BAB 1: Cathleen
Cathleen bersenandung ria melewati koridor sekolah dengan angkuh. Semua orang mulai memperhatikannya lalu berbisik-bisik. Siapa yang tidak kenal Cathleen? Orang yang setiap harinya selalu jadi topik utama pembicaraan di sekolah. Entah kenapa hidup gadis itu selalu menarik perhatian semua orang. Mungkin, karena cara bergaul Cathleen yang aneh. Atau, karena Cathleen yang selalu di cap perusak hubungan orang. Entahlah.
Cathleen adalah siswi satu-satunya di sekolah yang mempunyai banyak teman laki-laki. Hampir semua laki-laki di sekolah adalah temanya. Sebenarnya mereka adalah teman dari kakak laki-laki Cathleen, namun saat kakak laki-laki Cathleen menghilang mereka memutuskan untuk berteman dengan Cathleen dan menjaga gadis itu. Cathleen tidak menolak hal itu sebab dia lebih suka berteman dengan laki-laki daripada perempuan. Dia gadis feminin sama seperti yang lainya namun dia sedikit unik. Tidak semua teman Cathleen adalah seorang laki-laki, ada satu perempuan yang menjadi teman Cathleen dan gadis itu menjadi teman Cathleen karena mereka bertetangga. Jika tidak bertetangga dan sudah berteman sejak kecil, tentu Cathleen tidak akan mau berteman dengan dia. Karena bagi Cathleen, berteman dengan perempuan itu sangat merepotkan. Terlalu banyak kemunafikan disana. Perempuan tidak bisa di ajak bercanda, seandainya bisa di ajak bercanda pasti akan langsung masuk ke hati, terlalu bawah perasaan, suka bergosip, dan satu lagi yang membuat Cathleen tidak suka berteman dengan perempuan adalah kebiasaan perempuan dalam berbelanja. Baginya terlalu menghambur-hamburkan uang.
"Cat?"
Cathleen menoleh dengan raut malas ketika namanya di singkat dengan 'Cat' yang artinya kucing dalam bahasa Inggris. Dia sama sekali tidak suka kucing walaupun kata orang kucing itu imut dan sangat menggemaskan.
"Kalau dipanggil itu jawabnya iya. Perlu aku ajarkan?" Kesal Natalie menyamakan langkahnya dengan langkah Cathleen.
"Aku jawab iya kalau kamu panggil nama aku dengan benar. Disingkat leen saja tidak usah Cat. Aku tidak suka," jujur Cathleen.
"Sorry," singkat Natalie
"Aku mau berkumpul sama teman-teman ku. Kamu mau ikut?" Tanya Cathleen. Matanya masih menyorot lurus kedepan.
"Huftt, kirain kamu mau ke kantin. Kalau mau berkumpul sama teman-teman kamu, aku tidak ikut." Raut wajah Natalie berubah kesal. Meskipun dia berteman dengan Cathleen bukan berarti dia berteman juga dengan teman-teman Cathleen yang notabenenya adalah laki-laki semua. Dia hanya merasa tidak nyaman di antara banyaknya laki-laki.
"Kita berkumpulnya di kantin," jawab Cathleen santai. "Kenapa kamu tidak ikut bergabung saja?"
"Seandainya teman-teman kamu isinya perempuan semua aku pasti mau. Ini teman kamu isinya laki-laki semua, aku merasa ditelanjangi ketika mereka melihat ku," curhat Natalie.
"Itu kesalahan kamu sendiri. Kenapa berpakaian seksi di depan para laki-laki, tentu saja mereka akan tergoda." Cathleen terkekeh pelan mengingat kali pertama dia mengajak Natalie ikut berkumpul bersama teman-temanya. Natalie langsung jadi pusat perhatian semua teman-temannya. Mereka memperhatikan Natalie dari ujung kaki hingga ujung kepala dan setelah itu Natalie di goda habis-habisan.
"Aku kira teman kamu perempuan semua. Niatnya aku berpakaian begitu biar tidak kalah gaul dan feminin, eh malah teman kamu isinya terong semua. aku juga digoda habis-habisan sama mereka," kesal Natalie mengingat kejadian itu.
"Kamu baru saja menjawab sendiri pertanyaan yang kamu tanyakan ke aku," Cathleen tersenyum manis lalu masuk ke dalam kantin dan bergabung dengan teman-temannya yang langsung menyambutnya riuh.
