Rain

😇Tenncchi_😇Tenncchi_😇Tenncchi_😇Tenncchi_😇Tenncchi_😇Tenncchi_😇Tenncchi_😇Tenncchi_😇Tenncchi_

Happy reading 😇

__•__

"Shh... Hujan... Dingin sekali! "

Runtukan seorang gadis berseragam lengkap terdengar pelan diantara suara rinai hujan yang turun bergantian, menciptakan tirai hujan.
Badan mungilnya bergetar pelan, beberapa kali gadis itu bergidik.
Suhu disekitarnya menurun drastis dari waktu ke waktu. Memaksanya untuk mendekap tubuhnya sendiri agar ia tak kedinginan.

Walau sebenarnya hal yang ia lakukan itu tidak terlalu berdampak padanya.

"Si rambut belah itu kemana, sih?! "

Chisaki Erin meruntuk kembali, kesabarannya semakin terkikis.

Pemuda yang ia tunggu sejak sebelum hujan hingga hujan turun tak kunjung datang. Sudah lewat sepuluh menit dari waktu hujan pertama kali turun, Erin tahu itu karena setiap lima menit ia akan menatap jam tangan yang melingkar dipergelangan tangannya.

"Lihat saja, ya! Jika ia datang akan kupukul kepalanya itu! Kujambak juga sampai rambut jeleknya itu lepas!!! "

Erin berteriak kesal, meluapkan emosinya yang menumpuk tinggi sebab lamanya waktu yang ia habiskan untuk menunggu. Ia bukan tipe orang yang mudah habis kesabarannya tapi hei...

Menunggu dihalte dengan cuaca tak bersahabat itu bukan hal yang menyenangkan.

Mungkin jika dihitung total, ia sudah berdiri setengah jam dihalte bis yang sepi ini. Menunggu Izumi Iori yang berjanji akan menemaninya membeli barang yang ia perlukan.

Pikirannya mulai melayang, mengklaim sebuah kalimat yang bagi Erin seperti menelan pil pahit, membuat tenggorokan terasa tercekat.

Izumi Iori tidak menepati janjinya.

Wajahnya yang semula terlihat kesal mulai menyendu. Tatapannya yang tajam kini hilang berganti tatapan putus asa. Sebelah tangannya terangkat, menampung sebagian air hujan yang turun ditelapak tangan.

"...saat kami menjadi kekasih saja dia kadang tak bisa meluangkan waktu, apalagi sekarang aku yang bukan prioritasnya? "

Erin tersenyum getir, kepalanya menunduk. Menatap genangan air yang terbentuk dibawah dan bergerak konstan karena tetesan air hujan yang menghantamnya. Sesak mulai terasa didadanya, tapi dengan helaan napas ia berusaha menampik rasa kecewa yang memenuhi dada.

"Apa yang kau lakukan disini? Menghitung rintik hujan? "

Erin mendongak dengan wajah terkejut bukan main, suara ini. Ia sangat mengenalinya. Pemuda itu berdiri tegak dihadapannya dengan payung tergenggam erat. Nada dingin tapi ketus yang tak asing.

"Kau... Tenn-san? "
"Ayo. "

Erin tersentak, Tenn menarik tangannya secara tiba-tiba. Membuatnya sedikit berpindah dari posisi semula. Erin sedikit memberi perlawanan, membuat tarikan Tenn tertahan.

"Tu-tunggu! "
"Apa? Kau menunggu seseorang? "

Tenn bertanya dengan alis terangkat sebelah, pemuda berambut merah muda itu melirik kekanan sebentar, ia memilih abai dari sesuatu yang baru saja ia lihat. Kembali ia menatap Erin yang meremas tas yang dipegangnya.

"...tidak. "

Tangan Erin sekali lagi ditariknya, membawa gadis itu pergi dari lindungan atap halte.

"Jangan menunggu sesuatu yang tak pasti. "

Erin menggigit bibirnya pelan, menundukkan kepala dengan remasan tangan dikedua badan. Tepukan ia rasakan diatas kepala disusul rengkuhan hangat seseorang.

"Berisik, Tenn-san. "

'•'

"Apa? "

Erin memicingkan mata ketika melihat wujud orang yang membuatnya kesal bukan main. Gadis itu hanya membuka barang sedikit pintu kamarnya, tak sudi membuka lebar untuk orang menyebalkan seperti pemuda berwajah datar itu.

"Apa?! Cepat bicara atau kututup– aduh! Sial– Huh? "

Erin terdiam setelah berteriak dan mengumpat kecil. Sebuah barang dihantamkan pelan ke dahinya oleh pemuda yang berdiri didepannya.
Erin menatap dalam benda yang kini ia pegang.

"Aku hanya ingin memberikan ini, Kau lemah dibahasa. "

Pemuda itu berlalu dari hadapan Erin, meninggalkan gadis itu yang meremas perlahan buku Bahasa Jepang yang tergenggam ditangannya.

Erin melirik pemuda yang masih ia dapat lihat wujudnya walau jarak sudah mulai tercipta. Bahunya terlihat basah, dan Erin juga baru menyadari jika rambut yang biasa tertata rapi khasnya sedikit acak-acakan. Basah oleh air.

"...Iori menyebalkan. "

Erin membanting pintu dengan emosi dan perasaan tak masuk akal yang mulai merasuk tak sopan dalam relung hatinya.

Fin(?)
_________________________________

Ini bentuk protes Enthor atas seorang oknum yang bertindak semena-mena pada ocnya sendiri 😇
Sebagai penggiat pair uwu, Enthor sangat menentang kapal karam, pecah, atau bahkan tak jadi berlayar 😇

Bentuk protes Enthor tak hanya akan sampai sini, masih ada hal yang ingin Enthor lakukan 😇🙏

Mohon doa dan restunya, para pembaca sekalian demi kelancaran aksi Enthor yang amat sangat mulia ini 😇🙏

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top