Bab 18


Sohyun mendekap tubuhnya di bawah langit yang gelap. Hanya tersisa penerangan berbentuk tiang dengan warna kekuningan remang-remang, semak dan pohon yang berdiri tegak di belakangnya, serta pagar pembatas setinggi pinggang—yang membatasi daratan dan perairan—yang menghadang di depannya. Sohyun terbengong tak mengedipkan mata.

Dingin. Ia merasakan aura itu kembali setelah sekian lama menerima delapan tahun bentuk kehangatan keluarga yang ditawarkan oleh Bibi Lee. Sohyun masih tak terbiasa saja, rasanya hidup tanpa mereka ... ternyata sehampa ini. Mungkin terlalu lama bergantung pada keluarga angkatnya, membuatnya berpikir bahwa ia tunawisma. Berkeliaran berjam-jam di tengah kota tanpa seorang pun peduli. Melamun di sepanjang jalan sampai hampir terserempet kendaraan dan terjatuh, tak ada yang memperhatikan.

Sohyun, Sohyun ... sekarang kau tak punya rumah. Belum tentu keluargamu menerimamu hari ini. Tidak apa kalau cuma sehari, tapi ... kalau selamanya bagaimana? Apa kau masih sanggup untuk hidup dan berjuang sendiri?

Ia ragu untuk kembali ke rumah sakit, tak berani pulang ke apartemen kecil Bibi Lee. Satu-satunya bantuan yang dapat ia minta adalah dari Jimin. Selesai berbincang kosong dengan Min Yoongi, gadis itu menghabiskan waktunya untuk berjalan tanpa arah di tengah kota. Hingga akhirnya sore tiba dan tak ada pilihan lain selain menelepon Park Jimin. Lantas, daripada memilih pulang ke apartemen milik kekasihnya, Sohyun meminta Jimin mengantarnya ke suatu tempat. Lokasi yang tenang, di mana ia bebas merenung semalaman.

Sohyun menatap sekelilingnya, mulai sepi. Tak seperti biasanya, tempat itu selalu ramai sebelum pukul 10.00 malam tiba. Atau, ini memang sudah waktunya tutup?

Sohyun mengambil ponselnya untuk melihat jam.

"Oh, tidak! Baterainya habis!" gerutunya.

Sohyun pun berdecak kesal, ia belum menuntaskan kesedihannya, tapi waktu terpaksa menyuruhnya pulang.

"Harusnya, taman sebagus ini buka lebih lama lagi. Kalau perlu, 24 jam penuh! Fasilitas publik kan seharusnya bisa dinikmati kapan saja," gumamnya memprotes.

Sohyun pun berbalik, bersiap untuk kembali ke parkiran—tempat di mana Jimin menunggunya. Sohyun sendiri yang minta, ia tidak mau diganggu. Di saat sedih begini, Sohyun lebih suka berteman dengan sepi dan membiarkan tiap hal berkelebatan di pikirannya tiada henti. Tanpa ada gangguan.

Namun, saat ia membalikkan badan, beberapa orang berpakaian gelap menyambutnya. Membuat Sohyun terkejut dan penuh waspada.

"Siapa kalian?"

"Tuan kami ingin bertemu dengan Anda," kata salah seorang dari mereka yang Sohyun sama sekali tidak kenal.

"Tuan siapa?? Aku tidak kenal dengan Tuanmu itu! Kalian pasti salah orang!"

"Kau yakin tidak mengenaliku?" Muncul seorang pria dengan suara yang Sohyun begitu kenal. Ketika pria itu datang, semua orang yang tadi menghalanginya, perlahan mulai menepi dan memberi jalan.

Ketika seutas senyum sinis orang itu perlihatkan, barulah Sohyun tersadar.

"Oppa?! Joohyuk Oppa?"

***

Jimin memegang selembar foto yang warnanya terlihat usang. Namun tampak jelas, bahwa Jimin merawat foto itu dengan baik di dalam dompetnya. Foto itu tak lusuh sama sekali. Ada empat wajah di sana, seorang perempuan dewasa, seorang lelaki dewasa, dirinya, dan seorang gadis cilik berumuran hampir lima tahun.