Natalie mengerutkan keningnya bingung. Pertanyaannya yang mana?
'Kenapa kamu lebih suka berteman dengan laki-laki?
"Ah! Pertanyaan yang itu," sadar Natalie. Ia lalu melangkah bergabung dengan teman-temannya yang lain, yang pasti itu perempuan.
"Oh, jadi ini pemain game yang sekarang menduduki peringkat satu" sambut Ega langsung merangkul Cathleen layaknya merangkul teman laki-lakinya. Cathleen tidak mempermasalahkan itu sama sekali. Dia justru senang. Bukan karena di pegang-pegang, tapi perlakuan itu menunjukan keakraban mereka.
"Aku traktir hari ini. Kalian bisa pesan apa saja sesuka kalian" Cathleen sedikit berteriak agar teman-temannya yang posisi duduknya lebih jauh darinya bisa mendengar suaranya. Hari ini dia ingin merayakan kemenangannya dalam kemenangannya dalam melawan salah satu gamers profesional. Gamers yang tidak pernah dikalahkan dua tahun terakhir. Semenjak....ah! Bukan saatnya membahas itu, terlalu menyakitkan untuk dikenang.
Teman-temannya langsung bersorak ria dan mulai memesan makanan sesuka mereka. Siapa yang tidak heboh jika ada makanan gratis. Walaupun sebagian dari teman-teman Cathleen adalah anak orang kaya, tetap saja makanan gratis akan selalu membuat mereka senang dan cukup buat kantin menjadi heboh.
"Eh, Cyrano..." panggil Cathleen kepada laki-laki berkacamata yang baru saja masuk ke dalam kantin. Laki-laki itu terkesan sedikit cupu karena gayanya dan sikapnya yang terlihat lebih suka mandiri.
"Ayo bergabung. Aku traktir hari ini."
"Kamu kenapa ajak hamster untuk bergabung?" Protes Ega memperhatikan penampilan Cyrano yang terlihat berbeda 90 derajat darinya.
"Ga...namanya Cyrano bukan hamster." Tegur Cathleen.
"Nama panjangnya Hamster Cyrano Caringtoon," tambah Darco membela Ega.
"Dampster bukan hamster" protes Cyrano yang sudah berdiri di samping Cathleen.
"Sorry ya, No. Teman-teman aku tidak tahu. Sini duduk disini gabung bersama kita," ajak Cathleen menepuk kursi kosong tepat disebelahnya.
"Sorry bro, aku tidak tahu kalau nama kamu Dampster bukan hamster," Ega mengulurkan tangannya meminta maaf. Cyrano menanggapi dan memberikan maafnya. Darco pun melakukan hal yang sama.
"Kalian memang yang terbaik, Ga, Dar." Cathleen menepuk punggung Ega lembut dan tersenyum manis ke arah Darco.
Sambil menunggu bel masuk dan menunggu teman-temannya yang lagi makan, Cathleen berniat mengisi kekosonganya dengan membuka akun gamenya. Ia ingin tahu apakah lawanya itu telah membalas Chat-nya atau belum.
"Shit!" Maki Cathleen ketika ia memasukan kata sandi akun gamenya dan salah.
Ia mencoba memasukan lagi kata sandi yang sudah ia yakini betul itu kata sandinya, dan kata sandinya salah lagi dan lagi. Cathleen menggeprak meja kesal. Semua teman-temannya yang lagi asik makan menatapnya khawatir.
"Ada apa, Leen? Ada yang mengganggu kamu?" Tanya Cyrano yang ikut khawatir.
"Ada apa?" Tanya Ega bingung.
"Ada yang menggoda kamu?" Tanya Darco penuh raut khawatir.
"Ada yang mati-maki kamu di sosmed?" Tanya Aldo dengan emosi yang tertahan, terlihat dari wajahnya yang memerah.
"Ada yang mengancam kamu?"
Semua teman-teman Cathleen menyerang Cathleen dengan pertanyaan yang tak kunjung berhenti. Cathleen menghela napas berat. Semua teman-temannya memang posesif terhadap dirinya. Apa lagi menyangkut keamanan dan keselamatannya tingkat posesif mereka bisa naik berkali-kali lipat.
"Ada yang hack akun game aku," Jawab Cathleen dengan emosi yang sedikit tertahan.
