27. Climacter☕

-Starry Night-

Karena persahabatan kita menembus batas dimensi ruang dan waktu

-Nadella Adannaya-

~♥Happy-Reading♥~
Silakan putar musik multimedia untuk meresapi ceritanya

Pada kenyataannya, garis kehidupan bukan berupa baret lurus monoton. Tuhan mengukirnya dalam bentuk kurva, kontinu nan fluktuatif. Adakalanya menanjak setengah mati lalu menukik turun tanpa aba-aba, kadang pula melesat ke atas begitu saja dan menurun perlahan. Tak terkira maupun terprediksi.

Arya sangat fasih mengerjakan integral persamaan kurva dalam berbagai fungsi, namun sekali pun tidak pernah bisa menjabarkan bagaimana sang pencipta merumuskan kurva takdirnya.

Titik di mana terjadi perubahan signifikan pada gradien kurva kehidupan itu disebut Arya sebagai waktu kritis. Masa transisi di mana berlangsung sebuah peristiwa yang berdampak besar pada keseimbangan takdir seseorang, baik yang memiliki implementasi positif, maupun yang membawa implementasi negatif.

Arya telah melalui beberapa periode masa transisi dalam hidupnya. Saat Rama lahir dan mewujudkan mimpinya untuk menjadi seorang kakak, ketika keluarganya diguncang masalah yang berakhir dengan perpisahan kedua orang tuanya, juga waktu di mana ia ditinggal sang ibu yang telah berpulang ke haribaan Tuhan.

Arya pikir masa-masa kritisnya sudah berakhir begitu kurva kehidupannya kembali menemukan jalan menuju puncak. Menjadi ketua Senat Fakultas, mendirikan Notix, menjadi lulusan terbaik universitas dengan masa studi kurang dari tiga tahun dan mendapatkan beasiswa berprestasi untuk melanjutkan kuliah di luar negeri.

Sayang, titik balik itu kembali hadir, entah dirinya memang tidak ditakdirkan untuk hidup bahagia, atau ditakdirkan untuk hidup dengan tidak menikmati kebahagiaan.

Sebuah luka dalam kembali tertoreh di hatinya sekitar 6 tahun silam. Saat Arya yang telah hampir 1 tahun menempuh kerasnya pendidikan di negeri orang kembali menapakkan kaki di tanah kelahirannya. Arya masih ingat jelas betapa menakjubkan perubahan kotanya kala itu. Namun sebuah pemberitahuan via telepon dari Riva berhasil membuatnya bergegas menuju rumah sakit tanpa sempat menaruh rasa kagum pada metamorfosis besar tersebut.

Akses layanan video call saat itu belum semudah sekarang, namun Riva yang terisak di seberang sana cukup meyakinkan Arya bahwa kabar yang diberitahukan sahabatnya itu bukan hoax semata, atau semacam trap sebagai sambutan untuk kedatangannya.

Setiba di rumah sakit, Arya berlari sekuat tenaga menuju ruang Intensive Care Unit. Degup jantung, deru napas, dan derap langkahnya menyatu, saling beradu dan menggema di sepanjang koridor.

Kecelakaan kerja di laboratorium. Nadella kritis. Rumah sakit ayah Vian.

Arya terus berlari. Pikiran dan perasaannya sangat kacau. Lorong rumah sakit mendadak terlihat menyempit dan memanjang. Arya bisa melihat bulir-bulir kristal air matanya berhamburan lalu menghilang menjadi kepingan berkilauan saat bertubrukan dengan udara. Langkahnya pun tertahan. Arus waktu disekitarnya seolah melambat, memaksanya untuk menikmati rasa sakit yang mendera detik demi detik.

"Arya!" Afri menyambut Arya dan memapahnya hingga sampai di pintu utama ruang ICU. Beberapa teman jurusan Della telah menunggu di sana.

"Bagaimana Della?" Arya berujar parau.

Afri dan teman-temannya saling melempar pandangan.

Arya mengguncang bahu Afri yang membungkam. "Bagaimana keadaan Della?! Aku bertanya!"

"Untuk sekarang ...," Afri mengulur waktu, mencoba menemukan kalimat yang tepat, "kita hanya bisa mendoakan keselamatannya."

Deg! Hati Arya teramat perih mendengar penuturan Afri. Tanpa menunggu lagi ia memaksa masuk, menerobos perawat yang berjaga di balik pintu.

