Bab 24

"Yoongi?"

"Hyung?"

Ia mendengar suara itu bergantian memanggilnya. Saat kedua matanya terbuka, ia sudah di tempat yang jauh lebih baik. Padahal, yang ia ingat, ia bersama Jin terjebak api dan reruntuhan bangunan.

"Jin?" ucapnya dengan nada yang hampir tak terdengar.

"Dok, bagaimana keadaan putraku?"

"Tuan Yoongi akan baik-baik saja. Denyut jantungnya kembali normal, dan paru-parunya sudah cukup bersih. Beruntung Tuan selamat dari kobaran api yang lebih besar."

Min Yongchul kelihatannya dapat bernapas lega. Ada dua kabar baik yang ia terima. Pertama, bahwa putranya masih hidup. Kedua, bahwa putranya dapat selamat dari maut dan hidup untuk yang kedua kalinya. Pria paruh baya itu tidak tahu harus bagaimana lagi mengucap syukur. Tuhan sangat baik terhadap keluarganya.

"Jihoon, kau jaga kakakmu. Aku akan mengurus beberapa hal dengan dokter."

"Baik, Abeoji."

***

Di sisi lain Sohyun tidak berani memasuki ruang perawatan. Di mana Yoongi terbaring di sana. Baru saja ia mengecek keadaan kakaknya, Minhyuk, dan mengetahui bahwa operasi kakaknya berhasil, Sohyun sangat bahagia.

Di dunia ini, gadis itu hanya butuh keluarga. Orang-orang yang bisa mendukung dan melindunginya. Tidak ada yang lebih penting selain keluarga kecilnya yang tersisa. Sungkyung, Minhyuk, dan Beomgyu. Mungkin juga Yoongi, Namjoon dan Dokter Kim.

Sohyun telah menghadapi banyak kenyataan pahit. Ia banyak menyaksikan kematian orang-orang yang ia kenal dekat. Dan sekarang, ia berdiri di luar ruangan Yoongi dengan menggandeng seorang anak lelaki berusia 10 tahun. Bukan umur yang masih kekanakan, kenyataannya, Kim Yubi lebih dewasa daripada anak-anak seusianya. Ia tidak bisa diberikan kebohongan kecil karena baginya, itu terdengar seperti dongeng pengantar tidur.

"Bibi, apa kita akan terus di sini?"

"Sebentar saja, tiba-tiba kepala Bibi terasa pusing," tanggap Sohyun.

Ia tidak bohong. Kepalanya seperti diputar-putar. Badannya lemas, perutnya mual. Apa mungkin maag-nya kambuh?

"Bibi baik-baik saja? Bibi terlihat pucat."

"Yubi-ah, tolong pegang tangan Bibi," pinta Sohyun.

Gadis itu tidak sanggup lagi menahan beban tubuhnya.

"Bibi!" teriak Yubi saat Sohyun mendadak tidak sadarkan diri.

"Tolong! Tolong Bibiku!"

Beberapa tim medis datang lalu segera membawa Sohyun untuk diperiksa lebih lanjut.

***

"Yoongi, kau sudah bangun. Ayo, makanlah, kau pasti lapar."

"Abeoji, di mana aku?"

"Kau ada di rumah sakit. Kau beruntung masih hidup, Nak."

"Abeoji! Di mana Jin? Apa dia dirawat di rumah sakit ini juga?"

"Yoon...."

Min Yongchul kehilangan kata-katanya. Bagaimana mengatakan orang yang telah tiada dengan bahasa yang lebih halus dan sopan? Yoongi mungkin akan menyalahkan dirinya sendiri untuk itu. Ia akan merasa bertanggung jawab atas kematian Kim Seokjin sahabatnya.

"Abeoji?"

Yoongi menghela napas. Lalu memegang kedua kepalanya dengan pasrah. Napas beratnya menandakan bahwa ia tahu. Ia telah menduga dari ekspresi wajah ayahnya. Kim Seokjin tidak selamat. Pria bodoh itu, karena dialah Yoongi masih bisa bertahan hidup. Jin mengorbankan nyawanya untuk Yoongi, dan lelaki itu merasa sangat kacau.

"Ini bukan salahmu, ini pilihannya."

"Bagaimana mungkin," desah Yoongi. Pria itu tidak dapat lagi mengatakan apapun. Jelas ia sangat terpukul.

"Di mana Yubi?"

"Dia bersama seorang wanita. Dia anak yang kuat."

"Kim Sohyun?"

"Ya, gadis itu. Yoongi, maafkan ayah. Kau menghadapi semua ini karena tuntutan dariku."

