35. Protelum

-Teammate-

~♥Happy-Reading♥~

.

.

.

RamayanaKrissandy~ telah membuat grup "Aliansi Shinobi"

RamayanaKrissandy~
menambahkan
MicheliaArsyakayla~ EdwardianNusantara~
CassythaEarline~
ErvanaArystia~
RanayaChandrakirana~

Tim Aliansi Shinobi (6)
Grup Chat

RanayaChandrakirana~
Grup apa ini?

RamayanaKrissandy~
Tim kemenangan Rean

RanayaChandrakirana~
Terus kenapa nama grupnya Aliansi Shinobi?

RamayanaKrissandy~
Karena Rean ninja

RanayaChandrakirana~
Unfaedah

EdwardianNusantara~
Iyakan saja Nay, biar cepat kelar urusannya

CassythaEarline~
Aku nggak paham

ErvanaArystia~
Mungkin maksud Rama motornya Rean motor ninja, Cassy

RamayanaKrissandy~
Duh, Erva bikin ngakak! Aku hampir keselek cilok nih!

RamayanaKrissandy~
Tapi benar juga, sih! Pikiran Erva memang beda! Btw ada yang mau cilok? Aku beli satu gerobak tadi

EdwardianNusantara~
Banyak amat!

RamayanaKrissandy~
Penjualnya kakek-kakek sih, aku jadi ingat kakekku

ErvanaArystia~
Aku mau, Rama!

RamayanaKrissandy~
Oke, Va. Nanti Kak Arya yang bawa ke kosanmu

ErvanaArystia~
Hah?! kok Pak Arya, sih!

RamayanaKrissandy~
Sekalian dia yang mau keluar. Sudah, jangan sungkan. Ini di luar kampus kok, anggap saja Kak Arya itu kurir. Aku saja titip nasi padang

MicheliaArsyakayla~
Oh, jadi begini ya kerjaan kalian! Menistakan dekan! Ckckck

CassythaEarline~
Kak Riva?

MicheliaArsyakayla~
Ku screenshoot buat Arya, nih!

ErvanaArystia~
Huhu jangan dong, Kak Riva!

MicheliaArsyakayla~
Hihi nggak kok, Va. Maaf, tadi Kak Riva yang balas. Kak Riva bilang Rean setuju untuk bicara di kantornya besok

EdwardianNusantara~
Syukurlah, Rean juga baru saja tiba

RamayanaKrissandy~
Oke. Kita undang Rean saat masalah ini selesai nanti. Sekarang aku tambahkan anggota baru dulu.

RamayanaKrissandy~ menambahkan
RafianDirgantara~
RafandiCakrawala~

RafianDirgantara~
Selamat datang di welcome!

RafandiCakrawala~
Member baru jangan sungkan, ya!

CssythaEarline~
Harusnya kita yang bilang!

RafandiCakrawala~
Nama grupnya dong, Aliansi Shinobi! Berasa satu akademi sama Sasuke!

RamayanaKrissandy~
Upin-Ipin road to Ninja 🤣🤣🤣

EdwardianNusantara~
WTH

RamayanaKrissandy~ menambahkan RumyAdyaksyah~

RumyAdyaksyah~
Halo semua! Terima kasih sudah diundang

MicheliaArsyakayla
Selamat bergabung, Rumy

RafandiCakrawala~
Kalau ini sih Saitama nyasar ke dunia shinobi

RafianDirgantara~
Duh! pantas kayak silau, ada Rumy ternyata!

RanayaChandrakirana~
Daripada ribut nggak jelas, mending kalian kerja TP!

RumyAdyaksyah~
Ini juga sedang usaha, Nay

CassythaEarline~
Usaha kerja sendiri?

RumyAdyaksyah~
Usaha cari jawaban hehe. Bagi jawaban dong @MicheliaArsyakayla

RamayanaKrissandy~
Buset! Saitama kw super ini ditinggal sebentar sudah main tag2 saja!

RumyAdyaksyah~
Cuma tag Chelia saja elah!

MicheliaArsyakayla~
Boleh, nanti kukirim di sini

RafandiCakrawala~
Tunggu! Memangnya ada TP?

RafianDirgantara~
Sejak kapan?

