Permohonan & Boneka
"Kalian tahu? Aku tidak terlalu bisa dalam membuat koreografi, menjadi komposer maupun produser. Sama sekali tidak," tegas Chisa.
Akehoshi sedih mendengarnya. Raut wajah yang semula ceria menjadi lesu. Cahaya dan harapan di matanya berubah menjadi tatapan yang berusaha berpikiran positif.
"Chichiichan hanya bercanda, kan?" ucap Akehosi dengan tatapan penuh harap. Sayangnya tatapan Chisa terlalu sulit ditebak.
"Tidak," singkat Chisa.
Akehoshi tampak memaksakan senyuman. "Chisa juga ingin menjadi seorang idola kan? Kalau kau berkenan, tolong bantu kami untuk sementara waktu sekaligus menunggu siapapun yang mau menjadi anggotamu. Kau tahu sendiri, disekolah ini, hanya grup yang dihargai," jelas Akehoshi yang berbeda dari biasanya.
"Aku tidak peduli," balas Chisa.
Yuki melihatnya menjadi tidak tega pada Akehoshi. Yuki berusaha menghibur temannya, namun Akehoshi terlalu kecewa sehingga senyumannya luntur lalu meninggalkan Chisa dan Yuki dikelas.
"Chisa, tolong pertimbangkan permintaan Akehoshi," pinta Yuki dengan hormat sebelum menyusul kepergian Subaru.
Hanya Chisa yang tinggal di kelas. Tampak sepi nan sunyi. Entah penghuni kelas selalu pergi seenaknya saat jam istirahat tiba. Namun bukan itu pemikiran Chisa saat ini. Permintaan dari rekannya mungkin akan ia pertimbangkan saat senggang meski memakan waktu lama.
*****
"Huwee!? Aku satu kamar dengan Chisa!" pekik Sachi setelah cukup lama berjalan di asrama demi menemukan tempat tidurnya.
"Bisa tidak berteriak seperti menemukan harta karun? Adik kelas lainnya tidak berisik seperti dirimu," ujar Chisa setelah membuka pintu.
Sachi hanya bisa unjuk gigi dan memunculkan tanda peace dengan jarinya.
"Mari masuk."
Sachi memasuki ruangan yang akan menjadi tempat tinggalnya selama bersekolah di Yumenosaki. Asramanya cukup luas untuk dua orang. Bahkan tempat tidurnya juga tidak tingkat serta dilengkapi dengan komputer pada masing-masing kasur.
'Yang artinya aku bisa leluasa melakukan streaming,' pikir Sachi.
"Tidak boleh ada keributan saat jam malam," ucap Chisa.
"Maksudnya?" tanya Sachi.
"Kau pikir bisa streaming malam hari? Tentu tidak. Jika kau membuat keributan pada malam hari dan diketahui penghuni asrama, siap-siap besok menemui Kunugi-sensei."
"Chisa sendiri tidak akan melaporkan aku kan?"
"Siapa bilang 'tidak'?"
"Yah, Chisa kok gitu?"
Chisa tidak menjawab lagi. Ia segera berbaring dan membuka buku untuk materi esok hari. Sementara Sachi, ia masih kegirangan dengan ruangan yang ia dapatkan.
"Omong-omong, Chisa. Aku kira Anzu-senpai tinggal bersamamu disini," ucap Sachi sembari merapikan pakaiannya.
"Anzu? Dia ada dikamar lain, karena dia pindahan."
"He!? Pindahan?"
"Hm," singkat Chisa.
"Lalu Chisa, apa dari dulu tidak ada idol grup wanita di Yumenosaki? Secara aku perhatikan, semuanya laki-laki. Dan yang perempuan rata-rata memilih program lainnya."
Mungkin sudah nasib Chisa mendapat teman sekamar seorang extrovert. Ditambah dengan Chisa sedikit introvert, kehadiran Sachi sangat merepotkan untuk kedepannya. Kamar yang semula sepi, kini menjadi ramai.
