Vanilla Twilight

Senja datang lagi. Kali ini aku tidak akan merasa sepi. Karena ini bukan senja yang sedih dan kelabu. Ini senja vanillaku. Seperti yang dilantunkan oleh Owl City. Senja di mana aku mengalami rindu, namun bukan kesedihan yang menyergap. Senja di mana aku selalu mengenang pertama kali mendengar lagu Vanilla Twilight dan menikmatinya bersama dirinya. Menatap senja sama dengan melukis keindahan dirinya. Karena aku merasa bahagia hanya dengan membisikkan namanya. My Star. The fallen Star.

***

Bagiku dia adalah penerang di saat aku jatuh dan lemah. Aku pernah berpikir, dia yang begitu cantik dan bersinar, bersedia turun ke bumi hanya untuk menuntunku, sang ksatria yang rapuh manakala puteri pergi meninggalkannya. Benar, kisahnya seperti buku Dewi Lestari, Ksatria, Puteri dan Bintang Jatuh. Aku telah tergugu dan terperangkap dalam kumparan kesedihan, saat Dewi, sang puteri dalam kisahku memilih untuk beranjak dan pergi. Aku begitu putus asa, karena telah banyak yang kulakukan, tapi sepertinya tidak pernah cukup. Kecemburuanku baginya adalah beban, karena dia tidak mau kehilangan kepopulerannya barang sejenak. Cintaku baginya adalah aib, yang harus kusembunyikan untuk menjaga kami dari jerat gosip. Ketulusanku baginya adalah tabu, dan karenanya dia muak dengan setiap tingkahku. Aku pun terpuruk. Aku hancur.

Namun dia, Phoenix, menyemangatiku. Dia bahkan menyuruhku membeli novel Dewi Lestari itu, untuk mengambil pelajaran darinya. Phoenix, selalu meyakinkan aku bahwa cewek seperti Dewi tidak akan pernah puas dengan sekedar hubungan yang selama ini kuanggap indah. Bagi Dewi, itu tidak akan pernah cukup. Bahkan Phoenix mengatakan bahwa sangat mungkin Dewi telah memiliki pengganti bahkan sebelum kami berpisah.

"Yah, bukan aku gak berempati sama sesama, tapi bagiku, a girl like her would looking for someone who has everything and the 'wow' factor. Tidak sekedar cinta yang yah—lembut dan manis—just like you did."

Di samping Phoenix, aku juga dekat dengan seseorang—adik kelas, namanya Risa. Kepada Risa, aku sering memberikan perhatian, hanya sekedar perhatian kakak kepada adiknya. Namun katanya, aku selalu mengganggu konsentrasi belajarnya. So, I'm not going call her too much as I did. But, let keep away about Risa. This is the story about My Star.

Phoenix tidak pernah keberatan saat aku meneleponnya hanya untuk menumpahkan gundahku. Phoenix tidak pernah merasa risi saat aku memberinya perhatian yang bagi Dewi memuakkan. Phoenix selalu memberiku kata-kata yang bisa membuat hariku lebih berwarna. Bagiku, dia seperti Diva, Sang Bintang Jatuh dalam buku Dewi Lestari. Seperti Diva, Phoenix memiliki kepedulian yang sangat tinggi terhadap sesama, bahkan dia rela menghabiskan waktu dan tenaganya untuk mendidik anak-anak jalanan. Dan seperti Diva, banyak pria yang menginginkan untuk bersamanya. She's pretty, smart and has sharp words. Dan Phoenix menyadari kelebihannya itu. Bahkan dia sering mempermainkan perasaan para pengagumnya dengan sedikit aksi menggoda dan mengakhirinya saat ia merasa cukup. Sehingga para pengagumnya merasa, Phoenix tidak benar-benar menyukai mereka dalam artian seperti cinta yang menggelora, tetapi ia setidaknya menghargai mereka dengan keberaniannya untuk mendekati dirinya.

Lalu bagaimana dengan perasaannya terhadapku? Aku setidaknya sedikit belajar trik menggoda itu darinya dan mempraktikkanya langsung kepadanya. Aku hanya ingin dia tahu, aku menginginkannya di sisiku. Sekalipun kami berada di kota yang berbeda, aku tidak kehilangan akal untuk mendekatinya. Apalagi Phoenix kelihatan sama sekali tidak keberatan. Berarti aku masih punya kesempatan.

