21. Explotio ☕

-Chemical Reaction-

~♥Happy-Reading♥~

.

.

.

"APA?! Jadi kak Riva, kak Vian, dan pak Arya itu pendiri Notix?!"

Bletak! Sebuah getokan mendarat mulus di kepala Edward diiringi seruan tertahan dari teman-temannya yang kompak memberi isyarat agar ia memelankan suara.

"Bule muatan lokal ini berisik banget! Sekali teriak pakai toa mushollah sana, biar bisa satu fakultas bisa dengar!"

"Sorry." Edward menyengir dan beralih pada Chelia lalu berbisik, "Kamu serius, Chelly? Bagaimana bisa?"

Chelia menarik napas panjang. Karena Edward dan Erva baru tiba beberapa menit lalu, ia harus mengulang kembali seluruh rangkaian ceritanya dari awal sampai akhir.

"Biar aku saja yang cerita." Rama berdiri. "Pada zaman dahulu—ups!" Rama merasakan tangannya yang mengayunkan membentuk lengkungan semu di udara mengenai wajah seseorang.

"Aduh!" Arya yang melintas di sebelah Rama meringis saat mendapat sambaran dari tangan milik adiknya tersebut.

"Kak Arya tidak apa-apa? Ah, maksudku Pak Arya." Chelia yang spontan berdiri celingak-celinguk, memastikan tidak ada yang mendengar kata-katanya barusan. Dalam lingkungan kampus mereka harus berbicara formal, terlebih karena kedudukan Arya.

Arya tersenyum tipis mendengar Chelia meralat ucapannya. "Tidak apa-apa, Chelia."

"Matamu nggak kecolok kan, Kak? Semoga nggak deh, kamu belum menikah masalahnya." Rama bergegas menghampiri Arya dan memeriksa keadaan kakaknya.

"Tidak apa-apa! Aku oke." Arya menepis kedua tangan Rama yang terulur ke wajahnya. Sekilas ia melirik jam digital di pergelangan tangan kirinya kemudian melemparkan tatapan gamang pada ketujuh  mahasiswa yang masih duduk-duduk santai di pelataran fakultas itu. "Sebentar lagi jam pelajaran dimulai. Kenapa kalian masih di sini?"

"Masih jam 7, kok!"

Arya memeriksa kembali angka yang tertera di arlojinya, memastikan lobus oksipitalis sebagai pusat penglihatan di otaknya tidak keliru menerjemahkan transmisi sinyal yang dikirim sang retina.

Jam 7 dari mana! Jelas-jelas ini hampir pukul 8!  Arya melirik Rama dengan kening berkerut. Atau jangan-jangan adiknya itu mengerjainya lagi dengan mereset waktu jam tangannya?

Seolah mengerti ke arah mana pikiran Arya, Rama kembali bersuara. "Jam 7 waktu Indonesia bagian barat, maksudku."

"Masalahnya ini Indonesia bagian tengah, Rama!"

Rama mengangkat bahu, "Ini memang Indonesia Tengah. Terus letak masalahnya di mana? Nggak mungkin kan, pulau terbesar kesebelas di dunia ini di geser sedikit biar jadi Indonesia Barat?"

"Siapa juga yang ingin melakukan hal mustahil begitu!"

"Makanya tidak usah mempermasalahkan letak geografis pulau kita!"

"Siapa yang mempermasalahkannya!"

"Yang barusan bilang masalahnya ini Indonesia bagian tengah, siapa?"

Arya mengapit tubuh Rama menggunakan sebelah lengannya dengan gemas. Semakin Rama meronta, semakin kuat pula Arya menggencetnya. Rean dan yang lainnya hanya bisa mesem-mesem melihat kedua kakak-beradik yang kini "akur" itu.

"Bergegas ke kelas sekarang, nanti kalian terlambat!"

"Bagus, dong! Kalau terlambat aku nggak akan diizinkan masuk dan bisa main ke ruang kerjamu."

"Tidak akan!" Arya menyentil dahi Rama dengan tangan yang satunya lalu menggiring adiknya itu menuju ruang kelas. "Kalian juga ikut."

