Bab 23
Ketika kesadarannya pulih, bibirnya melenguh merasakan punggungnya yang mulai linu. Berapa lama wanita bermata bulat itu duduk, bahkan ia sendiri pun tidak dapat memperkirakannya. Yang jelas, kakinya ikut kebas. Mati rasa.
Gelap. Indra penciumannya hanya mampu menangkap aroma debu dan ruangan kosong yang dibiarkan memelihara sarang laba-laba. Lantai kayu, dan beberapa sepertinya sudah rusak hingga kepingan kayu atau pakunya mencuat keluar. Sohyun ingin bergerak, tetapi tangannya terikat ke belakang.
Tak begitu lama, pintu terbuka. Cahaya dari luar masuk membentuk berkas-berkas di udara. Silau, kedua mata cantik itu pun terpejam sesaat hingga derap langkah seseorang masuk dan mendekati posisinya. Siapa? Batinnya. Apakah mungkin ia tidak bermimpi soal melihat wajah Dr. Kim sebelumnya? Apa justru orang yang datang ini adalah pria berambut panjang itu?
Tanpa berpatah kata, orang itu melepaskan tali yang mengikat tangan Sohyun menjadi satu. Sohyun terkejut, ia memundurkan diri, menjauh dari sosok misterius itu. Namun kemudian, dia tahu, sosok itu tidak menaruh niat jahat. Tidak juga untuk menyiksanya seperti sisa-sisa memori yang Sohyun alami di waktu penculikan sebelumnya.
Masih dalam bayang-bayang ruang yang sama, Sohyun secara samar melihat sosok—yang ternyata seorang pria bercadar—itu menyodorkan piring makanan. Posisinya berjongkok dengan satu lutut menyentuh lantai. Sohyun tidak dapat mengenali sorot mata pria tersebut, tetapi Sohyun yakin, ada empati di dalamnya.
"Kau boleh pergi," usik seseorang dengan suara beratnya. Sohyun langsung tahu, ia adalah Dr. Kim. Ya, tidak ada pria bersuara dalam yang dikenalinya selain lelaki itu.
"Dr. Kim? Dokter, kenapa saya bisa ada di sini?"
Pertanyaan Sohyun tidak digubris. Taehyung hanya mengajak pria aneh itu keluar setelah mengantarkan makanan. Menoleh pun tidak sempat, Sohyun menjadi kesal sendiri. Tapi sungguh jiwanya penasaran berat. Kenapa dia dibawa ke tempat ini? Meskipun menolak percaya bahwa dia disekap, bukti-bukti yang ia temukan justru mengarah ke sana. Membuatnya semakin terjun dalam kecemasan.
Tidak lagi. Musibah apa yang akan ia alami setelah kehilangan dua orang yang pernah berjasa dalam hidupnya? Sohyun menghela napas dan menyembunyikan wajah di kedua lututnya. Merangkul dirinya sendiri dan perlahan pikirannya melayang entah ke mana. Ia hanya ingin keluar.
***
"Mau dibawa ke mana saya? Lepaskan!"
Gadis itu meronta-ronta saat dua pria menyeretnya dengan kasar dan tak sabaran. Lalu, tubuh kecil itu dibanting di depan sebuah pintu yang lagi-lagi berbahan kayu. Sohyun merintih karena sikunya terluka, tergores hingga membekas kemerahan dan disertai darah. Tetapi itu tidaklah penting dibandingkan rasa kepenasarannya akan dalang dibalik penyekapan ini.
"Siapa kau?!"
Seseorang baru keluar dari balik ruangan, tubuhnya sangat tinggi dan kekar. Sohyun tak dapat menatap mata orang itu karena topi yang dikenakannya menutupi hampir sebagian wajah bagian atasnya. Belum sampai tutup mulut, secara mendadak, orang itu mengeluarkan pistol dan menempelkan bagian ujungnya tepat di kening Sohyun. Keringat dingin pun menghiasi kepalanya. Bibirnya semakin pasi, bahkan waktu seperti sedang berhenti hanya untuk menertawakan situasi mengerikan ini.
Sohyun, tenanglah. Jangan banyak bergerak atau peluru kecil itu akan memakan isi otakmu.
Kalimat penenang, penghibur, beberapa kali dia rapalkan. Tetap saja, kepanikan terus melanda alam bawah sadarnya.