Aku masih ingat saat aku masih terkenang dengan Dewi. Lalu di suatu cafe kudengar sebuah lagu mengalun dengan indah. Aku bertanya kepada pelayan cafe tersebut judul dan penyanyinya. Vanilla Twilight dari Owl City. Aku suka liriknya, dan mengagumi keindahan musiknya. Dan senja itu, aku menelepon Phoenix dan berbagi kisah dengannya. Dan saat mentari mulai terbenam namun tertutupi langit mendung, aku merasakan inilah senjaku. Senja vanillaku. Karena bagiku Vanilla identik dengan putih pucat seperti susu. Dan kulihat langit berwarna seperti itu. Dan suara Phoenix di telingaku waktu itu melengkapinya dalam harmoni yang mengetarkan hati. Phoenix, kaulah sang keindahan di antara senja.

***

Ponselku bergetar. Ada pesan masuk. Dari Phoenix. Minggu lalu dia mengabari bahwa dia akan kembali ke Surabaya. Tempat aku sedang berkuliah sekarang. Aku girang bukan main. Berarti tak lama lagi kami akan bertemu. Aku tak sabar menantikan kedatangannya. Apalagi kemarin secara halus kutanyakan mengenai kedekatannya dengan seseorang, dan dia menjawab, dia tidak sedang bersama siapa-siapa. Means she is SINGLE! And Available! Aku putuskan, kali ini pertemuan kami nanti tidak hanya menjadi pertemuan yang biasa. Dan saat kubaca pesannya tadi, aku semakin yakin bahwa inilah saatnya! Dia mengabarkan bahwa dia sudah sampai di Surabaya dan sedang mempersiapkan acara khitanan sepupunya. Sepupunya itu masih kelas 5 SD. Phoenix pernah bilang, keluarganya cukup rumit untuk dijabarkan. Bahkan dia memiliki paman yang usianya hanya berjarak 3 bulan dengan dirinya, sementara sepupunya yang tertua berusia 28 tahun. Wow! Itu berati saat ibu Phoenix mengandung Phoenix nyaris bersamaan dengan neneknya mengandung pamannya.

Aku membalas pesannya.'Boleh gak main ke rumah?'

Tak lama ponselku bergetar lagi. 'Terserah. Mang mau ngapain?'

Keberanianku muncul. Aku tak mau menunda lagi. 'Just wanna see u.'

'Ada urusan apa?'

Balasannya membuat keningku mengernyit. Aduh, selalu begini. Dia seakan bermain Hot N Cold padaku. Kadang begitu hangat dan menentramkan, kadang dingin seperti kutub. Aku jadi ragu. Apa jangan-jangan dia memperlakukan aku sama seperti fansnya? Jadi, dia tidak benar-benar menyukaiku? Lalu apa maksud pesan-pesan penyemangat yang selalu ia kirimkan padaku?

'Ketemu aja. Gak boleh?'

'Rumahku jauh. Kalo mau kesini, tanya orang arah ke PTC. Tunggu di situ ntar aku jemput.'

Yes! Dia bersedia. Aku semakin bersemangat. Sebelumnya aku harus tampil maksimal. Sudah kubilang sebelumnya, pertemuan kali ini akan menjadi pertemuan yang istimewa. Karena malam ini, sudah kuputuskan dengan segenap keberanianku, aku akan menyatakan perasaanku padanya. Sekalipun untuk ditolak, tapi setidaknya aku masih ada harapan untuk memilikinya.

Mencintainya. Sama seperti pengagumnya. Dan aku bertekad menjadi pengagumnya yang nomor satu.

Menggilainya. Sama seperti pria lainnya. Dan aku akan memastikan kegilaan ini tidak hanya satu arah.

Memilikinya.

Seperti yang selalu aku mimpikan setiap malam dalam tidur.

Sejak ia mendobrak pintu pikiranku dengan kata-katanya yang tajam namun indah, saat aku hendak memainkan Roussian Roulette untuk mengakhiri hidupku.

"Wake up and just be a man!! Don't you realise that you are more worth than she thought? Get up, and prove her you're not such an idiot that you still need her to get back. She's not your Edward. She's not coming back. Get over her!"

Sejak itulah aku merasa takdir menggiring kami untuk menuliskan cerita yang indah bersama. Dan kali ini akan kuwujudkan dalam kehidupan nyata. My Star, deeply in my heart, you're the beautiful diva in this world. And I would capture your beauty into a beautiful story that we will make it together.

