Bab 1
"Kau tidak pulang?"
"Sebentar lagi."
"Ah, menunggunya, ya? Apa kau tidak tahu?"
"Soal apa?"
"Hari ini dia lembur. Pasti pulang larut malam, sebaiknya kau duluan."
"Benarkah?"
Ia merapatkan kedua bibirnya. Suhu malam di luar gedung mulai membekukan kesabaran. Tidak, bahkan ia sama sekali tidak mengeluh. Meskipun berdiri sekian jam, kakinya tetap akan teguh. Di pikirannya hanya satu, malam itu adalah malam yang spesial. Jadi, ia akan melakukan apapun untuk merayakannya.
Setelah kepergian orang terakhir yang ia temui, ia mulai mendesah, gelisah. Terlihat kuat di luar, namun sebenarnya ia rapuh. Ini tahun kedua, tapi hubungannya tak berkembang barang se-inci pun. Sesungguhnya ia mulai lelah, namun apa boleh buat? Ini kesempatannya merasakan bagaimana menjadi seorang yang sudah memiliki pasangan. Jadi, ia tidak akan berhenti berjuang.
Kim Sohyun, gadis yang menghabiskan 25 tahun hidupnya sebagai seorang mandiri. Hari ini, hatinya merasa nyeri. Ia melangkah dengan tidak pasti, haruskah ia pulang? Atau menunggu lebih lama lagi untuk disakiti?
Sohyun memejamkan matanya. Ilsan sedang diselimuti musim dingin. Tidak baik mengulur waktu berada di luar ruangan. Ia masih waras untuk memikirkan kehidupannya esok hari. Ia tidak boleh sakit kalau masih ingin menemui lelaki paling penting dalam hidupnya. Ia harus tetap sehat dan terjaga.
"Bibi, aku pulang~"
Dibukanya pintu yang memancarkan kehangatan itu. Kakinya melangkah masuk, tak lupa ia melepas sepatunya dan meletakkannya di sudut pintu.
Seorang wanita lima puluh tahunan datang menghampiri. Rambutnya pendek sebawah telinga, tampak keriput mendominasi bagian wajahnya. Namun, senyum wanita itu tak pernah membuat Sohyun bosan. Hari terburuknya mendadak terobati setelah ia memeluk sayang wanita tersebut.
"Aigo ... kau baru pulang? Mau Bibi buatkan sup hangat? Pasti kau kedinginan."
"Tidak, Bi. Aku sudah makan malam tadi. Aku capek sekali, bolehkah aku langsung pergi ke kamar?"
"Tentu, Nak. Harimu pasti melelahkan, sebaiknya kau beristirahat sekarang."
Dengan meninggalkan bekas kecupan di pipi bibinya, Sohyun melanjutkan langkahnya menuju kamar. Kamar yang ia huni hampir delapan tahun ini.
***
Pagi-pagi sekali, Sohyun rela menggerakkan tubuhnya untuk berdiri dan bersiap-siap. Kalau semalam ia gagal, hari ini ia tak boleh gagal lagi. Ia merias wajah seadanya, tak lupa memakai mantel dan mengemasi seluruh perangkat kerja. Ia mengurai rambutnya—hal yang paling disukai kekasihnya.
Dengan menuliskan sebuah notes, dan menempelkannya di pintu kamar sang bibi, Sohyun berpamitan dan tak banyak basa-basi lagi untuk segera berangkat ke kantor.
Sambil menunggu bus, Sohyun mengecek ponsel. Ia memastikan apakah hari ini toko macaroon yang sering ia kunjungi buka atau tidak. Ia tak sabar menunggu jam makan siang nanti.
Sesampainya di kantor, Sohyun mulai mencicil tugas-tugasnya yang kemarin belum terselesaikan. Ia bekerja dengan sangat keras. Apa yang orang bilang bahwa, manusia butuh uang dan uang adalah segalanya, ada benarnya juga. Jika tahu hidupnya tidak akan sesulit itu, Sohyun mungkin sudah abai soal menghabiskan waktu untuk bekerja keras. Ia akan memilih untuk lebih menikmati hidup dan melakukan apapun sesuai keinginannya. Sayang, takdir yang Tuhan tulis untuknya berbeda.
Ia besar di panti asuhan. Tidak pernah paham apa artinya ayah dan ibu, tidak paham arti kata orangtua hingga akhirnya bibi itu menjemputnya. Setelah 17 tahun, akhirnya Sohyun punya keluarga baru. Keluarga yang menerimanya setulus hati dan selalu memberikannya kasih sayang yang tak pernah ia miliki.