Dengan tangan kirinya, Jimin mengeluarkan sebuah liontin. Ibunya pernah berpesan untuk menyerahkan liontin itu pada orang yang tepat. Orang yang dicari Jimin selama bertahun-tahun setelah keluarganya terpecah belah. Mungkin gadis itu telah dewasa sekarang, dan tumbuh menjadi wanita yang cantik jelita.

"Apa aku berterus terang saja?" monolognya. "Tapi ini bukan saat yang tepat, sepertinya dia sedang dalam masalah. Dan ... aku belum sanggup mengakhiri semua ini. Aku masih butuh dia, di sisiku, sebagai ... milikku."

Jimin menyandarkan dahinya ke kemudi. Sempat ia memukul-mukulkan tangannya ke setir demi melampiaskan perasaan bersalahnya. Perasaan yang ia anggap sebagai dosa. Ia bahkan membenci dirinya sendiri sejak hari dirinya mengetahui segala kebenaran yang disembunyikan Tuhan.

"Tolong!!" Jimin terbangun ketika telinganya samar-samar mendengar suara jeritan. Ada orang yang meminta tolong.

Jimin segera keluar dari mobil dan menelisik sekelilingnya. Tidak ia sadari, taman danau Ilsan begitu hening. Ia melirik ke arloji, kemudian mengumpat sial. Hari telah berangsur larut, dan Jimin melupakan kalau Sohyun sendirian di dalam taman itu.

"Sial! Aku lupa kalau harus menjaga Sohyun! Dia tidak boleh terluka," katanya sambil lalu. Jimin berlari mencari sumber suara hingga ia menemukan gadisnya yang diseret paksa bersama gerombolan pria tidak dikenal.

"Sohyun!"

"Oppa! Oppa, tolong aku!!"

"Sohyun!" teriak Jimin sekali lagi. "Hei, lepaskan dia! Jangan kurang ajar, ya, kalian! Atau mau saya laporkan polisi?!"

Raut wajah Sohyun yang ingin menangis membuat Jimin tidak takut mengambil tindakan. Ia mengeluarkan ponselnya dari saku celana untuk menghubungi 119. Namun, belum sempat ia menekan nomor, seseorang menimpuknya dari belakang dan membuatnya pingsan.

***

Sohyun membuka matanya, kepalanya terasa nyeri dan pusing. Mulutnya tertutup rapat oleh perban hitam. Tangannya, serta kakinya terikat pada sebuah tiang dalam kondisi berdiri. Gadis itu membuka pengelihatannya perlahan. Satu-satunya pemandangan yang ia lihat adalah Jimin yang berlumuran darah.

Sohyun mencoba berteriak, namun suaranya hanya menjadi sebuah geraman yang tertahan. Semakin ia ingin melepaskan diri, semakin sakit pula tali-tali itu menggesek kulitnya. Sohyun tidak bisa bergerak, hanya bisa menahan kesal dan marah karena orang-orang itu memperlakukan Jimin seperti binatang.

Jimin ditendang, dipukul dengan kayu, bahkan diinjak kepalanya.

Sohyun menangis, merasa bersalah. Karena dirinyalah, Jimin terlibat dalam masalah.

"Hei! Kenapa kau? Tidak rela melihat kekasihmu menderita? Atau ... kau mau bergabung bersamanya?" kata seorang pria, yang tak lain adalah pacar kakaknya sendiri.

Sohyun menajamkan pandangannya. Menatap si brengsek yang kini berjalan mulai mendekatinya itu. Sohyun mengerang saat perban di mulutnya ditarik kasar.

"Brengsek kau! Apa maumu?! Kenapa kau sakiti dia?!"

"Oops, santai. Jangan marah-marah. Tidak lama lagi, kau akan seperti dia kok. Kau iri ya? Maaf karena kami sempat mengabaikanmu."

"Lepaskan Oppa! Bukankah aku yang kalian cari?"

"Tunggu, apa ini permintaan terakhirmu? Kau ingin aku melepaskan pacarmu?"

"Apa maksudmu? Permintaan terakhir?"

"Jangan pura-pura tidak tahu, Sohyun. Aku sudah bilang kan, bahwa tujuanku menculikmu adalah untuk menghabisimu!"