***

"Your father is so wise. Aku banyak belajar dari cerita-ceritanya."

Phoenix mengaduk minumannya. "Oh ya? Memang beliau cerita apa?"

"Hmm... Cuma cerita-cerita saat dia di Semarang. Keluargamu begitu menyenangkan. Walau kecil, tapi banyak keramaian di sana. Jauh lebih enak, daripada keluargaku." Kami baru saja dari rumahnya dan kami memutuskan untuk keluar dan pergi ke tempat yang nyaman untuk ngobrol, karena di rumahnya sedang ramai tamu. Akhirnya dia mengajakku ke PTC, sebuah mall yang terletak di pinggir kota Surabaya bagian barat yang dekat rumahnya. Dan di sinilah kami, di sebuah meja makan restoran pizza dan menekuri buku menu.

"Hmmm." Phoenix hanya menunduk dan memainkan buku menu di tangannya. Aku mengamatinya. Menatap setiap gerakan yang dia lakukan. Caranya mengerjap, caranya mengangguk-angguk saat membaca menu, caranya mengusap hidung, caranya menyusuri setiap menu yang tertulis dengan telunjukknya. Semuanya. Mempesonaku sama seperti pertama kali aku melihatnya. Selalu. Keanggunan yang sama. Kecantikan yang sama. Kepribadian yang sama.

Dia mendongak. "Jadi mau pesan apa?"

Bagiku, apa yang dia suka adalah kesukaanku juga sekarang. So, I let her choose. "Kamu mau makan apa?"

Phoenix tampak ragu-ragu. "If you really wanna eat, don't you think that this place is expensive? Kita bisa keluar dari mall dan nyari mie ayam di luar."

Selalu. Kesederhanaan dan kerendahan hati. Aku tidak keberatan sebetulnya, tapi malam ini harus menjadi sesuatu yang istimewa. Makanya aku tidak ingin dia merasa terbebani dengan berapa banyak uang yang kukeluarkan untuk bersamanya. Di sini.

"Sudah, di sini saja kan gak apa-apa. Lagipula, kita gak sering-sering kesini kan."

Phoenix menghela nafas. Lalu ia menatap menu sekali lagi. "Aku pesen pasta aja. Aku gak suka makan nasi."

"Boleh. Yang mana?"

Kubiarkan ia memilih. Walaupun mungkin baginya, lebih suka makan mie ayam kesukaannya di warung kaki lima dibanding makan pasta Pizza Hut. Aku tahu dia lebih suka masak pasta sendiri daripada harus beli di restoran, mahal pula. Tapi untuk malam ini, akan menjadi malam yang berbeda. Dan mungkin juga malam-malam sesudahnya. Aku bersedia memberikan segala kesenangan yang ada di dunia ini untuknya.

Akhirnya, kami pun menghabiskan satu jam untuk makan dan berbagi cerita di sana. Aku ingat setiap detil yang kami lakukan waktu itu, termasuk tertawa saat membicarakan pelayanan Pizza Hut yang menjadi topik di salah satu episode Stand Up Comedy Raditya Dika. Aku tidak mau menceritakannya padamu, karena peristiwa ini biarlah menjadi kenangan terindah dalam hidupku. Termasuk saat aku menatap wajahnya yang memerah saat kuangsurkan setangkai mawar merah kepadanya. Termasuk kegugupannya saat hendak menerima mawar itu. Termasuk diamnya ketika aku mengatakan perasaanku padanya. Akhirnya. Aku merasa lega, walau sedikit kecewa. Dia tidak mengiyakan dan juga tidak menolak. Dia tidak mengatakan apa-apa sewaktu kami pulang. Walau dia masih bersikap biasa saja setelah kami keluar dari pizza hut dan berjalan-jalan sebentar menyusuri mall.

"Apa kamu gak kepengen tinggal di tempat seperti itu?" tanyaku saat di tempat parkir dan menatap deretan apartemen mewah yang letaknya tidak jauh dari PTC. Phoenix tersenyum.

"Memang enak sih. Tapi yang jelas, aku tidak mau tinggal di tempat di mana aku bakal susah keluar kalau ada kebakaran atau gempa. Bayangin aja, you have to go down as soon as posibble from 12 or 14 floor to the ground. Di tengah kepanikan seperti itu, aku yakin itu bukan suasana yang bisa dihadapi dengan heroik macam film."