Serempak, Rean, Edward, Chelia, Cassy, Naya, dan Erva mengangguk patuh dan mengikuti.

"Arya?"

Arya menoleh pada pria berkacamata dengan usia sepantaran dengannya. Afriawan, seorang dosen farmasi, teman satu fakultasnya dahulu.

Rama menyangka Arya akan melepaskan cekalannya dan mendorongnya jauh-jauh, namun kakaknya itu hanya melonggarkan tekanan yang ia berikan dengan lengan masih mengunci tubuhnya.

"Ah, selamat pagi, Pak," sapa Afri pada Arya dengan membungkukkan badan.

Arya tertawa ringan. "Pagi, Afri. Jangan formal begitu."

"Duh, pak Afri datangnya pagi banget. PPT kelompok kita belum kelar!" bisik Cassy pada Naya.

"PPT kelompokmu belum selesai Cassy?"

Cassy dan Naya melotot bersamaan saat Rama sengaja membesarkan suaranya.

Afri terkekeh. "Selesaikan saja. Bapak tidak masuk. Hari ini ada rapat."

"Bapak tidak masuk?! Yes! Aku nggak perlu epilepsi!"

"Epilepsi?!"

"Maksudnya presentasi, Pak! Salah ucap ehehe ...."

Arya kembali menyentil dahi Rama lalu melepaskan lengannya. "Sana, selesaikan tugasmu," perintahnya kemudian bersama Afri meninggalkan gedung perkuliahan.

"Pak Arya sama pak Afri akrab, ya?" Naya berceletuk.

"Mereka memang dulunya satu fakultas. Jurusan kita juga awal berdiri masuk di Fakultas Sains." terang Rean.

"Ah, pantas pak Afri kenal kak Riva juga." Chelia melenggut maklum.

"Wajar sih, Kak Riva kan, dulunya ketua BEM fakultas." Edward menambahkan dengan bangga. Edward memang sangat mengagumi kepiawaian Riva dalam memimpin. Tak jarang pula ia meminta petuah Riva dalam menjalankan perannya sebagai pengurus HMJ.

"Kak Arya juga dulunya pimpinan SM, lho!" balas Chelia tak kalah kagum.

"SM? SM entertainment?" Cassy tertawa hambar.

"Duh, plis Cassy." Naya memutar bola matanya.

"Sorry, aku cuma paham hal-hal yang berbau Korea saja."

"Kalau begitu coba jawab, berapa ukuran sepatu presiden Korea yang sekarang?"

"Ma-mana aku tahu!"

"Kalau warna favoritnya?"

"Aku nggak tahu, Rama!" Cassy mencebik kesal.

"Katanya paham masalah Korea!"

Chelia hanya tertawa geli melihat Cassy yang cemberut dan menyandarkan dagu di pundaknya. "SM itu singkatan dari senat mahasiswa, dewan legislatif yang sejajaran dengan BEM."

"Kalau diibaratkan lembaga pemerintahan, SM itu DPR sedangkan BEM itu MPR," imbuh Edward. "Tapi serius Kak Arya itu ketua Senat?"

Chelia mengangguk. "Dan dari situlah Notix bermula."

Chelia lalu menceritakan kembali bagaimana Riva yang mengambil konsentrasi di jurusan Teknologi Informasi dan Arya yang fokus pada bidang Matematika Sains menduduki jabatan prinsipil tingkat fakultas dan membentuk Notix.

Dahulu, sistem pemerintahan fakultas benar-benar kacau. Para pemimpin tidak jujur. Praktik korupsi, kolusi, dan nepotisme pun merajalela. Mahasiswa yang tidak memiliki "orang dalam" sebagai pegangan akan disisihkan dan diperlakukan tidak adil.

Namun berkat prestasinya, Riva dan Arya dapat bersaing untuk menduduk jabatan ketua Badan Eksekutif Mahasiswa dan Senat Mahasiswa. Untuk menghindari anggota-anggota yang tergolong kaum nepotis, Arya, Riva dan satu orang temannya dari jurusan farmasi kemudian membentuk suatu kelompok rahasia yang diberi nama Notix.