Sohyun memfokuskan pengelihatannya ke arah Jimin. Lelaki itu terbaring lemah, lebam menghiasi sekujur tubuhnya. Mata Jimin bengkak dan hidungnya mengeluarkan darah. Hati Sohyun tersayat menyaksikan pemandangan itu. Orang yang dicintainya, terbaring lemah tak berdaya.

"Aku tidak tahu apa masalahmu denganku. Kau punya dendam apa? Bukannya kita baru berkenalan? Dan sekarang kau ingin membunuhku? Apa tujuanmu sebenarnya?"

"Jangan banyak bicara!"

Plak. Joohyuk menampar pipi Sohyun dengan keras hingga menimbulkan bunyi yang terdengar perih. Tangan pria itu lalu mencengkeram dagu Sohyun, seraya memberinya ancaman.

"Aku akan memberimu waktu sampai matahari terbit untuk memanjakan pacarmu itu! Tapi jangan harap, jangan harap aku melepaskan kalian! Kalian berdua, akan terpisah oleh maut saat itu juga!"

Joohyuk tertawa. Mereka semua tertawa di atas penderitaan Sohyun. Sohyun rasa air matanya telah mengering. Tidak ada lagi yang tersisa untuk ia tangisi. Mungkin, kematian adalah takdirnya yang terbaik. Dengan pergi dari dunia ini, Sohyun tidak akan merasa dibuang dan dimanfaatkan.

"Kau, lepaskan gadis itu! Biarkan dia bercumbu dengan kekasihnya sampai mati! Haha," ejek Joohyuk sambil berjalan meninggalkan ruangan yang pantas disebut dengan gudang itu.

Setelah ikatan di tangan dan kakinya lepas, Sohyun berlari menghampiri Jimin yang setengah sadar. Satu per satu orang yang ada di ruangan itu pergi, meninggalkan dirinya berdua dengan Jimin. Lalu, terdengar suara pintu digembok.

Sohyun meringis, melihat benar-benar tak ada jalan keluar dari ruangan ini. Jendela pun tak ada. Yang ada hanyalah tumpukan kardus yang entah isinya apa. Sarang laba-laba di tiap sudut tembok membuatnya ngeri. Lantai yang berdebu serta penerangan yang minim. Sohyun seperti kehabisan napas di tempat sepengap itu. Namun ia mengabaikan perasaannya sendiri. Ia mendekati Jimin dan memangku kepala pria itu dengan lembut.

"Oppa...," panggilnya lirih. Air mata yang tadinya ia pikir telah mengering, akhirnya menetes juga. Membasahi pipi Jimin yang berwarna membiru akibat lebam.

Jimin menggenggam lemah jemari Sohyun. Lalu membawanya ke dada, Jimin kesusahan berbicara. Dirinya terlalu lemas.

"Tidak, Oppa! Tolong jangan berkata apa-apa, aku tau kau kesakitan," cegah Sohyun. Jari telunjuknya menempel di bibir Jimin, agar Jimin tidak memaksakan diri untuk berucap.

"Sohyun ... aku ... ada–"

"Tidak, Oppa. Tolong, jangan diteruskan, aku tidak mau kau kesakitan."

Jimin pun menyerah dan larut dalam belaian yang Sohyun torehkan di wajahnya. Jimin merasa damai ketika berada di dekat Sohyun, hatinya tenang. Banyak hal yang ternyata telah mereka lalui bersama. Jimin sama sekali belum menunjukkan tanggung jawabnya terhadap Sohyun, namun, haruskah mereka besok berpisah?

Dasar lemah! Jimin merutuki dirinya sendiri yang tidak becus menjaga Sohyun. Benar kata Minhyuk, ia tidak boleh meninggalkan Sohyun sendiri tapi hari ini dia malah melakukannya. Sekarang, Sohyun dalam bahaya dan Jimin tidak bisa berbuat apa-apa.

