5. Restless

Apa yang lebih menyiksa diri dari saat ingin marah, tapi tidak memiliki hak? Atau mana yang lebih sakit ketika ada, tapi tidak bisa menunjukkan eksistensimu? Rendra mengalami dua hal itu. Dari kejauhan ia hanya bisa melihat Jharna, mencoba memberi perhatian. Namun, tak lagi digubris. Setelah malam itu untuk waktu yang cukup lama Rendra enggan menampilkan diri di hadapan Jharna. Ia sadar bahwa jawaban itu tak sepenuhnya ia dapatkan, atau tepatnya ia ingin mengelak meski tahu kebenarannya. Ketika ia siap untuk memulai lagi hubungan mereka dengan status pertemanan yang kembali diperjelas, Jharna menolak mentah-mentah niat Rendra.

Rendra cemburu pada anak di bawah umur. Ia juga merasa marah karena Jharna menghabiskan waktu dengan laki-laki lain. Mungkin seperti yang Jharna katakan, bahwa ia hanya tak rela salah satu pengagumnya teralihkan oleh hal lain.

Sejak saat itu dada Rendra perih, tersayat. Dan tidak ada yang bisa laki-laki itu lakukan karena tahu bahwa semakin ia mendekat, Jharna-lah yang terluka. Ia tak akan bisa memberi perhatian yang terdefinisi cinta, atau pujian manis yang lebih mengakrabkan keduanya. Ia tak ingin menjadi  laki-laki yang lebih berengsek dari saat ini.

Bukan cuma satu-dua minggu Rendra membiarkan waktu berlalu tanpa temu dengan gadis itu. Tiga musim yang tak seperti biasa bagi Rendra. Tiga musim yang dipenuhi doa dan harapan agar Jharna baik-baik saja tanpa dirinya. Sesekali ia melegakan perasaan dengan bertanya pada Ezra apakah gadis kecil itu mengalami kesulitan akhir-akhir ini.

Tidak ada lagi pesan yang menuntut jawaban. Ponsel itu bahkan kini bisa beristirahat tenang karena tidak ada panggilan telepon yang beruntun. Senyap memenuhi dada Rendra setelah kecerewetan Jharna hilang. Mereka bagai asing yang tak pernah bertemu. Seharusnya itulah yang terjadi, karena saat Jharna menyatakan perasaannya Rendra bahkan mencibir dalam hati bahwa mereka tak akan berhasil. Nyatanya, ada kekhawatiran berlebih saat Jharna benar-benar menjauh.

"Jharna baik-baik aja."

Untuk yang kesekian kalinya dalam beberapa bulan ini Ezra memberi tahu.

"Dia sekarang udah kelas 2 SMA, udah selesai ujian akhir. Sebentar lagi dia bakal jadi anak kelas 3."

Rendra mengangguk paham, sambil sedikit lancang membayangkan paras manis remaja yang sedang tumbuh itu.

"Dia belum punya pacar. PDKT-nya sama si Ravin itu enggak kelar-kelar."

Kali ini Rendra tersenyum tipis. Sedikit senang, tapi entah kenapa.

"Dia juga enggak pernah nangis diam-diam, setahu gue. Dia bahagia, itu juga doa gue selalu. Jadi, menurut gue udah cukup ngumpet-ngumpetannya. Jharna udah punya arah hidupnya sendiri. Dia udah move on, patah hati pertamanya udah kelar. Ini waktunya bagi lo buat balik kayak sebelumnya juga."

"Gue normal-normal aja selama ini. Enggak ada yang berubah."

"Halah. Pakai ngeles. Lo kira gue sebodoh itu? Kalau bukan karena Jharna, kenapa lo enggak pernah ke rumah gue sekalipun sejak tahun lalu?"

Kali ini Rendra pun hanya tersenyum tipis. Keduanya menyesap kopi yang masih panas dan sama-sama terdiam untuk sesaat. Sepulang kerja mereka sengaja mampir ke kafe untuk bersantai sebentar, mengingat hari mereka yang melelahkan.

"Kenapa dia belum jadian sama cowok itu?"

"Enggak tahu. Padahal anak itu jelas-jelas suka Jharna. Setiap bulan dia selalu datang ke rumah, bawain hal-hal yang Jharna butuhin saat menstruasi. Kalau mereka habis main, dia selalu mampir buat pamitan saat ngantar Jharna pulang. Enggak jarang, dia beberapa kali datang sambil bawa makanan untuk orang rumah. Menurut gue mereka cocok, etikanya ada, apalagi tampangnya."

"Iya, menurut gue juga mereka cocok."

Sekilas bayangan lalu muncul di benak Rendra. Ia pernah tanpa sengaja bertemu dengan Jharna di sebuah toko gelato. Seketika Rendra berbalik, menjauhi toko tersebut saat menyadari Jharna tak sendiri. Muda dan sebaya, di mana perasaan bersemi dengan indahnya tanpa perlu memikirkan perbedaan usia. Yang mana Rendra yakini salah satunya tak akan memiliki perasaan bersalah karena telah terpana walau sesaat pada seseorang yang sudah dianggap sebagai adik.