Tujuan Notix hanya satu, menghapuskan kesenjangan sosial dan menciptakan peluang yang merata untuk semua kalangan mahasiswa dalam belajar dan berorganisasi.

Riva yang sudah melek teknologi membuat situs Notix untuk pertama kali. Meretas pusat data, menemukan bukti-bukti kasus penyuapan dan penggelapan dana lalu menyebarluaskannya melalui media sosial, yang paling populer saat itu adalah Facebook dan Friendster.

Seiring berjalannya waktu, menyadari banyaknya pekerjaan yang harus dilakukan,  Notix kemudian merekrut orang-orang "berbakat" dan terpercaya sebagai anggota baru melalui berbagai pertimbangan dan peninjauan latar belakang. Karena peran Notix dalam membongkar kasus-kasus besar cukup banyak, Arya tidak ingin membahayakan keselamatan mereka yang telah bergabung sebelumnya karena salah memilih anggota.

Setelah kurang lebih tiga tahun beroperasi, Notix berhasil mensterilkan fakultas dari para pemimpin kotor. Riva yang sudah hampir lulus kemudian meminta persetujuan dari Arya yang sedang melanjutkan pendidikannya di luar negeri untuk membubarkan perkumpulan tersebut.

Arya menolak dan meminta Notix dijalankan dibawah kepemimpinan yang baru, sambil terus mengawasinya dari jauh. Mengikuti ketua barunya, Notix kemudian terpusat di jurusan farmasi yang pada akhirnya memisahkan diri menjadi bagian dari Fakultas Ilmu Kesehatan. Kendali Arya dan Riva terhadap Notix pun semakin melemah seiring dengan kesibukan yang mereka jalani. Bahkan saat ketua Notix terbaru meminta izin untuk mengubah SOP menjadi akun populer untuk membantu anggota-anggotanya yang kekurangan biaya pendidikan, Riva dan Arya tidak keberatan.

Keputusan Arya untuk mempertahankan Notix ternyata tidak salah, sebab beberapa tahun setelahnya, Arya yang kembali mengabdikan diri di kampus berhasil menguak politik praktis yang dilakukan pejabat rektorat dengan bantuan Notix dan ditunjuk menjadi pemimpin di Fakultas Ilmu Kesehatan sampai sekarang ini.

"Jadi selama ini Kak Arya tahu tentang Notix?" Edward bertanya setengah tidak percaya.

Chelia mengangguk. "Ya, tapi Notix tidak tahu tentangnya. Kak Arya hanya berhubungan dengan ketua Notix dan meminta identitasnya dirahasiakan."

"Bagaimana dengan kak Riva?"

"Kak Riva juga tidak mempermasalahkan itu. Selama Notix tidak menyimpang dari tujuan awal dan tidak memberikan informasi palsu, baginya Notix bisa tetap berjalan. Kak Riva bahkan masih memegang kunci utama Notix dan bisa meleyapkannya dalam sekejap."

"Apa kak Vian juga tahu tentang ini?" Rean ikut bersuara.

"Ya. Meski berbeda fakultas, Kak Vian juga terlibat dalam Notix meski bukan anggota resmi."

"Kenapa mereka tidak pernah cerita, sih!" Rama mendengus tidak terima. Setelah ini akan diwawancarai habis-habisan kakaknya itu.

"Karena mereka tidak ingin membahayakan kita, Rama. Mereka ingin kita belajar dengan baik dan tenang." Chelia memberi waktu untuk pertukangan udara dalam paru-parunya berlangsung beberapa saat. "Hidup dengan menyimpan banyak rahasia itu tidak mudah. Begitu kata kak Riva."

Rama terhenyak kemudian mengangguk terpatah. Bila yang berkata demikian adalah Riva, Rama tidak akan membantah. Rama tahu selama ini Riva menanggung beban berat untuk sebuah rahasia.

"Ayo masuk, kata Rumy presentasinya dibatalkan. Tugas PPT dikirim via classroom." Naya membaca pesan yang masuk di grup chat angkatannya.