"Kau pikir aku tidak tahu kau masih hidup? Keluarlah! Atau gadis ini akan bersimbah darah di depan matamu!"
Sohyun mengernyitkan dahinya, siapa yang sedang diancam pria ini? Dan haruskah dirinya yang dijadikan umpan? Ini masalah hidup dan mati. Bisa-bisanya nyawanya dipermainkan orang lain.
Dor!
Sohyun berteriak refleks dengan sangat kencang. Pria gila itu baru saja menembuskan pelurunya ke langit-langit. Gemetar sudah sekujur tubuh Sohyun. Ini sungguh kejadian yang tak terduga. Terakhir kali, Sohyun mendengar suara peluru adalah ketika terakhir kali ia bertemu dan mengobrol dengan Jimin. Hal ini cukup membuat hatinya tersayat.
"Keluar kau, bajingan! Sudah berani mengkhianatiku, dan sekarang, kau berencana mau menyerangku? Kau pikir, aku si Zack yang bodoh?"
Sohyun menahan tangisnya, namun begitu rintihannya keluar dan terdengar oleh Zack, si pria bengis itu melontarkan kalimat makiannya tanpa pikir panjang. Jelas, Sohyun dijadikan pelampiasan kemarahan di sini. Dan pelaku yang sesungguhnya entah bersembunyi di balik wajah yang mana.
"Diam kau! Tutup mulutmu, atau pistol ini yang akan melakukan kewajibannya," ancam Zack.
"Sekali lagi kuperingatkan, jika kau tidak keluar, aku tidak akan segan menghancurkan semua orang yang kau sayangi. Termasuk dia!"
Dor!
Sekali lagi peluru dihempaskan. Kali ini bukan tanpa sasaran, melainkan seorang pria dengan pakaian hitamnya menjadi korban. Benda kecil itu sepertinya menembus paru-paru kanan si korban. Dan ketika tahu siapa yang jadi sasaran, Sohyun tak kuasa menahan jeritan. Matanya sudah penuh dengan kesedihan, dan siap menumpahkan air mata yang ia bendung beberapa saat lalu. Sohyun histeris.
"Apa yang kau lakukan! Kau, kau menembaknya?! B-bukankah dia orangmu?" terjang Sohyun yang begitu berani menyela ketegangan suasana.
"Dia? Gadis polos ini! Sepertinya kau memang bodoh. Orang terdekatmu adalah musuhmu, tentu saja niatnya busuk dengan mendekatiku belakangan ini," jawab Zack dengan menyeringai.
"Kau lihat? Aku tidak main-main! Aku bisa saja menembuskan peluruku ke jantung sahabatmu ini, itu pun kalau kau tidak keluar dalam hitungan kelima," lanjut pria itu mengintimidasi.
Sohyun sudah kehilangan akal, dia berlari ke arah Dokter Kim dan membantu menghalangi darah keluar lebih banyak lagi dari dada pria itu.
"Dokter! Kau harus bertahan!" serunya.
Namun Taehyung tidak merespon. Ia hanya memejamkam mata dan menghalau perih yang terasa sampai ke sumsum tulangnya.
"Satu ... dua ... tiga ...," Zack terus menghitung. Dan sampai pada hitungan ke empat, terdengar suara keributan.
Dari kerumunan anak buah yang ada di dekat meja billiard, seorang pria terlempar karena baru saja ditendang oleh seseorang. Tubuh pria itu terjatuh tepat di kaki Zack, menjadikan bos mafia itu geram.
"Akhirnya, punya nyali juga kau, Yoongi!"
"Yoongi? Mister Yoon?"
Sohyun menoleh untuk menyaksikan siapa yang datang dan membelah jalanan yang dipenuhi dengan bawahan Zack. Itu benar-benar Min Yoongi. Orang yang sebelumnya tersiar kabar kematiannya, ternyata masih hidup. Orang terpenting dalam dunia bisnis, raja dari segala raja perusahaan teknologi terkaya dan terlaris di Korea Selatan, Min Yoongi masih hidup dan menunjukkan eksistensinya sekarang.
"Kau yang pengecut! Beraninya menjadikan seorang wanita sebagai tawanan, kau pikir aku takut dan menyerah?"
Yoongi keluar seperti pahlawan. Ia menyingkirkan cadar hitamnya dan mempertontonkan mukanya yang penuh amarah. Sejenak, Yoongi melirik Sohyun dan Dokter Kim yang tergeletak lemah. Dan dalam waktu yang singkat itu pula, jantung Sohyun berdebar cepat seolah habis menelan pil euforia.
