RESAH

Duhai! Saya lekas-lekas menutup buku itu. Tak peduli berkas halamannya tumpang tindih dan terlipat-lipat. Saya ngeri. Jengah. Benar-benar perempuan pencerita ini bikin hati saya makin tak karuan.

Dengan tergesa, saya raba wajah. Saya cari apakah sudah ada tanda-tanda kerutan. Hati saya berdetak tak karuan. Belum! Aman.

Lalu saya cubit-cubit pipi, mencoba mengira apakah kulit saya masih kencang. Hhh! Betapa leganya ternyata kulit saya belum kendor seperti karet. Jiah! Karet. Rasanya saya tak mau membayangkan diri  dengan kulit menggelambir dan kisut. Nanar saya langsung melihat cermin. Ow, ow, rupanya saya masih cantik. Tidak ada cela sedikitpun dari wajah saya. Mata saya bulat, tidak kecil, tidak besar. Bulu mata lentik. Hidung mancung. Tulang pipi tinggi. Bahkan bibir saya pun seksi.

Saya beralih ke tubuh. Untunglah, saya tidak pendek seperti laiknya perempuan Indonesia pada umumnya. Kaki saya jenjang. Apa ya istilahnya? Hmm ... kaki belalang. Pinggul? Pinggang? Aduh, kalau yang ini sepertinya harus dipermak sedikit. Terlalu besar. Saya baru ingat, saya makan gila-gilaan selama sebulan terakhir ini. Aduh! Saya tidak mau jadi gembrot. Buru-buru saya raih hape di atas meja rias. Saya cari nomor salon kecantikan ternama. Marie Body France. Natasha. Slimming Centre. Aah ... pokoknya saya harus mengecilkan pinggul yang berisi ini beberapa senti!

Setelah membikin janji dengan paket program yang namanya minta ampun kerennya (padahal intinya adalah ngecilin pinggul dan lingkar pinggang) dengan harga yang cukup digunakan untuk membiayai anak melarat buat sekolah dan makan, saya kembali lega. Tapi tunggu, kulit tangan saya, aduh kusam! Sudah berapa lama tidak luluran? Bahkan jari-jari saya kering dan kasar! Duh, losion yang kemarin ternyata iklannya segombal lelaki buaya darat! Buang saja dan beli yang baru! Catatan: harus benar-benar bikin tangan saya selembut sutera. Sekalian saja nanti mampir ke salon biar lebih maksimal hasilnya.

Saya tertegun sejenak. Kok jadi mendadak panik begini ada apa gerangan? Apa sebab musabab? Ooo, ini gara-gara saya baca cerita horor-sehorornya dari buku novel yang dipinjami oleh teman kemarin. Bukan mistis seperti genderuwo atau kuntilanak. Apalagi pocong! Bukan. Tapi bagi saya horor, karena sudah mengusik ketenangan saya. Duh, bikin keki saja kalau diingat-ingat lagi.

Ceritanya klise. Ada pasangan menikah. Awalnya penuh cinta dan bunga-bunga. Namun bulan madu usai, indahnya sudah tak ada lagi. Sampai bertahun-tahun kemudian, sang suami bangun dan mendapati istri yang tidur di sampingnya hanyalah segumpal lemak dan daging. Tak menarik. Wajahnya pun tak kencang seperti kulit bayi melainkan kendor dan menggelambir. Uuh. Saya bergidik. Akhirnya sang suami selingkuh karena eneg lihat istrinya tak semenarik dulu. Tak peduli sekeras apapun istrinya berusaha untuk mempertahankan suaminya. Karena sang suami hanya menginginkan tubuh yang molek, indah dengan paras yang cantik. Bukan gembrot, awut-awutan serta wajah kendor. Sekalipun itu gara-gara sang istri sibuk mengurus rumah dan suaminya sehingga tak sempat merawat dirinya.

Yah, saya jadi manyun. Bagaimana kalau itu terjadi sama saya? Bagaimana kalau suatu hari tiba-tiba saya lupa merawat diri dan tidak lagi cantik seperti sekarang? Bagaimana kalau perawatan yang saya lakukan pun akhirnya percuma karena tidak selamanya saya jadi muda? Saya menggigit bibir. Begitu keras hingga berdarah. Saya tersentak. Buru-buru saya mencari tisu di atas meja rias dan mengelap titik darah yang mulai menggumpal. Perihnya minta ampun. Kini bibir saya jadi sedikit lecet. Saya pias. Buru-buru saya oleskan pelembab bibir, agar kelihatan berkilau. Biarlah perih. Yang penting lecet tersebut tertutupi.