"Apa?!" Kaget julio yang sejak tadi hanya diam saja. "Nanti aku hack akun kamu kembali. Clam down, sis."
"Kamu yakin bisa?" Tanya Cyrano menatap Julio tidak yakin.
"Kamu meremehkan kemampuan aku, bro?" Kesal Julio.
"Tidak usah emosi, Bro. Aku percaya sama kamu. Kamu pasti bisa," Cathleen tersenyum manis.
"Ya, sudah. Semuanya, sebentar sore kita berkumpul di bescame." Ucap Julio lalu mendapatkan anggukan setuju dari semua temanya.
......
"Kalian kenapa berkumpul disini dan bukanya pulang?!" Bentak pa Rhodes yang kesal karena tidak bisa masuk ke dalam toilet guru yang berada di tengah-tengah toilet siswa dan siswi . Semua jalan masuk menuju toilet diblokir oleh kumpulan laki-laki yang tengah menunggu seseorang di dalam toilet.
"Lagi tunggu teman, pa." Jawab Ega santai.
"Teman kalian banci? Sampai harus ditunggu segala..." kesal pa Rhodes, "minggir-minggir bapak mau ke toilet," Imbuh pa Rhodes lalu masuk ke dalam Toilet guru.
"Teman kita jenis kelaminnya tidak ada. Memang gayanya feminin tapi bertemannya sama laki-laki," Aldo terkekeh pelan.
"Aku dengar ya, Do" teriak Cathleen dari dalam Toilet perempuan.
"Sorry, Sis."
"Kalian kenapa masih disini? Pulang sekarang!" Kesal pa Rhodes setelah keluar dari dalam toilet dan masih mendapati ratusan laki-laki bertengger di depan toilet.
"Kita lagi tunggu teman, Pa." Jawab Ega.
"Tunggu teman tidak harus sebanyak ini 'kan?" Pa Rhodes memperhatikan ratusan siswa laki-laki yang bertengger di depan toilet hingga memenuhi koridor kelas MIPA.
"Yang kita jagain ini berlian Pa, jadi wajar Kalau banyak." Jawab Darco tersenyum manis.
"Ayo." Cathleen keluar dari dalam toilet dalam keadaan sudah mengenakan celana jeans hitam panjang dan jaket kulit hitam. "Eh, ada Pa Rhodes. Lagi ikut jagain saya juga Pa?"
"Jadi ini berlian yang kamu maksud Darco?" Tanya Pa Rhodes tampak kaget.
Darco mengangguk penuh keyakinan.
"Ini mah bukan berlian tapi besi tua," kesal Pa Rhodes.
"Aduh, Pa. masih kesal saja sama saya, padahal saya sudah menjelaskan ke bapak kalau saya tidaj sengaja buat bapak terciprat lumpur." Cathleen menunjukan simriknya. Tentu saja ia dengan sengaja mengendarai motornya melewati genangan air agar Pa Rhodes terkena lumpur. Ia melakukan itu karena ingin membalas Pa Rhodes yang menghukumnya tanpa sebab.
"Padahal ban motor kamu yang salah, iya 'kan, Leen" tambah Aldo.
Semua teman-teman Cathleen menahan senyumnya. Bagaimana bisa ban motor yang di salahkan?
"Iya. Masalahnya Pa Rhodesnya tidak mengerti," Cibir Cathleen.
"Cathleen!" Bentak Pa Rhodes.
"Maaf ya Pak. Bapak sudah tidak punya hak lagi untuk bentak-bentak saya karena ini sudah jam pulang. Tunggu besok saja ya, Itu juga kalau bapak pulang selamat sampai di rumah." santai Cathleen lalu melangkah pergi di ikuti oleh semua teman-temannya.
"Maksud kamu apa, Cathleen!" Teriak Pa Rhodes.
"Maksudnya hati-hati di jalan, pak." Seorang teman Cathleen menjelaskan lalu meninggalkan Pak Rhodes.
Sementara pa Rhodes mendadak jadi takut dengan wajah yang pucat pasi.
Parkiran yang hening tiba-tiba ramai ketika Cathleen dan semua teman-temannya datang. Suara ribut karena saling bercanda, serta suara tawa menarik perhatian beberapa siswi yang masih ada di parkiran dan para siswi yang menunggu jemputan di depan gerbang. Semua mata tertuju kepada Cathleen dan teman-temannya seolah-olah itu adalah hal menarik yang tidak boleh dilewatkan.