"Abeoji, yang sudah terjadi biarlah terjadi. Aku tidak ingin mengungkitnya lagi."

"Yoongi, ayah sangat peduli padamu. Mulai hari ini, ayah tidak akan membedakan dan membanding-bandingkan dirimu dengan Jihoon. Kalian cukup ada di samping ayah, ayah sudah sangat senang. Kalian lebih berharga dari kekayaan yang ayah miliki karena kalian putra ayah. Satu-satunya harta paling berharga dari sebuah keluarga."

"Aku tahu, Abeoji menyayangi kami berdua. Aku juga meminta maaf karena sering membantah kata-katamu. Maafkan aku," ucap Yoongi sambil merendahkan kepalanya, lalu disambut ayahnya dengan pelukan hangat.

"Paman?" Anak kecil itu masuk dan menginterupsi kehangatan Yoongi dengan ayahnya. Wajahnya terlihat murung.

"Hey, Nak. Di mana Bibi yang tadi bersamamu?"

"Bibi pergi. Bibi tidak bilang mau ke mana, tapi menyuruhku ke sini."

Yoongi mengerutkan keningnya, menautkan kedua alisnya. Pergi tidak bilang-bilang? Jelas ini sifat Sohyun. Tapi, apakah gadis itu tidak penasaran bagaimana keadaan Yoongi?

***

Sudah seminggu lebih. Sejak Yoongi dirawat hingga kini ia mendapatkan kepulihannya, Sohyun tidak pernah menengoknya. Kekhawatiran pun kembali bertamu ke dalam pikirannya. Dengan segera, setelah ia keluar dari rumah sakit, Yoongi mengunjungi rumah sakit tempat Minhyuk dirawat.

Sesampainya di sana, ia hanya bertemu dengan Sungkyung dan Minhyuk. Pria itu, terlihat jauh lebih sehat daripada terakhir kali ia menemuinya. Tampaknya, operasi transplantasi berjalan sukses.

Mereka berbincang untuk beberapa lama. Semua terlihat normal, pada awalnya. Namun, Yoongi tahu. Ada yang sengaja Sungkyung dan Minhyuk tutupi dari dirinya, dan dia yakin, ini ada hubungannya dengan menghilangnya Sohyun beberapa hari ini.

Yoongi yang tadinya mengunci rapat mulutnya untuk bertanya lebih, pada akhirnya mulai goyah. Ia langsung bertanya ke inti, itu pun berhasil membuat kedua orang di hadapannya tercengang.

"Di mana Sohyun?"

Minhyuk dan Sungkyung saling bertatapan.

"Dia sudah aku selamatkan, seharusnya memberiku hadiah. Bukan menghindariku seperti ini, apa wajahku kurang tampan?" humornya yang disambut tegang oleh kedua kakak-beradik itu.

"Noona ... Hyung? Tolong jawab aku."

Yoongi memohon dengan halus kali ini, sayangnya tidak membuahkan hasil. Mereka tetap tutup mulut. Sebenarnya apa yang menimpa Sohyun? Gadis itu sangat senang saat mengetahui Yoongi keluar dari bahaya. Namun sekarang, ia malah menghindarinya seperti ini tanpa alasan.

"Baiklah, jika kalian tidak mau mengatakannya, aku yang cari tahu sendiri."

"Tuan Min?" Minhyuk memanggil namanya saat Yoongi sengaja berbalik ingin keluar dari ruangan.

Sungkyung menunjukkan reaksi yang berbeda, wanita itu tetap gigih ingin menyimpan rahasia tetapi saudara lelakinya tidak.

"Dia pergi ke stasiun."

"Apa?"

"Jangan biarkan dia menderita seorang diri, hanya kau yang bisa menolongnya."

Tanpa basa-basi, Yoongi lantas berangkat mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Ia harus menahan Sohyun dan mendengarkan penjelasannya, kenapa ia bertindak seperti ini.

***

Yoongi menggerutu di tengah padatnya stasiun. Musim panas akan segera tiba, orang-orang telah menyiapkan diri untuk liburan. Tidak heran, suasana di stasiun hari itu sangat ramai. Yoongi memanggil nama Sohyun berulang kali. Ia juga menajamkan pengelihatannya agar segera menemukan gadis itu dan menggali rasa penasarannya.

Yoongi bersinggungan dengan beberapa orang yang berlalu-lalang. Bahkan tak jarang, dari mereka ada yang mengomeli Yoongi. Pria itu justru cukup mengabaikan dan fokus pada tujuan utamanya.

