BAB 3:Posesif
Cathleen menyusuri koridor lantai dua Blue Star High School sambil bersenandung ria. Hatinya sedang dalam keadaan gembira. Kemarin dia mendapatkan alamat hacker yang telah meretas akunya dari orang misterius yang biasa di panggilannya 'my hero'. Si penyelamat. Surat yang kemarin di kasih Cyrano ternyata surat dari my hero-nya. Surat yang berisikan alamat lengkap si Hacker. Hari ini dia berencana akan mendatangi rumah si Hacker tersebut, memberikan sedikit cacian atau mungkin pukulan sebagai peringatan telah bermacam-macam dengan akun legenda tersebut.
"Itu si Cathleen. Kemarin dia sempat bertengkar dengan Nina, Jangan-jangan pertengkaran mereka membuat Nina stres dan melakukan bunuh diri."
"Kasian sekali Nina, harus meninggal di umur semudah itu."
Langkah Cathleen terhenti mendengar cibiran itu. Ia berbalik dan menghampiri sekelompok perempuan yang sedang menggosipinya.
"Apa yang kalian bicarakan tadi?" Tanya Cathleen dengan raut datar.
"Ti-tidak ada, kak." Gugup salah satu perempuan yang tingginya di bawah Cathleen. Mungkin hanya sebahu Cathleen.
"Nina meninggal?" Tanya Cathleen langsung.
Keempat perempuan itu mengangguk dengan raut wajah ketakutan.
"Kapan? Kapan Nina bunuh diri?" Tanya Cathleen lagi.
"Ke-kemarin sore," Jawab perempuan berambut sebahu.
Cathleen melangkah pergi meninggalkan keempat perempuan itu tanpa mengucapkan sepatah kata lagi. Keempatnya langsung menghembuskan napas lega.
"Syukur si Cat tidak marah ke kita." Perempuan bertubuh pendek mengelus dadanya lega.
Napas mereka kembali tertahan ketika Cathleen kembali menghampiri mereka.
"Aduh , Tin. Kenapa tadi kamu singkat namanya jadi 'Cat' ?"
"Ha-hai, Cathleen. Ad-ada apa ya? Ken-kenapa kamu balik lagi?" Gugup perempuan bertubuh pendek.
"Kalian tahu Brian dimana?" Tanya Cathleen. "Kalian kenapa? Sakit? Kenapa kalian terlihat begitu pucat dan gemetar seperti itu?" Bingung Cathleen.
Cathleen melangkah mendekati keempat perempuan itu ingin mengecek keadaan keempat perempuan tersebut, namun keempatnya malah berlari kencang meninggalkan Cathleen.
"Mereka kenapa?" Bingung Cathleen.
"Mereka takut sama kamu, soalnya kamu terlalu jutek." Cyrano yang sejak tadi memperhatikan kejadian itu menghampiri Cathleen.
"Bukan aku yang jutek, tapi mereka yang takut sama aku karena ketahuan mencibir aku," Santai Cathleen.
"Makanya itu muka dihiasi dengan senyuman." Cyrano menyentuh dua sudut bibir Cathleen dengan kedua tangannya lalu menariknya.
Cathleen menatap Cyrano dengan raut bingung.
"Senyum, Leen" protes Cyrano karena Cathleen terus saja memasang raut wajah datarnya.
"Iya, nih, aku senyum." Cathleen melengkungkan bibirnya.
"Cantik."
"Ha! Apa?"
"Kamu cantik kalau tersenyum," puji Cyrano.
"Ha-hahhah. Ma-makasih"
Cathleen menatap lekat wajah Cyrano.
"Kamu juga ganteng kalau tersenyum. Jadi, itu muka jangan hanya datar saja. Ayo senyum." Cathleen mengacak-acak rambut Cyrano lalu melangkah pergi meninggalkan Cyrano.
"Senyum...."gumam Cyrano. Tanpa sadar bibir yang sejak dulu hanya mempunyai garis datar melengkung sempurna.
...
