Boundary

"A place where nightmares and dreams."

Sebuah kisah legenda yang dikira main-main, sebuah tempat di dalam diri manusia. Ketika mentari meninggalkanmu, shyam akan menghiasi hari-harimu. Adorasi yang kau berikan, gelabah yang kau rasakan, serta atmamu akan dinikmati oleh sang anala.

Daksa yang kau berikan, kebohongan yang kau utarakan, berkah yang kau buang dan buana keajaiban yang t'lah kau ciptakan. Kita bersatu adalah sebuah kejahatan. Bagai indurasmi dan sinar surya, kita ditakdirkan untuk berdampingan namun tak bersama. Seharusnya kita tidak membawa mereka masuk, mereka hanyalah anak kecil.

Benar, anak kecil untuk eksperimenmu.

Kau sudah sadar, wahai temanku. Bahwa suatu hari, malaikat pencabut nyawa tidak akan membuatmu tenang. Kami tidak akan membiarkanmu tenang. Dia yang kau bunuh akan bersamamu. Selama-lamanya.

Wahai kamu, kalau kamu membaca ini menandakan aku t'lah tiada di dunia ini. Namun kamu akan segera menyusulku. Tidak dalam dunia sana, melainkan pada dunia bawah.

Old Friends ... Let us meet in your boundaries, Ren.

***

Ren membuka matanya perlahan-lahan, gelap adalah satu kata yang dapat menjelaskan di mana ia berada kini. Awalnya ia tak melihat apa-apa, hingga setetes darah mengenai wajahnya. Tidak, bukan darah. Cairan berwarna hitam pekat, sesuatu yang tidak pernah ia lihat sebelumnya.

Hingga langit-langit merah pekat mulai terlihat, bersamaan dengan payoda jingga kemerahan. Alunan requiem menghiasi suasana sepi, terdengar begitu menggoda namun di saat bersamaan terasa begitu berdosa. Ya, lelaki itu sudah tahu dimana ia sekarang. Matanya menangkap sesuatu yang terang jauh di depannya, sesuatu yang ia anggap sebuah perbatasan.

"Ren."

Lelaki itu menoleh pada sumber suara ketika mendengar namanya dipanggil, seorang gadis kecil tengah menatapnya. Ren tidak dapat melihat wajahnya dengan jelas dikarenakan poni gadis itu yang menutupi sebagian wajahnya, namun gadis itu seolah-olah menatapnya dengan tatapan kosong di balik poninya.

Dahi Ren berkerut, gadis kecil itu tidaklah asing di kepalanya. Ia merasa pernah melihatnya, namun ia tidak dapat berpikir jernih sekarang.

"Kak Ren."

Gadis kecil itu memiringkan kepalanya, namun tampak darah mulai mengalir di balik sibakan poninya panjangnya. Ren membulatkan matanya kaget, ia baru saja ingin bangkit tapi menyadari bahwa kedua tangan dan kakinya dirantai.

"Kenapa meninggalkanku?"

Hal selanjutnya yang Ren lihat ialah tubuh gadis kecil itu terjatuh, bersamaan dengan suara tembakan yang terdengar begitu keras, sangat keras sampai membuat gendang telinga Ren seperti ingin meledak.

Sepasang tangannya sontak menutup kedua telinganya, hingga akhirnya menyadari bahwa darah mulai mengalir keluar dari daun telinganya. Tubuhnya terasa panas, seolah-olah terbakar oleh kobaran api. Ditambah lagi rasa tusukan bagai ditusuk ribuan jarum di sekujur tubuh.

Lelaki itu melihat sebuah tangan, tidak itu tidak terlihat seperti tangan. Tiga cakar yang besar kehitaman tampak mengarah pada Ren. "Salam padaku kepadamu, wahai manusia berdosa."

Ren yang mendengar suara berat yang keluar dari tangan itu tampak tidak kaget, ia menelan air ludahnya pahit. "Apa yang kau inginkan, iblis?"