Rama baru ingin bersorak, namun Erva tiba-tiba berjongkok dan menangis tersedu-sedu.

"Huhuhu ...." Erva menutup wajahnya dengan kedua tangan.

"Kenapa, Va?" Chelia ikut berjongkok dan merangkul bahu Erva yang sesunggukan.

"Sakit maagmu kambuh lagi?" tanya Rama tak kalah khawatir. Biasanya kalau sudah tanggal tua begini, anak kosan seperti Erva akan menyantap rendang, soto, dan kari dalam bentuk mi instan sebagai makan malam. Tak lupa pula tablet chewable promag sebagai hidangan pembuka.

Erva menggeleng. "Aku ... aku kecewa!"

"Apa?! Siapa yang berani-berani buat kamu kecewa?!" Rama, Edward, dan Rean kompak berseru.

"Siapa, Sweetie? Bilang saja. Nanti Rean yang hajar. Biaya perawatannya aku yang tanggung. Masalah hukumnya ayah Edward yang atur."

"Aku kecewa sama Kak Riva dan Pak Arya!"

"Hah?!"

Erva menarik napas pendek beberapa kali. "Ternyata ...."

"Ternyata?"

"Ternyata mereka pendiri perkumpulan hantu itu!"

"HAH?!"

⚛️⚛️⚛️⚛️⚛️

Salah satu tempat terkutuk bagi mahasiswa farmasi adalah laboratorium Kimia. Selain materi pelajarannya yang mampu menguraikan serabut saraf otak satu per satu, ruang tersebut juga dipenuhi berbagai jenis senyawa kimia dengan hazard level yang bervariasi.

Naya merapatkan ikatan maskernya begitu memasuki laboratorium dengan aroma khas pelarut-pelarut organik tersebut. Ada 4 banjar meja yang dibagi menjadi dua bagian oleh rak-rak bahan sebagai pembatas. Naya menuju meja kelompoknya lalu menopang dagu, mengamati label pada botol-botol coklat dalam rak tersebut yang berisi informasi jenis risiko bahaya yang bisa ditimbulkan.

Dangerous for Environment. Berbahaya bagi lingkungan.

Corrosive. Merusak jaringan hidup.

Irritant. Menyebabkan resiko kesehatan jika dihirup, tertelan, dan kontak langsung dengan kulit maupun selaput lendir.

Toxic. Mengakibatkan keracunan akut maupun kronis bahkan kematian.

Flammable. Mudah terbakar.

Oxidizing. Mudah menguap dan mudah terbakar melalui reaksi oksidasi.

Explosive. Dapat memicu ledakan akibat benturan, pemanasan, pukulan, gesekan, reaksi dengan bahan kimia lain, atau karena adanya sumber percikan api.

Naya mendesah panjang begitu jam praktikum di mulai. Analisis Farmasi adalah praktikum yang terasa sangat berat baginya. Bukan perihal materi yang sulit ataupun bahan-bahan kimia yang riskan. Praktikum dengan beban dua SKS tersebut manjadi berkali-kali lipat lebih sulit karena empat orang teman kelompoknya yang bukan manusia biasa.

Ramayana Krissandy, Rafiand Dirgantara, Rafandi Cakrawala, dan Ervana Arystia alias Rama, Rafa, Rafi dan Erva. Sekumpulan makhluk yang diciptakan untuk menguji kesabaran manusia.

Erva mungkin tidak sekronik Rama atau seakut Rafa dan Rafi, namun kinerja processor di otaknya yang kadang lemot dibarengi dengan tangan ajaibnya yang selalu berhasil memecahkan peralatan laboratorium membuat Naya harus memberinya perlakuan khusus, dalam artian membatasi pekerjaannya. Bahkan membuatnya paham akan hakikat Notix yang sesungguhnya butuh waktu hampir satu jam.

Naya menggebrak meja kelompoknya kemudian meringis tertahan dalam hati. Rasa kesalnya melihat Rama, Rafa, dan Rafi yang sibuk bermain game membuatnya lupa akan hakikat ubin putih padat yang melapisi meja itu.