"Kenapa sih kamu selalu memandang segala sesuatunya dengan sinis? Kenapa gak kamu lihat sisi baiknya, semisal, kalau kamu tinggal di gedung setinggi itu, kamu bisa sepuasnya main bungee jumping."

"Menantang, ya. Tapi untuk kehidupan sehari-hari, aku lebih suka realistis. Petualangan seperti itu, ada baiknya hanya untuk selingan saja. Karena dalam kehidupan nyata, ku kira setiap manusia sama pengecutnya untuk senantiasa hidup dengan tantangan ekstrim."

"Bukannya dalam hidup, kita akan selalu menemui tantangan ya?"

Phoenix menatapku tajam. Lalu ia sunggingkan senyumnya yang khas. "Justru itu, kenapa kita harus mencari tantangan yang ekstrim manakala dalam hidup sudah disajikan di hadapan kita tantangan yang sayangnya, jauh lebih mengerikan untuk dihadapi?"

"Kamu tahu, kamu selalu tak terduga."

Phoenix terdiam sejenak. "I am."

***

Malam itu, aku nyaris tak bisa memejamkan mata. Aku memikirkan apa yang dia katakan. Aku menduga apa yang dia rasakan untukku, termasuk apa jawabannya untuk pernyataan cintaku untuknya tadi. Aku begitu gelisah. Sampai akhirnya kuputuskan untuk meneleponnya. Tapi ia selalu me-reject. Lalu kukirimkan pesan : aku ingin jawaban kamu sekarang. Atau kamu butuh waktu untuk memikirkan?

Lama tak ada balasan.

Aku makin resah. Kenapa? Apa salahku?

Lalu akhirnya setelah beberapa saat menunggu, pesan darinya tiba.

'Don't u think that it's too early? We're just in three weeks after u broke up with her.'

'No. I thought bout that in so long long time.' Kutekan tombol kirim. Aku berharap dia percaya padaku. Aku benar-benar telah mengenyahkan Dewi dan menjadikannya bintangku.

Kali ini pun Phoenix tak kunjung membalas. Aku makin takut aku telah salah langkah. Akhirnya kuputuskan untuk meminta maaf saja. Mungkin ini memang terlalu mendadak baginya. Mungkin dia belum siap. Aku sama sekali tidak ada masalah jika dia memang butuh waktu. Sebelum aku bahkan mengetik pesanku, tiba-tiba pesan darinya muncul.

'I'm sorry, but u know that I can't. I thought we supposed to be friend in these times. Not because u're younger than me. But still, I'm not be ready. And I guess, u're just in hurry. Someday, if u really want to infatuate me, perhaps I can be with u. But not now. Be the knight in shinning armor, it's not just a word to speak. It has to be done."

Dan aku memejamkan mataku. Right, aku hanyalah sekian dari banyak fansnya. Aku hanya bagian dari kelompok orang yang menadahkan tangan demi cintanya. Tapi tidak mengapa. Aku masih punya waktu. Aku akan membuktikan, suatu hari aku akan menjadi ksatrianya.

***

Sang ksatria terpuruk, terjatuh dari singgasana, saat sang puteri pergi dan menyongsong kehidupannya tanpa ksatria. Ksatria meratapi kesedihannya dan hendak menyerahkan nasibnya. Lalu muncullah sang Bintang Jatuh yang cahayanya gemerlap dan menyinari ksatria. Bintang jatuh menerangi jalan, dan menuntun ksatria untuk kembali menapaki jalan kehidupannya. Kini tiba saatnya sang Bintang kembali ke langit, dan menyinari dunia dengan kemilaunya. Ia pun pergi meninggalkan ksatrianya. Namun ksatria tidak gentar, dan juga tidak merasa pedih. Karena hidupnya telah kembali. Ia telah memiliki kekuatan, semangat dan harapan untuk bangkit. Ia bertekad akan menyusul sang bintang di langit dan bersama-sama bersinar terang di angkasa. Tunggulah aku, My Star. Aku akan menjadi ksatriamu.

***

Dan ini adalah senja yang kesekian kalinya. Dan aku melantunkan lagi Vanilla Twilight dari Owl City yang kembali menyajikan ingatan ku tentang Phoenix. Kami tak lagi sedekat dulu. Sejak kematian ayahnya, seminggu berselang setelah pertemuan kami terakhir itu, dia kurasakan berubah. Dia memang pulang lagi ke Surabaya dan kami bertemu lagi di rumahnya dalam suasana duka. Aku sempat menanyakan perasaannya tapi ia hanya mengatakan,"It happened. What things should be sorry then? Nothing."