"Kali ini, tidak akan kubiarkan orang-orang yang telah menghianatiku lolos hidup-hidup. Ingat! Kalian semua akan mati, di tanganku!"
Zack tertawa lalu secara brutal menodongkan pistolnya ke Sohyun. Ketika senjata itu memercikkan api, dan sebutir peluru terlontar dari ujungnya, Yoongi dengan sigap mengamankan Sohyun dengan cara mendorongnya ke samping.
"Sinting! Pria ini tidak akan pernah mengampuniku," gerutu Yoongi. "Sohyun, berlindunglah di balik meja. Jangan keluar tanpa seizinku, mengerti?"
Sohyun mengangguk dan jadi gadis penurut. Ia mengikuti saran Yoongi dan segera membalikkan meja. Mengarahkan bagian atas meja ke samping, menggulingkan meja itu 90°, lalu menyeret tubuh Taehyung untuk ikut berlindung bersamanya.
"Keluarlah! Aku butuh bantuan kalian!" teriak Yoongi.
"Tentu saja, bagaimana mungkin kami membiarkanmu mati untuk yang kedua kalinya, Yoon?"
Dan saat itu juga, Yoongi yang awalnya sendirian, maju bersama sejumlah orang termasuk Namjoon dan Jin, membuat Zack melongo. Mereka terlihat keren. Seperti polisi yang menuntaskan kejahatan, tapi detik berikutnya Sohyun sadar. Mereka tetaplah mantan anggota mafia dan sekarang sedang berkomplot untuk menuju jalan yang benar. Bagaimanapun juga, ini keren. Batin Sohyun.
"Sudah kuduga, belakangan ini perdagangan ilegalku menemui jalan buntu. Penyelundupan ganjaku berakhir berantakan. Itu semua ulah kalian. Pembelot!"
"Menurutmu aku berani keluar tanpa dukungan dari anak buahmu yang mulai berontak? Selama ini kau memberikan mereka harapan palsu, kau memperlakukan mereka seperti anjing. Mempekerjakan mereka tanpa ampun, tentu saja, siapa yang tidak membencimu?"
"Min Yoongi, betapa bodohnya aku dulu mengajakmu bergabung kalau kau ternyata adalah senjata makan tuanku. Aku tidak akan pernah memaafkanmu!"
Zack memberikan aba-aba pada sisa anak buahnya yang masih setia. Lalu, perkelahian pun terjadi. Sohyun panik di tengah kericuhan, ditambah lagi darah mengucur deras tanpa berhenti dari tubuh Taehyung.
"P-ponsel," lirih lelaki bermarga Kim itu. Mengetahui arah pembicaraan Taehyung, segera Sohyun merogoh benda persegi yang ada di saku jas Taehyung.
"Aku harus telepon polisi secepatnya!"
Taehyung mengangguk setengah sadar, menyetujui rencana Sohyun.
"Ha-halo?! Eh!"
Gadis itu melotot saat ponselnya dirampas dan dibanting hingga tak berbentuk.
"Apa yang kau lakukan?!"
"Gadis, aku peringatkan, kau tidak akan selamat. Dan tidak akan pernah punya kesempatan untuk selamat."
"Apa katanya? Sudah tau dia yang tidak akan selamat, tapi masih saja berbangga diri," kesal Sohyun.
Bagaimanapun juga, ponselnya tadi telah tersambung. Dan Sohyun sempat berteriak di telepon, ia hanya berharap polisi mengendus adanya keanehan dan segera melacak posisi mereka sekarang. Tapi, Zack sangat mencurigakan. Di tengah suasana yang kacau ini, ia malah terlihat tenang. Apa sesuatu hal yang lebih besar dan mengancam jiwa akan segera terjadi?
"Dokter, apa tempat ini menyimpan sesuatu? Aku khawatir, ada senjata lebih mengerikan yang pria itu sembunyikan."
Taehyung memaksa otaknya untuk berpikir dan mencoba mengabaikan rasa sakit yang ada. Kemudian, tiba-tiba Sohyun terkejut saat Yoongi jatuh dengan mulut berdarah-darah. Gadis itu bertambah cemas. Banyak waktu yang ia lewatkan sampai-sampai ia tidak sadar kalau Yoongi dan teman-temannya hampir kalah dalam perkelahian.