Aah! Rasanya saya jadi muak. Kenapa saya yang harus pusing agar bisa tampil cantik? Sementara laki-laki tidak pernah ribet dengan segala macam penampilan. Tengoklah mereka, yang sama sekali tak peduli kalau mereka bau atau juga memiliki timbunan lemak di perutnya. Atau betapa dekilnya baju mereka selepas kerja dengan aroma rokok, asap, keringat bahkan di beberapa kasus—alkohol. Nah! Kenapa coba? Pembedaan cara pandang ini membuat saya jengah. Enak saja laki-laki main kabur kalau istrinya tak cantik lagi. Padahal mereka juga tak lebih dari onggokan daging gembur dan bau! Saya mulai mendapat pencerahan.

Akhirnya saya tetap belanja losion ke supermarket, dan mampir ke salon untuk spa dan luluran. Namanya perempuan pasti ingin memanjakan diri. Tapi kali ini saya melakukannya untuk diri sendiri bukan untuk menyenangkan laki-laki supaya mereka tetap dekat sama saya. Hah! Gombal. Dengus saya. Tetap saja. Ketakutan untuk ditinggalkan jauh lebih mendominasi. Apalagi dalam cerita yang saya baca tadi pagi. Sang istri merana sendirian manakala sang suami mengembik ingin kawin lagi. Bagaimana dengan saya?

Akankah hal itu terjadi juga?

Apakah suatu hari nanti, suami akan terbangun di samping saya, lalu terkejut mendapati bahwa saya tak ubahnya seperti timbunan daging yang tak berbentuk? Lalu ia menjadi jengah terhadap saya? Apakah nanti dia tidak akan lagi bisa berhasrat kepada saya? Apakah ia nanti juga akan selingkuh dan minta kawin lagi? Bagaimana kalau itu terjadi?

Ah, tepis hati kecil saya. Tidak usah berpikiran picik. Siapa tahu suami saya orangnya setia. Dia tidak tergoda oleh ilusi fisik semata. Ketertarikan itu pasti, hanya saja dia lebih memilih apa yang halal baginya. Dia percaya bahwa cintanya tidak akan berubah walau tubuh saya berubah. Tapi-tapi-tapi ... Menurut artikel majalah wanita yang saya baca, lelaki yang tampaknya setiapun memendam niat untuk selingkuh.

Nah!

Nah!
Nah ...

Sehingga suami saya juga bakal selingkuh dong? Suami saya bakal berpaling dari saya saat saya tak lagi cantik baginya tak peduli upaya mati-matian saya? Cerita pasangan yang saling mencinta hingga usia tua atau hingga maut memisahkan pun sekedar picisan yang biasa digelar di jalanan. Palsu! Saya menggeram. Kenapa di zaman yang serba edan ini, liberalisasi yang katanya mengangkat harkat dan martabat perempuan tapi karena kehidupan sexual yang bebas terekspos secara gila-gilaan jelas-jelas malah membuat perempuan termarjinalkan?

Bodoh, bukan begitu, sergah sang feminis di kepala saya. Mestinya kalau dalam kondisi tak menguntungkan begitu, anda jauh lebih cepat tanggap. Bisa survive tanpa lelaki disamping anda atau cari saja lelaki yang baru. Bukankah semuanya harus setara? Kalau lelaki bisa cari istri baru, maka perempuan bisa cari laki-laki baru.

Mereka nyari daun muda, kita juga cari daun muda. Kalau perlu yang masih tunas juga boleh. Karena mereka dibayar, mereka pasti nurut. Tapi... kembali batin saya berkecamuk. Karena mereka masih muda, biasanya gairahnya jauh lebih besar. Mereka pasti tidak akan sepenurut yang kita bayangkan. Bisa saja di balik punggung, dia juga pacaran sama teman sebayanya yang juga jauh lebih cantik, lebih menarik ... aargh! Pekik saya frustasi. Mau bahagia kok susah amat. Rasanya tak habis-habis kalau main perang-perangan seksual ini.

Puih!