Aku merasakan kebingungan. Apa salahku? Kenapa kami jadi tak sehangat dulu? Di mana Sang Bintang yang selalu bersinar dan tegar? Kalau dia mulai redup, aku bersedia menjadi cahaya baginya. Aku rela menjadi penuntunnya untuk berjalan? Tapi mengapa, dia tidak menginginkanku?

Berkali-kali aku mengirim pesan kepadanya, tapi sama sekali tidak di balas. Bahkan teleponku tak pernah diangkat. Aku masih mengira, dia banyak sekali kesibukan. Karena memang dia selalu aktif di kegiatan-kegiatan sosial. Tapi aku tidak mengerti sesulit apakah dirinya sampai ia tidak bisa merespon keinginanku untuk menjalin kedekatan seperti dulu? Apa dia masih marah karena aku pernah memintanya menjadi kekasihku? Tapi bukankah dulu ia mengatakan tidak apa-apa, sekalipun dia telah menolakku? Apa salahku sebenarnya?

***

Aku menatapnya. Lagi-lagi kami berada dalam suasana tak terduga. Phoenix dan aku bertemu dalam acara donor darah di sebuah kampus. Aku ke sana dalam rangka liburan, sejenak melepas stres dan penat, kembali pulang ke kota kelahiranku. Yang menjadi penghubung antara aku, Phoenix dan Dewi. Tapi aku sama sekali hirau mengenai Dewi. She's over. Untuk phoenix aku tak mau melepasnya begitu saja. Tidak setelah aku mengenalnya. Mengetahui ceritanya, bahwa di balik seorang diva yang bercahaya, dia adalah seseorang yang telah menjalani kerasnya kehidupan.

Dan kali ini kami berada dalam situasi yang tak terduga. Aku yang sedang berjalan-jalan menyusuri kampus terkenal di kotaku, tiba-tiba melihat sekelebat sosoknya dalam acara donor darah di kampus tersebut. My Phoenix. My Star. Selalu tergerak dalam kegiatan sosial. Kuputuskan untuk mengejarnya. Memanggil namanya sekuat tenaga. Melampiaskan kebingungan dan kerinduanku yang tak terperi untuknya. Dia menoleh. Namun wajahnya ... seakan kebekuan telah menyergapnya begitu rupa. Dia tetap indah seperti biasa. Namun keindahannya beralih rupa menjadi patung manekin yang cantik ... dan tak tersentuh. Tak berhati. Tak bernyawa.

"Oh. Kamu, rupanya."

Aku tersenyum. Walau kata-katanya setajam duri, aku tahu dia tidak sekeras baja. That's her. "Kamu kemana aja?"

Phoenix hanya mengedikkan bahu. "Ada."

"Bisa kita ngobrol sebentar? Aku kangen sama suaramu. Aku kangen sama kita, yang terbiasa berbagi kata-kata bijak kayak dulu."

Phoenix mendongak. Sorot matanya memancarkan keanggunan sekaligus ... kebencian tiada tara. Wait, ada yang salah di sini. "Haruskah?"

Aku gentar. "Yah, kalau sibuk ya gak apa-apa. Tapi kalau ada waktu, bisa nemenin aku kan?"

Phoenix mendesah. Wajahnya berpaling. Sekali lagi. Aku hanyut dengan pesonanya, tapi aku juga merasa, dia kini sudah tak seperti dulu lagi. Aku bertanya-tanya, ada apakah gerangan?

"Sekarang aja kalo gitu. Aku ntar banyak agenda. Mau kemana?" ujarnya ketus. Dulu aku tahu, dia selalu berkata-kata tanpa perasaan, tajam dan terkadang menusuk tiap hati para pendengarnya, namun setidaknya aku tahu dia tidak munafik dan bersembunyi di balik topeng kepalsuan. Dia jujur, dan apa adanya. Dan semua orang tahu itu. Tidak ada yang benar-benar merasa tersinggung dengan ucapannya. Tetapi kini... entah kenapa aku merasa hatiku sudah disayat sembilu. Phoenix, please... don't leave me like this.

"Terserah kamu."