Tidak ada dari mereka yang dalam keadaan bersih. Paling ringan, hanya luka lebam di wajah dan tangan. Tapi, kebanyakan justru menderita bekas luka tusuk dan goresan yang cukup dalam. Sohyun meringis menyaksikannya.
"Mister, awas!" Sohyun memperingatkan Yoongi saat seorang anak buah hampir menghantamkan kursi kayu ke kepalanya. Beruntunglah, Yoongi segera tersadar dan melumpuhkan pria itu dengan menyerang kakinya.
Yoongi dan Sohyun saling bertatapan. Mereka seakan sedang bertelepati untuk sesama menjaga keselamatan diri.
"Tolong, keluarlah dengan tanpa terluka. Keluarlah dengan penuh kesadaran dan selamatkan kami," ucap Sohyun dalam hati.
"Jaga dirimu, Sohyun. Jika hari ini aku gagal, maka ... aku akan menyesal meskipun aku dijemput oleh malaikat maut. Aku akan menangis di alam kuburku kalau kau sampai kenapa- napa," pikir Yoongi.
"Sohyun!" Lamunan Sohyun buyar setelah Taehyung meneriakkan namanya.
"Ada gudang mesiu di ruang bawah tanah. Di bawah tempat ini, jika terpercik api ... maka ... kita semua akan jadi abu dalam waktu sekejap," Taehyung memperingatkan dengan susah payah.
"Brengsek! Ke mana pria itu?!" teriak Yoongi setelah mendengar pernyataan Taehyung yang mengejutkan.
"Ada apa Yoon?" sahut Jin.
"Bangsat itu menyimpan mesiu di ruang bawah tanah. Ini pasti rencananya, dia ingin meledakkan kita semua di sini. Cepat temukan dia dan cegah usahanya!"
"Baiklah, aku dan Joon akan segera turun menemukan Zack, kau susul kami setelah membantu mereka berdua keluar dari tempat ini!"
"Kalian, berhati-hatilah!" pinta Yoongi.
Sesaat kemudian, Yoongi membopong Taehyung keluar dengan sisa tenaga yang ia miliki.
"Dokter Kim banyak mengeluarkan darah, apa dia akan baik-baik saja?"
"Jangan khawatir. Ini, kau bisa gunakan ini untuk menghubungi polisi dan petugas medis. Pergunakan sebaik-baiknya, sekarang ayo kita keluar dulu! Kita tidak punya waktu!"
Sohyun mengangguk. Dan beberapa waktu setelahnya, Yoongi mengangkat tubuh Sohyun usai lelaki itu membawa keluar Kim Taehyung.
"Mister, keluarlah dengan selamat. Jangan membuatku kehilangan orang-orang yang aku sayangi," bisik Sohyun.
"Tentu, aku berjanji akan keluar dengan selamat. Tolong jaga dirimu baik-baik, dan tunggu aku di luar," balas Yoongi. Kemudian, pria itu mengecup sekilas kening Sohyun. Membuat gadis itu benar-benar luluh dan berkaca-kaca.
"Aku masuk!" Yoongi pun mulai meninggalkannya. Kembali ke dalam bangunan serba kayu yang rupanya berlokasi di tengah hutan itu. Rasa sakit mendera Sohyun secara batin. Ia tidak pernah menginginkan hal buruk terjadi pada Yoongi meskipun sebelumnya ia sangat membenci lelaki itu. Bahkan, Sohyun terus memandangi sebuah ponsel yang tadi disodorkan Yoongi, juga menyentuh keningnya yang sempat dikecup singkat oleh Yoongi.
Yoongi, apa itu tanda perpisahanmu karena kau akan pergi untuk selamanya? Dan kali ini, akan benar-benar lenyap?
Walaupun Yoongi terlihat gigih dan bersemangat, Sohyun dapat merasakan keputusasaan lelaki itu dari sorot matanya yang teduh. Sungguh tidak seperti biasanya. Yoongi, terlihat begitu aneh.
***
"Jin!" pekik Yoongi menyaksikan tubuh sahabatnya terkapar di lantai. "Joon, apa yang terjadi?!"
Tak jauh dari posisi Jin, Namjoon juga tergeletak lemah tak berdaya.