Rama, Rafa, dan Rafi kompak meringis kemudian menepuk-nepuk bagian meja bekas pukulan Naya.

"Uh, sakit tuh." Rafa meringis.

Rafi mengangguk. "Kasihan mejanya.

Naya berusaha menahan diri. Bila ini dalam film animasi, sudah pasti penampilannya sekarang digambarkan dengan mata berapi-api.

"Kalian ini mau praktikum atau main game, sih?!"

Rama, Rafa, dan Rafi menatap Naya sambil tersenyum. "Main game," jawab ketiganya.

Naya membanting laporannya dengan gemas. "Tolong jangan buat kesabaranku habis, ya! Asisten sedang rapat! Bantu Edward menyiapkan bahan, sana!"

Rafa dan Rafi menoleh pada ruang bahan yang sudah disesaki masing-masing dua perwakilan tiap kelompok untuk membantu Edward selaku koordinator bahan.

"Sudah banyak orang, tuh!"

"Tapi tidak ada perwakilan kelompok kita! Kalian tidak malu kalau bagian kita dikerjakan orang lain."

"Kenapa malu? Kita bahkan bersyukur." Rafa melirik Rafi yang langsung menganggukkan kepala. "Kalau orang lain bisa, kenapa harus kami."

"Dasar orang-orang tidak berguna!" Naya memutar tubuhnya dengan malas.

"Permisi." Chelia dan Cassy muncul dengan membawa kotak alat dan buku-buku mereka.

"Chelly? Cassy? Ada apa ini? Ada pertukaran pelajar antar kelompok, yah?"

"Bukan, Rama. Karena instrumen terbatas, kelompok kita dilebur untuk menghemat waktu."

"Serius?!" Naya memekik tertahan dan menyambut Chelia pun Cassy dengan suka cita.

Erva yang melihat itu hanya tersenyum kecut. Apalagi saat Rean ikut bergabung dan mulai membagi tugas. Erva sejujurnya ingin menawarkan diri untuk bekerja, namun kecerobohannya bisa membuat semua berantakan. Bisa-bisa Rama harus keluar uang lagi untuk membayar kompensasinya.

"Ke toilet yuk, Va!" Cassy menarik lengan Erva yang menunduk. Erva hanya mengangguk patuh. Lagipula kehadirannya tidak begitu berarti.

Chelia menghampiri Naya lalu menariknya menjauh. "Naya, ini ada titipan dari Gio."

Naya mengerutkan dahi begitu mendapati sebuah jepitan rambut yang diselipkan Chelia di genggamannya.

"Katanya biar rambutmu itu tidak mengganggu."

"Kembalikan saja, Chelly. Aku nggak butuh." Naya mendengus lalu kembali pada aktivitasnya mengencerkan larutan dengan labu tentukur, namun anak rambut yang ia selipkan di balik telinga terus saja terurai ke depan menghalangi pandangannya.

Naya tidak bisa berkata apa-apa lagi saat Chelia menyematkan jepitan manis pemberian Gio itu di sela-sela rambutnya.

"Bagaimana? Lebih baik, kan?"

"Sedikit." Naya menjawab cuek.

"Bilang terima kasih sama Gio, dong." Chelia menggoda Naya yang memalingkan muka.

"Buat apa? Nggak ada yang minta, juga!" Naya memutar bola matanya jenuh saat pandangannya bertemu dengan Gio. Naya sesungguhnya ingin berterima kasih, namun bersikap manis sama sekali bukan gayanya.

"Gio! Kata Naya, terima kasih banyak."

Naya mendelik pada Chelia yang mengerlingnya sambil tersenyum lebar. Terlebih saat Gio balas tersenyum dan menatapnya.

Chelia duduk di samping Naya. "Kamu pasti ingin berterima kasih pada Gio, kan?"

Naya berdecak. "Itu nggak penting, Chelly. Pokoknya lain kali jangan mau diperintah sama dia. Kuberitahu Rama kalau kamu menurut sama dia lagi."

"Dia cuma minta tolong, kok. Kemarin kan, Gio bantu kita."