Makin edan saja dunia ini. Gara-gara kebebasan diumbar kemana-mana, termasuk kebebasan dalam berekspresi. Ya pakaian, ya tubuh, ya semuanya. Semuanya dijajakan, dibungkus dengan kain sekedarnya sehingga menonjolkan semua lekuk keindahan. Akhirnya membuat birahi tiap orang yang memandang. Weits, nanti dulu. Kata sang feminis. Jangan salahkan yang pamer-pamer dong. Namanya pameran berarti kan harus ada yang dipamerin. Karena pameran busana ya kita memamerkan busana dan standart yang dipakai adalah keindahan. Tunggu, pameran busana atau pameran tubuh atau ragawi? Kok yang memamerkan harus yang cantik dan seksi?

Bunyi klakson mobil mengagetkan saya. Huff, saya nyaris terserempet mobil. Makanya kalau jalan jangan meleng, rutuk saya dalam hati. Tapi setidaknya itu mengembalikan pikiran saya yang semrawut dan ngelantur ke mana-mana pada alam nyata. Dimana saya? Oh, lagi di jalan raya. Lagi nyebrang mau ke slimming center. Alias pusat pelangsingan.

Duhai ... bahkan sekarangpun saya jadi parno dengan lemak. Tadi pagi pun ditemani segelas air putih untuk sarapan (sekarang saya alergi dengan semua yang bisa menambah berat badan) saya mencari di internet cara diet untuk melangsingkan badan. Oh bukan, cuma buat kesehatan saja kok. Yah kita kan harus menjaga makanan agar tak mudah terkena penyakit kolesterol, diabetes, dan semua penyakit yang bernama asing lainnya, tutur saya menyanggah.

Bukan buat diet? Mmm ... ya itu efek samping saja. Makanan terkontrol mengakibatkan berat badan terkontrol. Sanggah saya lagi. Tadipun saya juga sudah mendaftarkan ulang kartu keanggotaan di sebuah fitness centre terkemuka untuk jadwal olah raga yang terbaru. Ada lari di treadmill, yoga, dan semua program yang bisa membuat tubuh saya makin berbentuk. Curve, jelas. Mana ada yang ingin bentuk tubuhnya round circle. Jangan tanya itu istilah siapa, itu istilah saya bikin sendiri, biar saya juga kelihatan sharp—sori—smart. Niat utamanya olah raga jelas. Buat kesehatan kok, dalih saya lagi.

Oke.

Tarik napas.

Berarti tidak usah panik dong gara-gara cemas suaminya bakal berpaling ...

Saya merengut lagi. Tetap saja gundah itu tidak hilang dari diri saya. Masalahnya ini menyangkut rumah tangga saya. Saya harus mati-matian mempertahankannya. Sebab kalau saya cerai, sulit buat nyari ganti, lha wong alasan cerainya gara-gara saya sudah tidak cantik, tidak menarik, tidak semolek dulu... jadi suami saya berpaling. Kalau dia saja ogah, masak iya yang lain bakal ada yang doyan?

Atau...

Atau...

Saya terkesiap. Ya kenapa tidak? Sebelum akhirnya suami saya jadi bosan gara-gara fisik saya, mending langsung dilenyapkan saja. Ya! Ya! Ya! Itu solusinya. Mendadak dunia saya jadi gemerlap. Jadi saat dia masih belum bosan, saya akan mengakhirinya sehingga saya tidak akan merana waktu kalau dia bosan. Ha ha ha! Good idea! Saya menjentikkan jari ala seorang gadis dalam iklan. Dengan apa? Buru-buru saya cegat taksi dan menyuruhnya segera meluncur ke rumah saya. Nanti saja saya akan bikin janji lagi dengan instruktur pusat pelangsingan itu. Toh, saya cuma kehilangan beberapa ratus ribu. Itung-itung sedekah lah sama para cukong kapital. Mereka tidak akan menolak duit meski jutaan dollar sudah terpendam dalam setiap jengkal rumahnya. Yang dikeruk dari negara-negara tidak maju seperti Indonesia dan negara lainnya. Ho ho ho, Indonesia negara berkembang, neng! Sahut ekonom Bentley. Yah... Terserahlah. Sama saja. Toh, tetap saja sampai sekarang Indonesia masih bobrok luar biasa.