Hingga, di satu waktu, Yoongi melihat seorang wanita dengan pakaian berwarna merahnya sedang menyeret koper. Yoongi tak butuh waktu untuk mengenali wajah itu, dia sangat yakin yang dilihatnya adalah Sohyun.

Dengan langkah tergesa, Yoongi menghampiri wanita itu. Secara tiba-tiba Yoongi pun mendekapnya dari belakang, namun ia dihadiahi sebuah tamparan. Beberapa orang yang ada di sekitarnya, menyaksikan Yoongi dengan tatapan merendahkan.

"Kurang ajar! Dasar pria cabul!" sungut wanita itu.

Setelah Yoongi perhatikan ulang, rupanya bukan Sohyun yang ia peluk. Melainkan orang lain yang tanpa sengaja memiliki perawakan yang mirip gadis itu. Yoongi menyerah. Ia memilih duduk di sebuah bangku, lalu memijat kepalanya yang pening.

Tidak boleh! Tidak boleh semudah ini ia kehilangan Sohyun. Bukankah usahanya untuk meraih hati gadis itu sangat maksimal? Bahkan nyawa pun rela pria itu korbankan. Tapi apa balasan Sohyun? Wanita itu malah kabur tanpa bicara apapun.

Hingga tak terasa, hari mulai petang. Suasana stasiun tak seramai tadi siang. Yoongi dapat mendengar suara perutnya yang kelaparan. Ia tidak makan pagi dan siang hanya untuk menunggu Sohyun datang. Dia sangat merindukan wajah gadis itu, merindukan senyumannya, aromanya, dan juga kedua matanya yang mempesona.

Meskipun Kim Sohyun tidak hadir di sisinya, Yoongi tetap dapat merasakan keberadaannya. Karena, gadis itu telah mencuri separuh jiwanya, kesadarannya ikut pergi bersama Sohyun. Yoongi akan menjadi gila jika hari itu tidak pulang membawa Sohyun dengannya.

"Maaf, Tuan," panggil seorang penjaga stasiun. "Hari sudah malam, tidak akan ada lagi jadwal kereta yang lewat. Apa mungkin Anda tertinggal kereta?"

"Ah, tidak. Sebenarnya saya menunggu seseorang. Kalau boleh tahu, keberangkatan kereta ke Busan terakhir jam berapa ya?"

Yoongi ingat, Minhyuk sempat mengatakan kalau gadis itu ingin memulai hidup di Busan. Sendirian.

"Tiga jam yang lalu, Tuan. Tidak ada kereta lagi yang akan lewat."

Yoongi membuang napas kecewa. Lalu, berjalan lesu setelah menyampaikan ucapan terima kasihnya.

"Kim Sohyun, teganya kau."

Yoongi ingin menyeberang jalan, menuju mobilnya yang tengah terparkir di seberang. Kemudian, suara klakson terdengar keras, hampir-hampir membuat telinganya jebol. Sungguh beruntung, seseorang menarik lengan Yoongi yang mulai lengah hingga pria itu berhasil lolos dari kecelakaan.

"Anda sangat ceroboh!"

Oh, tidak. Yoongi mengenal suara ini.

"Kim Sohyun?!"

***

Mereka berdua duduk di sebuah taman. Yoongi yang kebingungan sebab Sohyun yang cuma diam dan memainkan jarinya, sementara kopernya yang berat dibiarkan teronggok di sampingnya.

Suasana menjadi canggung. Yoongi yang tidak tahan akhirnya memulai percakapan.

"Senang mengetahui kau tidak bisa kabur dariku, kau berhutang nyawa."

"Saya tahu, makanya Tuhan tidak membiarkan saya lolos hari ini. Saya ketinggalan kereta, huh, malang sekali."

"Bisakah kita lebih santai? Hilangkan gaya bicaramu yang formal itu. Di luar kantor kau adalah Sohyun, dan aku hanyalah Yoongi, pria yang terus mengejar cintamu."

Sohyun menatap Yoongi ragu-ragu. Di benaknya, ada sebuah perasaan senang tetapi juga sedih seketika. Ia senang karena ternyata Yoongi masih mengharapkan cintanya. Ia sedih karena ... entah apa yang akan terjadi, setelah Yoongi tahu kebenaran ini, apakah ia masih akan tetap mengejarnya?

"Katakan padaku, kenapa kau mau ke Busan?"

"Memulai hidup baru."

"Bohong. Mana mungkin kau tega meninggalkan keluargamu?"

"Mereka hanya keluarga angkatku. Lagipula, mereka tidak ada hak untuk melarangku."