Adik. Konyol sekali, pikir Rendra.

"Pas Jharna sweet seventeen, dia ngadoin Jharna kucing. Jharna happy banget. Gue pikir saat itu dia bakal  nembak Jharna, ternyata enggak. "

Bahkan Rendra sengaja melewatkan perayaan ke 17 tahun Jharna semata-mata agar gadis itu tak terusik jika mereka bertemu. Hadiah yang ia siapkan sambil memikirkan gadis itu pun tak pernah ia kirimkan atau titipkan pada Ezra. Sampai saat ini masih tersimpan rapi bersama kotaknya di dalam lemari pakaian Rendra. Dari penuturan Ezra, Rendra tahu yang dilakukannya tidaklah sia-sia. Mungkin setelah ini hatinya akan lebih damai, perasaan bersalahnya mulai berkurang, dan kecemasannya perlahan-lahan memudar. Jika ia bertemu Jharna dalam waktu dekat atau entah kapan, ia berharap bisa menyapa gadis itu tanpa ada denyutan aneh di dadanya. Seperti mereka dulu.

"Gue pernah tanya apa Jharna enggak suka Ravin."

Rendra diam, tapi sangat tertarik mengetahui jawabannya.

"Dia bilang enggak mau mikirin soal asmara, apalagi dia bakal sibuk saat di kelas 3 nanti."

Tidak ada tanggapan dari Rendra.

"Gue juga pernah nanya cowok itu, kenapa masih mau deketin Jharna padahal enggak ada tanda-tanda mereka bakal jadian. Jawabannya apa? Dia mau Jharna perlahan-lahan, enggak usah buru-buru. Katanya dia menikmati saat Jharna bisa ketawa di sampingnya. Itu aja udah cukup."

"Setidaknya selain lo, Jharna udah ada yang jagain. Karena gue enggak bisa lagi muncul begitu aja di depan dia saat lo minta tolong buat jemput atau nemenin Jharna pagi."

"Lo ngomong begini murni karena enggak mau adik gue sakit hati lihat wajah lo lagi, atau lo enggak bisa menghadapi kenyataan cinta monyet pertama Jharna berakhir gitu aja?"

Rendra tertawa sumbang, sempat menatap kosong jalanan yang ramai di bawah langit senja.

"Lo percaya enggak kalau gue bilang gue hampir setengah gila selama ini?"

Kening Ezra nyaris bertautan, menunggu lebih banyak penjelasan Rendra dari kalimatnya barusan.

"Gue selalu mikirin Jharna. Kadang gue enggak bisa tidur. Tapi gue tahu itu bukan cinta, bukan sayang, bukan rasa ingin memiliki. Gila, 'kan? Bisa-bisanya gue mengurung adik lo di pikiran gue siang dan malam, sambil sesekali sibuk nanya ke diri sendiri dia lagi apa, se-happy apa dia hari ini. Gue rasa jawaban yang paling masuk akal adalah rasa bersalah gue yang pernah bikin dia nangis."

Ezra tak langsung menjawab. Lama, ia memandangi Rendra yang menyesap kopinya dan beberapa kali tertangkap tengah tersenyum tipis. Entah apa yang laki-laki itu pikirkan, Ezra jadi yakin tak jauh-jauh dari seputar Jharna. Ternyata sahabatnya memang nyaris tidak waras.

"Lo enggak mungkin suka Jharna. Tipe lo jauh dari adik gue. Jharna bukan cewek maskulin, dia manja, suka hujan perhatian. Apa yang bakal lo harapkan kalau perasaan lo yang enggak jelas buat saat ini bakal berkembang? Dan serius lo mikirin Jharna selama ini? Tapi lo enggak pernah sekalipun nemuin dia. Jangan paksa gue percaya kalau perasaan lo menjurus ke percintaan. Nope. Lo se-effortless ini ke adik gue, kalau lo tiba-tiba nyatain perasaan Jharna juga enggak bakal percaya."

"Gue ... enggak tahu," kata Rendra pasrah.

"Wah! Gila beneran ya anak ini? Masih bimbang juga?" Ezra menertawai sahabatnya. "Di saat lo menolak adik gue dan menjauh, ingat ada cowok lain di sampingnya. Jangan sampai waktu lo sadar gimana perasaan lo sebenarnya, Jharna malah udah jadi punya orang lain. Gue enggak melarang hubungan kalian, gue tahu lo kayak apa. Satu hal yang enggak bisa gue tolerir adalah kesalahan-kesalahan pihak lain yang bikin Jharna nangis dan terluka."

Kali ini Rendra tertawa lagi, tepatnya menertawai diri sendiri yang bagai kehilangan arah. Padahal ia yang menolak, tapi terasa seperti ia yang dibuang Jharna karena semua tentang gadis itu tidak berputar lagi di sekitarnya. Semoga saja setelah percakapan panjang dengan Ezra kali ini, perasaannya membaik dan tak lagi meracau tentang Jharna.

