02 ♡ Curhat Halu

---------------------------------
cemburu itu laksana sebuah cinta dan benci, keduanya datang pada waktu yang bersamaan

-- marentinniagara --
---------------------------------

One Squell of Kasta Cinta and the others
-- happy reading --
🎋🎋
.
.
.

DRAMA kehidupan tak ubahnya seperti sebuah film atau sinetron yang langsung disutradarai oleh dzat pemilik hidup setiap hambanya. Cerita yang mengalir pun tak ubahnya seperti sebuah script yang harus dihafal namun tidak ada siaran ulang karena waktu akan selalu berjalan maju tidak akan pernah bisa kembali mundur.

Banyak alasan juga tentunya mengapa banyak orang berada di kursi biru berhadapan dengan sebuah layar yang disorot sebuah proyektor dan menikmati setiap alur demi alur dengan penuh antusiasme. Terkadang gerak tubuh penonton mengikuti adegan secara tidak langsung sesaat keseruan dalam adegan film itu menggugah andrenalin mereka.

Sayangnya kali ini tidaklah demikian adanya bagi seorang Ardiansyah Abubakar. Awal rencananya mengajak Wafiq untuk jalan keluar karena dia ingin membicarakan sesuatu yang sangat penting, menurutnya. Setelah keduanya melihat sesuatu yang mengganjal dalam sebuah pertemuan tanpa sengaja yang tidak tertulis dalam list jalan bersama Wafiq malam ini, selama hampir dua jam berada di dalam cinema Ardi hanya berpikir adakah sesuatu yang membuat Wafiq terlihat salah tingkah di depan Nafiza. Padahal awalnya Ardi hendak menceritakan kepada sahabat tentang keinginannya bisa lebih dekat dengan Nafiza.

"Brow, kamu kenapa? Sudah seperti cewek PMS aja. Tadi ngajak nonton film tapi kok sepertinya tidak bisa menikmatinya?" tanya Wafiq saat mereka berdua telah keluar dari cinema.

"Sok tahu lu, emang kelihatan banget ya?"

"Elah__jadi cowok baperan amat sih. Ya udah sekarang mau kemana nih?"

"Pulang," jawab Ardi.

Wafiq tertawa puas ingin meledek temannya namun diurungkan saat melihat raut wajah Ardi tidak ingin diajak bercanda alias serius seperti hendak melakukan penjahitan setelah anaestesi lengkap dilakukan.

"Elu kenal dimana Yaz dengan Nafiz?" Wafiq kembali memberikan perhatiannya saat kakinya bermain dengan pedal gas dan rem manakala mereka berdua keluar dari area parkir Tunjungan.

"Memang apa urusanmu?" Wafiq masih fokus dengan jalan berputar-putar yang mereka lalui untuk turun dari gedung.

"Bah nih anak makin songong sepertinya."

"Fiza itu adik kelasku dulu, kakak sepupunya nikah dengan kakakku. Puas?" tidak ada yang perlu disembunyikan bukan? Kenyataannya memang seperti itu.

Seperti oase bagi Ardi mendengar pernyataan Wafiq, sepertinya dia memang telah salah sangka kepada temannya ini. Tentu saja Wafiq mengenal Nafiza karena kakak dan kakak sepupu Nafiza menikah. Hanya saja ketika mengingat kembali bagaimana cara Wafiq memandang Nafiza hatinya masih sangsi atas pengakuan temannya, sepertinya masih ada yang disembunyikan oleh Wafiq.

Cemburu, Ardi mengetahui bahwa itu adalah sifat negatif yang bahkan hampir semua orang tidak suka dan mungkin Nafiza juga tidak suka jika orang yang baru dikenalnya bersikap seperti ini. Namun seperti Ardi harus meminta maaf, saat kini rasa cemburu itu mulai hadir menyeruak di dalam hatinya meski dia sendiri tahu meski tidak memiliki hak untuk itu.

Ardi bahkan telah membayangkan bisa bersandar di pundak Nafiza, merasakan semilir angin yang bersentuhan langsung dengan kulit. Sesaat saja ingin membiarkan berada di sini, di dalam hatinya.

"Di, pulang nih?"

"Hah__?"

"Bengong, mau kemana lagi ini? Jarang-jarang loh ngajak artis terus disetirin seperti ini." Belum juga Ardi menjawab Wafiq telah mengarahkan mobil mereka ke rute arah pulang ke kost.