Phoenix mendengus keras. "Pasti jadi gini akhirnya. Ya udah, tuh. Di taman situ aja." Phoenix menunjuk sebuah bangku-bangku yang di tata apik di sebuah halaman berumput di tengah-tengah kampus. Aku mengangguk. Dia lalu berjalan mendahuluiku dan duduk di salah satu bangku itu tanpa bersuara. Aku mengikutinya gontai.

Dia terdiam. Pandangannya tertuju pada kerumunan pendonor darah yang sedang mengantre di salah satu ruangan kampus yang digunakan untuk tempat donor darah yang diadakan oleh salah satu kegiatan ekskul di kampus tersebut. Sama sekali ia tidak menatapku. Raut wajahnya nampak kesal.

"Boleh aku tahu, apa yang kamu rasakan saat ini?" tanyaku kalem. She loved to talk, to tell a story, and I wonder what story that she gonna tells me right now.

Dia melihatku dengan ekspresi tak percaya. Lalu dia menghela nafas. Dan kembali dalam kediamannya. Bisa kurasakan dia sedang tidak mood untuk berbaik hati sekarang.

"Kenapa? Apa pertanyaanku salah? Bisa kamu beritahu aku, kenapa?" aku mulai merajuk. Biasanya setelah mendengarku begitu, dia akan menenangkan aku, dan mengatakan sejujurnya apa yang ingin dia katakan. "Phoenix, kamu akhir-akhir ini menjadi jauh. Kamu tahu, kemarin malam aku bermimpi. Kita sedang berjalan di sebuah taman, mengobrol, berbagi cerita, dengan kehangatan seperti dulu. Lalu tiba-tiba aku terperosok masuk ke dalam sebuah lubang. Dan kamu hanya pergi meninggalkan aku. Kenapa aku merasa mimpi itu begitu nyata? Kenapa sekarang, aku tidak bisa lagi menikmati keindahan senja vanilla kita? Tolong bantu aku menemukan jawabannya."

"Oh ya?" sahutnya, seraya mengangkat alisnya. Dia lalu bergumam. "What a silly me."

Aku mulai gusar. Dia tidak bisa seenaknya begitu saja bersikap seolah kami tidak saling mengenal! Hei, dulu aku pernah menjadi kesayangannya kan? Dulu aku sahabatnya kan? Kenapa dia bisa sok acuh begini? Aku juga manusia. Layak diperlakukan dengan hormat.

"Phoenix, kamu gak bisa gini terus-terusan. Aku ngerasa kalau kamu menghindari aku beberapa bulan ini. Apa salahku? Kamu bersikap sama kayak Dewi. Mencampakkan aku saat aku sduah tidak menjadi kesayangan."

Di luar dugaan, Phoenix tertawa. "Kesayangan? So it's that what you think about us? Best friend or girlfriend-boyfriend or lover?" Aku mengernyit. Apa yang dia katakan? "So, you think I really like you as my best friend ever, and be proud when you asked me to be your girl, etc. Nope. At all."

"Kenapa kamu jadi begini? Kenapa kamu tidak sehangat dulu lagi, apa salahku! Coba kamu katakan apa salahku, supaya aku bisa memperbaikinya dan tidak menjadi pengganggumu. Jangan kamu diam dan berharap bahwa aku bisa mengerti dengan sendirinya. Aku bukan dukun."

"Memang. Kamu memang bukan dukun. Kamu hanyalah seorang bocah yang terlalu haus akan kasih sayang, tetapi terlalu gila perhatian. Kamu menebar cintamu kepada semua orang dan berharap akan diperlakukan selayaknya bayi yang menetek pada ibunya! What a sily."

"Apa maksudmu?"

"Kamu tidak lebih dari seorang penipu. A lonely disgusting playboy." Phoenix mengatakan itu dengan intonasi yang datar dan biasa, seperti mengomentari cuaca. Tidak dengan penuh kebencian, tapi tiap katanya menghujam jantungku dan meninggalkannya seperti serpihan.

"Phoenix, tuduhanmu itu tidak berdasar. Apa buktinya? Aku tidak pernah ingin menyakiti seorang hawa, karena aku tahu sangat tidak mengenakkan diperlakukan demikian. Aku tidak mau mempermainkan orang lain, karena aku gak mau dipermainkan. Kok bisa kamu bilang aku playboy? Kamu salah."

