29. Gone Wrong

"Anjir, dia marah?" 

Musa menunjuk Farrel begitu menghilang dari hadapan kami bertiga. Bukan hanya Musa yang berpikir begitu, aku dan Bayan pun sama.

"Semiotik tadi, manèh ngerti, Mus?" tanya Bayan.

"Ngerti, cuma—"

"Bantu gue!" Farrel muncul dari dalam, menghentikan diskusi kami bertiga yang kebingungan dengan sikapnya. Cowok itu terlihat panik, wajahnya memucat dan berkeringat.

Atas titahnya, kami bertiga masuk ke dalam kamar indekos Dito. Di sana, Dito berlumuran darah dan tidak sadarkan diri. Ia terbaring di atas kasurnya, dengan tangan kanan memegang pisau kecil dan pergelangan tangan kiri yang diikat kain.

Tidak, itu bukan kain. Itu kemeja.

"Gak ada waktu lagi, cepet bantu gue bawa dia ke IGD!" Farrel berseru lagi. Ia bahkan berjongkok di tepi kasur tempat Dito berbaring. "Mus, Yan, angkat!"

Kami bertiga terkejut bukan main. Tetapi, seruan dari Farrel seolah mengeluarkan kami dari perasaan kaget dan takut yang saat ini mengungkung.

"Ayo, Yan!" Musa menepuk bahu Bayan. Keduanya lalu menggotong tubuh Dito untuk digendong oleh Farrel.

"Satu, dua, tiga!"

Dito berhasil berada di punggung Farrel. Kemudian ia berdiri perlahan, terlihat jelas wajahnya sedikit letih menahan bobot tubuh Dito.

"Mus, kita bonceng tiga, Anya sama Bayan," kata Farrel.

Kami mengangguk patuh. Setelahnya, Musa mengekori Farrel yang meninggalkan kamar indekos. Berjaga dari belakang, khawatir Farrel terjengkang.

Aku dan Bayan pun ikut sampai ke depan pagar indekos. Bayan menyiapkan motor dan membantu menaikkan Dito, sedang aku membukakan pagar.

Untungnya, Musa membawa motor 250cc dan muatan joknya agak besar. Setidaknya masih ada ruang meskipun sempit untuk Farrel menjaga Dito dari belakang.

"Mus, cepet tapi hati-hati, ya. Lo berdua juga harus selamat."

"Oke, Nya. Nanti gue kabarin, baru lo nyusul," sahut Musa.

"Anya, Bayan, tolong periksain kamar Dito. Gue curiga dia ada hubungan sama pelaku," ujar Farrel.

Meski sedikit ragu, aku dan Bayan mengangguk patuh. Mereka lalu membawa Dito ke rumah sakit, sedang aku dan Bayan kembali ke kamar Dito.

***

Kurasa, Dito melukai tangannya dengan cukup dalam. Di kamarnya ini darah nyaris menggenang di lantai, bahkan sebagian kasurnya dipenuhi noda darah.

"Dari awal Dito emang gak beres. Tapi, bukan karna pribadinya."

Kamar indekos Dito mengingatkanku ketika berjumpa dengannya tempo hari. Ia bisa berinteraksi dengan baik, namun temperamennya tiba-tiba memburuk begitu menyadari aku adalah bagian dari HMK.

Bayan tidak beranjak begitu kami tiba di kamar Dito. Saat aku sibuk merapikan berkas salinan database, ia berdiri sambil melipat tangan dan menopang dagu. Ia bahkan samasekali tidak merespons ucapanku.

Tidak ada hal lain yang kutemukan di kamar ini. Hanya berkas salinan database, cutter yang digunakan Dito tadi, juga ponsel cowok itu.

Ransel besarnya yang selalu ia bawa kemanapun hanya berisi laptop dan jaket, juga sebungkus roti sobek. Tidak ada hal lain yang menunjukkan bahwa Dito berhubungan dengan pelaku.

"Yan, ini kita buka hapenya aja atau gimana?" tanyaku seraya menyodorkan ponsel Dito.

Bayan masih tak bergeming. Alisnya sedikit mengkerut, dan ia nampak menggigit bibir dalamnya. Jelas sekali, ia tengah berpikir serius.

"Yan?"

"Kupu-kupu abu tidur di taman salju, memotong sayap untuk memberi warna keberanian." Bayan menghela napas. "Coba, Nya. Analisis pake semiotik, cari tau relevansinya sama realitas di kamar ini."

