Pamit

Hei, taukah kamu semua manusia diciptakan berpasang-pasangan? Sebuah istilah populer dengan sebutan Soulmate yang digambarkan dengan sepasang orang yang dihubungkan dengan benang merah yang saling tarik menarik untuk pada akhirnya berjalan bersama.

Itu sebatas teori sederhana tentang sebuah ikatan, tapi apa benar semua orang akan menemukan sang belahan jiwanya? Namun, terkadang tidak hanya soal orang tapi juga soal waktu.

Fakta semua orang memiliki pasangan nya masing-masing mungkin sudah terukir jelas, tapi itu sebuah surah yang kadang tak tergapai logika manusia. Hanya sebuah penyederhanaan berarti tentang definisi hidup yang tak seorangpun dapat memahaminya dengan utuh.

Terkadang manusia hanya tersesat dalam diorama takdir semu yang dibuat kehidupan, sebuah cerita yang terasa manis nyatanya hanya sebuah ilusi manis yang mendatangkan rasa pahit saling menyakiti.

"Maaf"

Kata itu selalu terngiang dalam kepala tak pernah terucap. Sebuah kata yang berat untuk dikatakan, bukan karena takut dengan hasil yang buruk hanya hati yang tak rela untuk dimaafkan.

Sebuah sudi yang tak tercapai sehingga kata itu terkubur dalam-dalam menyisakan rasa bersalah yang kian menggaungkan rasa sakit.

"Kenapa? "

Dari sekian banyak pertanyaan yang terngiang di kepala hanya sebuah kata yang mampu terucap.

Hei, ini bukanlah sebuah karya tulis ilmiah tentang definisi cinta dan hubungan.

Ini sebuah cerita, sebuah cerita tentang dua orang yang bodoh dan terjebak dalam manis yang semu kemudian saling memberi pahit.

Sebuah cerita yang tidak pernah ada kata berakhir karena tidak pernah dimulai.

"Kamu yakin?" Ucap seorang gadis dengan surai coklat itu menatap tak percaya pada gadis lain yang duduk menunduk didepannya.

"Yuki, mungkin itu cuma pikiran jelek malam hari mu lagi. " Gadis lainnya dengan netra coklat keemasan nya menatap khawatir sang gadis bernama yuki itu.

"Engga. Aku udah lelah. "

Sebuah lirih yang cukup terdengar dalam sunyi, sebuah perasaan paling jujur yang jarang terucap dari gadis itu.

"Kak Tsumugi ada salah ngomong—"

"Engga! " Cepat-cepat ia angkat kepalanya, gadis salju itu menggeleng ribut. "Kak mugi baik, baik banget. "

"Terus masalah nya apa? "

"Aku." Netra merah itu menatap lurus kedua temannya. "Aku lelah sama diri sendiri. "

Terdengar konyol, namun tidak untuk sang gadis bersurai hitam kemerahan itu.

Netra nya yang biasanya semu tersenyum kini memancar lelah dengan jujur.

"Oke. Kalo gitu mending omongin dulu sama kak Tsumugi nya. "

"Engga"

Terdengar helaan nafas kasar dari gadis bersurai coklat itu. Ia terdengar frustasi untuk mengikuti alur pemikiran absurd itu.

"Terus mau mu apa? "

"Aku mau pergi aja. "

"Kemana? Kamu ninggalin gitu aja? Tau ga kamu itu jahat kalo gitu. " Kesal, ingin sekali gadis coklat itu melempar salah satu bangku yang ada di kelas itu melampiaskan amarah nya.

"Akiko, sabar dulu ya. " Gadis lainnya yang lebih tenang menengahi. "Yuki, aku ngerti kenapa kamu ngerasa lelah. Kamu sampe sekarang belum nerima diri sendiri kan? "

Tak mendapat jawaban, namun gadis tenang itu tersenyum lembut. Jelas ia tahu kalau temannya mengerti apa yang ia katakan.

"Tapi, bener apa yang dibilang Akiko." Ucap gadis tenang itu bernada lembut. "Aku ga mau kamu jadi penjahat di cerita kamu sendiri. Setidaknya kamu jelasin ke kak Tsumugi"

"Rei..., aku harus bilang apa? " Takut, hanya itu yang terlihat dibalik netra merah kelam itu. "Aku harus bilang apa buat mengakhiri cerita yang bahkan ga pernah mulai? "

Lucu? memang.

Sebuah kisah yang bahkan belum sampai pada prolog, tapi sudah diberikan epilog. Bahkan sekedar cerita mitos yang disampaikan dari telinga ke telinga pun memiliki intro yang lebih baik dari kisah tak berjudul ini.

"Setidaknya bilang pamit. "

Sebuah kalimat yang tertulis italic terngiang dikepala gadis bersurai hitam kemerahan itu.

Kalimat itu juga yang membawanya kini berdiri tegak di taman belakang sekolah itu. Sunyi, hanya deru angin yang melambai memperdengarkan desir dedaunan halus.

Langit yang kian terlihat oranye membuat hati itu tidak bisa berhenti berdetak. Bukan berdetak untuk memulai namun berdetak untuk mengakhiri.

"Yuki, maaf tadi ada rapat komite perpus sebentar. " Seorang pemuda jangkung berjalan tergesa menghampiri gadis yang masih berdiri diam ditempatnya. "Ga nunggu terlalu lama kan? "

Netra coklat keemasan itu menatap bingung. Sebab, gadis itu sama sekali tak bergeming ataupun berbalik menghadap nya.

Saat kaki sang pemuda memutuskan untuk mendekat sebuah suara halus menghentikan nya.

"Berhenti." Sebuah suara lirih yang jarang terdengar dari gadis ribut itu. "Tetap di tempat. "

Bingung dan khawatir menyerang sang pemuda secara bersamaan, namun ia tetap menuruti ucapan gadis didepannya.

"Kak, aku boleh berhenti? "

"Eh? Berhenti dari apa? "

"Aku udah cukup, kak izinin aku buat berhenti bareng sama kakak ya. "

"Maksudnya?" Netra coklat keemasan itu kian bergetar, berbagai kemungkinan buruk menyerang pemikiran nya.

"Kak, kakak percaya ga orang yang tepat bisa aja dateng di waktu yang ga tepat?" Sunyi, bahkan desir dedaunan itu kian mereda. "Aku mohon jangan salahin diri kakak sendiri. "

"Tapi kenapa? "

"Sulit kak. Semuanya berasa berat. " Tubuh kecil sang gadis bergetar terlihat menahan tangis. "Ini memang klise, tapi kakak terlalu baik buat aku. "

"Yuki—"

"Kak! Aku pikir hati aku udah ga lagi busuk. " Surai hitam kemerahan panjang itu kian menyembunyikan wajah sembab itu. "Ternyata masih busuk, bahkan lebih buruk. "

"... "

"Kak, kalo kakak mau jadiin aku sebagai penjahat dicerita kakak." Lirih namun masih terdengar jelas. "Aku ga akan sekalipun mengucap maaf karena pasti kakak langsung maafin tanpa pikir panjang kan? "

"Aku engga—"

"Kak, aku izin pamit ya. " Gadis itu berbalik, tersenyum dengan mata sembab nya. "Aku izin pamit dari kisah yang bahkan belum sama sekali dimulai ini. "

"Semoga kakak ga ketemu orang seperti aku lagi di depan sana dan mendapatkan kebahagiaan kakak sendiri. "




882 word
❒Yuki Supriadi❒

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top

Tags: #random