Prolog

Matahari mulai terbenam di ufuk Barat membuat langit biru berubah menjadi  merah jingga. Beberapa dari manusia yang menyaksikan hal itu memilih mengabadikanya dengan ponsel pintar mereka sedangkan sebagian lagi memilih menikmatinya.

Cathleen adalah salah satu manusia yang memilih menikmati indahnya alam itu. Ia duduk di salah satu bangku di tepi pantai memanjakan matanya dengan menikmati sunset.  Rambutnya yang di biarkan tergerai melambai-lambai di terpa angin laut. Senyum terus mengembang di bibirnya yang pink alami.  Perlahan senyum itu mulai pudar bersamaan dengan matahari yang mulai menghilang.

"Hari yang indah untuk awal yang baru." Gumamnya lalu  beranjak dari tempat duduknya. Ia melangkah dengan santai melewati segerombolan pria yang tengah santai menikmati suasana sore ini dengan kacamata hitam yang bertengger di hidung mereka dan menatapnya dengan penuh rasa ketertarikan. Saat sampai di tempat dimana motornya terparkir, Ia langsung mengenakan helmnya dan melajukan motornya di jalanan, meliuk-liuk diantara ratusan kendaraan lain dengan begitu lihai.

"Eh, lo! Menepi sekarang!" Bentak seseorang yang juga mengendarai motor sport melaju tepat di samping Cathleen.

"Lo siapa?" Bingung Cathleen.

"Menepi sekarang atau gue serempet motor lo!" ancam orang itu.

Bibir Cathleen menyungging senyuman sarkas lalu memainkan gas motornya memancing emosi orang itu.
"Coba saja kalau lo bisa ngajar gue." Setelah mengucapkan kalimat itu motor Cathleen melaju dengan cepat, meliuk-liuk di antara mobil-mobil mewah meninggalkan orang itu jauh di belakang.

"Silakan kejar gue jika lo bisa melawan my hero," gumam Cathleen tersenyum meremehkan. Ia lalu menurunkan gas motornya hingga mencapai kecepatan normal.

Sebuah moge hitam melaju kencang dan mulia menurunkan gasnya ketika posisinya tepat berada di samping motor Cathleen. Pengendara dari motor itu kelihatan gagah dengan jacket kulit hitam , kaos hitam, celana jeans hitam dengan robek di bagian lututnya dan helm full face tentu saja, jika ia tidak ingin Cathleen mengenalinya.

"Kamu aman sekarang," ucap orang itu lalu menaikkan gas motornya dan menghilang di antara ratusan kendaraan yang lewat.

Cathleen tersenyum manis dan menaikan kaca helm full face-nya.
"Kapan gue bisa lihat wajah lo, mengucapkan terimakasih kepada lo, dan..." Cathleen tersenyum manis penuh arti "...ngungkapin perasaan gue ke lo."

Sudah enam bulan terakhir orang itu tiba-tiba selalu ada di saat Cathleen membutuhkan pertolongan. Dia datang tanpa Cathleen harus memanggilnya terlebih dahulu. Dia datang sebelum Cathleen terluka. Dia bahkan tidak membiarkan sedikitpun dari kulit Cathleen lecet. Dia seperti bayangan Cathleen. Diamana Cathleen dalam bahaya disitu dia ada. Hal itu membuat Cathleen merasa seperti mempunyai malaikat penolong. Ia tidak takut pergi kemanapun sendirian karena ia selalu merasa aman dimanapun Ia berada.

.......

Seseorang mengendap-endap di antara semak-semak, memperhatikan sekitarnya dengan cermat, lalu bergerak dengan cepat memanjat tembok dan melompat kedalam rumah besar bergaya modern tropis. Dengan hati-hati dan begitu liahi seolah itu bukan pertama kali.  Ia mendekati garasi rumah besar tersebut dan membobol pintu samping garasi dengan benda kecil yang ia keluarkan dari dalam saku celananya.

Setelah berhasil masuk ke dalam garasi, tingkat waspadanya menurun dan dengan santai orang yang berpakaian serba hitam itu melangkah mengitari garasi berisi beberapa mobil mewah dan satu motor Sport bermerek BMW. Matanya menyorot motor sport merah yang terparkir disitu, ia  lalu melangkah  mendekati motor tersebut.

Sebuah pisau lipat ia keluarkan dari dalam saku jacket-nya dan berjongkok di depan motor tersebut.

"Kita lihat seberapa parah lo nanti," gumam orang itu lalu pergi.

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top