Itu harapan Rendra.

🌼

Rendra tak membenci makan-makan sepulang jam kantor, tapi kali ini ia sungguh tidak ingin ikut. Akhir bulannya dihajar habis-habisan oleh pekerjaan, sampai beberapa kali ia lembur demi menyelesaikan tugas sebelum audit bulanan dimulai. Namun, semua memaksa dengan alasan agar acara lebih ramai karena beberapa divisi lain juga ikut. Pada akhirnya di situlah Rendra sekarang, berada di kerumanan orang-orang yang tertawa lepas, tapi yang ia butuhkan hanyalah tidur tanpa gangguan apa pun. Mulanya ia tidak terlalu menikmati, makan sekadarnya, menanggapi lelucon seadanya, seperti tak ingin dianggap ada.

"Setengah nyawa lo hilang ke mana?" Ezra menyindir.

"Gue udah bilang mau cepet pulang, tapi kalian maksa gue. Apaan lagi ini, malah lanjut ronde kedua di bar."

"Mumpung besok libur. Udahlah, nikmati aja sesekali."

Bukannya anti alkohol, atau tak pernah datang ke tempat di mana orang-orang bisa menari bebas bersama meski tidak saling mengenal. Namun, harus berapa kali lagi Rendra menjelaskan bahwa kali ini tenaganya sedang terkuras habis. Bahkan ia sengaja mengabaikan seseorang yang sejak di restoran pertama memberikan tanda-tanda tidak biasa. Seseorang memperhatikan Rendra, beberapa kali tersenyum saat pandangan mereka beradu, dan Rendra tidak menggubrisnya sama sekali.

"Lo tahu cewek itu? Anak pemasaran, dari tadi dia ngelihatin lo."

"Tahu, tapi enggak peduli."

Mereka menenggak minuman dalam sloki bersamaan, sempat memejamkan mata karena sensasi yang sedikit membakar kerongkongan. Rendra mengetuk-ngetuk jarinya di meja, menikmati dentuman musik yang menggetarkan lantai dansa. Suasana dingin yang berpadu dengan aroma tajam berbagai macam alkohol serta asap rokok sudah mulai membuat laki-laki itu pusing saat ini. Pencahayaan remang-remang dengan lampu sorot warna-warni membuat Rendra ingin memejamkan mata saja.

"Cantik, Ren."

Kali ini Rendra memperhatikan gadis itu dan pandangan mereka bertemu. Jaraknya agak jauh, sehingga keduanya hanya tersenyum sebagai sapaan.

"Ya, cantik."

"Tipe lo, 'kan? Sebaya, pekerja keras juga. Kenalan sana."

"Emang kalau enggak sebaya, enggak boleh? Sama anak SMA, gimana?"

Ezra tertawa kecil melihat temannya yang sudah menghabiskan beberapa sloki hingga kesadarannya sedikit berkurang. Tatapan Rendra sayu, duduknya tidak lagi tegap. Baru sekarang Ezra menyesal karena dialah yang akan mengurus Rendra nanti.

"Lo jangan tanya gue, tanya adik gue sana. Gila, hebat juga ya dia. Bisa-bisanya bikin lo kepikiran terus."

"Ya, hebat banget dia. Gue mau ketemu dia boleh?"

Rendra akan menenggak alkohol lagi, tapi Ezra melarang. Ia mengabaikan pertanyaan Rendra dan membantu laki-laki itu untuk berdiri.

"Udah mabuk, Ren. Balik aja kita. Yang lain juga banyak yang udah pulang."

Namun, Rendra yang tinggi dan berbobot lumayan itu, nyaris terjatuh karena Ezra tidak siap memegangi saat Rendra berjalan cepat. Untung saja seseorang membantu Ezra menjaga tubuh Rendra agar tak sampai menyentuh lantai.

"Hai. Mau gue bantu sampai mobil?"

Gadis itu memberanikan diri mendekati Rendra yang nyaris kehilangan seluruh kesadarannya. Ezra sudah akan menolak niat baik itu, tapi Rendra malah berulah.

"Jharna, ya? Jharna ada di sini?"

Tanpa permisi ia menggenggam tangan gadis itu. Menatapnya lekat dengan senyum semringah. Sedetik kemudian ia menepisnya, membuat sang gadis terkejut begitu juga dengan Ezra.

"Ternyata bukan Jharna."

Rendra terdengar sangat kecewa, begitu juga dengan gadis itu. Ia berpamitan dengan canggung pada Ezra karena yakin bahwa laki-laki yang berniat ia ajak kenalan sudah menjatuhkan hati pada orang lain.

"Ayo, cari Jharna. Gue mau ketemu Jharna."

"Jharna enggak ada di sini."

"Ya tinggal ke rumahnya aja. Ayo, ayo," Rendra memohon berulang kali.

"Lo mabuk nyusahin juga, ya," keluh Ezra sambil menuntun Rendra ke mobil.  "Tapi kok lucu ngelihat lo hilang arah gini? Karma kali ya pernah bikin Jharna nangis."

To be continued.

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top