"Biarkan dia masuk." Seorang pria yang mengenakan jas putih, berbadan tegap, dan penuh wibawa menarik Arya dari dua perawat laki-laki yang mencekalnya. Dia adalah ayah Vian, dokter kepala di rumah sakit tersebut.

Arya hanya membungkukkan badan sebagai tanda terima kasih kemudian berjalan dengan kaki gemetar ke salah satu bilik yang dibatasi dinding kaca.

"Della ...."

Arya terpaku, air matanya tumpah ruah begitu melihat Nadella terbaring lemah dibantu serangkaian alat ventilator. Matanya terpejam erat sedang bibir mungilnya yang senantiasa tersenyum kini mengatup rapat dan membiru, seperti detak jantungnya terlalu lemah untuk mengaliran darah sampai ke sana.

Di sebelah Nadella, Riva sesunggukan sambil menggenggam tangannya. Adapun Vian terduduk di lantai dengan tatapan kosong, matanya sembab dan penampilannya berantakan. Baru kali ini Arya mendapati kedua sahabatnya itu dalam kondisi sedemikian kacau.

Arya menyeret kakinya untuk mendekat. Riva yang baru menyadari keberadaanya lekas berdiri dan menyambutnya.

"Welcome home ...." Riva berusaha tersenyum dengan bibir bergetar. "Maaf tidak menjemputmu. Della ...."

Arya memeluk Riva yang tidak sanggup melanjutkan kalimatnya. Isakan Riva membuat air matanya turut mengalir deras. Arya bisa melihat Vian yang menunduk dengan bahu berguncang. Sebenarnya ia pun ingin menghampirinya, namun dokter koas itu masih terlihat syok. Arya paham betapa terpukulnya mereka berdua yang setahun belakangan ini masih terus bersama Nadella.

Riva melonggarkan pelukannya, memberi ruang bagi Arya untuk menghampiri Nadella.

"Del ... ini aku, Arya. Aku pulang Del ...," bisik Arya di telinga Nadella sambil menyapu rambut di dahinya yang begitu dingin. Sebelah tangan Arya menggenggam tangan Nadella, meletakkannya di dadanya. Berharap denyut jantungnya bisa merambat, membagi frekuensi untuk gelombang EKG Nadella yang begitu lemah.

Tidak ada jawaban maupun pergerakan. Hanya irama rekam jantung di layar bedside monitor yang menegaskan bahwa Nadella masih berada di tengah-tengah mereka.

"Del ... bangun." Arya menggenggram erat tangan Nadella. "Bukankah kamu ingin menyusulku ke Oxford bersama Riva dan Vian? Kita akan bermain salju dan keliling Eropa sama-sama, kan?"

Mendengar Arya bermonolog sendiri membuat Riva makin tersedu.

"Aku membawakanmu banyak oleh-oleh, Del. Aku juga membawa simplisia daun mapple seperti yang kamu minta. Kamu akan membuat ekstraknya, kan? Kamu akan menemukan senyawa baru anti-resistensi itu, kan?" Arya memeluk Nadella. "Kumohon, bangunlah Della ...,"

Vian tersenyum kecut. Ia pernah menertawai mimpi Nadella itu, bahkan menyebutnya tidak mungkin terjadi. Sekarang ia termakan kata-katanya sendiri. Melihat Nadella dengan harapan hidup sangat rendah membuatnya hatinya hancur berkeping-keping. Sesaat setelah kembali menunduk, Vian seketika menengadahkan kepala lagi. Memastikan apa yang dilihatnya barusan tidak salah. Jari tangan Nadella bergerak.

"Della sadar!" terdengar Riva berseru. "Della membuka mata!"

Vian langsung bangkit, memberanikan diri menghadapi Nadella yang tampak kepayahan menyesuaikan pernapasaannya.

Arya menghapus jejak-jejak air matanya dan membantu Nadella menggerakkan tangannya yang begitu lemas.

"Jangan dilepas, Della ...," tutur Arya lembut, berusaha menghalangi Nadella yang ingin melepas sirkuit napasnya. Namun Nadella bersikeras, terlihat ia ingin mengatakan sesuatu.

Seorang perawat bergerak untuk mengambil tindakan, namun ayah Vian menahannya.

"Tapi, Dokter ...."

Ayah Vian menunjuk monitor pasien dengan isyarat mata. Perawat tersebut memandang sedih parameter-parameter di sana yang jauh dari standar kehidupan.