"Oppa, maafkan aku, ini salahku," kata Sohyun. Gadis itu tidak berhenti menyalahkan dirinya sendiri atas kejadian ini. Sohyun tidak mengerti kenapa Joohyuk menculik dan ingin membunuhnya. Seingat Sohyun, dia tidak punya musuh. Bahkan, hubungannya baik-baik saja dengan pacar Sungkyung itu. Lalu, mengapa hal ini bisa terjadi? Sohyun penasaran, kesalahan apa yang telah dibuatnya hingga berakhir disekap di gudang penyimpanan tua? Dan yang paling Sohyun tidak mengerti, kenapa Jimin harus dipukuli dan ikut menjadi korban bersama dengannya?

"Kau ... tidak salah," ucap Jimin terputus.

Aku yang tidak bisa melindungimu, Sohyun. Bagaimanapun juga, kau harus kabur dari sini. Aku tidak akan biarkan mereka membunuhmu.

Jimin memaksakan tubuhnya bangun. Meski tulang-tulangnya terasa remuk, ia berhasil memeluk gadis itu. Membiarkan Sohyun menangis di dadanya. Membiarkan Sohyun memeluknya erat untuk terakhir kali baginya. Jimin mengelus punggung gadis itu dengan perasaan yang sama sakitnya. Mungkin jauh lebih sakit ketika Sohyun mendengar sebuah kebenaran yang lama ia pendam.

Di saat terakhir seperti ini pun, aku tetap tidak sanggup mengatakannya, Sohyun. Aku masih takut kehilanganmu.

Jimin, entah sejak kapan tetesan bening meluncur dari kedua sudut matanya. Tapi suaranya tertahan. Yang ia lakukan hanyalah mengecup kening Sohyun dan mengatakan, "Aku mencintaimu."

"Oppa! Bertahanlah! Kita akan keluar dari sini bersama-sama!"

Sohyun segera melepas pelukan Jimin. Kemudian, ia bangkit dan berjalan mengelilingi ruangan sempit itu. Berharap menemukan celah untuk bisa lolos, tapi ... sungguh sia-sia. Para penjahat itu memilih lokasi yang ideal untuk menyekap dan membunuh mangsanya. Sohyun putus asa. Lalu ia berjalan mendekati pintu, menggedor-gedor benda persegi berbahan besi itu dengan brutal.

"Kalian!! Keluarkan kami!! Buka pintunya!" Sohyun berteriak sekencang mungkin agar mereka mendengarnya. Walaupun mustahil, Sohyun masih berharap ada orang baik di antara para penjahat itu yang mau membebaskannya. Atau paling tidak, ada orang yang tak sengaja mendengar teriakannya dan berniat untuk menolongnya.

Sohyun, Sohyun. Kau terlalu berharap. Tidak ada jalan lain, kau besok pasti akan mati.

"Sohyun," suara Jimin memanggilnya pelan dengan setitik energi yang tersisa.

"Oppa! Kau harus bertahan, ya? Aku mohon...," pinta Sohyun.

Jimin terbatuk, mengeluarkan cairan merah.

"Oppa!" Sohyun segera menuju ke arah Jimin dan menahan tubuh pria itu yang hampir tergeletak. "Oppa, kenapa? Mana yang sakit?" tanya Sohyun begitu khawatir.

***

Yoongi, pria itu masuk sebuah ruangan dengan begitu lancang. Beberapa orang penjaga terlihat berusaha keras ingin menahannya.

Hari itu Yoongi nekat berbuat ribut, mengacaukan markas dan membuat para penjaga kewalahan. Meskipun dilarang, pria itu tetap memaksa masuk dan bertemu dengan Zack. Terlihat Namjoon dan Jin yang ikut menahan aksi gegabah Yoongi, namun mereka gagal. Nyatanya, Yoongi berhasil menampakkan diri di hadapan Zack dengan angkuh dan berkata, "Aku ingin berhenti menjadi anggota Riddle Eye!"

Tak terlihat kaget, Zack justru menatap Yoongi dengan sinis. Sambil mematikan rokoknya, Zack pun bangkit dan melepas topi kebanggaannya.

"Apa? Coba ulangi sekali lagi," ucap Zack.

"Aku ingin keluar dari Riddle Eye! Aku ingin menjadi orang biasa yang bebas melakukan apapun," ulang Yoongi dengan tambahan kalimat.