Karena usianya sudah kepala dua lebih, Sohyun memutuskan untuk membantu perekonomian keluarganya sebagai bentuk balas budi.
"Sohyun, bisa kau fotocopy-kan berkas ini? Lalu antarkan ke ruangan Sajang-nim."
"Ne, Sunbae."
Hari ini berjalan seperti umumnya. Sohyun yang selalu ramah dengan pekerja yang lain, tidak pernah membiarkan orang lain merasa kesulitan. Ketika mendapat perintah, ia bergegas melakukannya tanpa bertanya. Namun, siapa sangka? Kebiasaanya memang tidak pernah berubah, malah semakin hari semakin beralih menjadi sifat.
"Kim Sohyun! Sudah berapa kali kau mengacau? Anda tahu, ini berkas penting untuk rapat hari ini!"
Sohyun berdiri dengan menundukkan kepalanya. Direkturnya, Seo Kangjoon, menatapnya dengan penuh amarah. Di tangannya, beberapa lembar kertas, dengan tulisan luntur, sudah tidak berwarna putih lagi.
"Bagaimana kau bisa menumpahkan kopi di atasnya, huh?"
"M-maaf, Sajang-nim. Saya sungguh lalai, saya akan segera menggantinya dengan yang baru."
"Haish!! Tidak perlu, kau akan merusaknya lagi. Siklusnya akan selalu begitu! Han Areum, lain kali jangan kau suruh anak ini untuk melakukan tugasmu atau bencana besar akan terus menimpa perusahaanku, mengerti?"
"Baik, Sajang-nim. Maafkan saya."
Beberapa detik kemudian, ketegangan mereda. Kangjoon lenyap di balik pintu ruangannya. Sementara, di sana Sohyun masih berdiri bersama seniornya. Sohyun siap untuk kembali dimarahi.
"Kau ini ... dasar karyawan tidak berguna."
***
"Oppa ...," sapa Sohyun, tangannya melambai saat dilihatnya seorang lelaki bermata angelic berdiri tengah mencari keberadaannya.
Dia yang paling tampan, parasnya seolah tak berhenti berpendar hingga gadis manapun tak luput dari memperhatikan eksistensinya. Sohyun tersenyum kemudian menghampiri sosok itu.
Mereka duduk berhadapan di sebuah meja cafetaria. Sambil menunggu pesanan mereka datang, Sohyun menyerahkan sebuah bingkisan tas berwarna cokelat. Masih dengan wajahnya yang tersenyum bahagia.
"Apa ini?"
Suara tenor dan halus itu mulai bergema, membuat hati Sohyun bergetar seketika.
"Macaroon kesukaan Oppa. Apa Oppa tidak ingat kemarin hari apa?"
Terdiam sejenak. Sorot mata lelaki itu tak teralihkan dari mata Sohyun, terlihat datar. Tapi Sohyun tahu, lelakinya sedang mencoba mengingat-ingat. Menyadari apa yang barusan otaknya pikirkan, Sohyun rupanya sedikit kecewa.
"Oh...." Jawabnya singkat, tak sesuai dengan yang Sohyun harapkan.
"Iya, kemarin adalah hari jadian kita yang kedua," ucapnya spontan, membantu mengingatkan barangkali kekasihnya lupa.
"Aku tahu," sahut lelaki itu agak ketus.
"Oh, ya? Jadi ... apa kejutan yang Oppa siapkan untukku?"
Sohyun merapatkan kedua tangannya di depan dada, seperti posisi orang sedang memohon. Mendengar kekasihnya berkata, "aku tahu", langsung membuat jantungnya mencelos kegirangan. Tidak ada salahnya bukan, seorang wanita meminta sesuatu pada kekasih laki-lakinya?
"Jadi, kamu mau apa?"
Senyum Sohyun mengendur, lalu ia berkata, "ne?" (Maaf?)
"Aku tanya, kejutan apa yang kau minta?"
"Eoh ... Oppa belum menyiapkan apapun untukku?"
"Sohyun, kau tahu aku orang sibuk. Dan maaf, kemarin aku lupa memberitahumu bahwa aku pulang larut."
"Ah, begitu. Tidak apa-apa."