"Red flag," lirik Ayah Vian.

Beberapa dokter yang berada di sana berbalik spontan. Red flag adalah kode untuk pesan jangan mencoba resuitasi. Perintah agar tidak melakukan upaya penyelamatan dalam bentuk apapun.

"Dengan mempertimbangkan keadaan pasien." Ayah Vian menutup mata dan menelan ludahnya dengan berat. "Melakukan itu hanya akan membuatnya makin tersiksa."

Seorang dokter muda wanita, teman sejawat Vian yang mengenal Nadella menutup mulutnya dan mundur perlahan. Dengan tanda-tanda vital yang demikian, memang mustahil bagi Nadella untuk bangun dengan upayanya sendiri. Mungkin karena Nadella adalah orang yang sangat baik hati, Tuhan memberinya kekuatan untuk bangkit di saat-saat terakhirnya.

Nadella yang sudah sepenuhnya membuka mata memandang Arya, Riva, dan Vian lekat-lekat. Air mata mengalir melalui kedua sudut matanya.

"Arya ... pulang ...," ujarnya serak sambil tersenyum.

"Iya, Del! Aku pulang!" Arya mengecup tangan Nadella yang digenggamnya.

"Jangan dipaksa Della, pelan-pelan saja," kata Riva lembut, merapikan rambut panjang Nadella.

"Sa-sakitkah, Del?" tanya Vian yang kembali memulai tangisnya.

Nadella kembali tersenyum. "Tidak sakit. Aku ... hanya ... mengantuk saja," balasnya pelan.

Arya mengatupkan bibir, menahan rasa sesak yang menghujam batinnya. Firasatnya mengatakan bahwa masa-masa kritis ini sebentar lagi akan berlalu dengan membawa serta Nadella mereka.

"Bintang ...."

Riva buru-buru mendekatkan telinganya pada Nadella yang kini terdengar bergumam.

"Aku ... ingin ... melihat ... bintang ...."

Mengerti dengan maksud Nadella, Arya, Riva dan Vian bergerak tanpa dikomando. Arya menarik pin berbentuk bintang pemberian Nadella yang setia dipasang di ranselnya. Riva melakukan hal yang sama pada tas jinjing laptop yang selalu dibawanya tiap saat. Vian pun membuka pin serupa dari Snellinya.

Nadella tersenyum, senyum yang sangat manis. Bahkan senyum termanis dari semua senyuman yang selalu ia tunjukkan. Jemarinya menyentuh ketiga pin yang disodorkan Arya, Riva, dan Vian. Mereka benar-benar menjaga pemberian yang sebentar lagi akan menjadi wasiat darinya itu.

Tiga pin berbentuk bintang bertuliskan nama beserta gelar yang Nadella harapkan akan diraih ketiganya.

Dr. Vian, untuk Vian yang kuliah kedokteran.

Prof. Arya dan Prof. Riva, untuk Arya dan Riva yang berkonsentrasi di bidang Sains.

Nadella merengkuh tangan Arya, Vian, dan Riva. Matanya ikut berkaca.

"Arya ... Vian ... Riva ...," panggilnya hampir tidak kentara. "Jadilah ... bintang-bintang."

"Aye-aye capten!" Arya mengangkat tangannya, memberi gestur hormat seperti candaan mereka dahulu. Air matanya terus berlinang.

"Permintaan dikonfirmasi!" Riva ikut menirukan gaya khas Nadella saat berbicara yang kemudian secara tidak sengaja menjadi ikonik bagi mereka berempat.

Nadella tertawa tanpa suara, ia kemudian memutar kepala menghadap Vian yang masih tergemap.

"Vian ...?"

"Jangan katakan apapun!"

"Jadilah dokter yang hebat."

Vian memalingkan wajahnya, sungguh menyakitkan mendengar permintaan Nadella itu.

Tak berselang lama, monitor saturasi oksigen di samping tempat tidur tiba-tiba berbunyi. Nadella menarik napas pendek berkali-kali. Genggamannya pada tangan Arya, Riva, dan Vian yang menyatu semakin kuat.

"Arya ... Vian ... Riva ... aku sangat ... menyayangi ... kalian." Nadella berujar rendah bersamaan dengan hembusan napas terakhirnya.

"Tidak! Della, tunggu! Jangan pergi!" Riva meremas tangan Nadella yang sudah terkulai lemah.

Arya langsung memeluk erat tubuh Nadella yang sudah tidak menyatu dengan rohnya lagi.