Cathleen menaiki tangga menuju lantai tiga. Ia harus menemui Brian dan menanyai tentang Nina. Batinnya terus bergejolak penuh rasa bersalah dan rasa takut. Apakah Nina memutuskan bunuh diri karena diputuskan Brian? Pertanyaan itu terus menghantui batinya sepanjang perjalanan mencari Brian. Alasan putusnya Nina dan Brian adalah dirinya, jika Nina melakukan itu karena Brian, maka dirinya adalah salah satu penyebab dari kematian Nina. Tanpa sadar air mata Cathleen jatuh membasahi pipinya. Ia takut. Napasnya tersengal-sengal, sebab sejak tadi Ia terus berlari mencari Brian diseluruh sekolah.
"Eh, Ian? Kamu tahu Brian dimana?" Tanya Cathleen kepada salah satu laki-laki dari segerombolan laki-laki yang duduk di tangga menuju lantai 3.
"Di tempat biasa," jawab Ian.
"Terima kasih, Bro."
Cathleen menyusuri koridor lantai tiga lalu menaiki tangga lagi menuju rooftoop. Ia menendang pintu menuju rooftoop membuat segerombolan siswi yang sedang merokok langsung menyembunyikan rokoknya. Rooftoop adalah tempat paling aman untuk menikmati rokok.
"Brian?" Panggil Cathleen.
"Iya, Sis. Dia melakukan bunuh diri bukan karena stres aku putuskan atau karena salah kamu. Dia bunuh diri karena dia stres dengan kedua orangtuanya. Nina adalah anak broken home. Bokapnya sering jalan dengan anak seumurannya, sedangkan nyokapnya tidak beda jauh dengan bokpanya." Brian langsung menjelaskan sebelum Cathleen bertanya. Dia sudah bisa tebak, Cathleen akan mencarinya jika mendengar kabar kematian Nina. Dan see, tebakanya benar.
"Mungkin dia semakin stres saat kamu putusin dia. Ini semua salah aku." Cathleen menselonjorkan tubuhnya di bawah lantai. Raut wajahnya terlihat sedih. Raut bersalah terpancar jelas di wajahnya.
Brian menjongkok menghadap tubuh Cathleen. "Sejak awal Nina deketin aku hanya untuk senang-senang. Bukan karena dia benar-benar menyukai aku atau jatuh cinta sama aku. Dia hanya menjadikan aku pengisi dari segala kekosongannya." Brian menyampaikan fakta. Itulah sebabnya saat dia memutuskan Nina, tidak ada rasa ragu sedikit pun. Dia tahu Nina hanya memanfaatkannya. Dan posisi kemarin itu bukan Nina yang tersakiti tapi hatinya. Dia mencintai Nina dengan begitu tulus, tapi Nina malah hanya menganggapnya hanya sebagai pengisi.
"Apa yang Brian ucapkan itu fakta, Sis." Rian membenarkan.
"Kalian yakin bukan salah aku atau Brian?" Tanya Cathleen memastikan.
"Ini pure bukan salah siapapun. Itu kemauan Nina. Jadi, berhenti menyalahkan diri kamu sendiri." Adrian mengusap pundak Cathleen lembut.
"Sekarang kembali ke kelas kamu. Sebentar lagi bel masuk bunyi," saran Rian.
"Kalian tidak masuk kelas?"
"Kita sudah kelas tiga. Sudah tidak butuh belajar, tinggal tunggu lulus saja," santai Leon.
"Kelas tiga itu waktunya santai dari semua mata pelajaran." Rian mengisap rokoknya lalu menghembuskan asapnya ke udara.
"Terserah kalian." Cathleen terkekeh pelan lalu melangkah pergi. Ada yang salah dengan otak mereka. Sejak kapan murid kelas tiga bersantai mengistirahatkan otak. Kelas tiga adalah waktunya memaksa otak sampai otak berteriak menyerah.
...
"Itu si Cathleen," ucap seorang perempuan kepada perempuan lainya ketika Cathleen melewati mereka.
"Kamu pantau dia di kelas. Kalau dia pergi ke toilet segera kabari aku. Kita hanya bisa menyiksa dia jika dia ada di toilet. Kalau di luar, yang ada kita di keroyok semua laki-laki di sekolah ini." Perintah perempuan itu lalu tersenyum sarkas.
