak diundang. Kening Miyoshi berkerut dalam, "Hei, aku 'kan belum mati." Katanya lugas, "Lagipula dengan bisa bertahan seperti ini, bukankah nilaiku akan semakin baik di matanya?"
Cengiran Hatano menjadi suatu antipati tersendiri bagi Miyoshi. Bukan karena terlihat menyebalkan atau meremehkan, justru sebaliknya, Miyoshi terlalu menyukainya hingga terlalu benci untuk mengakui. Miyoshi lupa kapan tepatnya ia mulai mengagumi senyum Hatano. Yang jelas, yang ia tahu, kini ia tak dapat lepas dari jeratnya.
Miyoshi secara terpendam, tak ingin senyum itu hilang.
"Kenapa malah diam?"
Miyoshi sedikit tersentak, tak menyadari bila lamunannya terjadi di tengah-tengah konversasi, "Tak ada apa-apa. Lupakan saja."
"Pfft, kau khawatir aku mati, ya?"
Buru-buru Miyoshi timpali, "Aku khawatir misi kita gagal."
"Ah, yang benar?" Hatano menyeringai, "Kalau begitu, seharusnya aku mati sa—"
"Kau mati dan misi tetap dianggap gagal." Sebelum kalimat itu rampung, Miyoshi menyela tanpa ragu. Ia tak ingin mendengar kelanjutannya.
Tapi kemudian ia menyadari jika manik Hatano mengerling usil, pemuda itu jelas-jelas menggodanya.
"Kau tahu, berterus terang akan sangat baik ketimbang harus menutupi semuanya?" Hatano bersuara.
Miyoshi membisu, mencerna sejenak perkataan lawan bicaranya, "Apa yang kau bicarakan?"
"Ah, jangan merahasiakannya lagi. Aku cukup yakin jika kau khawatir padaku."
"Percaya diri sekali."
"Oh, begitukah? Sayangnya aku juga dapat mengendus kebohonganmu, Miyoshi."
Lagi-lagi, Miyoshi diam.
"Katakan padaku," Tatapan Hatano seolah ingin menggali lebih jauh profil seorang Miyoshi, "Kau khawatir jika aku tak bangun kembali, 'kan?"
Pertanyaan Hatano adalah pukulan telak. Namun Miyoshi tak ingin benteng pertahanannya runtuh dengan begitu mudah.
"Kalau kau masih mampu berpikir sejauh itu, berarti masih ada sisa tenaga untuk dapat sembuh dari luka tembak tersebut." Miyoshi beranjak dan meninggalkan Hatano yang mengekori geraknya dengan sorot mata. Sesaat sebelum mencapai pintu, langkahnya pun terhenti, "Aku jarang berterima kasih tapi bukan berarti aku tak tahu caranya berucap demikian." Napasnya ditarik, "Terima kasih dan cepatlah kembali. Kami masih membutuhkanmu dalam misi."
Hatano tersenyum tipis, kali ini tidak ada niat mencela atau apapun. "Ah, Aku akan cepat sembuh! Jangan lupa sisakan beberapa orang yang bisa aku hajar, ya!"
Miyoshi mendengus geli, "Kau tahu kami tak dapat memenuhi permintaan itu bukan?"
Kekehan terdengar, "Ya, aku tahu kok. Sudah sana pergi. Aku ingin tidur." Tangan Hatano mengibas-ngibas seolah hendak mengusir.
"Hm. Istirahatlah."
Derit pintu pun menjadi penutup dan berakhir meninggalkan jejak antara yang tak dapat terhapuskan.
.
.
.
[ ]
A/N: Heuheuu photoshop alice gak sembuh2 jadi bikin cover seadanya /yh/
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top