Wafiq memang bukan laki-laki yang easy going untuk bisa dengan biasa jalan dan keluar di malam hari tanpa tujuan yang jelas. Itu jelas bertolak belakang dengan Ardi jadi wajar jika pada akhirnya Ardi menjadi teman Wafiq yang berbeda angkatan karena Ardi seringkali mangkir dari tugas kuliah sehingga dia harus mengulang untuk beberapa blok mata kuliah penting.

"Benar-benar anak mama. Sekali-sekali coba merasakan gemerlapnya dunia malam, brow."

"Besok kerja, jangan lupakan itu."

"Dokter idaman memang." Wafiq sedikit tersipu mendengar pujian Ardi. Meski bukan yang pertama kali dia mendengar pujian seperti itu namun saat Ardi yang mengucapkan dengan cara yang serius tentu saja menjadi hal yang begitu langka dirasakan oleh Wafiq.

Mereka telah sampai di kost namun Ardi meminta Wafiq untuk tidak memasukkan mobil ke garasi karena dia ingin keluar lagi. "Mau kemana?"

"Masih sore juga Yaz, mau ngapain di kost." Jam yang melingkar di pergelangan Wafiq telah menunjukkan pukul 21.50, artinya sudah hampir jam 10 malam. Bagi seorang laki-laki muda mungkin itu masih teramat sore namun bagi Wafiq, dia harus segera beristirahat karena tidak ingin terlambat bangun keesokan harinya lalu jadwalnya menjadi kacau balau.

"Awas ntar mabok lagi seperti kemarin. Merusak citra dokter aja sih."

"Woles ae, tapi sorry-sorry kata nama gue Ardi brow bukan Citra."

"Dasar!!"

Wafiq melangkah menuju kamarnya. Dia berjalan sembari melihat beberapa pesan masuk ke gawai miliknya yang sedari tadi dia abaikan. Pertama karena asyik menikmati film yang sedang diputar dan yang kedua karena dia sedang mengemudikan mobil Ardi. Seperti biasa banyak notifikasi tag dari beberapa akun media sosialnya yang terkadang jengah juga dengan mention-mention mereka yang sepertinya tidak begitu penting.

Beberapa foto yang sebenarnya biasa saja, seperti malam ini contohnya. Makan malam bersama Ardi di sebuah kafe yang menyajikan masakan khas betawi masuk juga dalam feed beberapa akun orang-orang yang entahlah Wafiq sendiri tidak mengenalnya. Semenjak kabarnya pernah viral di sebuah cuitan media sosial karena aksi heroiknya kala itu, ratusan ribu orang yang rata-rata masih remaja putri menyerbu akun medsosnya. Yah meskipun belum sampai centang biru namun bagi seorang yang bekerja bukan sebagai seorang selebriti itu cukup membuatnya menggelengkan kepala.

Dan itu juga yang akhirnya sekarang sering juga menerima tawaran beberapa endors produk, asal bukan obat-obatan dan juga multivitamin karena etika profesinya meminta untuk tidak menjadi brand ambasador dari produk-produk tentang kesehatan. Namun diperbolehkan untuk aktivitas yang bisa menjadikan semua orang sehat seperti berolah raga.

Hingga matanya menangkap satu pesan dari sebuah nomor yang belum tersimpan di dalam phonebooknya.

+628155674××××
Kak Wafiq dekat dengan dr. Ardi?

Seingat Wafiq, tidak ada teman atau rekan sejawat yang memanggilnya dengan sebutan "Kak" dengan nama tengahnya, adik tingkatnya seringkali memanggilnya dengan kata abang lalu nama depannya, sedangkan rekan sejawatnya selalu menyematkan kata dokter di depan nama depannya, dr. Faiyaz. Apakah ini artinya?

Pesan singkat itu telah diterima oleh Wafiq hampir tiga jam yang lalu. Itu artinya memang dikirimkan oleh pengirimnya sebelum film yang dia tonton diputar. Mengenai Ardi dan panggilan kak, apakah dia boleh menyimpulkan bahwa itu adalah nomor dari Nafiza?

Tanpa membuang waktu Wafiq segera membalas pesan tersebut dengan pengharapan besar.

Maaf ini dengan siapa?

Wajar jika tidak segera mendapatkan balasan kemungkinan si pengirim juga sudah tidur setelah sekian lama Wafiq baru membalasnya, padahal biasanya dia paling anti membalas pesan singkat yang hanya berbasa-basi seperti itu. Namun sepertinya Wafiq salah memperhitungkan saat dia telah meletakkan gawai di meja belajarnya benda pipih itu kembali bergetar dan menampilkan bahwa pesan yang baru saja dia kirimkan dibalas oleh si pengirim misterius.