Ya Tuhan. Aku samasekali tidak terpikirkan untuk menerapkan ilmu semiotika di situasi begini. Menemukan makna di antara tanda-tanda yang ada, berdasarkan situasi serta konteks saat ini.

Otakku tak mampu berpikir.

"Salju warnanya putih, sprei si Dito juga warna putih. Tapi, apa korelasi kasur sama taman?" tanya Bayan.

Oh! Aku paham sekarang. Maksud cerita Dito kepada Musa tadi adalah rencananya di waktu ini.

"Taman itu, kan, tempat orang nyantai. Bercengkrama. Kasur tempat orang istirahat." Aku berpikir sejenak. "Mungkin persamaannya adalah tempat yang nyaman."

"Memotong sayap untuk memberi warna keberanian. Keberanian itu ... merah, kan? Berarti maksudnya dia motong nadi supaya darahnya mewarnai kasur ini. Betul gak, Nya?"

Aku mengangguk menyetujui. "Berarti, Kupu-kupu abu itu si Dito. Tapi kenapa kupu-kupu abu? Kupu-kupu, kan, biasanya warna-warni, cantik juga. Kalau abu kesannya kucel gak, sih?"

Giliran Bayan yang mengangguk pelan. "Abu-abu juga berarti ketidakjelasan, antara hitam dan putih. Kupu-kupu juga rapuh, sekali sentuh sayapnya bisa luruh. Mungkin itu yang ngegambarin si Dito, tapi kita kesampingkan dulu soal warna abu-abu."

Aku menatap Bayan penuh selidik. Menerka, kira-kira apa pertanyaan filosofis selanjutnya?

"Suatu kelompok mampu mengubah orang menjadi kupu-kupu abu," ujar Bayan dengan tempo yang lambat. Cowok itu menatapku dramatis, seperti menikmati risau yang tergambar oleh wajahku. "Ada sekelompok orang yang sengaja bikin Dito ada di posisi sekarang."

***

Dito perlu perawatan intensif setelah mendapatkan donor darah. Musa dan Farrel masih menjaganya di rumah sakit, sebab kami belum bisa menghubungi keluarga Dito. Di ponselnya, tidak ada kontak bernama ayah atau ibu, paman-bibi pun tak ada.

Usai membereskan kamar Dito, aku kembali ke kamar Bayan. Berkumpul dengan Bulet juga Zafi di sana.

"Gila, ya, lo semua." Zafi berkata sinis, "Anak orang lagi sekarat di RS dan kalian masih gak mau lapor polisi?"

Kami memang sedang mendiskusikannya, bahwa diduga ada sekelompok oknum yang menjadikan Dito kambing hitam untuk kasus kekerasan seksual.

Barusan Zafi baru mengetahui bahwa Rida pun mendapat kado teror, jumlahnya ada empat. Isi kado terornya hanya foto-foto Rida, dan ancaman penculikan. Namun, polanya sama dengan kado yang kudapat: dibungkus dengan kotak merah dan pita hitam; serta nama pengirim paket yang diawali dengan huruf nama penerima, alias R-I-D-A.

Baik Zafi maupun Rida baru mengetahui kado teror tersebut usai Rida pindah ke indekos baru. Rida berpikir bahwa kado itu adalah paket belanjaan yang dipesannya, dan ia memang sengaja menumpuk paket belanja agar bisa melakukan shopping haul.

"Lo gak liat di grup angkatan pada bahas Anya open BO? Masih milih buat nurut sama si Yanto? Lo pada mikir kagak, sih, korban juga pengen pelakunya dihukum!" imbuhnya berapi-api.

"Kita harus tau dulu kondisi korban, Neng. Nanti aku tanya Dokter Nanda dulu tentang keadaan mereka, kalau udah baikan baru kita lapor."

Zafi berdecih. "Lo mikir kagak, sih, Yan? Lo bisa bujuk si Yanto supaya up kasus ini, dengan begitu dia bakal kesorot sebagai kaprodi yang anti kekerasan seksual dan mengayomi mahasiswa. Kalau lo gak bisa nego begitu, biar gue yang maju."

Semua pandangan tertuju pada Zafi yang menyorot Bayan dengan tatapan murka. Matanya berkilau sebab ia menahan air mata muncul ke pelupuknya.

"Lo cukup jadi brengsek buat gue aja, Yan. Tapi tolong, jangan jadi pengecut di masa jabatan lo juga."

🌻🌻🌻

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top