Sebuah dehaman membuat Naya dan Chelia yang berbisik-bisik berbalik.

"Ada apa ini? Kok, aku merasa namaku disebut-sebut." Rama muncul di belakang mereka.

Rean yang melihat Rama kembali dengan gelas kimia kosong segera bersuara. "Etanolnya mana?"

Rama menunjuk lemari asam dengan malas. "Masih antri, tuh!"

"Itu Cindy?!" Naya hampir tidak mempercayai penglihatannya. Seorang sosialita seperti Cindy mengambil larutan kimia dengan tangannya sendiri.

"Cari perhatian sama kak Adri, tuh!" Rafa melirik tidak minat.

"Cari perhatian?"

"Iya, Chelia. Cindy itu suka sama kak Adri, asisten kita," jawab Rafi menegaskan.

Chelia hanya mengangguk, tidak ingin tahu lebih banyak perihal Cindy yang hampir saja memutuskan persahabatan mereka.

"Duh, ini warna apa sih!" Rama merengut begitu memeriksa tabung reaksinya.

Rean yang konsentrasinya terganggu sejak tadi menghela napas kasar. "Kamu lulus tes buta warna sebelum masuk ke jurusan ini, kan?"

"Lulus, lah! Masa aku ganteng-ganteng buta warna!"

"Lalu?"

Rama menyikut lengan Rean yang sedang merangkai alat. Rafa dan Rafi hanya berpandangan. Hanya Rama yang berani berbuat sesuka hati seperti itu pada Rean.

"Coba lihat!" Rama menyerahkan kertas berisi tabel rujukan pada Rean. "Hasil positif untuk tiga pengujian yang berbeda itu pink muda, pink pucat, dan pink bening. Sekarang terangkan padaku yang mana yang disebut pink muda, pink pucat, dan pink bening!"

"Blackpink sekalian!" seru Rafa dan Rafi serempak lalu membuang pandangan ke sembarang arah sambil bersiul.

Rean terdiam. Benar kata Rama. Hasil positif pengujian yang ditandai dengan perubahan warna tidak kontras memang kurang akurat.

"Ini juga, hasil positifnya kuning sampai merah bata." Rama mengangkat tabung reaksi yang warna dasarnya perpaduan warna coklat kemerahan. "Kalau warnanya coklat tidak jelas begini bagaimana? Hasilnya jadi tidak pasti, kan?"

"Kuning merah bata? Kenapa nggak kuning es mambo saja!" Rafa berdecak.

"Hijau telur asin sekalian, biar kayak Nippon paint." Rafi menambahkan.

Rean merebut tabung reaksi yang dipegang Rama. Mengguncangnya sedikit lalu menatapnya lekat-lekat. Warnanya memang sulit diidentifikasi. Lensa matanya yang berdilatasi untuk menajamkan fokus semakin melebar saat tiba-tiba lampu di laboratorium itu meredup dan padam.

Suara protes dan desahan tertahan memenuhi ruang tertutup tersebut.

Sekian detik kemudian lampu menyala, namun belum sempat mengucap syukur, para praktikan tersebut harus dikecewakan lagi dengan aliran listrik yang terputus kembali.

"Duh, siapa yang iseng sih!" Naya mengomel begitu larutannya tumpah karena tidak sengaja tersenggol.

Rafa berdiri. "Jangan-jangan ini ulah The Sash Ringing ... The Flash Singing ...."

"The ... The Fash Pinging ...." Rafi menyambung.

"The Hash Slinging Slicer!" Rama ikut berseru.

Rean hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah ketiganya lalu bergegas mengecek tanur di sudut ruangan. Alat yang disebut juga muffle furnace tersebut berfungsi untuk mengabukan bahan sehingga memiliki tempratur tinggi di atas seribu derajat celsius. Setelah tanur digunakan, suhunya harus dibiarkan turun terlebih dahulu baru kemudian dimatikan.

Rean bernapas lega saat stabilizer yang terhubung dengan tanur tersebut masih aktif, sebab pemutusan aliran listrik saat suhu di dalam tanur masih tinggi dapat memicu ledakan masif.