"Umumkan waktu kematian pasien," perintah ayah Vian pada salah satu dokter senior.

Vian yang masih tidak percaya terbeliak. "Apa maksud ayah?!" pekiknya. "Della masih hidup!"

Riva dan Arya semakin tak kuasa melihat reaksi Vian.

"Kenapa ayah diam saja?!" Vian berbalik pada satuan tim medis yang hanya menatapnya nanar. "Kenapa kalian semua diam saja?! Ambilkan defiblator! Lakukan pacu jantung!"

Ayah Vian segera menenangkan anak semata wayangnya. Ia paham, Vian dokter muda yang belum memiliki banyak jam terbang. Melihat roh yang berpisah dari tubuhnya memanglah sesuatu menyakitkan. Apalagi pasien pertama selama masa koas yang meninggal dunia dengan disaksikan mata kepala Vian sendiri adalah Nadella, sahabat sekaligus cinta pertamanya.

"Perintahkan intubasi, Ayah!" Vian berlutut pada ayahnya. "Kumohon padamu, perintahkan intubasi ...!"

Ayah Vian menarik tubuh putranya dan menepuk kedua pundaknya. "Kamu paham aturannya, Nak. Tegarkan dirimu."

Vian menggeleng, ia belum menyerah. Vian melepaskan tangan ayahnya lalu naik ke atas bed dan melakukan kompresi. Menekan dada Nadella dengan kedua telapak tangan yang diletakkan saling tumpang tindih.

"Della, bangun! Jangan berpura-pura begini!" Vian mengerahkan seluruh energinya, menumpukan berat tubuh bagian atasnya untuk terus menekan. Peluh dan air matanya bercampur menjadi satu. "Ayo berdetaklah jantung! Berdetak! Berdetaklah! Tuhan, aku mohon kembalikan detak jantung ini!"

"Hentikan, Vian! Tidak ada gunanya!" Riva menarik Vian.

"Berhenti?! Berhenti, katamu?!" Vian menoleh dengan tatapan mata menyalang pada Riva yang kantung matanya membengkak. "Ini Della!"

"Aku tahu itu Della, maka berhentilah!" Suara Riva ikut meninggi.

"Kamu pikir aku tidak tahu kalau selama ini kamu juga menyukai, Della? Bagaimana mungkin kamu menyuruhku untuk berhenti!"

Riva menatap Vian dengan sendu. "Berhentilah! Berhentilah ... karena itu akan semakin menyakiti Della ...," ujarnya kemudian tersedu lagi.

Arya bersicepat meraih Vian yang langsung meringsut ke lantai.

"Kendalikan dirimu, Vian. Kita semua terluka." Arya merangkul Vian.

Riva mengambil tempat di sisi Vian yang satunya.

Vian menoleh pada Riva. "Maaf ...,"

"Permintaan maaf dikonfirmasi." Riva ikut mendekap Vian dan Arya.

Vian berusaha menyabarkan hatinya, menerima kenyataan bahwa Nadella telah pergi untuk selamanya. Dengan dibantu Arya dan Riva ia pun berdiri di sisi Nadella, meraih tangannya untuk terakhir kali dan mengumumkan waktu kematiannya dengan tersedan-sedan.

Vian menengadah menatap setiap sudut ruang ICU, pandangannya mulai menggelap. Dalam hati ia berjanji, Nadella Adannaya akan menjadi pasien pertama sekaligus terakhir yang ia umumkan waktu kematiannya.

⚛️⚛️⚛️⚛️⚛️

Malam sudah larut, namun Riva masih belum mampu memejamkan mata. Pertanyaan Chelia tempo hari tentang Nadella masih membuatnya terbawa perasaan.

"Sudah hampir 6 tahun, ya, Del ...." Riva memandangi ribuan bintang yang bertaburan di langit. Angannya berkelana, jatuh pada suatu malam di masa lalu kala dirinya masih menjalani hari-hari sebagai mahasiswa.

Saat itu Nadella, Vian, dan dirinya sedang belajar bersama di rumah Arya. Mereka berempat duduk di balkon, Nadella sibuk dengan laporan praktikumnya, Vian berkutat dengan kamus kedokterannya yang super tebal, Arya yang selangkah lebih maju tengah menyusun skripsi, sedangkan Riva sedang mengerjakan kode-kode pemrograman untuk sebuah aplikasi baru.