"Bagaimana kalau aku yang tidak setuju? Aku melarangmu."

"Atas dasar apa? Ingatlah, kita bukan siapa-siapa."

"Aku melarangmu, aku punya hak karena sekarang aku tunanganmu!"

"Apa?! Jangan bercanda, menurutmu ini lelucon?"

"Menurutmu, aku main-main saja dengan ucapanku?"

Sohyun ingin membantah Yoongi, namun tiba-tiba pria itu menyodorkan cincin di depan mukanya.

"Menikahlah denganku," lamar Yoongi.

Tidak. Tolong jangan seperti ini, Yoon. Sohyun merasa tidak pantas untukmu. Kau tidak tahu betapa gadis itu menyiksa dirinya sendiri agar tidak menemuimu. Kau tidak tau bagaimana susahnya ia menghindari ponselnya agar tidak menghubungimu. Kau tidak tau, betapa susahnya ia terlelap di malam hari hanya untuk berpikir bahwa kalian tidak akan bisa bersatu. Karena satu hal....

"Yoon, simpan cincinmu untuk gadis lain," tegas Sohyun. Ia mengambil cincin itu lalu mengembalikannya ke genggaman tangan Yoongi.

"Kenapa? Apa kau tidak mempercayaiku? Aku pasti bisa melindungi dan menjagamu."

"Bukan itu. Aku ... aku hanya tidak pantas mendapatkanmu."

"Kenapa?! Aku mencintaimu, kau juga bisa membalas perasaanku. Mungkin, mungkin hatimu belum bisa terbuka untukku saat ini. Tapi aku bisa menunggu!"

"Tidak, Yoon. Tidak mungkin, kau tidak akan menyukaiku lagi setelah ini."

"Apa yang kau katakan?"

Sohyun memalingkan wajahnya. Ia menunduk, matanya terlihat berembun. Ya Tuhan, gadis itu tidak tahu lagi harus sementara menginap di mana setelah berhasil pergi dari Yoongi. Namun, pokoknya hari ini ia harus mengasingkan diri.

"Sohyun?" Yoongi menyentuh pundak gadis itu. Tapi gadis itu dengan kasar menampiknya.

"Pergi!"

"Kau menyuruhku pergi? Aku menantimu dari pagi di stasiun, dan kau mengusirku?"

"Iya, aku mengusirmu! Aku tidak ingin melihatmu lagi, kau ... dasar pengemis cinta! Di mana harga dirimu sebagai pria? Menyedihkan! Kau mengemis agar aku menerima perasaanmu, begitu?"

Sohyun berdiri dari duduknya, ia tetap memunggungi Yoongi.

"Menyingkirlah! Mulai sekarang, jangan cari aku lagi. Aku muak melihat wajahmu!"

Sohyun tidak mendengar apapun. Sepertinya, kalimatnya sudah cukup kejam untuk membuat Yoongi mengunci mulutnya. Bahkan, saat Sohyun menyeret kopernya, Yoongi tetap tidak bereaksi.

Baguslah, memang itu kan yang kau harapkan, Sohyun? Kau ingin Yoongi menyerah dan mencari wanita yang lebih baik lagi?

Sohyun pun memantapkan dirinya untuk menyusun langkah. Ia mengusap air mata yang tiba-tiba menetes di pipinya.

Selamat tinggal, Mister.

"Kim Sohyun!"

Terdengar suara langkah dipercepat. Dan saat Sohyun berbalik, bibir mereka telah bersatu. Yoongi memeluk erat Sohyun dan mendaratkan ciuman pada bibir wanita itu. Sohyun tidak bisa menolak pesona Yoongi, entah sejak kapan hatinya mulai berlabuh pada lelaki itu. Mungkin ... sejak Sohyun sadar rasa perhatian lelaki itu jauh lebih besar dari yang Jimin berikan.

"Jangan meninggalkanku," bisik Yoongi. Ibu jarinya menyeka air mata yang terus mengalir dari kedua manik Sohyun.

"Aku ... tidak bisa," jawab Sohyun dengan suaranya yang tertahan. Yoongi menangkup pipi gadisnya, membuat wajah mereka saling berhadapan.

Yoongi melekatkan keningnya ke kening Sohyun, lalu menciumnya singkat seperti sebelumnya.

"Aku tahu masalahmu," ujar Yoongi.

"Tidak, kau tidak tahu apapun."

"Aku tahu Kim Sohyun, aku tahu," desak Yoongi. " Aku tahu kalau kau hamil."










Tbc.

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top