EdwardianNusantara~
Kalian berdua ke mana saja! Kita ada TP untuk asistensi besok!

ErvanaArystia~
Hah? Besok asistensi?

EdwardianNusantara~
ಥ⌣ಥ

⚛⚛⚛⚛⚛

Ada satu sisi buruk tentang cinta. Bahwasanya, ia melemahkan. Kasih yang terlampau besar, rasa takut akan kehilangan, kecemburuan, dan sikap posesif adalah beberapa emosi negatif yang bermuara dari kasih sayang. Tidak sedikit orang yang menyalahi aturan bahkan menentang kebenaran untuk melindungi orang yang mereka cintai. Setidaknya begitulah paham seorang manusia yang kekurangan asupan kasih sayang seperti Mahesa.

Mahesa duduk menopang dagu sambil tersenyum miring. Ia telah berhasil memanfaatkan efek samping dari rasa cinta itu untuk mempertahankan kedudukannya. Kelurusan hati Rean dan keteguhan Rama serta persahabatan di antara keduanya yang sempat membuatnya kewalahan bahkan kehabisan cara, sekarang dijadikannya senjata untuk menyerang balik. Tidak sia-sia aksinya membuntuti Rama di hari itu.

Mahesa merasa di atas awan dengan keadaan sekarang. Sebab bagaimana pun keputusan Rean nanti, semua akan berdampak buruk pada posisi lawan politiknya itu.

Drrt ... Drrt ... Drrt ....

"Sial! Bikin kaget saja!" Mahesa mengumpat pada ponselnya yang bergetar. Sekilas ia membaca nama yang tertera di layar lalu sambil mengertak ia membalas sapaan dari seberang.

"Rean belum memberi tanggapan sama sekali. Bahkan ia tidak kelihatan di kampus, padahal kelasnya sedang ada kegiatan," lapor si penelepon. "Tapi Rama dan kawan-kawannya kelihatan baik-baik saja."

Rahang Mahesa menegang mendengarnya. "Sepertinya kita harus menjalankan rencana B."

"Apa maksudmu?"

"Kamu ingin hasil karyamu sia-sia?" Mahesa balik bertanya. "Tuhan tidak suka orang yang mubazir, bukan?"

"Jangan bilang kamu akan一"

"Kalau Rean tidak memberi keputusan, maka kita yang tetapkan putusan untuknya." Mahesa tertawa rendah lalu mengakhiri panggilan telponnya dengan seringaian licik.

"Maaf saja Rean, tapi aku akan membuatmu menyesal, bahkan bila kamu tidak mengambil keputusan sama-sekali."

Tangan Mahesa kembali mengutak-atik ponsel. Sudut bibirnya tertarik setengah begitu panggilannya langsung mendapat jawaban.

"Halo, Kak Imam. Aku ada berita bagus untukmu."

⚛⚛⚛⚛⚛

Bila bagi pelajar lain akhir pekan adalah waktu untuk beristirahat dan bersantai, maka lain halnya dengan mahasiswa farmasi. Tak jarang dua hari di penghujung minggu itu digunakan untuk menyambung kuliah atau melakukan persiapan prapraktikum.

Seperti yang terjadi di akhir pekan kali ini. Setelah kemarin wajib menghadiri kuliah tambahan, di hari minggu yang bersahaja mereka harus mengikuti asistensi umum untuk blok percobaan baru.

Gio menyampirkan jas praktikumnya dengan setengah merutuk. Asistensi mereka baru saja selesai, bersamaan dengan babak terakhir pertandingan sepak bola antar kampus. Ia melewatkan tiga perempat bagian pertandingan untuk mendapatkan informasi.

"Aku harus memberi laporan apa! Dokumentasi saja tidak punya!" Gio bangkit dari pinggir lapangan dan berniat untuk kembali ke fakultas saat matanya menangkap si kembar Rafa dan Rafi yang saling berembuk. Cukup mudah mengidentifikasi mereka di tengah kerumunan orang. Mereka masih mengenakan jas praktikum yang sejatinya tidak digunakan di luar laboratorium.

"Rafa! Rafi!" tegur Gio pada keduanya bergantian.

Rafa menoleh, "Kamu salah. Aku Rafa, dan ini Rafi."