Perempuan yang di beri perintah mengangguk mengerti lalu masuk ke dalam kelas XI IPS 5 yang merupakan kelas Cathleen.
Cathleen membuka amplop yang berisi alamat hacker tersebut.
Ia memasukan alamat itu ke google maps.
"Ternyata tidak begitu jauh dari sini," Cathleen tersenyum sarkas.
"Di kelas sepi. Tidak ada laki-laki sama sekali. Aku sarankan kita lakukan itu sekarang." Seorang perempuan yang tadi di beri printah mengawasi Cathleen, mengirim Voice notes ke temanya.
Selang beberapa lama, tiga orang perempuan dengan gaya angkunya masuk ke dalam kelas. Mereka langsung menyorot Cathleen tajam dan menghampiri Cathleen.
"Eh, kamu!" Panggil perempuan yang terlihat seperti pemimpin dari perkumpulan para perempuan itu.
Cathleen tetap sibuk dengan ponselnya dan amplop di tangannya. Ia sama sekali tidak memperdulikan tatapan tajam dari beberapa orang didepannya.
"Punya telinga tidak kamu!"tajam perempuan itu kesal.
"Kamu bicara sama aku, Sar?" Tanya Cathleen santai.
Sarah memutar bola matanya kesal.
"Bitch!" Maki sarah merampas amplop yang ada di tangan Cathleen.
Cathleen menatap Sarah datar. Raut wajahnya terlihat santai.
"Aku akan jawab kalau kamu panggil jawab aku."
"Nama kamu tidak pantas buat dipanggil oleh QuenSar," Cibir Ana-perempuan yang tadi di perintah Sarah untuk mengawasi Cathleen.
"Dan kalian tidak pantas untuk jadi babunya Sarah. Lihat dia, setelah Nina meninggal, Sarah langsung mengambil alih posisi Nina."
"Kita bukan babu ya! Jaga mulut kamu!" Bentak Ana.
"Kalau bukan babu kenapa mau saja disuruh-suruh," Cathleen tersenyum mengejek.
"Tidak usah alihakan pembicaraan. Kita kesini mau minta pertanggungjawaban kamu atas kematian Nina," kesal Sarah.
"Nina yang melakukan bunuh diri kenapa aku yang harus tanggung jawab? Terkadang otak kalian perlu di asa menggunakan batu gerinda biar tajam."
Sarah menaikkan sebalah bibirnya tidak terima dengan ucapan Cathleen.
"Jaga mulut kamu! Kepribadian kamu itu yang harus di asa biar tidak jadi perusak hubungan orang. Seandainya Brian tidak putusin Nina gara-gara kamu, pasti Nina tidak akan bunuh diri," tekan Sarah.
"Sudah? Sudah selesai mengkambing hitamkan orang lain? Sekarang kembalikan amplop aku!" Cathleen berdiri dari tempatnya merampas amplop yang ada di tangan Sarah, tapi perempuan itu malah mempermainkan Cathleen dengan memberikan amplop itu ke Anna.
"Ayo ambil kalau bisa," Anna mengangkat amplop itu tinggi-tinggi berusaha memancing amarah Cathleen.
Cathleen tersenyum licik.
Jika mereka ingin Cathleen mengejar amplop itu dan mereka akan mempermainkan Cathleen dengan mengoper amplop itu ke temannya yang lain, mereka salah besar. Dia bukan gadis cupu yang bisa di bully dengan mudah. Dia bukan gadis lemah yang gampang di permainkan.
Cathleen mendekat ke arah Sarah menarik kerah seragam Sarah kasar dan memojokkan tubuh perempuan itu ke dinding. "Seharusnya kamu tidak pernah lupa dengan cara main seorang Cathleen," bisik Cathleen di telinga Sarah sarkas.
Cathleen bergerak dengan cepat. Ia mengambil kedua tangan Sarah lalu memtingnya ke belakang. Ia menendang lekukkan lutut Sarah membuat gadis itu langsung berlutut.
"Awww!" histeris Sarah mengeluh kesakitan.
Ana, Intan, dan lia bergerak mendekat untuk mengeroyok Cathleen.