"Sayang, kamu dari mana? Aku sudah menunggu kamu disini lama. " protes seorang perempuan yang merupakan pacar salah satu teman Cathleen.
"Aku menunggu Cathleen ganti celana. Maaf ya," santai Brian mengelus rambut pacarnya lembut.
"Pacar kamu aku atau dia? Kamu lebih prioritaskan dia dibanding aku!" bentak perempuan itu dengan raut kesal lalu berahli menyorot Cathleen tajam.
"Memang prioritas aku Cathleen, sayang." santai Brian dengan senyum yang mengembang di bibirnya. Ia terlihat sama sekali tidak peduli dengan raut marah yang ditunjukkan wanita di depannya atau Ia tidak sadar bawah pacarnya sekarang tengah marah besar kepadanya.
"Ian, nggak boleh gitu. Teman-teman, aku tidak mau ya kalian Prioritaskan aku daripada pacar kalian sendiri." Suara Cathleen terdengar meninggi. Ia tidak ingin lagi di cap sebagai perusak hubungan orang hanya gara-gara semua teman-temannya lebih prioritaskan dia di bandingkan pacar mereka.
"Bukanya kita tidak peduli sama pacar kita, tapi kita punya sahabat dan bagi seorang laki-laki sejati, sahabat itu lebih penting dari pacarnya. Jadi, Nina, jika kamu tidak bisa menerima hal ini mending kita putus saja," ucap Brian tanpa beban sedikit pun.
"Tidak boleh begitu, Ian. Kalau
Kamu menyakiti Nina sama saja dengan kamu menyakiti aku. Tidak! kalian tidak boleh putus. Aku tidak setu..."
Plak!
Kalimat Cathleen diintrupsi oleh tamparan keras Nina di pipinya. Wajah Cathleen langsung menoleh kesamping dengan pipi yang memerah.
"Tidak usah atur hubungan aku sama Brian. Kamu sadar tidak kalau kamu itu adalah penghancur hubungan orang," teriak Nina.
Suasana semakin ricuh. Para perempuan yang menyaksikan hal itu menunjukkan berbagai ekspresinya. Ada yang terlihat senang, ada yang terlihat senang namun prihatin, ada yang terlihat menikmati kesakitan yang di rasakan Cathleen, ada yang hanya sekedar merasa kasihan, dan ada yang tidak puas melihat Cathleen di tampar dan orang itu adalah Natalie seorang. Di lihat dari keadaan sekarang, bisa di tarik kesimpulan bahwa semua perempuan di sekolah ini terlihat membenci Cathleen karena rasa cemburu mereka terhadap kedekatan Cathleen dengan laki-laki keren di sekolah.
Cathleen merabah pipinya yang memerah dan memilih cuek dengan tatapan semua orang. Dia menatap teman-temannya dan tersenyum memberikan pesan tersirat bahwa Ia baik-baik saja. Ucapan sarkas nina terngiang di telinganya.
Ia sadar itu, sangat sadar. Tapi, Ia tidak perna berniat untuk merusak hubungan siapa pun. Semua perempuan yang pacar dengan teman-temannya hanya salah paham soal pertemanan mereka. Mereka malah cemburu dengannya.
"Kamu tidak apa-apa, Leen?" Khawatir Cyrano.
"Tidak apa-apa. Aku bahkan perna dapat yang lebih parah dari ini," santai Cathleen.
"Dengan sikap kamu yang seperti ini, Aku semakin yakin untuk meninggalkan kamu," bentak Brian kepada Nina dengan wajah merah padam.
"Tidak! Kita tidak boleh putus. Aku tidak mau!" Geleng Nina lalu memeluk Brian erat.
"Kalau aku bilang putus ya putus. Terserah kamu setuju atau tidak," kesal Brian mendorong tubuh Nina menjauh darinya lalu menaiki motor sportnya dan pergi.
Cathleen menatap Nina sekilas lalu menaiki motor sportnya. Dia tidak menyangka pembelaan yang dilakukannya malah dibalas dengan tamparan. Hari ini keberuntungan tersendiri untuk Nina karena bisa menampar Cathleen. Jika Cathleen tadi tidak lengah, mungkin gerakan reflek yang dia lakukan untuk menahan tamparan Nina bisa mematahkan tangan Nina. Tenaga dia sekuat itu karena Ia adalah atlet tinju dan juga kick boxing.

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top