Setelah itu, tidak ada percakapan spesial. Mereka hanya duduk dan makan dengan pikiran yang berkelana masing-masing. Sesekali Sohyun melirik lelakinya. Tidak ada yang kurang. Ia sempurna. Memiliki garis wajah yang tegas, mata yang teduh dan tajam, senyum yang manis dan tubuh yang kekar. Semua yang ada pada lelakinya, baginya sangatlah luar biasa.
Sohyun merasa beruntung mendapatkan lelaki itu sebagai kekasihnya. Tapi, apakah ia sudah mendapatkan hatinya?
Mereka berkencan dua tahun, dan sampai sekarang, Sohyun merasa sama sekali belum mendapatkan balasan atas perasaannya. Bukankah nasibnya cukup malang?
Apakah ini sebuah kisah one-sided love?
"Sohyun," panggil kekasihnya dengan suara yang khas.
"Ya?"
"Ada sesuatu yang ingin aku sampaikan. Kau jangan salah paham."
"Apa itu, Oppa?"
"Kau tahu kan, kedudukanku di kantor cukup dihormati. Kau juga tahu, aku adalah tangan kanan Sajang-nim. Meskipun kita menjalin hubungan, bukan berarti kau bisa bertingkah seceroboh ini. Apa kau pagi ini membuat masalah lagi?"
"Ah ... itu ... mian."
"Aku lelah mendengar kata maaf darimu. Sohyun, aku cuma minta satu hal. Mengertilah keadaanku. Kalau Sajang-nim terus memarahiku perkara dirimu, posisiku di kantor ini lama-kelamaan semakin terancam. Kau sama saja menjatuhkanku Sohyun."
"Mian, Oppa. Aku tidak bermaksud begitu, aku–"
"Lupakan. Aku cuma mau, kau lebih hati-hati ke depannya. Arasseo?"
Sohyun mengangguk dengan pasrah. Jujur, ia pun tidak senang dengan karakternya yang ceroboh. Gara-gara sifat itu, kekasihnya selalu terlibat masalah.
"Aku akan kembali."
"Oppa! Macaroon-nya...."
"Ambil saja, aku kenyang."
Sesak. Dada Sohyun terasa sesak setiap kali kekasihnya bersikap tak peduli. Perlahan, air mata tampak menetes melewati kedua pipinya. Buru-buru Sohyun menyekanya sebelum semua orang menjadikan ia sebagai pusat perhatian.
Sohyun, kau pasti bisa mendapatkannya! Hwaiting!
***
"Yeobo."
"Yeobo!! Apa kau mendengarku?"
"Hyah.... Kau menolakku?"
"Halo?! Ck, ada apa dengan orang-orang di rumah ini?"
"Minhyuk! Berhenti mengganggunya!"
"Eomma, aku berusaha menjadi keluarga yang ramah. Apa aku salah?"
"Kau tidak lihat? Sohyun sedang tidak baik-baik saja. Biarkan dia begitu, sampai kau menemukan saat yang tepat untuk bercanda."
"Eomma.... Kau sungguh tidak seru!"
Mengabaikan kata ibunya, Minhyuk justru berjalan mendekati Sohyun dan merangkul pundaknya dengan ketat. Sohyun yang asyik melamun menjadi sangat terkejut.
"Kkamjjakya, Oppa! Ah, kau ini kenapa? Mengagetkanku saja!"
"Kau sedang memikirkan apa, Yeobo?"
"Berhenti memanggilku begitu, kau membuatku merinding."
"Yah, lihat mereka."
Sohyun mengikuti ke mana arah telunjuk Minhyuk. Di sana tengah duduk dua orang manusia berbeda jenis kelamin dan usia.
"Apa kau tidak kasihan padaku? Aku hidup di antara dua patung es, dan sekarang kau pun sama dengan mereka, huh?"
"Aniyo, Oppa. Jangan berkata begitu, aku tetap ramah padamu. Aku janji tidak akan seperti mereka."
"Adik yang penurut," kata Minhyuk dengan lega. Tangannya mengelus puncak kepala Sohyun seperti ketika ia memanjakan anjing poodle-nya.
"Apa yang terjadi? Apa dia menyakitimu lagi?" tanya Minhyuk tepat sasaran.
Tidak perlu bertanya untuk mengetahui sesuatu yang mengusik hati Sohyun karena mereka sudah tinggal bersama selama delapan tahun. Lelaki 27 tahun itu tahu segalanya.