"Apa aku tidak salah dengar? Kau ingin keluar? Tiba-tiba begini, kau kesambet apa hah?"

"Justru aku waras! Karena aku mengatakan hal ini dengan penuh kesadaran."

"Yoon, Yoon. Tenangkan dulu dirimu. Cerna kalimatku baik-baik. Menurutmu, kau bisa apa tanpa organisasi yang aku besarkan ini?"

"Tentu saja aku bisa melakukan apapun sesuai keinginanku. Aku tetap bisa mengembangkan bisnisku, menikah, dan mempunyai anak. Aku bisa hidup normal seperti orang lain tanpa tekanan."

"Kau jangan bodoh! Menurutmu, kau bisa keluar dengan mudah? Kau tidak tahu apa konsekuensinya?"

"Kalau kau takut aku membocorkan organisasi terlarang ini, maka kau jangan khawatir. Aku tetap akan jaga rahasia, aku tidak akan membuatmu berurusan dengan polisi."

"Oh ya? Apa kau bisa jamin?"

"Pasti. Nyawaku jadi taruhannya, kau bisa pegang ucapanku asal kau membiarkan aku hidup bebas. Bagaimana? Setuju?"

Zack menatap penuh selidik kepada Yoongi. Pria berkumis itu tak mengatakan apapun, dan membiarkan Yoongi mengoceh semaunya.

"Oke, karena kau diam, aku anggap itu sebagai persetujuan."

Yoongi tanpa menunggu respons dari Zack, pria itu berbalik pergi. Tampak beberapa pengawal ingin menghentikan Yoongi, namun Zack mencegah mereka. Sepertinya, Zack punya rencana lain untuk anggotanya yang berkhianat.

"Kalian, cepat bawa Kangjoon kemari! Aku membutuhkan tenaganya!"

***

Hari menjelang pagi. Semalaman, Sohyun dan Jimin terkurung di dalam gudang penyimpanan. Mereka terbangun saat mendengar suara bising pintu besi yang terbuka.

"Oh, sudahkah kalian bercinta?" tanya Joohyuk dengan mengesampingkan sopan santun. "Ah, sepertinya belum ya. Kenapa? Kalian harusnya tidak boleh menyia-nyiakan kesempatan, loh?"

"Sialan! Tutup mulut kotormu itu!" sahut Jimin menahan sakit di perutnya.

Joohyuk mendekat, raut wajahnya mulai tak bersahabat. Laki-laki itu meludah, lalu menendang Jimin tanpa ampun.

"Bajingan kau! Sudah tahu lemah, malah cari gara-gara denganku! Mau kuhabisi sekarang, hah?!"

"Habisi saja, aku tidak takut! Pengecut!"

"Oppa!!" Sohyun refleks memekik saat Joohyuk menendang kepala Jimin hingga laki-laki itu terpental ke belakang.

"Sayangnya aku ingin kau menyaksikan kematian pacarmu, di depan mata kepalamu sendiri! Jadi, jangan harap kau mati dengan mudah, Park Jimin!"

"Haha," Jimin tergelak mengolok. "Ternyata, kau ... benar-benar ... pengecut."

"Apa kau bilang?!!"

"Pe–ngecut."

"Kau! Bawakan pisauku!" perintah Joohyuk pada salah satu orangnya.

"Tunggu! Apa yang akan kau lakukan padanya?" Sohyun berjalan dengan lututnya lalu memohon kepada Joohyuk. Gadis itu bahkan tidak sungkan untuk bersujud.

"Aku mohon, jangan lukai dia. Kalau kau ingin membunuhku, maka bunuh aku sekarang. Tapi sumpah demi Tuhan, bebaskan dia," pinta Sohyun dengan suara paraunya.

"Sohyun, jangan ... pernah berlutut pada pengecut sepertinya..... Derajatmu ... bahkan lebih tinggi dari si anjing ini!" ujar Jimin tertatih-tatih.

"Bangsat!" Joohyuk menyambar pisau yang dibawakan anak buahnya, lalu tanpa pikir panjang, ujung pisau itu bersarang di perut Jimin. "Rasakan ini!"

