Prolog
Puluhan pasang manusia telanjang, tumpah di sebuah ruang. Aroma persetubuhan menguar di udara. Suara desahan, erangan, rintihan, dan jeritan membumbung langit-langit, kemudian pecah dan menggaung ke seluruh sudut. Gairah menggelegak bak kepulan kuah soto. Berahi layaknya binatang pada musim kawin menyelimuti seluruh penjuru. Lendir dan sperma berceceran di lantai. Embusan asap rokok berkelindan dengan bebauan narkoba, yang kemudian saling baku hantam dengan wangi vodka, wiski, Heineken, Guiness, serta ratusan botol bir lain. Musik mengentak keras. Irama heavy metal seperti pecut untuk membuat tubuh-tubuh yang basah akan keringat tersebut semakin liar menggenjot lawan mainnya.
Persetubuhan manusia-manusia homoseksual, lesbian, hingga dengan binatang ada. Perkawinan antara dua orang sampai pesta seks pun ada. Masturbasi maupun onani juga ada. Persanggamaan antara laki-laki bersuami dengan perempuan hamil yang tak dikenali istrinya ada. Anak-anak menggauli nenek ada. Pemuda di selangkangan tante-tante ada. Kakek-kakek bau tanah disodomi anak kemarin sore juga ada. Dari gaya konvensional hingga BDSM tak terkecuali. Tidak ada yang dilarang di ruangan itu. Asal terdapat kesepakatan antara kedua belah pihak maupun lebih, seksualitas sangat dilegalkan untuk memenuhi gairah seks mereka.
Untuk menjadi salah satu syarat mengikuti agama baru mereka.
Untuk menjadi perayaan atas lahirnya jasad dan pemikiran baru.
Agama setan.
Satanisme.
"Lebih cepat!" seruan perempuan kepada sang Imam, membuat gairah sang Imam bergelora hebat. Pinggulnya menghantam titik kenikmatan perempuan di bawah tindihannya dengan lebih cepat. Matanya mengibarkan nikmat percabulan tak terelakkan. Dalam cawan pesta seks ini, ia telah mencapai kebutuhan dasar manusia tentang cinta. Cinta yang terimplementasikan dengan hubungan selangkangan. Mengingat iming-iming jabatan yang akan ia emban jika mampu membawa lebih banyak satanis di hadapan Dewa Baphomet, kian membuatnya kuat merojolkan kemaluan. Kedua tangannya merangkum payudara sang pasangan, dan kenyal dari daging dalam genggamannya semakin membuat imam gereja ini belingsatan tidak keruan.
Ia melenguh, meraung, kemudian tertawa. Keputusannya memeluk agama setan adalah keputusan yang benar. Pundi-pundi uangnya mengalir deras. Masa depan cerah yang semula tak pernah ia kenal, perlahan merangkak dari tumit hingga ke dasar hatinya. Doa-doa yang dulu pernah dan selalu ia rapal, kini ia tinggalkan. Doa hanya diperuntukkan bagi manusia-manusia tolol yang percaya pada Tuhan, begitu firman Pangeran Kegelapan sewaktu mengangkatnya dari jurang kemiskinan. Dan sang Imam percaya dengan kidmat. Tanpa bantahan. Selepas ia menanggalkan pilar-pilar doa, lantas memercayai bahwa dirinya sendirilah yang mampu mengubah nasib, kilang kebahagiaan dan kesenangan itu membanjirinya.
Setan adalah sebenar-benarnya tuhan manusia. Ia sangat percaya hal tersebut.
"Lebih kuat!" Perempuan di bawah sang Imam mendesah liar. Suaranya saling sahut dengan puluhan perempuan di ruangan itu. Aroma sperma yang kuat tercium hidungnya kian membuat dia menggeolkan pinggul seirama sang Imam. Ini adalah penghargaan paling tinggi, begitu ia membatin. Mampu bersanggama dengan imam pemimpin ritual pemujaan setan adalah anugerah. Ia adalah perempuan terpilih malam ini. Sedikit lagi, ungkapnya, ia akan dipercayai Dewa Kegelapan untuk menampung pangeran-pangeran kecil di dalam rahimnya. Yang ia butuhkan hanya perlu bersabar. Moksa itu akan ia dapat sebagaimana kawan lama. Dari rahimnya—dalam masa-masa iri dengki menyelimuti gelap matanya—ia akan setara dengan kawan lama. Dipercayai sebagai ibu dari segala ibu di area Asia Tenggara.
Bersabarlah, batinnya melafal mantra. Sedikit lagi kamu sampai di titik itu.
Hail, Satan
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top