Iris mata merah terasa menghantui punggung Ren, memaksanya untuk bergerak supaya merasakan tusukan ribuan jarum sekali lagi. Napasnya berderu kencang, kedua bahunya naik turun, seluruh tubuhnya bergetar tak karuan, kedua mata mengiris minta tolong. "Kamu seharusnya sudah tahu kejahatan apa yang kamu lakukan."

"Itu bukanlah salahku," tolak Ren dengan suara yang parau. Bibirnya mulai berubah pucat, namun yang dirasakan hanyalah rasa panas bagai memakan ribuan cabe sekaligus. "Itu salahnya, dia berpura-pura bersalah dan menyalahkan semuanya padaku."

"Tapi tak dapat dipungkiri bahwa mereka mati karenamu," balas sang iblis tak berwujud itu, yang hanya terlihat mengulurkan tangannya pada lelaki bernama Ren itu. Ren menaikkan wajahnya, dilihatnya sebuah maskot yang terduduk tak jauh darinya.

Sebuah maskot yang terlihat tidak ada apapun di dalamnya, namun mata Ren menangkap helaian rambut hitam yang sedikit keriting pada lobang maskot. Ren tidak dapat melihat wajahnya, namun ia dapat melihat sebuah mayat bocah di dalam maskot itu, dengan kepala tertunduk.

Perlahan-lahan, darah mulai mengalir keluar dari maskot itu, seakan-akan bocah itu baru saja dibunuh di dalam maskot tersebut. Ren yang melihat itu hanya mengigit bibir bagian bawahnya, ia mengingat siapa itu. Ia mengingat dia.

Ini adalah dosa terbesarnya.

"Buatlah kontrak bersama saya, manusia." Ren kembali menoleh pada tangan bercakar hitam raksasa itu, lalu kemudian bertanya. "Kenapa saya harus membuat kontrak bersamamu?"

"Aku tahu kau ingin balas dendam padanya. Ya, dia mungkin memang sudah mati. Buatlah kontrak denganku, aku akan membantumu balas dendam pada orang yang sudah mati. Dengan balasan, aku ingin memakan jiwamu."

Suara langkah kaki terdengar kian mendekat, Ren mengangkat kepalanya dan mendapati maskot tadi kini telah berdiri di depannya. Tetap saja tidak ada apapun di dalam maskot itu selain mayat bocah tadi, yang entah kenapa terlihat menatapnya dengan tubuh matinya.

"Tentu saja aku tidak akan membantumu sekarang, tetapi aku akan membantumu setelah kamu menembus semua dosamu di sini," bisikan iblis itu kembali terdengar, "bagaimana, manusia? Kamu menginginkan mereka tenang bukan?"

Ren mengatupkan rahangnya, benar. Iblis itu tahu apa yang ia inginkan, kini ia menginginkan semua anak-anak itu tenang di alam sana, bukan di sini untuk menemaninya. Terutama dia, seseorang yang seharusnya tidak ia bunuh.

"Akan aku lakukan."

Tangan hitam cakar tiga itu menembus badan Ren, memaksa lelaki itu mengeluarkan darah dari mulutnya. Darah yang keluar mengenai kaki maskot itu, lalu terlihat menyatu dengan lantai yang mulai dilumuri darah siapa.

"Kalau begitu, bersabarlah ribuan tahun, manusia. Aku akan menemuimu nanti."

Benar, mereka akan bertemu lagi. Kini, yang biasa ia lakukan hanyalah berdiam di sini sambil dihantui oleh dosa-dosa yang telah ia lakukan. Ribuan tahun akan dipenuhi rasa ketakutan dan kesakitan, namun tak dapat menembus rasa kecewa bagi mereka yang mendapat kepercayaannya. Dari awal, dirinya bukanlah penjahat di cerita ini, melainkan seseorang yang tidak bersalah yang terpaksa menembus dosa sahabatnya. Benar, dia adalah penjahat di balik topeng tak berdosanya.

Pada saat ia kembali, Ren sadar bahwa ia tidak akan melihat mentari dengan pandangan yang sama lagi. Mulai sekarang, indurasmi akan slalu menemaninya, hingga hari dimana perjuangannya di sini berakhir dan memberikan euforia kepada mereka yang tidak berdosa.

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top