"Oh ya?" Phoenix tersenyum sinis. "Kamu tahu, kamu cocok sekali menjadi politisi. Bukan politisi yang kompeten dan kapabel. Tapi politisi yang bermodal citra, dengan gaya termehek-mehek dan perasaaan seperti orang teraniaya, padahal di belakang punggung menyengsarakan para rakyatnya. Begitu rakyatnya protes, memberikan kritik, politisi seperti ini akan segera menggelar jumpa pers dan mengatakan, dirinya sangat sedih dan tersinggung karena diberitakan secara tidak baik. Whoa, you are same with them, actually. I give you an aplause then." Phoenix mendecak dan bertepuk tangan.

"Phoenix, kamu gak boleh bicara sembarangan. Menuduh tanpa bukti itu fitnah. Kamu itu salah. Aku sama sekali tidak punya bakat berbohong, dan aku tidak mau berbohong, karena itu menyakiti orang lain." Aku merasa geram. Apa gerangan yang menjadikan dia berani menghinaku seperti itu? Apa yang terjadi pada dirinya?

"Really?" Phoenix mengerling. "Ah.. aku tahu. Kamu pasti akan menyangkal semua bukti yang akan aku paparkan. Dan selalu membalikkan kepada dirimu, sebagai orang yang teraniaya. Kamu ingin tahu yang sebenarnya? Selama ini, I've played you as you've played me anyway. And another girls, also. Maaf, kini, kamu harus tahu bahwa, senjatamu tidak ada gunanya."

Aku mengerang. "Brengsek! Maksud kamu apa?"

Phoenix menyunggingkan senyum khasnya. "Sejak semula aku tahu kamu penipu, sewaktu kamu memberikanku atensi-atensi khusus itu, padahal seluruh dunia tahu kamu sedang bersama Dewi! Kamu bisa bilang aku kegeeran, tapi buktinya seluruh temanku dan temanmu bisa bersaksi, betapa memuakkannya perhatianmu saat itu! Kau kira aku merasa termakan oleh rayuanmu? Sama sekali tidak." Phoenix mengatakannya seolah-olah menerangkan fungsi helm kepada pengguna motor. Sama sekali tidak ada tekanan kebencian, hanya datar... namun aku menangkap kesan yang jelas ditujukan kepadaku: merendahkan.

"Apa kamu masih ingat, bahwa sewaktu bersama Dewi, kamu pernah mengatakan bahwa kamu pernah terbersit mencintaiku, walau untuk sesaat? Sebelumnya, kamu berbohong padaku bahwa dirimu sedang jomblo, padahal aku jelas sudah tahu kamu pacaran dengan Dewi. Waktu itu aku hanya merasa, what kind of thing you wanna do to me ... a lil curious. So I've played you. Just as you've played me too. I gave you attention. I gave you my charm. I gave you stories ... my imaginatory. I brought you to my family, just want to told them that this is the boy I hate the most."

Aku menahan amarahku. Ingin sekali kulayangkan tamparan ke wajahnya yang kini menyunggingkan senyum kemenangan. Aku benci keindahan yang merendahkan. Aku benci kecantikan itu, yang kini terasa pedih bagiku karena menghancurkan hatiku.

Phoenix menunjukkan raut muka terperanjat yang dibuat-buat. "Ah, you're so hurt then? I'm sorry, but I guess, you should evaluate your self before you're blamming on everything." Phoenix menatapku. "Belum tahu maksudku? Baiklah. Aku beritahu saja. Aku bertemu Dewi dan berbicara, girl to girl talk."

"Dia juga sama, tidak berperasaannya!!" pekikku. Beberapa orang di kerumunan yang antre donor darah menoleh ke arahku. Aku tidak peduli.

"Bukan. Dia memang salah menyikapi kamu, tapi aku rasa, kamu memang harus dapat pelajaranmu."

"Puas kalian selama ini mempermainkanku? Puaskah?!!!" aku berteriak ke arahnya. Wajahku merah padam. Phoenix masih menunjukkan wajahnya yang selalu tenang dan tanpa emosi. "Ternyata selama ini kalian bersekongkol untuk menjatuhkan aku! Puas kalian sekarang!"