"Betul, betul, betul! Ini kisah kami-"

"Kalian berdua di sini juga?" potong Gio membuat Rafi cemberut. Rafa pun memukul Gio sebagai balasan karena telah melukai perasaan adik kembarnya.

"Jangan potong pembicaraan adikku!"

"Iya, deh. Sorry." Gio memutar mata, balas berdebat. "Kalian buat apa di sini?"

"Jualan manisan," jawab Rafa cuek.

"Aku serius!"

"Ya kita ke sini buat nonton, lah!"

"Kalian bolos?" tanya Gio tak percaya. Seingatnya ia melihat Rafa dan Rafi saat asistensi tadi.

"Jangan negative thingking dulu, Giok! Kita nggak bolos, kok."

"Berarti kalian cuma lihat babak terakhir juga, kan?"

Rafa dan Rafi kompak mengangguk. "Tapi kami punya rekamannya!" seru keduanya bangga.

"Bagaimana bisa? Siapa yang merekam?"

"Kipernya!" Rafa bersungut.

Gio berdecak. "Bisa tidak kalian berdua serius sedikit?"

"Pakai bertanya segala, sih! Ya, jelas kami berdua yang rekam!" Rafa mendengus.

"Kami izin bergantian," jelas Rafi tanpa diminta.

"Jadi respon lisan kalian tadi bagaimana?"

Rafa merangkul Rafi. "Itu gampang!
Waktu pretest Rafi yang tinggal di lab. Aku masuk saat postest."

Gio mengernyit, tidak mengerti.

"Lihat!" Rafa menunjuk name-tagnya. "Aku siapa?"

Gio mendesis. "Rafa!"

Rafa lalu menukar name-tagnya dengan milik Rafi. "Nah, sekarang aku siapa?"

"Dasar licik! Pantas pakaian kalian kembar begitu!" rutuk Gio saat paham akan trik saudara kembar culas tersebut. Pantas saja Rafa dan Rafi seragam dari ujung kaki hingga ujung rambut. Bahkan gaya rambut mereka dibuat serupa.

Rafa dan Rafi hanya tertawa.

"Ah, ngomong-ngomong rekaman kalian boleh kuminta?"

Rafa menyengir. "Boleh. Tapi bayar seribu."

"Per satuan kilo byte," sambung Rafi.

"Kalian mau naik haji, apa!" Gio merungus lalu berbalik, namun dua kembar identik itu menariknya bersamaan.

"Jangan merajuk begitu! Kita nonton bareng, deh!"

Sejujurnya Gio tidak ingin membuang waktu, namun ia perlu menyaksikan pertandingan tadi untuk membuat laporan. Dengan sangat terpaksa ia pun mengikuti Rafa dan Rafi dan berakhir di warung pak Mamang.

"Yakjuj! Makjuj! Batu Giok! Sini!"

Bukan hanya Gio, hampir seluruh manusia di sana menoleh ke arah sumber suara. Pada Rama yang melambai-lambai ke arah mereka.

Gio melirik Rafa dan Rafi yang tetap kegirangan meski dipanggil dengan sebutan yang sangat tidak wajar itu.
Ia lalu mengikuti keduanya menuju salah satu meja di mana Rama dan kawan-kawannya duduk melingkar, tanpa Edward dan Rean.

"Rean tidak masuk, ya?" tanya Gio hati-hati. Ia sudah menduga ada masalah dengan kelompok tersebut perihal Rean. Insting informannya yang siap siaga memantau situasi menangkap kejanggalan saat Rean tidak duduk di sebelah Rama dan Edward di kelas prof. Attar kemarin.

"Ya, Rean sedang izin untuk hari ini."

Biasanya Gio akan menggali informasi lebih lanjut. Namun karena ia tidak ingin merubah suasana, ia memilih mengunci mulut kali ini.

"Rafa, Rafi, duduk di sini." Chelia menarik bangku untuk Rafa dan Rafi agar satu tempat kosong di sebelah Naya bisa diisi oleh Gio.

"Astaga! Kamu benar-benar hebat, Chelia. Kamu bisa membedakan aku dan Rafi, padahal kami sudah tukaran papan nama.

"Tukaran papan nama? Ada-ada saja!" cerca Naya berusaha menutupi rasa gugupnya saat Gio duduk di sebelahnya.