"Oppa, apapun yang terjadi, kau percaya 'kan? Aku tidak akan pernah berhenti berjuang. Siapa pun tidak akan bisa menghalangiku untuk mendapatkannya, meskipun itu sifatnya yang kasar dan sering menyakitiku."
Sohyun berucap dengan menggebu, kedua tangannya mengepal dan matanya menatap ke langit-langit ruangan.
Minhyuk sedikit menyunggingkan bibirnya. Rasa bersalah lumayan menyita ruang di rongga hatinya. Tapi, memperhatikan betapa Sohyun sangat bersemangat, perlahan ia mulai terpengaruh. Tidak ada gunanya memendam rasa bersalah itu terus-menerus. Tanpa ada tindakan, itu hanyalah hal yang sia-sia.
"Gadis yang baik," puji Minhyuk.
"Aw!"
Tak lama kemudian, suara Minhyuk yang mengaduh kesakitan mulai memenuhi ruangan. Semua orang menatapnya risih, kecuali Sohyun.
"Noona! Kenapa kau menendang pantatku?"
"Ini tempatku, dasar kunyuk!"
"Aish! Aku meminjamnya bahkan tidak lebih dari lima menit, kau menyebalkan sekali!"
"Sudah! Menyingkir sana!"
Sohyun menepuk pundak Minhyuk dan memberinya isyarat melalui mata, "sudahlah Oppa, kau pindah saja atau hari ini ajalmu akan tiba."
"Aigo! Aku benar-benar tidak habis pikir. Punya Noona yang seperti preman dan seorang adik laki-laki penggila komik."
"Pindahlah, Oppa ...," bisik Sohyun.
"Iya-iya! Aku pindah!! Aish!"
Sang Bibi menatap keempat anak-anaknya yang duduk mengitari makanan. Kepalanya tergeleng-geleng. Hanya Lee Minhyuk, anak keduanya, yang mewarisi sifat-sifatnya. Sementara, kedua anaknya yang lain sangat mirip dengan almarhum suaminya. Begitu dingin dan tak tersentuh.
Sejenak kemudian, ia melirik ke arah Sohyun. Ada sebuah kebahagiaan yang ia rasakan ketika mengingat bahwa delapan tahun lalu ia membawa Sohyun ke rumahnya. Sungguh ia tidak akan pernah menyesal. Karena, kehadiran Sohyun membuat rumahnya jauh lebih bernyawa.
***
"Katakan, ada perlu apa menemuiku? Jam kerjaku sedang menunggu."
"Jangan pura-pura tidak tahu. Hei, kita bersahabat dari sekolah dasar. Mengerti maksudku, 'kan?"
"Jika kau kemari karena memohon padaku untuk terus bersikap baik padanya, lebih baik pulanglah."
"Jimin, apa salahnya kau terima perasaan Sohyun? Bukannya ini terlihat aneh? Kalian kencan sudah dua tahun, tapi kau masih saja tidak bisa menaruh hati pada adikku."
"Minhyuk, kami pacaran, itu bukan mau kami kan? Jadi jangan salahkan aku atas semua hal. Aku pun sudah lelah berusaha."
Minhyuk menghela napas, ditepuknya kedua bahu milik Park Jimin.
"Sohyun-ku bahkan tidak pernah lelah mengejarmu. Apa kau tidak bisa memberinya kesempatan?"
"Banyak. Aku memberinya kesempatan sudah banyak kali, tapi dia sendiri yang menolakku."
"Maksudmu?"
"Minhyuk, aku masih seorang pria normal. Masih tidak paham?"
"Karena itu kau terus bersikap dingin padanya?"
"Bukan hanya itu! Sudahlah, kau tidak akan mengerti. Sebaiknya kau pulang atau lanjutkan cari pekerjaan. Ingat, umurmu sudah semakin tua, kau harus punya tabungan untuk menikah dan punya anak."
"Aish, sialan kau!"
Begitulah ragam cinta. Terlihat dangkal, namun banyak misteri yang perlu digali. Minhyuk adalah media perantara untuk Kim Sohyun dan juga Park Jimin. Tapi, lelaki itu tak akan pernah tahu apa yang terjadi akibat permintaan konyolnya tempo dulu. Oleh sebab itu, Minhyuk perlu menyelam hubungan tak hidup di antara Sohyun dan Jimin dan mencari cara untuk menyelamatkannya.
Minhyuk percaya, masih ada harapan untuk adiknya dapat hidup bahagia.
***
Episode perdana neh...
Ya udah deh, aku pake Jimin :") My baby sweety ...
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top