Nadella mengamati ketiga sahabatnya, sambil tersenyum ia pun berkata, "Kalian tahu tidak bintang yang paling terang?"

Riva mengalihkan perhatian dari laptopnya. "Hmm ... bintang kejora?" jawabnya setengah bercanda.

"Kupandang langit penuh bintang bertaburan. Berkelap kelip seumpama intan berlian." Vian menyambung percakapan dengan menyanyikan lagu kanak-kanak Bintang Kejora.

"Tampak sebuah lebih terang cahayanya. Itulah bintangku bintang kejora yang indah selalu." Riva dan Nadella ikut bersenandung sampai dehaman Arya menyela.

"Bintang kejora itu sebenarnya bukan bintang, itu nama lain planet Venus!" Arya berujar serius. "Bintang yang paling terang adalah Alfa Canis Mayor, luminositasnya 25 kali dari matahari."

Riva mengerutkan dahi. "Alfa ... apa katanya tadi?" tanyanya pada Nadella dan Vian.

"Alfa Canis Mayor," ulang Arya.

"Canis Mayor? Anjing besar?" gurau Vian yang tetap ditanggapi Arya dengan serius.

"Ya, itu salah satu rasi bintang. Menggambarkan seekor anjing yang mengikuti Orion sang pemburu. Alfa Canis Mayor terletak di rasi itu. Magnitudonya sekitar -1,7. Nama lainnya bintang Sirius."

Riva, Nadella dan Arya saling berpandangan.

"Sirius?" Riva mengangkat tangan. "Oke, aku tidak paham. Yang aku tahu cuma Sirius Black," katanya lalu tertawa bersama Vian.

"Aku curiga ada mesin pencari google dalam kepalamu, Arya. Kamu selalu tahu semua hal!" lanjut Riva lagi memukul lengan Arya dengan geli.

"Benar. Arya terlalu jenius. Kata-katanya keluaran jurnal ilmiah semua!" tambah Vian.

Arya memasang wajah cemberut, "Aku tahu itu karena dulu ibuku selalu cerita!" kilahnya. Arya tidak suka bila dirinya disebut-sebut jenius. Meski kenyataan memang berkata demikian.

Nadella tertawa, apa yang dikatakan Arya dan Vian memnang benar. Bila Arya sudah angkat bicara, mendadak mereka merasa seperti sangat tidak mengetahui apa-apa.

Tiba-tiba lampu padam, dari balkon rumah Arya mereka bisa melihat panerangan satu kota yang meredup perlahan.

"Ah, skripsiku! Revisinya belum kusimpan!" Arya memekik histeris begitu laptopnya yang sedang mengisi daya spontan mati.

Riva tak kalah panik. "Baterai laptopku juga tinggal sedikit! Mana algoritmaku belum selesai!"

"Hapalanku!" keluh Arya pula. "Kenapa harus ada pemadaman lagi, sih!"

Nadella menyalakan senter ponselnya. "Kenapa kalian begitu kesal dengan pemadaman listrik?"

Riva mencebik. "Karena kita tidak bisa melakukan apa-apa tanpa cahaya, Della."

"Oh, ya?" Nadella tersenyum. "Kalau begitu coba lihat ke atas."

Serempak Riva, Arya, dan Vian mengangkasakan pandangannya.

"Wah! luar bisa!" Riva berdecak kagum memandangi ribuan bintang yang kini terlihat jelas di atas sana.

"Indah, kan?" Nadella memandang langit dengan bahagia. "Beginilah kehidupan. Saat berada di tempat yang terang, kita bisa melihat jalan dengan jelas tanpa khawatir akan terperosok ke dalam lubang. Tapi kita akan melewatkan keindahan bintang-bintang di angkasa."

Arya, Riva,  dan Vian yang hanyut dalam pemandangan indah itu melenggut dan bergumam membenarkan.

"Sebaliknya saat berada di tempat gelap, kita tidak bisa melihat jalan, kita bisa tersandung kerikil ataupun jatuh ke dalam lubang. Namun kita bisa menikmati panorama langit dengan jelas seperti ini." Nadella menyambung.

Riva merangkul Nadella di sebelahnya. Sisi Nadella yang bijak dan mampu menenangkan suasana membuatnya merasa nyaman.

"Tapi bicara tentang bintang, bagiku ada tiga bintang paling terang di dunia ini," celetuk Nadella lagi.

"Tiga?"

Nadella mengangguk. "Mereka ada di sini. Di hadapanku sekarang."