"Awas lho, nanti malaikat maut salah orang!" Rama menyegir.

"Memang malaikat maut mencabut nyawa berdasarkan nama?" Cassy menggeleng.

"Aku pernah baca cerita yang seperti itu. Malaikat maut sebenarnya punya sekertaris yang mencatat nama orang-orang yang akan mati."

"Itu cerita fiksi!"

"Ya, siapa tahu saja." Rama menyengir lalu beralih pada Rafa dan Rafi yang sibuk mengamati menu.


"Kalian mau minum apa? tanya Erva yang terhambat mencatat pesanan karena Rafa dan Rafi bingung ingin memesan minuman rasa cokelat dengan topping vanila, atau minuman rasa vanila dengan topping cokelat. Walau pada akhirnya mereka memutuskan memesan es kelapa muda karena tidak mencapai mufakat.

Tak lama, pak Mamang kemudian datang dengan membawa nampan berisi beberapa gelas minuman.

"Terima kasih, Pak Mamang!" Cassy tersenyum lebar para pria paru bayah tersebut. Warung pak Mamang sebenarnya sangat biasa, jauh dari kesan high class restoran mewah tempat keluarganya sering berkumpul. Keramahan pak Mamanglah yang membuatnya betah.

"Sama-sama, Non. Ini gula merah sama sirupnya, kalau kurang manis tinggal ditambahkan saja."

Rafa mengaduk cairan gula merah kental itu sambil berujar, "Pak Mamang tidak usah repot-repot, nanti rugi. kalau tidak manis tinggal lihat senyumku saja."

"Biar apa?" Rafi sengaja bertanya.

"Biar manis, dong!"

"Kalau begitu lihat Naya juga." Rafi melirik Naya.

"Biar apa?" giliran Rafa yang sengaja bertanya.

"Biar jadi pedas manis!"

Naya melempar tisu pada Rafa dan Rafi namun nyasar mengenai wajah Gio.

"Maaf!" Naya berdeham. "Salah sendiri sih, ada di situ."

"Nggak apa-apa Nay, aku nyaman kok di sini."

Naya memutar bola matanya, berpura-pura kesal. "Geser sedikit dong, Rama! Sempit nih!" katanya ketus dengan menyenggol Rama yang sedang menyuap es kelapa perdananya.

"Duh, Naya! Bisa nggak, kamu kalau bicara nggak ngegas begitu? Kamu ini manusia, bukan LPG! Tumpah, nih!" Rama melepas kemejanya dan meratapi serutan kelapa muda yang jatuh di lantai.

"Oh, itu Eddy!" Erva berseru.

Rama langsung memutar kepala, menemukan Edward dan Rumy yang berjalan ke arah mereka.

"Buset, silau men!" Rama menutup matanya begitu pancaran sinar matahari memantul sempurna di kepala Rumy yang licin.

"Silau?" ulang Erva.

"Tuh, kepala Rumy!" Rama menyipitkan mata.

Rafa mengamini. "Kingclong banget! Kalau istilah cewek-cewek sih, glowing!"

"Rumy, glowing?" Cassy tampak tak terima.

"Kepalanya iya, mukanya sih gloomy," timpal Rafi. "Itu kepala atau lampu taman kota, sih!"

Rama berdecak. "Aku yakin selain efek rumah kaca, efek pantulan kepala Rumy juga menjadi penyebab utama pemanasan global saat ini!"

Dari jauh Edward mendengus begitu melihat teman-temannya berkasak-kusuk. Mereka pasti sedang membicarakan kepala Rumy lagi!

"Boleh gabung, nggak?" izin Rumy masih merasa sungkan.

"Nggak boleh, harus registrasi dulu!" Rama menghentakkan kepala. "Jelas boleh, lah! Pakai minta izin segala. Ini bukan konferensi meja bundar, santai saja!"

Chelia menyodorkan segelas es kelapa muda pada Edward. "Maaf yah Rumy, kita nggak tahu kamu akan gabung. Mau pesan apa?"

"Air putih saja," tutur Rumy dengan senyum kecut.

"Dih, nggak berwarna amat!"

Rumy melotot pada Rama. "Teh tawar, deh."