Saya mengingatkan agar anda tidak apatis, karena Indonesia telah menuai banyak kemajuan dalam pelbagai bidang, tukas sang pemimpin di kepala saya yang dulu waktu pemilu juga tidak saya coblos karena malas.

Okelah, Pak. Kita tidak bahas politik. Ini masalah rumah tangga saya yang terancam buyar beberapa tahun mendatang. Kok sudah yakin tercancam buyar? Ya iyalah, masak harus saya jelaskan lagi alasan harus panik pada penampilan saya?

Setelah sampai rumah, saya liat sekeliling. Adakah sesuatu yang bisa membuat suami lenyap tanpa saya harus susah payah? Mungkin racun tikus yang saya beli seminggu lalu bisa dipakai. Mata saya tertumbuk pada pisau dapur yang teronggok begitu saja di meja ruang tamu. Kenapa pisau itu bisa disana, saya tak tahu alasannya. Tapi, itu cukup membangkitkan sejuta gemuruh dalam otak saya. Ditusuk pakai pisau aja kali ya? Tapi jeritannya pasti bakal terdengar sampai tetangga, mereka bakal berdatangan akhirnya malah aksi saya ketahuan.

Dan saya jadi dipenjara. Waaa... tak terkira bagaimana rasanya dipenjara. Sudah jadi cemoohan, dikucilkan, tidur di tempat yang sudah pasti tidak enak .. eh, tidak lah. Saya masih bisa suap kepala sipir untuk mencarikan kasur yang empuk buat saya tidur. Atau sekalian saja kamar yah ... tidak usah mewah seperti kamar saya sekaranglah. Seperti kamar standart hotel melati itu saja cukup. Tunggu. Saya cek tabungan dulu. Menyuap kepala sipir pasti lebih mahal daripada memberikan sedekah ke anak yatim. Tidak cukup hanya seratus atau dua ratus ribu. Oke, saya masih ada perhiasan mas kawin dari suami yang bisa saya gadaikan untuk membayar kepada kepala sipir.

Nah. Selesai ... belum tenyata. Saya orangnya takut melihat darah sehingga pasti tidak akan sanggup menusuk suami saya pakai pisau.

Alah ... ribet sekali. Gimana dong?

Ayo, cari alternatif lain yang tidak berisik, tidak banyak resiko, dan saya mudah melakoninya.

Oh, ya mending obat tidur saja deh. Obat tidur saya kandungan zatnya keras. Itu kata apoteker yang melayani saya sewaktu saya menebusnya di apotek. Hmmm.. dengan dosis yang berlebih... pasti bisa. Benar. Pilihan yang tepat sekali.

Selanjutnya adalah bagaimana cara agar suami saya minum obat tidur dalam kadar yang berbahaya itu?

Tidak lain dengan dicampur ke makanan atau minuman. Kopi! Ya... suami saya maniak kopi. Dia suka menyuruh saya membuatkan kopi dan memaksa untuk minum juga. Saya jadi kecanduan kopi sejak itu. Ya! Akhirnya rencana saya tersusun rapi! Tinggal memikirkan kapan dan strategi pelaksanaannya. Ingat harus teliti dan detil agar tidak mudah gagal atau terendus oleh siapapun. Oke. Saya siap.

Wait. Kalau suami meninggal, saya jadi janda dong. Kenapa baru terpikir. Kalau jadi janda tetap saja saya merana sendirian gara-gara suami saya meninggal. Ini sih sama saja dengan ketakutan awal saya tadi cuma berbeda proses. Huh! Sudahlah. Pusing. Kepalang tanggung, mending saya mampus saja dulu daripada jadi ruwet!!!

Aaaargghhhh!!!!

Keesokan harinya.

Headline semua surat kabar menyajikan artikel utama: seorang wanita ditemukan tak bernyawa gara-gara minum obat tidur dosis tinggi. Polisi menduga sebab kematiannya adalah karena kecemasan menjelang pernikahannya yang tinggal sebulan lagi diadakan. Tetangganya mengatakan wanita tersebut sering terlihat melantur karena tertekan gara-gara dulu diolok-olok sebagai perawan tua....

Tidak.

Itu bukan saya.

Saya belum mati. Itu bohong. Mana suami saya, suruh dia cari pengacara.

Mana suami saya?

Mana??????

Tidakkk!!!!

#brak#dunia gelap#

Semarang, 7 Januari 2012

For my girls: love yourself, key?

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top