Suara tusukan demi tusukan terdengar sadis mengiris telinga Sohyun. Gadis itu tertegun.  Jimin mengerang menahan perih. Lantas, ia tak langsung berteriak. Itu hanya akan menunjukkan kelemahannya saja.

"Haha," tawa Jimin terceletuk sekali lagi.

"Oppa? Tolong hentikan, jangan menantangnya, kau akan terluka lagi, kumohon...." Sohyun berucap dengan suaranya yang bergetar.

"Tidak, Sohyun. Pria ini hanya bisa melawan orang yang lemah, sungguh banci...," ejek Jimin. Tampaknya, Jimin sengaja memancing amarah Joohyuk. Tidak tahu apa rencananya, yang jelas, Jimin terlihat tidak menciut sedikitpun mengahadapi kematian.

"Mulutmu ini, sangat pantas untuk dirobek!" Joohyuk melayangkan kembali pisaunya dan berhasil menggores bibir Jimin hingga tetes demi tetes darah berubah menjadi aliran yang begitu deras. Sohyun terkesiap dan langsung menghalangi tindakan Joohyuk lebih jauh.

Pakaian Jimin sudah tidak berbentuk lagi. Kaos yang tadinya berwarna biru itu kini menjadi ungu gelap, berpadu dengan warna merah darah yang keluar dari tubuhnya. Sobek di mana-mana, sampai mata Sohyun miris melihat kekasihnya sendiri.

"Jangan sakiti dia, tolong.... Maafkan dia, aku mohon, bunuh aku saja...."

"Membunuhmu?" Joohyuk mendekatkan wajahnya pada Sohyun. Sedangkan, tangan Sohyun tampak menghadang—melindungi Park Jimin yang ada di belakang.

"Tentu aku akan melakukannya, tapi ... aku penasaran. Bagaimana reaksi pria ini jika aku menyentuh miliknya," ujar Joohyuk dengan menyeringai.

"A-apa maksudmu? Apa yang kau bicarakan?"

Sohyun tampak memundurkan dirinya. Ia berjalan menyeret tubuhnya ke samping. Joohyuk terus mendekatinya sementara orang-orangnya yang lain menahan Jimin yang bergerak resah.

"Jangan sok polos, Sohyun! Kau tahu apa yang pria normal inginkan kan?"

Sohyun ngeri melihat Joohyuk yang melepaskan ikat pinggangnya. Tatapan pria itu sungguh seperti iblis. Yang ada di matanya hanyalah sebuah gairah, Sohyun merinding hingga kaku dibuatnya.

"Lepaskan aku!! Sohyun!! Larii!" titah Jimin yang tak dapat diganggu gugat. Pria itu mengabaikan kondisinya yang berdarah-darah. Ditambah lagi, para anak buah itu yang terus memukuli Jimin setiap kali Jimin bersuara.

"Oppa!!" teriak Sohyun dalam tangisnya. Ia menggigit bibir bawahnya. Ia terus menyeret tubuhnya, mundur ke belakang, menjauhi Joohyuk. Namun, ia terpojok. Punggungnya menabrak sebuah tembok yang membatasi pergerakannya.

"Aku mohon, jangan lakukan ini! Aku mohon padamu!!" Sohyun mengemis-ngemis, barangkali Joohyuk mau melepaskannya. Membunuhnya dengan tanpa mengotori tubuhnya. Tapi sepertinya permohonannya sia-sia tak kala tangan jahat lelaki itu menarik pakaiannya hingga robek.

"Lihat dirimu! Kau begitu cantik, kakakmu itu sungguh tidak ada apa-apanya."

Napas Sohyun tercekat, bibirnya gemetaran dan bahkan suaranya tak lagi terdengar. Hanya ada tangisan, tangisan penuh luka yang selama ini selalu ia simpan hingga waktunya tiba.

"Sohyun, silakan kau ucapkan selamat tinggal pada kegadisanmu, saat ini juga ... kau milikku," kata Joohyuk yang diakhiri dengan dirinya yang menanggalkan pakaiannya sendiri. Sohyun merangkak kabur, namun kakinya diseret oleh pria biadab itu. Sohyun dikendalikan di bawah kuasanya. Rambut gadis itu dijambak, pipinya digampar dan Joohyuk langsung menciumi leher Sohyun penuh nafsu. Tangan Sohyun memukul punggung lelaki itu, namun dalam sekejap, Joohyuk juga berhasil menangkap gerakannya dan mengunci tubuh Sohyun dengan kekuatannya.