"Dih, nggak berasa amat!"

"Teh manis saja kalau begitu."

"Sok manis banget!" tandas Rafa dan Rafi berbarengan.

Rumy hendak protes, namun Rama sudah lebih dulu berdiri dan melambai pada pak Mamang. "Pak, tolong tambah es kelapa mudanya satu gelas lagi."

"Aku nggak pesan es kelapa muda!"

Rama mendecakkan lidah. "Jangan banyak protes deh, Saitama kw super! Aku yang bayar, kok. Kamu tinggal minum saja."

Rumy akhirnya mengangguk kikuk, sejujurnya ia sangat tergoda melihat kesegaran es kelapa muda di siang hari yang terik begini. Tapi apa daya, uang bulanannya sudah ludes karena membeli buku dan kuota untuk mencari jurnal.

"Kita punya masalah serius!" Edward yang baru duduk membuka pembicaraan. "Kabarnya jurusan kebidanan memihak Mahesa! Padahal mereka sebelumnya lumayan netral!" jelasnya setengah berbisik.

"Kita butuh seseorang yang punya akses dalam himpunan mereka!" Rumy menambahkan.

"Aku saja!"

Seluruh perhatian beralih pada Gio.

"Ma-maksudku aku tahu banyak anak-anak di himpunan itu."

"Cih! Mentang-mentang anak kebidanan cewek semua!" Rafa dan Rafi mencibir.

"Bukan begitu!" Gio melirik Naya yang langsung memalingkan wajah saat mereka bertemu mata. "Maksudku ... siapa tahu aku bisa membantu kalian."

"Kamu serius ingin membantu?"

Gio menoleh pada Rama. "Kalau kalian tidak kebera--"

"Bergabunglah bersama kami."

"Hah?" Gio termangu saat Rama mengulurkan tangan padanya. "Bergabunglah sebagai tim kemenangan Rean."

"Tim kemenangan?"

"Ya. Kami memang ada sedikit masalah dengan Rean. Tapi masalah ini akan segera berakhir. Kami membuat kelompok ini sebagai dukungan untuknya."

Edward mengiyakan Rama. "Bagaimana, Gio? Ini grup tertutup. Tidak sembarang yang menjadi anggota. Kami baru membentuknya kemarin malam."

"Betul! Masih hangat seperti bakwan yang baru diangkat dari penggorengan. Aku dan Rafi sudah menjadi anggota. Si bokis ini juga." Rafa merangkul Rafi dan Rumy.

"Ayolah, Gio. Jangan malu-malu harimau begitu!"

Entah apa yang merasuki Gio sampai ia lupa pada janjinya untuk setia pada Notix dengan tidak bergabung dengan kelompok politik manapun. Tanpa sadar kepalanya mengangguk.

Tring! Notifikasi ponsel Gio berdering.

Rafandi Cakrawala mengundang anda ke dalam grup

Aliansi Shinobi (9)

RamayanaKrissandy~ dan 8 lainnya merupakan anggota

"Aliansi Shinobi?"

"Ya, nama grup kita."

"Hitung-hitung menyamarkan identitas," jelas Edward berusaha membuat nama grupnya yang absurd terdengar masuk akal.

Gio menarik napas dalam-dalam dan mengamati satu persatu anggota kelompok barunya yang beragam. Begitu warung pak Mamang ramai pengunjung, ia mendapati kesemuanya lekas menghabiskan minuman mereka dan membagi tugas.

Chelia dan Erva membantu pak Mamang menyiapkan minuman. Naya dan Cassy mencatat pesanan orang-orang sementara Rama dan Edward mengatur kursi. Rafa dan Rafi yang sudah putus urat malunya berteriak-teriak heboh di depan warung untuk menarik pelanggan.

"Es kelapa muda Pak Mamang! Segar dan sehat!"

"Sudah teruji klinis di laboratoriun mikrologi farmasi!'

Gio tersenyum kecil melihat Rama dan teman-temannya yang ringan tangan dalam membantu. Ia kemudian bergegas membantu Rama dan Edward sesaat setelah menekan tombol persetujuan di ponselnya.


Aliansi Shinobi (9)

GiordanoOktavinanus~
bergabung dengan grup

☕☕☕

TBC

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top