"Bajingan itu lolos, hentikan dia," ucap pria berlesung pipi itu dengan tegas. Yoongi mengepalkan tangannya. Ia sudah berkorban banyak hal sejauh ini. Tentu saja ia tidak mau membiarkan pengorbanannya sia-sia dengan membiarkan Zack menang.
"Kau, jaga Jin! Aku akan habisi Brengsek itu!"
"Hati-hati, dia tidak semudah yang kita pikirkan," pesan Namjoon.
Mengikuti hatinya yang penuh dendam, Yoongi masuk menelusuri tangga menuju ruang bawah tanah. Sesampainya di dasar, tengkuknya dipukul benda tumpul oleh seseorang dan sudah pasti, itu ...
"Zack!!"
"Kau sampai juga, Yoon, tidak sabar ingin kulihat tubuhmu terpanggang sampai jadi abu di sini."
"Kau! Jangan harap bisa menang, sebentar lagi ... kejahatanmu akan berakhir. Semua ini akan menemui ujungnya."
"Jangan percaya diri dulu, sekarang, apa bisa kau menghadapi ini?"
Zack mengeluarkan korek api dari saku celananya. Sesaat, pria itu menyalakan rokoknya, dan menghisapnya dengan santai. Membiarkan kepulan asap itu mengenai wajah Yoongi.
Tampaknya, Zack berniat bunuh diri. Bagi pria itu, harga diri adalah segalanya. Jika ia tidak menjaga segala yang ia punya, Zack akan merasa gagal. Dan di sinilah tujuan akhirnya, mati bersama orang yang telah mengkhianatinya.
"Hei!! Matikan itu! Kau sudah tidak waras?!"
"Kenapa? Yoongi yang ambisius demi uang ini takut mati? Ayolah, kemarin kau selamat dari maut, masa harus ketakutan seperti ini? Nikmati saja alurnya."
"Jangan bodoh, kau ini Zack! Zack yang aku kenal tidak sepengecut ini. Tidak mungkin bunuh diri hanya karena gagal melawanku," bujuk Yoongi.
"Jangan berkata apapun! Aku tahu niatmu, kau akan memasukkanku ke dalam penjara kan? Tidak, kau tidak akan bisa! Ayo, coba saja menghentikanku," ujar Zack sambil menjentikkan batang rokoknya. Sekali lagi, ia menghisap puntung rokok itu dan meniupkan asapnya.
"Selamat tinggal."
"Tidak!!!"
Yoongi buru-buru naik ke atas, tetapi kedua kakinya ditahan oleh Zack. Pria itu melepaskan topi kesayangannya, lalu tertawa lebar seolah akan mati dan pergi ke surga. Yoongi merinding hanya dengan mendengar kekehan pria itu. Ia menyesal, sungguh menyesal telah berurusan dengan si gila Zack.
"Kurang ajar!! Lepaskan kakiku!"
"Kita harus mati bersama, Yoon. Jangan takut."
"Tidak!"
Aku harus keluar, Sohyun sedang menungguku, pikir Yoongi.
Suara ledakan terdengar. Semakin lama, semakin kencang. Yoongi terpental beberapa meter menghantam dinding. Dalam sekejap, ruang bawah tanah itu penuh dengan api. Yoongi secara terang-terangan melihat tubuh Zack terbakar. Pria itu terbatuk-batuk, ini masih sebagian. Masih ada waktu untuk keluar. Yoongi berusaha menjaga kesadarannya dan menaiki tangga yang juga mulai di lahap panas.
"Joon! Apa kau di luar? Buka pintunya! Aku terkunci!"
Yoongi menggedor-gedor pertahanan terakhir yang membordir posisinya dengan tempat aman. Pria itu bekerja keras walaupun paru-parunya sudah sesak dengan bau mesiu yang menyengat. Rasanya, ia kehabisan oksigen.
"Joon!"
"Yoon, naiklah, cepat."
"Jin? Kau? Kau baik-baik saja?"
"Yoon, cepatlah. Aku sudah tidak ada tenaga," kata Jin mulai melemah.
"Baiklah, tunggu. Kakiku sepertinya terkilir, aku kesulitan berjalan ke atas."
Yoongi memegangi kaki kirinya yang membengkak. Kemudian, Jin mengulurkan tangannya.
"Pegang aku," perintahnya.
"Jin?"
"Yoon, aku titip Yubi. Jaga anak itu baik-baik, dia sedikit bandel."
"Apa katamu? Jangan melantur, dan bawa aku ke atas secepatnya. Kita harus kabur bersama."