"Kami?" Riva tertawa. "Hahaha ... bagaimana bisa kami?"

"Bisa." Nadella kemudian mengeluarkan tiga buah pin dari dalam ranselnya.

Riva, Arya, dan Vian masing-masing menerima satu.

"Kalian semua hebat dan bersinar seperti bintang." Nadella mengacungkan kedua jempolnya.

"Prof. Riva!" Riva menepuk dadanya dengan bangga.

"Prof. Arya!" Arya membaca tulisan di pin miliknya. "Keren! Terima kasih, Del." Arya langsung mengaitkan pin tersebut di bajunya.

"Dokter Vian?" Vian menaikkan sebelah alisnya. "Aku belum jadi dokter. Ini hanya akan menjadi beban, tahu!" kilahnya pura-pura tidak suka.

"Ini harapan sekaligus doa, Vian." Nadella tersenyum, mengabaikan perkataan Vian, ia langsung menyematkan pin tersebut di kemaja calon dokter yang selalu bersikap dingin padahal sebenarnya sangat perhatian itu.

"Punyamu mana, Del?" tanya Riva saat menyadari pin tersebut hanya untuk mereka bertiga.

"Aku tidak punya."

"Kenapa tidak?"

"Karena ... ya, tidak ingin punya saja." Nadella kembali memandang langit. Angin malam yang berhembus membelai wajahnya, menyibak sedikit anak rambutnya ke belakang. Ia menoleh pada Riva. "Sepertinya aku tidak ada waktu untuk itu."

Riva baru ingin menyanggah perkataan Nadela saat lampu kembali menyala, membuat perhatiannya teralih.

Mereka kemudian kembali pada aktivitas semula dan larut dalam tugas masing-masing.

Setelah Riva pikir kembali, ternyata ada banyak tanda-tanda sebelum kepergian Nadella. Riva seringkali dibuat menyesal karenanya. Andai ia bisa menyadari dan mencegah kecelakaan laboratorium di hari itu.

"Kak Riva belum tidur?"

Riva berbalik dan menemukan Chelia yang mengucek mata.

"Kamu terbangun, Sayang?"

Chelia mengangguk. "Aku mimpi buruk lagi, Kak."

Riva meraih Chelia. Sore tadi di perjalanan pulang bersama Rama Chelia melihat kecelakaan lalu lintas. Meski tidak parah, korban mengelurkan banyak darah dan membuat adiknya itu ketakutan sampai terbawa mimpi.

"Jangan takut, malam ini tidur sama Kak Riva, ya?" Riva menggiring Chelia masuk.

Sebenarnya waktu psikiater menyarankan agar Chelia diberi kesibukan dengan mendaftarkannya kuliah, Riva lebih memilih jurusan farmasi ketimbang kedokteran bukan hanya karena Chelia yang mudah trauma melihat orang yang terluka, namun untuk mengenang sosok Nadella juga.

Riva merapatkan gorden dengan remot otomatis. Sebelum kedua tepinya menyatu, Riva bisa melihat sebuah bintang memancarkan sinar terang di langit.

Riva meraih sebuah pin dari kotak yang di simpannya di laci nakas.

Prof. Riva.

"Della ...." Riva tersenyum samar.

Nadella mungkin tidak bisa mewujudkan mimpinya dan menjadi bintang. Namun Riva yakin, Nadella bersinar terang jauh melebihi mereka. Sebab sekarang sahabatnya itu telah menjadi bintang di surga.

☕☕☕

TBC


Sedikit penutup biar kalian nggak bingung sama tokohku yang kebanyakan ini 😬😬😬

Rivandra Arzachel
(then & now)

Mahasiswa jurusan Teknik Informasi. Ketua BEM Fakultas Sains dan Teknologi periode III

Ahli IT. Wakil Direktur di perusahaan perangkat dunia kelas dunai. Seorang examiner, ahli digital forensik swasta.
Kakak dari Chelia.

Alvian Rayendra
(then & now)

Mahasiswa kedokteran.

Dokter preklinik, pengajar di fakultas Kedokteran. Penanggungjawab poliklinik kampus. Sepupu
dari Rean.

Aryatama Krishna
(then & now)

Mahasiswa jurusan Matematika. Ketua Senat Mahasiswa Fakultas Sains dan Teknologi Periode III

Dekan Fakultas Ilmu Kesehatan. Kakak dari Rama.

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top