Ini Fiza, Kak. Maaf lupa tadi nggak kasih nama.

Badzlin Nafiza?

Pasaran banget yah nama Fiza sampai harus bertanya nama lengkapnya

Hahaha, bukan begitu hanya memastikan saja. Takut salah orang bisa bahaya.

Kamu kok belum tidur, maaf ya baru kebuka messagenya, baru saja sampai kost.

Iya nggak apa-apa, Fiza juga belum tidur kok masih ngerjain tugas. Tadi jalan dengan dr. Ardi, Kak Wafiq dekat memang dengan beliau?

Ardiansyah Abubakar? Dia teman internship kenal juga ketika ikut program ini bersama. Kebetulan dia anak Jakarta meski kuliahnya di Jatim dan karena kakak kuliah di Jakarta makanya kita jadi akrab. Kenapa Fiz?

Btw tahu nomer HP kakak darimana?

Eh iya dari teman-teman. Sudah mirip selebritis saja nih Kak Wafiq banyak yang mengidolakan

Mencoba untuk akrab kembali, sebenarnya Nafiza telah menyimpan nomer Wafiq sangat lama itu pun dia dapat dari mas Hanifnya hanya saja memang tidak berniat untuk menghubungi laki-laki yang memang tidak berurusan dengannya meskipun terkadang ada hasrat untuk stalk mengkepoinya. Namun Nafiza kembali sadar bahwa itu hanyalah sebuah kesia-siaan yang justru akan menjerumuskan rasa di dalam hatinya dikuasai oleh syaiton.

Sa ae. Eh itu tadi kenapa dengan Ardi, kamu tidak sedang dimodusin dia kan?

Nah itu dia Kak. Kemarin message Fiza ngajak keluar sebenernya malam ini hanya saja karena berdua saja akhirnya Fiza nolak. Makanya Fiza ingin tanya saja kepada kakak, dr. Ardi itu apa memang seperti itu?

Waduh kalau itu sih kakak nggak tahu ya Fiz hanya saja kalau berdua memang sebaiknya jangan. Kalau rame-rame mungkin bisa dipertimbangkan lagi

Syukraan Kak, ya udah Fiza lanjut lagi ngerjain tugasnya

Siap

Kalau ada kesulitan bisa hubungi kakak ya 🤗

Dengan senang hati

Seperti sedang bermimpi berbicara panjang lebar dengan wanita yang selama ini hanya bisa dibayangkan dalam angan. Sebenarnya bukan masalah yang sulit jika Wafiq menginginkannya hanya saja dia tidak ingin kefrontralannya membuat keluarganya lain menjadi curiga.


Sepertinya malam ini akan menjadi malam yang indah dan menjadi pembuka cerita selanjutnya.

Benar saja keesokan harinya, rezeki seolah berpihak kepada Nafiza dan juga Wafiq tanpa disengaja. Kantin selalu menjadi tempat dimana semua orang ingin membenarkan keinginan perut sementara mereka tidak membawa bekal dari rumah.

Menjadi ass op dadakan di pagi buta membuat Wafiq tidak sempat membeli sarapan sebelum berangkat ke rumah sakit. Telepon genggamnya berdering saat dia sedang bermunajah sepertiga malam. Urgensi dari rumah sakit memintanya menjadi ass op pagi ini.

"Nrs. Maya kemana Dokter? Pagi ini emergency menelpon saya untuk menjadi asisten dokter Farid."

"Putranya sakit dan tidak mungkin di tinggal." Penjelasan singkat yang akhirnya membawa Wafiq ke ruang ganti untuk berganti mengenakan seragam khusus sebelum berperang di OK.

Dua setengah jam berada di OK bersama dokter bedah saraf itu membuat Wafiq banyak mendapatkan pelajaran dan tentunya pengalaman baru. Operasi berhasil dan kini perutnya meminta hak untuk segera dipenuhi.

Kantin memang tidak seramai waktu istirahat atau ketika menjelang jam kerja, hanya saja beberapa tamu besuk atau mungkin keluarga penjaga pasien ada yang masih menikmati sarapan meski mungkin ini bisa dikatakan sarapan yang telat. Dan mata Wafiq menangkap sesosok yang semalam mengirimkan beberapa pesan hingga membuat komunikasi diantara mereka berdua mencair kembali setelah 5 tahun tidak pernah berkomunikasi.