"Dari awal aku masuk, ada. Hanya saja sudah dihancurkan tepat sebelum kenaikan kelas," jawab Chisa.
"Dihancurkan? Kenapa? Apa reputasi mereka buruk? Atau bagaimana?"
Chisa sudah menduga pertanyaan ini akan keluar.
"Singkatnya, idol grup wanita hanyalah sebuah boneka. Satu boneka memberontak dan menghancurkannya. Akhirnya tidak terbentuk lagi," jelas Chisa.
"Dan Chisa ingin membangkitkan idol grup wanita lagi?" tanya Sachi.
Chisa memberikan tatapan bahwa apakah ia harus menjawab pertanyaan itu? Bahkan Sachi juga memilih jurusan idola.
"Hehehe, maaf," ucap Sachi.
Chisa menutup bukunya. Ia membawa beberapa lembar kertas bersama pulpen dan keluar kamar. Sachi sempat bertanya kemana Chisa pergi lalu Chisa hanya menjawab jika ia butuh udara segar.
Sachi yang ditinggal seorang diri kembali mengemasi pakaian dan beberapa barang yang ia bawa. Setelahnya, ia membersihkan diri dan makan roti yang sempat ia beli di kantin.
Sepintas, Sachi memikirkan apa yang terjadi dengan idol grup wanita sebelum ia mendaftar disini. Ingin rasanya ia tanyakan pada Kagehira Mika, namun ia belum bertemu dengan Mika hari ini. Bagaimanapun, Sachi harus mendapatkan jawabannya segera.
Sementara itu, Chisa duduk di taman sekolah. Rasanya sangat tenang meski suhu sedikit lebih hangat dibandingkan bulan-bulan sebelumnya.
Menatap bunga sakura, Chisa teringat bahwa bunga sakura memiliki makna sebuah harapan, kegembiraan, dan kematian. Seketika Chisa mencoba percaya pada teman satu kelasnya.
Chisa mulai menulis kata per kata pada kertasnya. Ditemani sinar rembulan, Chisa terus menulis tanpa menyadari jika ia sedang diperhatikan oleh seseorang.
"Belum tidur, Hayashi-san?"
Suara yang sedikit berat menyapa pendengaran Chisa. Seorang laki-laki dengan seragam lengkap duduk disebelah Chisa.
"Hokuto sendiri juga belum tidur," jawab Chisa.
Hokuto menghela nafas cukup panjang. Wajahnya tampak lelah namun sekilas terpancar harapan.
"Maaf, Hayashi-san aku sudah merencanakannya," ucap Hokuto.
"Debut? Aku sudah tahu. Jadi, Yuki atau kau yang menulis lagunya?" tanya Chisa.
"Aku juga belum tahu. Tapi sebisa mungkin ..."
Chisa memotong ucapan Hokuto dengan menyodorkan selembar kertas yang sudah penuh dengan tulisannya.
"Barangkali bisa membantu. Aku tahu tulisanku tidak begitu bagus jika menulis terburu-buru. Tapi setidaknya masih bisa kalian baca."
"Maaf sudah meninggalkanmu, Hayashi-san."
Chisa menatap Hokuto sejenak. Ia melayangkan tinju ringan pada lengan Hokuto.
"Tidak perlu khawatir denganku."
Setelah cukup lama berbincang dengan rekan satu kelasnya, Chisa memutuskan kembali ke kamarnya. Apalagi dia sudah memiliki adik kelas yang harus dijaga.
Benar adanya. Sesampainya Chisa di kamar, Sachi tidur tidak beraturan. Bahkan nyaris jatuh.
'Ini anak,' pikir Chisa.
Chisa mendekati Sachi dan membangunkannya perlahan. Sachi tidak bangun, namun ia merenggangkan ototnya dan berpindah posisi tidur. Setidaknya itu lebih baik dari posisi sebelumnya.
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top