"Jangan terlalu beraktinglah. It's enough. Kamu bukan orang teraniaya. Apa kamu masih juga menyangkal kalau kamu sendiri tidak lebih dari seorang playboy yang merana dan kesepian?" phoenix mendengus. "Kamu kenal Risa kan? Dia adik kelasku. Kami juga sempat bertukar cerita sebelum aku pulang ke Surabaya... dan oh," ekspresi terkejut Phoenix yang diperlihatkannya itu semakin membuat emosiku mendidih. "Aku juga sempat mendengar selentingan kedekatanmu bersama Lili... yang dulu sempat kau ceritakan padaku, ingat? Kamu bilang kamu sedang naksir seseorang di kampusmu kan? Lili ternyata... adik kelas Meyra, rekan kerjaku di Kamp Anak Jalanan."

Aku terkesiap. Aku tak sanggup berkata-kata.

"Maafkan aku. Sebenarnya tidak ada niatan untuk itu. Tetapi, aku merasa... kamu harus sadar, posisimu, serta moralmu. Aku tidak akan menguliahimu. Kamu lebih paham sepertinya, karena kamu sering menghamburkan kata-kata moral sesukamu saat ingin mendapatkan kasih sayang dari seseorang yang polos dan rela memberikanmu segalanya. Kamu berakting sebagai cowok lemah dan teraniaya, sementara ternyata kamu punya lebih banyak cinta untuk ditebarkan di mana-mana. Kamu memberikan perhatian yang berlebihan, lalu kamu segera saja menariknya dan mengatakan bahwa cewek itulah yang kegeeran, dan saat mereka pergi menjauh, kamu mengatakan bahwa cewek itulah yang bajingan. Karena dia merenggut hatimu sampai berkeping-keping. Hhh, dan inilah aku, Phoenix, yang menjadikan ceritamu nyata di hadapanmu sekarang. Kamu rasakan sendiri bagaimana rasanya dipermainkan, dikhianati dan bahkan dicampakkan."

Phoenix tersenyum manis. Aku menatapnya nyalang. Kerumunan pendonor itu sudah jauh berkurang. Dan kurasakan langit mulai menggelap karena tersaput oleh awan. Namun bukan awan hitam menggumpal karena hujan. Awan itu berwarna pucat, sekalipun gelap namun ia tidak abu-abu. Mengingatkan aku pada vanilla. Tapi kali ini, bukan manis menggigit seperti yang aku selalu bayangkan mengenai vanilla. Tapi pahit dan getir. Dan senjaku kini, pedih dan buram. Phoenix, yang mengantarkan aku pada indahnya senja vanilla, ia juga yang memberiku kedukaan dan kesakitan dalam senja.

"Oh, barangkali mungkin kamu sendiri tidak merasa dicampakkan. Karena kukira, kamu juga sudah banyak menemukan liang tempatmu bernaung dari kejamnya dunia. Di sanalah, dengan kata-kata manismu, kamu merayu satu, dua, tiga, cewek untuk memenuhi cawan cintamu. Aku pergi, ada Sheilla, Ramani, atau Dian. Barangkali setelah ini, kamu akan bercerita pada mereka betapa aku sudah menyakiti hatimu lalu kamu meminta penghiburan. So, I want disturb you, then. Tapi perlu kamu ingat, tidak peduli selihai apapun dirimu menipu mereka, mereka tidak selamanya sebodoh yang kamu sangka. Tidak peduli, sebanyak apapun hadiah yang kamu berikan kepada mereka, mawar merah atau kumpulan kata cinta, mereka tidak selemah yang kamu kira. Perempuan memang memiliki sisi emosional yang sangat tinggi, justru karena itu mereka sangat peka dalam mendeteksi kebohongan, maupun sandiwara cinta yang kamu lakukan. Jadi berhentilah merengek dan merajuk, karena selamanya kamu akan sendirian."

Aku benar-benar terguncang mendengar kata-katanya. "Phoenix, kamu salah. Aku nggak..."

"Kenapa? Kamu menyangkal?" potong Phoenix cepat. "Berarti kamu menyangkal bahwa dalam beberapa hari ini, kamu sering menelepon Risa dan memberinya kata-kata rayuan? Perlu dibuktikan?" tantang Phoenix. Aku terdiam.

"Selamat tinggal. And you know what? You never were a friend of mine."

Phoenix bangkit berdiri. Lalu ia beranjak dan menghampiri ruangan donor darah itu. Aku menatapnya dengan pandangan kosong, sementara mentari yang tadi menyengat kini bergerak menuju peraduannya. Senja. Senja vanilla. Dan Phoenixku, terbang membakar membelah langit. Akupun muram. Merana. Tak berdaya.

Semarang, 14 Februari 2012

For the lonely playboy : no more game.

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top