"Mendekatlah. Ayo mendekat, biar aku patahkan sekalian tangan Sarah." Ancam Cathleen tersenyum sarkas.
Ana, Intan, dan Lia mengurungkan kembali niat mereka.
Semua orang mulai berdatangan, termasuk teman-teman Cathleen yang pasti itu laki-laki.
"Ck! Dasar gadis bodoh," gumam julio menyandarkan tubuhnya di dinding. Sudut bibirnya naik melihat Sarah di buat tersiksa oleh Cathleen. Senyuman mengejek.
"Baby, kamu salah target buat di bully," Cibir Darco menatap Sarah dengan sorot mengejeknya.
"Tolong aku, guys!" Printah Sarah.
"Kita tidak bisa masuk, Sar. Pintu masuk di blokir." Teriak seorang perempuan dari luar kelas.
"Anna, Lia, Intan! Kenapa kalian diam aja. Tolongin aku!" Kesal Sarah.
"Serahkan amplop aku sekarang," sarkas Cathleen.
"Jangan berikan ke dia!" Perintah Sarah.
"Awww..." Teriak Sarah mengeluh kesakitan ketika Cathleen semakin menekan kedua tangannya.
"Kalau mau tangan kamu tidak aku buat patah, serahkan amplop aku sekarang!" Sarkas Cathleen.
"Ber-berikan amplopnya sekarang," printah Sarah menahan sakit.
Ana bergerak pelan mendekati Cathleen dan memberikan amplop itu.
"Kalau dari tadi kan tidak mungkin aku menyakiti Sarah," Cathleen tersenyum senang lalu melepaskan Sarah.
Gadis itu langsung jatuh tersungkur di lantai.
"Kamu tidak apa-apa 'kan?" Tanya Ana khawatir membantu Sarah berdiri.
"Bitch! Jangan banyak tanya! Sakit sekali nih!" Kesal Sarah.
"Lain kali kalau mau cari masalah di lihat-lihat duluh siapa lawanya, biar tidak jadi bumerang seperti ini lagi." Cathleen mengelus rambut Sarah lembut lalu pergi.
"Dasar perempuan gila!" Teriak Sarah kesal.
"Kamu tahu apa jawaban Cathleen sekarang?" Tanya Ega kepada Sarah.
"Apa?"penasaran Lia.
"What-ever!" Ucap Ega dan Darco bersamaan lalu keluar dari ruang kelas XI IPS 5 dengan tawa mengejek mereka.
Semua orang memperhatikan Cathleen dengan raut datar. Tidak ada yang berani mencibiri kejadian tadi karena takut kejadian yang terjadi pada Sarah terulang kepada mereka.
Cathleen tersenyum sarkas ketika menoleh ke belakang dan mendapati banyak teman-temannya mengikuti dirinya dari belakang.
Para siswi yang duduk di koridor langsung masuk ke dalam kelas karena takut tubuh mereka bertabrakan dengan para laki-laki yang melewati koridor lantai dua. Koridor lantai dua sekarang di blokir oleh semua laki-laki.
"Kamu memang beda," Ega merangkul Cathleen erat.
"Sudah aku kasih tahu kalian. Aku bukan gadis lemah," sombong Cathleen.
"Iya, kamu memang kuat tapi harus tetap jaga diri." Cyrano mengacak-acak rambut Cathleen lalu melangkah pergi dengan tergesa-gesa.
"What the hell! " Raut wajah Darco menunjukan raut jijiknya terhadap adegan yang baru saja terjadi.
"Kamu lihat wajah dia tidak, yo?" Tanya Aldo.
"Wajahnya memerah. Sepertinya dia gugup," datar Julio.
"Jangan bilang Si Hamster itu menyukai kamu?" Tebak Ega.
Cathleen menaikkan bahunya acuh.
"Aku tidak tahu."
Julio menarik tangan Cathleen hingga lepas dari rangkulan Ega dan merangkulnya posesif.
"Kamu masih kecil. Tidak boleh pacaran."
"Aku setuju," setuju Aldo.
"Setuju," setuju Ega.
"Kenapa aku punya teman posesif seperti ini?" Kesal Cathleen melepaskan rangkulan Julio dan melangkah pergi.
To Be Continue...
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top