Dengan beberapa lembar kertas di depannya juga satu piring nasi yang sepertinya masih sedikit sekali disentuhnya. Senyum Wafiq mengembang, satu tahun sebelumnya Wafiq juga merasakan ini saat dia berada di posisi Nafiza. Menjadi dokter muda yang diberikan tugas luar biasa sampai-sampai mata sudah seperti panda karena harus bekerja dan belajar secara bersama.

"Ehem, maaf boleh duduk di sini?" sapa Wafiq mencoba berbicara kepada Nafiza.

"Silakan." Nafiza menjawab tanpa berniat untuk melihat siapa yang sedang meminta izinnya untuk makan di sebelahnya. Mungkin dia beranggapan bahwa tempat yang lain penuh sehingga orang tersebut harus duduk satu meja dengannya.

"Kalau makan itu diselesaikan dulu, nggak enak nanti makanannya karena sudah dingin." Lima tahun memang telah merubah segalanya. Pemikiran yang semakin dewasa, guratan kematangan fisik yang semakin menambah aura kedewasaan serta gaya bicara yang kesannya tidak lagi malu-malu seperti anak SMP atau SMA mereka dulu.

Muka Nafiza terangkat dan alangkah terkejutnya saat melihat siapa kini yang duduk di hadapannya, mengunyah dan menikmati sarapan paginya.

"Kak Wafiq__"

"Assalamu'alaikum Nafiza."

"Waaalaikumsalam. Kakak masih sarapan jam segini?"

"Kamu sendiri? Itu sarapannya dimakan dulu, baru setelah itu pekerjaannya dikerjakan." Nafiza tersenyum lalu kembali menunduk. Tangannya kini mulai mengemas peralatan tulis dan beberapa lembar kertas yang ada di hadapannya. Merapikan dan menumpuk lalu dia mulai menyendokkan makanannya ke mulut.

"Sudah lama?" tanya Wafiq.

"Hah__?"

"Sarapannya? Jam berapa ini kok baru sarapan."

"Eh iya Kak, ini tadi nggak sempat sarapan karena harus ngumpulin tugas yang dikerjakan semalam. Ternyata masih juga ada yang keliru jadi harus segera di revisi, mana nanti siang ujian stase lagi. Kakak sendiri?"

"Habis ass op pagi ini, belum sempat sarapan tadi. Memangnya tugas apa sih, boleh bantu nggak?" kata Wafiq menawarkan diri.

"Ah beneran Kak Wafiq mau membantu?"

"Memangnya selama ini kakak pernah PHPin kamu?" Nafiza kembali memandang Wafiq sekilas. Melihat senyum tipis itu seolah melemparkan dirinya pada saat masa putih biru dan putih abu-abu dimana mereka sering sekali terlibat kegiatan bersama atas nama sekolah.

Menandaskan makanan sembari mengerjakan tugas, meski mungkin tidak begitu sempurna setidaknya Wafiq menjadi dewa penyelamat bagi Nafiza untuk hari ini. Sesuai jadwal yang telah ditentukan, tugas Nafiza terselesaikan dan Wafiq kini bisa dinas dengan tenang di IGD bersama rekan-rekannya.

"Terima kasih dokter Faiyaz."

"Sejak kapan kamu memanggil kakak dengan sebutan itu?"

"Lagian ini di kantor, gimana sih Kak."

"Panggil kakak saja, toh aku juga masih internship belum praktik sendiri." Wafiq kemudian tersenyum singkat.

"Ok deh baik, kakak. Lain kali kalau ada kesulitan bisa konsultasi dengan Kak Wafiq lagi ya?" Tidak perlu dijawab, dalam hati Wafiq pun bersorak dengan bahagianya. Sepertinya akan banyak alasan untuk membuat mereka bisa dekat seperti dulu lagi walau hanya urusan pekerjaan.

Kaki Wafiq berbelok arah menuju IGD sementara Nafiza juga berbelok berlawanan arah dengan Wafiq menuju stasenya.

"Dokter Faiyaz__" Wafiq menengok ke arah siara yang sedang memanggilnya. Ardi tiba-toba muncul dari balik pilar yang ada di sampingnya. "Mohon maaf anda tidak sedang melakukan pendekatan dengan koas Nafiza kan?"

-- to be continued --

Jadikanlah AlQur'an sebagai bacaan utama
🙇‍♀️🙇‍♀️
Jazakhumullah khair

sorry for typo
Blitar, 30 Agustus 2020

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top