"Sohyun!!" Jimin sekali lagi berteriak, dan sekali lagi sebuah pukulan mendarat di bagian lukanya. Sekarang, perihnya seperti tersiram air garam. Tapi Jimin tidak peduli, melihat kekasihnya yang diperkosa di depan matanya sendiri, rasanya ia ingin bunuh diri.

Sohyun yang masih sadar mencoba melawan. Saat Joohyuk mulai bermain-main dengan dadanya, gadis itu menggunakan kepalanya untuk menyerang Joohyuk. Sohyun berhasil. Ia membuat Joohyuk kesakitan dan fokusnya teralih kepada kepalanya yang pening itu. Sohyun mencoba berdiri dan berlari ke arah Jimin, tapi Joohyuk sadar lebih cepat. Dengan kakinya, lelaki itu menjegal Sohyun dan menyeret Sohyun kembali.

"Brengsek kau, dasar wanita jalang!"

Joohyuk menemukan sebongkah batu di sekitarnya. Lalu, dengan batu itu, ia memukul kepala Sohyun sampai bertubi-tubi.

"Bajingan!! Apa yang kau lakukan?!" Jimin bergerak gelisah ingin melepaskan diri, tetapi sayang. Jumlah anak buah Joohyuk terlalu banyak untuk ia lawan. Akhirnya, kepala Jimin juga lagi-lagi jadi sasaran. Salah seorang anak buah itu membenturkan kepala Jimin ke lantai, rasanya seperti mau pecah.

"Op-pa," panggil Sohyun terputus. Pandangannya kabur tertutup oleh cairan merah, Sohyun merasa begitu tak berdaya.

"Bagus, mampus kau! Sekarang, giliranku," kata Joohyuk.

Pria itu menelanjangi Sohyun, dan tanpa berpikir panjang memasukkan miliknya ke dalam Sohyun. Sohyun merintih kesakitan. Hatinya hancur berkeping-keping. Selain melihat pria yang ia cintai disiksa, Sohyun juga harus menanggung rasa sakit ini. Ia tak bisa lagi menjaga harga dirinya. Sohyun benar-benar kotor.

Ia tak mampu berbuat apapun saat Joohyuk beberapa kali memompa miliknya dan memaksakannya masuk ke kewanitaan Sohyun. Tangisnya pecah, tapi ia begitu tak berdaya.

Apakah ini akan menjadi akhir hidupnya? Tumbuh dengan menjadi anak yatim, ditinggalkan ayahnya, lalu kehilangan kehangatan keluarga serta orang yang ia kasihi. Dan sekarang, ia pun kehilangan martabatnya sebagai perempuan?

Sohyun, mungkin sebaiknya kau mati saja saat ini. Namun sungguh, jika Tuhan memberimu nasib yang lebih baik, kau bersumpah tidak akan mau hidup dalam keluarga Lee ataupun mengenal Park Jimin dan menerimanya sebagai kekasihmu. Karena kau yakin, dengan menghindari dua takdir itu, hidupmu akan jauh lebih baik.

"Ahh, kau benar-benar nikmat, Sohyun!"

Sohyun merasa jijik saat mendengar pria itu mendesah di atasnya. Ia juga merasa jijik saat dirinya sendiri mengeluarkan suara erangan yang bahkan tidak ia izinkan untuk keluar. Sohyun hanya ingin mati! Mati!

Kalaupun ada orang yang menolongnya saat ini, tentu ia sudah terlambat.

"Brengsek!!! Lepaskan dia, bajingan!"

Mata Sohyun terpejam di saat telinganya mendengar sebuah tembakan. Bersama rasa sakit yang dibawanya, Sohyun tidak sadarkan diri.









Tbc.

Maaf Sohyun, aku setega ini padamu. Tapi alurnya sudah kubuat demikian, jangan marah yaa...🙏🙏





Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top