"Yoon, sesak," rintih Jin.
"Jin? Ada apa? Apa asmamu kambuh?"
"Yoon, pegang erat-erat. Aku akan membawamu naik."
Yoongi melihat Jin berusaha keras mengangkat tubuhnya ke atas. Urat nadi di leher pria itu menonjol, wajahnya pun memerah. Yoongi tahu Jin sedang menahan sakit. Apalagi, luka tembak di bagian perut lelaki itu terlihat cukup parah.
"Yoon, sedikit lagi...."
"Jin? Kau bisa! Kau pasti bisa!"
"Yoon," sela Jin. Ia memejamkan matanya sejenak, lalu dengan kekuatan terakhir yang ia punya, ia berhasil menarik Yoongi keluar.
"Jin, ayo kita pergi!"
"Tidak, tidak. Namjoon...," ucap Jin terputus. "Dia pingsan, selamatkan dia."
"Tapi sebentar lagi, tempat ini akan meledak! Kita bertiga harus keluar bersama!"
"Yoon, saatnya kau merelakan sesuatu. Saatnya kau harus memilih, menyelamatkan satu orang, atau kehilangan dua-duanya."
"Jin!"
Yoongi meraup wajahnya kasar. Baru kali ini dia punya teman yang setia, apakah harus dia kehilangan Jin dan menyelamatkan Namjoon? Keduanya sangat berarti. Yoongi tidak bisa memilih.
"Cepat!" bentak Jin. Pria itu mendesis saat perutnya mengeluarkan cairan merah semakin deras.
"Jin, maafkan aku!"
Yoongi memeluk sahabatnya itu. Jin meresponnya, meskipun ia tidak bisa memeluk Yoongi lebih kuat.
"Ingat pesanku, jaga Yubi baik-baik. Jika dia menanyakanku...," kata Jin terhenti. "Katakan bahwa aku menemui ibunya," sambungnya kemudian.
"Yubi ... aku akan merawatnya dengan baik, aku akan menganggapnya seperti putraku sendiri. Jin...."
"Pergilah, Yoon."
Yoongi mengusap air matanya, lalu memeluk Jin sekali lagi.
"Tidak! Aku akan segera menyusulmu setelah berhasil membawa Namjoon keluar."
"Jangan nekat!!"
"Itulah aku, kalau aku tidak senekat ini, maka jangan panggil aku Yoongi!"
Pria itu pun berlari, dengan tubuhnya yang ringkih, dan kakinya yang tertatih, Yoongi memapah Namjoon sekuat tenaga. Pria itu terengah-engah. Dengan kondisinya yang terkilir, akan kesulitan untuknya bergerak lincah dan leluasa. Tapi ia harus, ini demi sahabatnya, Seokjin.
"Mister!" seru Sohyun. Gadis itu tampak senang melihat Yoongi selamat bersama dengan Namjoon.
"Mister." Sohyun lalu membantu Yoongi memapah Namjoon. Di sana, sudah ada petugas medis dan beberapa anggota polisi. Yoongi merasa lega.
Usai meletakkan Namjoon di dalam ambulance, Yoongi berbalik tanpa aba-aba. Sohyun yang menyadarinya, langsung menahan pergelangan tangan pria itu.
"Kau mau ke mana?"
"Sohyun, jika aku tidak keluar dalam lima menit ... kau harus tetap melanjutkan hidup."
"Tunggu! Mister!"
Sohyun yang ingin menghadang Yoongi, secara paksa ditahan oleh beberapa pihak kepolisian.
"Maaf, Nona. Di dalam berbahaya, tolong jangan gegabah."
"Pak, teman saya masuk ke dalam! Tolong cegah dia!"
Namun terlambat. Tubuh Yoongi sudah hilang, pria itu sudah mengambil keputusannya dengan matang dan tidak bisa diganggu gugat.
Baru saja Sohyun menarik napas, ledakan besar terjadi. Bangunan kayu itu hancur berkeping-keping! Sohyun ditarik paksa oleh polisi dan disuruh menjauh. Kepanikan terjadi saat kobaran api dengan ganas menelan bangunan itu bulat-bulat. Sohyun meneriaki nama Yoongi. Tapi, tak kunjung pria itu keluar dari kekacauan yang ada di depannya.
Yoongi, apa kau masih di sana? Apa kau akan keluar dan menemuiku lagi?
Tbc.
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top