Sesaat setelah Rean berbalik, terdengar suara letupan keras bersamaan dengan pecahan kaca yang terlontar. Rean yang spontan merunduk, memutar kepala. Sumber dentuman tersebut berasal dari lemari asam.

Detonasi yang tercipta menghasilkan energi bertekanan tinggi yang mampu memecahkan botol-botol kaca di atas rak. Cairan-cairan yang bersifat korosif dan iritan pun tumpah berhamburan. Rama segera menarik Chelia untuk bersembunyi di tepi meja.

Suasana menjadi makin panik saat terjadi ledakan kecil berkesinambungan dari botol-botol lain yang pecah. Bau khas senyawa kimia yang saling berbaur pun memenuhi atmosfer ruangan.

Rean berpikir cepat. Ledakan beruntun dari bahan-bahan kimia tersebut tidak dapat dicegah. Hal yang bisa dilakukan hanyalah menyelamatkan diri.

"Semua pasang masker! Anak-anak perempuan silakan keluar lebih dulu!" Rean mengambil alih situasi. "Yang lain matikan semua instrumen dengan tombol power, hindari stop kontak. Hati-hati kaca dan cairan kimia!"

Rafa dan Rafi yang lupa membawa masker saling berpandangan. Rafa lekas menutup hidung dan mulut Rafi dengan telapak tangannya. Rafi pun melakukan hal yang sama untuk saudara kembarnya itu.

"Semua alat sudah dimatikan, Rean!" Rumy berseru kemudian memimpin anggotanya yang tersisa keluar ruangan.

Rean mengangguk, saat kakinya bergegas mengambil langkah seribu untuk keluar dari ruangan tersebut, ekor matanya menangkap sebuah botol coklat di sisi kanan tanur.

Aseton! Cairan yang mudah terbakar. Letupan botol paling ujung dapat menyulut cairan tersebut dan membakar stabilizator tanur. Dengan begitu, maka berakhirlah seluruh kehidupan setidaknya di lantai empat gedung laboratorium tersebut.

Napas Rean memburu. Adrenalin dan intuisinya beradu. Peluang keselamatannya hanya 50:50. Rean menatap teman-temannya yang histeris di depan pintu. Detik selanjutnya keputusannya sudah bulat.

Rean berlari sekuat tenaga. Ia meraih botol coklat berisi cairan aseton tersebut, mendekapnya erat lalu menjatuhkan badan ke samping dan merangkak menuju celah meja, bersamaan dengan bunyi letusan botol terakhir.

"Rean!" Chelia menjerit dan kembali masuk ke dalam laboratorium disusul Rama dan Erdward.

Rean muncul dari balik meja dengan penampilan kacau.

"Apa yang kamu lakukan, Brother!" Rama tak kalah paniknya.  "Kamu baru saja membahayakan nyawamu sendiri!"

Rean hanya tersenyum kecil saat Rama dan Edward membantunya berdiri. "Dan aku baru saja membahayakan nyawa kita semua bila tidak melakukan ini."

"Kalian nggak apa-apa?" Naya menghampiri ketiganya dengan khawatir. Di belakangnya Gio mengekor.

"Nggak apa-apa." Rean mengedarkan pandangannya ke penjuru ruangan. "Sepertinya sudah aman, tapi kita harus tetap meninggalkan laboratorium ini."

Edward memapah Rean, sedang Rama dan Gio masing-masing mengawal Chelia dan Naya.

"Tolong ... tolong ...."

Langkah keenamnya terhenti saat mendengar suara rintihan. Chelia dan Naya memekik saat berbalik dan menemukan seorang perempuan dengan jas lab setengah terbakar merangkak tertatih di sudut ruangan. Rambutnya terurai berantakan menutup sebagian wajahnya. Suasana yang remang membuat sosok di baliknya sulit dikenali.

"Ya, Tuhan!" Gio tercekat begitu matanya menangkap kuku jari berwarna mencolok dari tangan yang setengah terjulur tersebut.

Cindy!

☕☕☕

TBC

Bonus Pic

Riva, Vian, dan Arya
Then vs Now

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top